
Plap!
Deguarrr!
Kilatan cahaya putih di langit malam diiringi suara Guntur yang menggelegar. Angin pun terus berhembus menerbangkan apa saja yang dia lalui. Diana diam, ternyata di luar benar-benar hujan. Ivan berjongkok membuka kopernya, dia mengambil salap dari dalam kopernya.
“Aku obati memar dibelakangmu,” ucap Ivan.
“Tidak perlu, ini tidak parah.”
Keduanya beradu tatap begitu lama. Diana mengalah, dia duduk di sisi tempat tidurnya dan mengendurkan bagian pundak jubah mandinya. “Lihat, ini tidak apa-apa, tidak perlu di oles salap.”
Ivan terpana melihat sepasang pundak indah Diana yang begitu putih, walau ada memar di sana sedikit pun tidak mengurangi keindahan pundak itu. Ceruk leher yang sangat memabukkan, ingin rasanya Ivan menenggelamkan wajahnya begitu lama di sana. Apalagi sekarang Diana selesai mandi, aroma sabun dan dinginnya permukaan kulit Diana semakin membuat otak Ivan memikirkan hal-hal aneh. Ivan berjalan mendekati Diana. Di luar kendalinya perlahan tangannya mengusap setiap centi bangian pundak Diana. Dia melupakan tugasnya untuk mengoles salap, dia malah terhipnotis oleh bagian tubuh Diana yang menyapa kedua matanya.
Diana mengira Ivan mengelus bagian-bagian punggungnya yang memar, dia membiarkan tangan Ivan terus menyentuh bagian punggungnya. Semakin lama sentuhan itu semakin aneh, bulu kuduk Diana ikut berdiri karena usapan begitu lembut yang Ivan berikan di sana. Diana merasakan pantulan napas Ivan di permukaan kulitnya, Diana masih berpikir Ivan melihat bagian memar itu dengan jarak dekat.
“Bagaimanapun kamu melihatnya, itu bukan suatu yang membahayakan—” Diana tidak mampu meneruskan ucapannya, saat dia merasakan ciuman lembut dari Ivan mendarat di bagian pundaknya, dan terus menjalar pada bagian lain. Diana menarik napasnya begitu dalam, berusaha menahan segala rasa yang mencuat dari dalam dirinya. Diana tidak kuat lagi menahan segala sensasi dari kegiatan Ivan, dia segera berdiri dan menaikkan lagi jubah mandinya. Sontak hal itu menyadarkan Ivan.
“Apakah Nizam menyediakan kamar lain untukmu?”
Ivan menganggukkan kepalanya.
“Lebih baik kamu istirahat di kamar yang Nizam sediakan.” Diana berjalan mendekati kopernya, dan mengambil satu setel piyama tidur, dan kembali berjalan menuju kamar mandi.
Ivan masih tenggelam oleh hasratnya, entah kenapa bagian tubuh Diana bagai candu dan tidak rela untuk menyudahi kegiatannya di sana. Ivan menarik kopernya menuju kamar yang lain, dan segera merebahkan dirinya di sana.
Di luar hujan semakin deras, kilatan cahaya petir juga masih menghiasi langit malam. Ivan meraih buku yang dia bawa, dia duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya. Sepasang matanya menatap halaman buku yang dia pegang, tapi pikirannya terus memikirkan Diana, dia terus membayangkan momen kebersamaanya dengan Diana. Saat hujan deras seperti ini momen itu sangat nyaman tidur sambil memeluk Diana.
Di kamar yang Diana tempati.
Diana mengenakan piyama tidurnya. Entah kenapa ada rasa penyesalan dalam dirinya karena mengusir Ivan, andai Ivan bersamanya, hal itu juga dia inginkan. Tapi egonya begitu tinggi dan mengalahkan keinginan hatinya. Diana berbaring di tempat tidurnya. Kedua matanya masih tidak mau berpejam, belum lagi pikirannya terus mengingat segala hal tentang Ivan. Kegiatan ringan Ivan pada setiap lekuk tubuhnya selalu terbayang dalam ingatannya. Diana kesal pada hati dan pikirannya sendiri, dia bangun, lalu meraih buku, dia membaca buku itu untuk mengisi waktu malamnya, Diana duduk di tempat tidurnya, dan bersandar di bantal yang dia tumpuk. Sepasang matanya memang memandangi halaman buku yang dia buka, tapi Diana tidak bisa berhenti memikirkan Ivan.
Di luar hujan mulai reda, suara Guntur pun tidak terdengar lagi. Ivan melirik arloji yang dia letakkan di nakas yang ada di dekat tempat tidur. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, entah kenapa dari dalam dirinya Ivan merasa kalau Diana juga masih terjaga seperti dirinya. Ivan keluar dari kamarnya, dia berjalan menuju dapur. Beruntung di dapur ada satu pelayan yang berjaga.
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” sapa pelayan Nizam.
“Boleh saya meminta segelas susu hangat?”
Pelayan itu segera membuatkan segelas susu hangat, dan menyerahkannya pada Ivan. Ivan berjalan menuju kamar Diana membawa segelas susu itu. Saat dia membuka pintu kamar Diana, Ivan tersenyum melihat Diana duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sambil membaca buku. Ivan segera menutup pintu kembali dan mendekati Diana. Ivan mengambil buku yang Diana pegang, hal itu membuat Diana terkejut.
“Sudah ku duga kau belum tidur.” Ivan meletakkan buku yang dia ambil di meja kecil yang ada di dekatnya.
“Kamu juga belum tidur,” balas Diana.
“Ivan memberikan segelas susu yang dia bawa pada Diana. “Minumlah selagi masih hangat.”
Diana segera bangun dan meminum habis susu yang Ivan berikan padanya, dia meletakkan gelas kosong itu di dekat bukunya.
Ivan langsung naik keatas tempat tidur Diana.
“Hey, kenapa berbaring di sini?” protes Diana.
Tatapan lembut mata Ivan penuh dengan makna, membuat Diana tidak mampu untuk menolak ajakan Ivan, dia segera merebahkan dirinyanya di samping Ivan. Ivan menyelimuti tubuh mereka berdua, dan memeluk erat wanita yang ada di sampingnya. Pelukan Ivan sungguh nyaman, perlahan sepasang mata Diana terpejam.
**
Pagi menyapa, Ivan terlebih dulu membuka matanya, melihat Diana masih sangat nyenyak, Ivan tidak tega untuk membangunkannya, dia mendaratkan satu ciuman lembut diantara alis Diana, dan segera keluar dari sana. Saat Ivan sampai di kamar yang disediakan untuknya, dia mendapatkan pesan dari Universitas perihal ledakkan yang terjadi kemaren. Ivan segera menarik kopernya meninggalkan kamar yang dia tempati.
“Ivan, mau kemana kamu sepagi ini?” sapa Nizam.
“Aku harus ke Perusahaan, terima kasih banyak atas bantuanmu.”
“Diana?” Nizam bingung karena hanya melihat Ivan seorang diri.
“Diana masih tertidur.”
“Owh.”
__ADS_1
“Aku pergi dulu,” ucap Ivan.
Nizam hanya menganggukkan kepalanya. Setelah meninggalkan kediaman Nizam, Ivan melajukan mobilnya menuju Perusahaannya.
**
Satu jam setelah kepergian Ivan, perlahan Diana membuka matanya, dia sangat terkejut melihat Ivan sudah tidak ada di sampingnya. Diana segera meraih handphonneya, seketika perasaanya lega setelah membaca pesan dari Ivan kalau dia sudah pergi ke kantor lebih dulu. Diana segera menyegarkan badannya, saat dia keluar kamar, di luar sana Nizam sudah meyambutnya di meja makan. Mereka berdua menikmati sarapan bersama.
“Setelah sarapan kamu mau kemana, Diana?”
“Ke kampus.”
“Mau ku antar?”
“Terima kasih banyak Nizam, tapi aku sudah memesan taksi online.”
Setelah selesai sarapan, Diana meninggalkan rumah Nizam dengan taksi online dan menuju kampusnya. Sesampai di Universitas, Diana sangat heran melihat banyak orang di area parkir. Diana membayar ongkos taksinya dan segera turun dari taksi.
“Nah itu dia pembuat onarnya sudah datang.”
Diana menautkan kedua alisnya, dia baru turun dari taksi sudah di sambut dengan kata pembuat onar. Diana berjalan mendekati seorang wanita yang meneriakinya itu. “Apa maksud mama Tera?”
“Tidak usah pura-pura bodoh Diana, kamu memang sengaja menciptakan ledakkan kemaren, dengan mencampur sembarangan cairan kimia yang ada di Lab.” Mama Tera menjelaskan sebab ledakkan kemaren pada para dosen yang berkumpul di area parkir.
“Apakah bisa masalah ini diselesaikan secara damai? Untuk kerugian semuanya aku yang tanggung,” sahut Diana.
Mama Tera menatap sinis pada Diana. “Aku tahu kamu mampu mengganti semua kerugian, bisakah tidak mencari sensasi dengan cara seperti ini?”
Desas-desus bisikkan para Mahasiswi mulai terdengar.
“Ku dengar Diana simpanan seorang sugar daddy.”
Diana ingin membungkam mulut-mulut yang mengatakan kalau dirinya seorang simpanan, tiba-tiba satu mobil mewah melaju pelan kearahnya, dan berhenti tepat di depan Diana. Diana terdiam melihat sosok tampan yang keluar dari mobil mewah itu.
__ADS_1