
"Kau tidak butuh aku?" ucap Ivan datar.
"Aku tidak mau mengajakmu kerjasama dalam keburukan," ucap Diana.
"Selama bersamamu, apa saja yang ku lakukan, itu suatu keindahan dan kebahagiaan untukku," ucap Ivan.
"Tolong mengerti aku, Ivan. Aku tidak ingin dugaan ibumu terhadapku menjadi kebenaran, di mana anaknya yang baik menjadi jahat karena diriku."
Mengingat ibunya, Ivan berusaha memendam egonya. Sangkaan Rani pada Diana selalu buruk, dan benar apa kata Diana, andai dia bersikeras, ada hal buruk yang terjadi di Agung Jaya, yang ada ibunya semakin membenci Diana dan menyalahkan Diana atas segala hal yang terjadi.
Ivan dan Diana saling berhadapan, Ivan memegang kedua telapak tangan Diana. “Seberat apapun perjuanganmu, sehebat apapun lawanmu. Berjanjilah kamu akan memenangkan pertarungan itu."
"Aku akan berjuang sekuat yang aku bisa," ucap Diana.
"Jika kamu bahagia aku tidak ikut bersamamu, baiklah. Aku akan tetap di sini dan membantumu lewat do'a ku," ucap Ivan.
Ivan menarik Diana kedalam pelukannya. Bagaimana pun dia berkata rela mengizinkan Diana berjuang sendiri, tapi dalam hatinya rasa itu tidak ada sedikit pun. Dalam hatinya, dia ingin berjuang untuk Diana sampai harta terakhirnya, bahkan kalau bisa sampai tetes darah penghabisan.
Apa yang aku bisa Diana? Sebenarnya aku ingin berjuang bersamamu, tapi hal ini membuatmu tersiksa. Daripada aku menyiksamu, lebih baik aku yang tersiksa dengan mengikuti apa yang kamu mau, jika hal itu membuatmu bahagia, kenapa tidak?
"Kembali secepatnya padaku setelah perjuanganmu selesai.” Ivan mencium pucuk kepala Diana.
Diana menarik diri dari pelukan Ivan, dia menatap sendu kedua bola mata Ivan. “Sudah sering aku katakan padamu, kalau aku tidak berani menjanjikan hal yang sulit untuk aku tepati.”
"Kenapa berjanji untuk kembali adalah hal sulit bagimu?"
"Perjuanganku di Negara orang, aku tidak tahu seperti apa." Diana menatap kosong kearah lain.
"Makanya berjuang bersamaku--"
Tatapan mata Diana yang begitu tajam, seakan memperingatkan Ivan kalau Diana tidak suka hal itu.
"Apakah bahasa yang aku ucapkan sangat sulit dimengerti?"
Melihat pancaran mata Diana yang menyiratkan kesedihan membuat Ivan merasa bersalah. "Maafkan aku Diana, aku hanya tidak siap melepasmu pergi sendiri." Ivan kembali memeluk Diana begitu erat.
__ADS_1
Diana kembali melepaskan pelukan Ivan. "Aku tidak sendiri, ada tim yang membantuku."
"Entah mengapa aku tidak bisa percaya pada tim mu, bukan aku ingin meracuni pikiranmu, terkadang sangat sering orang yang kita anggap saudara yang mengkhianati kita."
Diana menepuk pundak Ivan berulang kali. "Percayalah padaku, jangan berpikir yang buruk."
"Siapa yang mengajak berpikir hal buruk, kamu sendiri yang mulai, tadi yang tidak mau berjanji kembali siapa?"
"Aku, tapi yang tidak percaya dengan keselamatanku, siapa?" balas Diana.
"Aku."
Melihat tatapan mata Diana yang tertuju padanya, membuat Ivan merasa tercebur sendiri.
"Ehm!" Ivan berusaha mengusir kecanggungan.
“Kalau kamu tidak bisa berjanji selamat demi aku, setidaknya berusahalah untuk kembali pada Nenekmu, berjuanglah sekuat tenagamu, dan kembali dengan membawa kemenangan demi Nenekmu.”
Pandangan mata Diana seakan redup mendengar ucapan Ivan barusan. Diana menunduk memandangi lantai, seakan mencari uang koinnya yang hilang.
Ivan meraih dagu Diana dengan begitu lembut. "Apa yang kamu pikirkan?" Nada suara Ivan terdengar sangat lembut, seakan meniupkan angin kesejukan kedalam hati Diana.
"Tidak ada, aku hanya rindu Nenekku."
Ivan mengusap lembut sisi kepala Diana.
"Aku kira kamu tidak pernah tahu apa itu rindu, dan apa itu cinta."
"Aku ada di sini, karena aku mencintai Nenekku!" Diana terlihat kesal.
"Maafkan aku, aku hanya bercanda."
Ivan meraih kedua telapak tangan Diana. "Ingat, berusahalah kembali pada Nenekmu. Jika kamu kembali padanya dengan keadaan baik-baik saja, kamu telah membantu tanggung jawabku pada Nenekmu, kamu ingat bukan? Bahwa Kakekku berjanji akan menjagamu, janji Kakek pada Nenekmu, itu juga kewajibanku, karena kamu datang karena aku. Mustahil bagiku memintamu kembali padaku, memangnya siapa aku? Aku hanya ingin kamu semangat untuk kembali pada Nenekmu." Ivan mencium punggung telapak tangan Diana.
"Selamat berjuang permataku," ucap Ivan.
__ADS_1
Diana melepaskan tangan Ivan dan masuk kedalam pelukan Ivan. "Jangan terlalu baik padaku, aku buka orang baik, nanti kamu menyesal!"
"Tidak ada penyesalan bagiku, walau kamu tipu aku habis-habisan," ucap Ivan.
"Jangan mencintaiku, aku tidak pantas untuk dicinta, kamu tidak pernah tahu apa niatku padamu, ingat siapa sesunguhnya aku."
Rasanya banyak hal yang ingin Diana katakan, dia ingin jujur dan mengucapkan semuanya, tapi dia tidak tahu mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan.
Ivan sangat bahagia saat ini Diana memeluknya. Ivan membalas pelukan Diana, keduanya tenggelam dengan perasaan masing-masing.
15 menit berlalu.
Ivan menepuk lembut punggung Diana “Sudah, bersiaplah.”
Diana melepaskan pelukannya.
“Diana, boleh aku meminta satu hal?”
“Apa?”
“Bawa Dillah bersamamu," pinta Ivan.
"Apa?" Diana sangat tidak mengerti dengan permintaan Ivan.
"Dillah berhutang nyawa padamu, dia pasti akan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatanmu, karena aku tidak bisa menemanimu, maka bawa Dillah."
"Aku ...." Diana bingung bagaimana menolak permintaan Ivan.
"Aku mohon …, setidaknya ada seseorang yang bisa aku percaya untuk mengetahui keadaanmu.”
Diana menganggukan kepalanya.
Ivan sangat bahagia, dia kembali memeluk Diana. "Terima kasih, Diana. Dengan Dillah bersamamu, aku selalu bisa bertanya tentang keadaanmu di sana nanti."
"Hmm ... tapi jangan terlalu meneror, ingat aku pergi karena misiku."
__ADS_1
"Yang aku teror kan Dillah, bukan kamu."