Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 228 Bangkrut


__ADS_3

Dillah mengambil remot tv, dia langsung menyalakan televisi besar yang menempel di dinding ruangan. Saat tv menyala, siaran yang mereka tonton saat ini tentang kebangkrutan ED Group. Sangat banyak kelicikan ED Group yang di bahas. Membuat desakan selalu keluar dari mulut Dillah.


"Ck! Ck! Ck! Peretas ini sangat gila! Dia berhasil meretas sampai informasi yang paling rahasia."


Diana tidak menanggapi ucapan Dillah, dia menyimak berita, sampai mana televisi berani menyiarkan tentang ED Group, dan Diana sangat lega melihat televisi itu memberitakan berita yang dia berikan tanpa di potong-potong mau pun di kurangi.


"Nona."


Panggilan Dillah membuat pikiran Diana buyar. "Ada apa?"


"Nona Jennifer masih meminta Anda untuk mencari tahu no name?"


"Masih, tapi aku tidak bisa melakukannya. Bukankah dia ke sini untuk meminta bantuan Angga?"


"Nona bukan tidak bisa melakukannya, Nona hanya tidak ingin. Kalau Nona ingin melakukannya, aku yakin, pasti Nona menemukan siapa no name. Kalau suatu saat Nona berhasil menemukan siapa no name, izinkan aku mengurungnya di lab, aku ingin menjadikannya sampel percobaan."


Ceklak!


Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan sosok yang sangat tampan.


"Hei, aku punya kabar bahagia untuk kalian semua," ucap Ivan.


"Apa itu Tuan?" sahut salah satu pegawai.


"Rapat hari ini dibatalkan, kita hari ini liburan ke suatu tempat, jadi kalian semua silakan pulang, 40 menit lagi kita bertemu di atas, ada 5 hellychopter yang menunggu kita."


"Serius Tuan?"


"Apakah aku terlihat sedang bercanda?" Ivan menoleh pada Diana. "Hei permataku, ayo kita bersiap untuk liburan bersama pegawai Agung Jaya."


Mereka semua meninggalkan ruang rapat, sedang Dillah mendapat tugas baru untuk menjemput Anton, dan menyiapkan keperluan Ivan dan Diana. Sedang Ivan mengurung Diana di ruangan rapat itu, merasa hanya ada mereka berdua, Ivan mengunci pintu ruangan itu.


Perlahan dia mendekati Diana, dan memojokan Diana di tepi meja panjang. "Kamu bahagia?" tanya Ivan lembut.


"Katakan, hal apa yang harus membuatku sedih? Saat ini kamu bersamaku, saat bersamamu, aku tidak punya kesedihan."


Ivan tersenyum mendengar rayuan Diana. "Maksudku bukan tentang aku, tapi ED Group, kini rencanamu berjalan sempurna, di luar dugaanku, ternyata banyak orang yang sayang padamu. Saat Rival ED Group menyebut nama Ayahmu, banyak perusahaan lain yang ikut menyerang ED Group, bahkan ada peretas hebat yang ikut menyerang. Kamu bukan hanya istimewa di hati, mata, dan pikiranku, tapi di hati setiap orang."

__ADS_1


Ivan meraih tengkuk Diana dan perlahan menyatukan bibir mereka.


Diana menyudahi pangutan mereka. "Aku malah tidak tahu kalau ED Group berhutang pada papaku, aku pikir itu campur tanganmu."


"Dalam kasus ini, saat ini aku hanya jadi penonton."


Andai saja tidak ada penerbangan yang akan mereka ikuti, saat ini juga Ivan ingin menjadikan tempat ini sebagai saksi bisu persatuan cinta mereka. Namun dia harus segera ke atas, ada penerbangan yang menuggu kita."


Ivan dan Diana segera naik ke lantai teratas Gedung Agung Jaya, benar saja ada 5 hellychopter yang siap di sana. Ivan terlihat berbicara dengan beberapa petugasnya. Sesaat kemudian dia kembali mendekati Diana.


"Ayo kita pergi lebih dulu." Ivan memberikan tangannya pada Diana.


"Kita mau ke mana?" tanya Diana.


"Liburan, itu saja."


Diana memberikan tangannya pada Ivan, mereka berdua segera masuk kedalam Hellychopter. Hellychopter itu pun perlahan mengudara meninggalkan gedung Agung Jaya.


Selama perjalanan udara, Diana menikmati keindahan pemandangan kota mereka dari atas.


Diana hanya memberikan senyumnya, dan bersandar di dada Ivan.


Perjalanan udara itu berakhir, saat Hellychopter mendarat di pulau yang sangat indah. Diana tersenyum melihat keindahan pulau, saat dia turun dari hellychopter, Diana sengaja melepaskan alas kakinya, dia berlari diatas lembutnya pasir putih.


Ivan meminta pilot meninggalkan mereka di pulau ini, setelah Hellychopter pergi, Ivan berjalan menuju rumah kecil di tepi pantai, dan melepaskan jasnya dan sepatunya, dan meninggalkannya di sana. Sambil menggulung lengan kemejanya, Ivan terus berjalan menyusul Diana.


Diana memandangi ombak yang beradu untuk mencapai bibir pantai.


Brussshhh!


Ombak yang sampai di bibir pantai menyapa kaki Diana. Saat yang sama sepasang lengan kokoh melingkar di perut Diana.


"Pantai ini indah sekali," ucap Diana.


"Kamu suka?" Ivan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Diana.


"Hmmm ...." Diana memejamkan kedua matanya. Entah mengapa aktivitas Ivan seperti itu perlahan membangkitkan keinginan lain.

__ADS_1


Ivan menyudahi kegiatannya mengabsen setiap centi permukaan kulit Diana. "Sayang, maafkan aku, karena membawamu liburan bersama rombongan."


"Tapi mereka belum sampai, kalau kamu ingin hadiah dariku, kita bisa melakukannya di sini." Diana melemparkan tas dan sepatunya ke pasir yang jauh dari sapaan ombak laut. Dengan senyuman nakalnya dia menyeret Ivan menuju lautan.


Keduanya bukan hanya menyelam dalam air laut, tapi juga menyelami kegiatan yang lain. Gerakan Ivan yang sangat cepat menciptakan ombak lain yang menciprat kemana-mana.


Ivan menurunkan temponya, membuat air di sekitar mereka juga ikut tenang. "Mereka datang dari atas, bagaimana kalau mereka melihat kegiatan kita?"


"Saat kita mendengar suara hellychopter, kita sudahi kegiatan utama kita, kita hanya bermesraan main air bersama."


Ivan kembali bersemangat menaikan kecepatannya. Melihat Diana berpegang erat pada batu karang tempat mereka bertumpu, Ivan semakin semangat. Suara napas yang memburu seakan ditelan oleh angin laut yang tidak pernah berhenti berhembus.


Keduanya pun sampai pada kenikmatann terdalam mereka. Ivan meraih celana yang dia tinggalkan di batu karang. Setelah mengenakan pakaiannya, Ivan naik keatas batu karang yang menjadi saksi perjuangan mereka.


"Ayo naik, sudah cukup berendamnya." Ivan mengulurkan tangannya pada Diana.


Diana meraih tangan Ivan, dia bersandar di bahi Ivan. Keduanya memandangi indahnya hamparan lautan di depan mereka.


"Setiap orang punya mimpi, dan mimpimu membangun banyak fasilitas kesehatan di dunia, yang menggratiskan pelayanan mereka. Saat semua itu terwujud, apalagi mimpimu?" tanya Ivan.


"Hidup tenang dan bahagia bersamamu."


Jawaban Diana sangat sederhana, tapi Ivan sangat bahagia mendengarnya. Ivan berulang kali mencium sisi kepala Diana.


"Terima kasih telah hadir di dunia ini, jika kamu tidak ada, aku tidak tahu apakah aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini." Ivan mengeratkan pelukannya.


Diana memejamkan matanya, dia berusaha mendengarkan detak jantung Ivan. "Kamu sudah mengurangi merokokmu?"


"Iya demi kamu, karena aku ingin hidup lebih lama untuk memberimu banyak cinta, kalau bisa banyak anak juga." Ivan berusaha menahan senyumnya. Mengatakan anak, Ivan merasa wajahnya menghangat.


"Aku tidak bisa janji soal anak, walau aku seorang dokter, tubuhku ciptaan Tuhan, bukan ciptaan mesin. Sehebat apapun aku, aku tidak bisa merubah apa yang Tuhan takdirkan." Diana tidak ingin Ivan terlalu berharap.


"Tidak masalah, saat ini kamu terima semua cintaku, itu semua sudah cukup."


Ivan ingin mencium Diana, tapi keinginannya tertahan kala indra pendengarannya mendengar suara yang cukup jelas dari udara.


"Mereka datang." ucap Ivan.

__ADS_1


__ADS_2