
Wilda terdiam, berusaha mengingat pembicaraannya dengan Ivan tadi pagi. Dua petugas keamana meraih tangan Wilda. “Jangan sentuh aku!” teriaknya.
Kedua pelayan menoleh pada Ivan, mereka menunggu instruksi dari Ivan. Ivan memberi kode agar mereka membiarkan Wilda untuk sementara.
Di sisi lain, Wilda menatap Ivan penuh kebencian. “Dasar licik! Kamu sedari awal memang ingin menjebak suamiku bukan?”
Ivan hanya diam membiarkan Wilda menumpahkan kemarahannya.
“Belum apa-apa kau sudah jadi seorang pecundang, yang rela melakukan apa saja demi wanitamu, kau CEO yang boddoh!” maki Wilda.
“Kau lebih buruk dari biantang Ivan! Binatang saja masih punya rasa untuk keluarganya, sedang dirimu?!”
“Wilda! Perasaan kita tidak menyukai Diana memang sama, tapi jangan pernah kau hina anakku dengan kata-kata bodoh! Aku yang hamil 9 bulan, dan mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, aku berjuang mendidiknya dan membesarkannya, tidak akan ku biarkan seseorang memaki anakku dengan mengatakan dia binatang! Aku Tidak rela orang lain memaki dan menghina anakku!” maki Rani.
“Jaga bicaramu Wilda! Apapun Tindakan Ivan, dia melakukan hal yang benar, akui kesalahanmu dan terima hukumanmu!” ucap Sofian.
"Tante menipu Bank, dengan menjaminkan Aset Agung Jaya tanpa izinku, apa tante lupa kalau aku pemilik utama Agung Jaya Group," ucap Ivan.
Sofian mendekati Ivan. “Nak, kesalahan tantemu memang tidak bisa dibenarkan, tapi pandanglah dia sebagai tantemu, lihat dia sebagai keluarga Agung, bagaimana pun dia pernah membelaimu penuh cinta, mengasihimu seperti seorang ibu. Demi kebaikan keluarga Agung Jaya, maafkan tantemu, Ivan.”
“Wilda memang salah Ivan, beri dia kesempatan. Bukan hanya kamu yang terluka, kakek juga. Tapi bagaimana pun, dia anak kakek, dia tantemu, Ivan.”
“Aku melaporkan om Ramasta bukan karena Diana, andai aku melakukan itu demi Diana, aku tidak melaporkan om ke polisi. Tapi, aku akan melakukan hal yang sama seperti perbuatan tante Wilda pada Diana. Karena aku menghukum om atas nama perusahaan sebab itu aku melaporkan om ke polisi.”
“Apa kakek akan setegar aku, kalau kakek tahu tante membayar 126 penjahat untuk membunuh Diana?” Ivan menatap dalam kearah kakeknya.
“Apa?! Dia membayar lebih dari 100 orang untuk membunuh Diana?” Sepasang mata Abimayu memerah mengetahui hal ini.
Monti berusaha menahan Abimayu, agar laki-laki itu tidak menyerang Wilda. Bukan hanya Abimayu, Gwen juga sangat marah, dia mengambil vas bunga dan ingin memukulkan vas itu pada Wilda.
"Sangat rugi kalau Anda masuk sel hanya karena menyentuh lumpur," ucap Ivan.
Gwen seketika menahan keinginannya. Dengan santai Ivan mengambil vas itu dari tangan Gwen.
“Jangan kotori tangan Anda hanya untuk menghempaskan kotoran itu,” ucap Ivan. Ivan menatap kearah Wilda. “Aku menahan Nyonya Gwen bukan melindungi Anda Nyonya Wilda, tapi menjaga nama baik mereka agar nama baik mereka tidak tercemar karena menendang kotoran seperti Anda!” maki Ivan.
“Tuan Sofian, Tuan Besar. Maaf saya menyela.”
Pandangan Sofian dan kakek Agung tertuju pada Narendra. “Sebelum semua ini terjadi, Tuan Ivan sudah mendatangi Nyonya Wilda untuk memberi pilihan, dia mengajak Nyonya berdamai, dengan memberikan video itu dan mengklarifikasi kalau video itu editan. Tapi, Nyonya Wilda menolak.” Narendra memutar rekaman yang dia ambil saat Ivan menawarkan pilihan pada Wilda.
"Harusnya kau tetap dibelakang layar, kau bicara semaumu tanpa izinku!" gerutu Ivan.
"Maaf Tuan, saya tidak sekuat Anda untuk tetap diam dan menyaksikan."
__ADS_1
Semua orang menyimak pembicaraan Ivan dan Wilda. Wilda hanya diam, dia kalah telak, dia baru sadar kenapa Narendra selalu memeluk tablet kemana pun dia berjalan, di luar dugaannya, ternyata laki-laki itu selalu merekam kegiatan bos-nya.
“Kesalahan tanteku sudah terlampau batas, aku tidak tahu memberikan balasan apa untuknya.” Ivan menatap Gwen dan Abimayu. “Bawa saja dia, lakukan apa yang kalian mau padanya.”
“Ivan ….” Wilda berteriak histeris. Tapi tak seorang pun yang peduli padanya.
"Ayah ... Kak Sofian ...." Wilda menjerit, tapi tidak seorang pun yang peduli padanya.
“Baiklah, kalau begitu saya undur diri dulu.” Gwen langsung mencengkramm kuat pergelangan Wilda dan menarik paksa wanita itu agar ikut dengannya.
"Aku tidak mau ikut kalian! Suamiku membutuhkanku!" Wilda berusaha berontak, tapi tenaga Gwen jauh lebih kuat darinya.
“Pak Abi, Monti, sebaiknya kalian temani Nyonya Gwen, aku takut kalau Nyonya Gwen tidak bisa mengontrol dirinya, beliau sangat menyayangi Diana, aku khawatir Nyonya Wilda tidak diberi Nyonya Gwen kesempatan untuk menikmati oksigen lagi," ucap Archer.
Pak Abi dan Monti langsung izin pamit, mereka berduan berlari menyusul Gwen yang saat ini menyeret Wilda.
Rani terlihat sangat buruk, wajahnya juga terlihat sangat pucat.
Siapa Diana? Tidak mungkin kalau dia hanya wanita desa biasa, latar belakangnya pastinya tidak sesimple itu, apalagi melihat orang-orang yang selalu melindunginya.
“Ayah, sebaiknya mama dan kakek istirahat dulu. Mama harus mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan jauh, sedang kakek pasti Lelah karena dia baru melakukan perjalanan jauh," usul Ivan.
Sofian setuju. "Ivan benar, sebentar lagi kita akan melakukan perjalanan jauh, lebih baik mama istirahat," bujuk Sofian.
Rani segera menuju kamarnya, sedang Sofian membantu Ayahnya menuju kamarnya. Tertinggal Ivan, Archer, dan Narendra di ruang tamu.
“Maafkan kami,” ucap Ivan.
“Nenek Zelin mempercayakan padaku untuk urusan Diana, jadi aku bisa membawa Diana pergi dari sini kapan pun aku mau!” Archer menatap Ivan begitu dalam. "Aku tidak menceritakan masalah yang timbul pada nenek Zelin, aku hanya bilang hanya mengurus beberapa masalah sekalian untuk mengunjungi Diana."
“Untuk urusan Diana ingin pergi atau bertahan di sini, biar dia yang menentukan,” sahut Ivan.
“Anda yakin Tuan membiarkan Nona mengambil keputusan?” sela Narendra.
“Siapa yang mengizinkanmu untuk bicara?” Hardik Ivan.
“Maaf Tuan.” Narenda sadar kalau dia telah lancang.
“Baiklah, aku akan bertindak setelah Diana kembali nanti, kita tunggu pilihan mana yang dia ambil, bertahan bersamamu, atau pulang ke rumah neneknya bersamaku.”
"Boleh aku menggunakan kamar kecil?" tanya Archer.
Ivan memanggil seorang pelayan, dan meminta pelayan mengantar Archer toilet.
__ADS_1
Ivan berdiri menatap kearah jendela, pikirannya terbang entah kemana.
Bruk!
"Tuan ...."
Tiba-tiba seseorang bersimpun di kaki Ivan. Saat Ivan meminta laki-laki itu berdiri, dia sangat terkejut.
"Dillah?!" Ivan menatap tajam pada Narendra. "Kau menipuku?" Tanpa menunggu jawaban Narendra, Ivan menyeret Dillah agar keluar dari rumahnya.
Setelah melempar Dillah dari rumahnya, Ivan mengunci pintu utama, dia berjalan cepat menuju Narendra, seakan ingin menelan Narendra hidup-hidup.
"Kau menipuku! Kau bilang Dillah kau kubur, dan handohonenya kau buang ke tengah lautan!" Ivan mencengkram kuat krah kemeja Narendra
Narendra tidak menjawab pertanyaan Ivan, Narendra memberikan tabletnya pada Ivan, dengan susah payah dia berkata, meminta Ivan menonton 2 video yang dia simpan. Video pertama, saat Narendra mengubur Dillah, dan video kedua ada sosok yang sangat Ivan rindukan, kemarahannya seketika padam melihat Diana ada dalam video.
"Hai, maaf aku mencampuri urusanmu, aku mengutus orang untuk menyelamatkan Dillah, beruntung mereka tepat waktu.
Dillah memang salah hanya saja tindakanmu pada Dillah, sangat kejam, dia jatuh cinta wajar, apa selama ini dia pernah mengkianatimu dalam arti yang sangat parah?"
Ivan terdiam mencerna ucapan Diana.
"Dia hanya menjebakku, tapi aku tidak apa-apa. Ayo maafkan dia."
"Urusan Dillah, percayalah padaku, dia tidak akan mengkhianatimu lagi."
"Narendra juga tidak tahu rencanaku, aku meminta orang kepercayaanku mengirimkannya video ini pada Narendra, setelah mereka selesai merekam video penyelamatan Dillah."
"Bisakah kamu memaafkan Dillah demi aku?"
Video itu berakhir.
"Bagaimana Tuan?"
Pertanyaan Narendra membuat fokus Ivan seketika buyar.
"Biarkan dia hidup, aku melakukan ini demi Diana." ucap Ivan.
Narendra semakin takjub, Ivan membiarkan Dillah hidup hanya karena Diana.
Ivan langsung membuka pintu utama, di luar sana Dillah masih bersimpuh di depan pintu, saat pintu terbuka, dia langsung berlutut di bawah kaki Ivan.
"Tuan ..., terima kasih, karena Anda menyelamatkan saya, memaafkan saya, dan memberi pelajaran yang sangat luar biasa. Berkat rencana Anda saya bisa melihat saya sangat bodoh!" ucap Dilah."
__ADS_1
"Kamu bisa keluar dari kuburan dan hingga kini masih bisa menghirup oksigen, bukan karena pertolonganku, tapi Diana. Aku memaafkanmu, juga karena Diana!" ucap Ivan.
"Nona Diana?" Dillah mematung mengetahui rencana hebat yang telah membuka kedua matanya yang buta karena melihat dua paha Qiara.