Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 202 Kesedihan Dillah


__ADS_3

Bebebrapa pemilik Perusahaan yang mempunyai kerjasama dengan Agis, saat itu juga mereka menandatangi kontrak pemutusan kerja sama. Kedua mata Agis membulat sempurna melihat pemimpin perusahaan sangat takut pada Jennifer.


Rebecca tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, saat dia menerima dokumen pemutusan kerja sama, dan lembaran cek sebagai konpensasi pada Agis. Bahkan Produser film yang akan syuting di Universitas Bina Jaya mereka juga memutuskan kontrak kerjasama dengan Agis.


"Terima kasih kerjasamanya, karena kalian mendengarkan apa yang aku mau, maka aku akan menambah investasiku di perusahaan kalian," ucap Jennifer.


Jennifer menggerakan tangannya. Dua orang bertubuh tegap langsung mendekatinya.


"Ada apa Nona muda?"


"Jika wanita itu tidak keluar dari sini, seret dia dan jangan sampai dia menginjakan kakinya di perusahaan ini," titah Jennifer.


"Tidak usah mengusirku! Aku bisa pergi sendiri!" Agis dan Rebecca langsung pergi meninggalkan kantor Widori Group.


Manager Agis langsung kembali ke kantor mereka, menyelesaikan kontraknya dengan Agis, juga perhitungan yang lain, sedang Agis melajukan mobilnya menuju kantor Agung Jaya Group.


Sesampai di Gedung Agung Jaya, Agis melengos begitu saja, hingga dia dicegat seorang petugas keamanan.


"Mau bertemu siapa, Nona?"


"Mau bertemu Ivan," sahut Agis.


"Sudah mengatur janji?" tanya petugas keamanan.


"Bapak tidak kenal saya?" tanya Agis.


"Siapa pun Anda, kalau ingin bertemu petinggi Perusahaan ini, Anda harus mengatur janji lebih dulu." Kepala Keamanan mengarahkan tangannya kearah meja resepsionis.


Agis kesal, tapi dia tetap menuju meja Resepsionis, dan mengatakan tujuannya datang ke Perusahaan ini.


"Sebentar Nona, saya menelepon Tuan dulu." Resepsionis itu berbicara di telepon, setelah menutup telepon, dia berbicara dengan Agis.


"Maaf Nona, Tuan Ivan saat ini tidak berada di tempat."


Agis segera pergi meninggalkan Gedung Agung Jaya, saat sampai di mobil, Agis berusaha menghubungi nomor Ivan.


Maaf nomor yang Anda tuju, tidak bisa menerima panggilan, silakan tinggalkan pesan.


Agis sangat kesal, dia memukul kendali mobilnya.


*****


Jerman.


Jam menunjukan pukul 07.15, Diana memandangi semua obat T779 yang berhasil dia kembangkan. Lumayan banyak dosis obat itu, tapi bagi Diana ini masih kurang. Diana mengambil satu botol obat, dan mengusapnya.


"Jadilah penyelamat untuk orang-orang yang membutuhkanmu."


Rasanya Diana tidak rela melepas semua obat ini. Diana memasukan obat T779 yang terakhir kedalam sebuah tempat yang berpengaman, agar semua obat itu aman sampai ketempat tujuan. Semua obat itu sudah Diana susun ke sebuah koper besar.


Diana memandangi lab yang selama ini menjadi tempatnya membibitkan T779. "Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi," ucap Diana


Setelah semua selesai, Diana mengunci kembali laboratoriumnya.


"Pak, tolong antar saya ke suatu tempat," pinta Diana.


"Baik Nona." Supir yang bekerja di sana langsung menyiapkan mobilnya. Dia mengatakan tempat yang dia tuju, mobil itu pun melaju cepat ketempat tujuan.


Sesampainya di sana, Diana melihat posisi Nizam, dia segera turun dan menarik koper besarnya.


"Ini yang harus kamu bawa," Diana memberikan koper besar itu pada Nizam.

__ADS_1


"Kenapa kamu cuma sendiri? Mana dua temanmu?" Tanya Nizam.


"Mereka masih bekerja."


"Yakin masih bekerja?"


"Yakin, mereka teman baikku," ucap Diana


"Entah kenapa, aku tidak bisa percaya pada dua temanmu," ucap Nizam.


"Lupakan, lihat aku. Sampai saat ini aku baik-baik saja," ucap Diana.


"T779 ada di sana?" Nizam mengisyarat pada koper yang dia pegang.


"Iya. Aku percayakan harta karun ini padamu, tolong bawa ini ke Negara yang aku sebut tadi malam."


"Siap, aku sudah menyiapkan jet pribadiku, agar keamananku terjamin," ucap Nizam.


"Terima kasih banyak Nizam."


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu."


"Mana ada, yang selalu membantuku itu kamu, sedang aku hanya bisa merepotkan kamu."


"Aku berterima kasih padamu atas kepercayaan yang kamu berikan padaku, banyak orang yang sangat mencurigakan di sekitarmu, tapi kamu selalu percaya padaku," ucap Nizam.


"Semoga aku tidak salah," Diana tersenyum kaku.


"Siapa saja yang tahu, kalau obat ini kamu titipkan padaku?" tanya Nizam.


"Untuk saat ini hanya aku yang tahu," sahut Diana.


"Tentu," sahut Diana.


"Nizam."


"Iya, Diana?"


"Jangan khianati aku."


Nizam mengedipkan sebelah matanya. Setelah menerima koper dari Diana. Nizam langsung pergi dari tempat itu. Diana menatap Nizam dengan tatapan yang sulit diartikan, dia hanya berharap keputusannya kali ini adalah langkah yang tepat.


***


Diana kembali ke mobil. "Pak, antar aku ke tempat Kakek Hong. Aku ingin menjemput temanku."


"Baik, Nona."


Supir langsung mengantar Diana kekediaman Kakek Hong. Sesampai di sana Diana menghampiri salah satu murid kakek Hong. "Suhu kalian kemana?"


"Suhu mengajak pemuda luar kota itu memancing di pulau."


"Memancing?" Diana bingung.


"Iya, pemuda itu terlihat sangat sedih, jadi Suhu menghiburnya dengan membawanya memancing bersama."


"Terima kasih ya, aku pergi dulu."


Diana sangat tahu, pulau mana tempat kakek Hong biasa memancing. Tanpa pikir panjang, Diana menelepon salah satu suruhannya untuk menyediakan kapal untuknya.


"Pak, kita ke pelabuhan, katanya Kakek Hong sedang pergi memancing."

__ADS_1


"Baik Nona."


Sesampai di pelabuhan, satu kapal sudah disiapkan untuk Diana. 2 jam perjalanan laut, akhirnya Diana sampai di titik kordinat di mana posisi kapal Kakek Hong biasa memancing, dan sebuah kapal terlihat di depan sana. Diana meminta agar dia diantar ke kapal Kakek Hong.


"Kalian pulanglah," ucap Diana pada anak buah kapal yang mengantarnya.


"Nona bagaimana?"


"Aku akan pulang bersama Kakek Hong."


"Baik Nona, jaga diri Anda."


Saat Diana menyusuri kapal kakek Hong, akhirnya dia menemukan Dillah yang duduk melamun memandangi lautan lepas.


"Dillah, kenapa kamu wajahmu sangat muram?" Tanya Diana.


"Nona? Kenapa Nona bisa ada di sini?"


"Aku bisa terbang dan menghilang, mudah bagiku sampai di sini," ucap Diana.


"Owh …." Dillah tidak pandai menyembunyikan kesedihannya.


"Tidak mau cerita padaku, hal apa yang membuatmu sedih?" Tanya Diana.


"Aku hanya meratapi diriku sendiri Nona, Kakek Hong memberiku tantangan melawan 5 muridnya yang masih Junior, mereka juga masih anak-anak, tapi aku tidak bisa melawan mereka."


"Aku kalah melawan beberapa orang anak kecil! Aku merasa lemah dan tidak berguna!" Wajah Dillah basah karena air mata, sekuat apapun berteriak, rasa sakit karena dikalahkan murid Kakek Hong itu tidak juga hilang.


"Semua butuh proses, Dillah. Siapa bilang kamu tidak berguna, buktinya Ivan percaya padamu untuk menemaniku."


Diana menepuk pelan pundak Dillah, dia duduk di samping Dillah menikmati pemandangan yang sangat indah itu.


"Kamu tahu, kepercayaan itu melebihi segalanya, andai kamu punya kesaktian membalikan bumi ini, tapi orang tidak percaya padamu, itu tidak ada gunanya.


***


Kapal Kakek Hong terus mengarungi lautan lepas. Keadaan terlihat sangat tenang. Mereka semua menikmati indahnya pemandangan laut saat senja.


"Diana, bibi Zicca sakit!" Kakek Hong sangat panik.


"Di mana dia?" Tanya Diana.


"Ku bawa ke kabin."


Mereka semua segera menemui bibi Zicca.


Diana memeriksa keadaan bibi Zicca. "Aku tidak membawa apa-apa, sebaiknya kita segera kembali ke kota."


Kapal pun segera putar arah. Keadaan terasa mencekam, tidak ada yang bisa Diana gunakan untuk mengobati bibi Zicca.


"Apa dia bisa bertahan?" Tanya Dillah.


"Semoga." Diana memandang sendu kearah bibi Zicca yang terlihat semakin lemah.


Diana dan Dillah masih berada di Kabin menemani bibi Zicca. Hingga suara yang sangat keras mengejutkan mereka.


"Suara apa itu?" ucap Dillah.


"Entahlah." Wajah Diana terlihat sangat waspada.


"Nona di sini saja, biar aku memeriksa keadaan dulu." Dillah langsung keluar dari kabin.

__ADS_1


__ADS_2