
Pagi menyapa.
Rasanya tidak rela untuk membuka kelopak matanya, cuaca terasa sangat dingin, sedang di tempat tidur ini terasa sangat hangat.
Drtttttt! Drtttt! Drttttt!
Getaran handphone yang terasa membuat Ivan terpaksa menyudahi pelukannya. Dia segera meraih handphonenya, terlihat nama Yudha pada layar handphonenya. “Iya Yudha.”
“Undangan ke rumah Tuan muda Archer beneran? Aku hanya tahu tentang beliau, tapi tidak mengenalnya.”
Ivan menepuk dahinya, dia lupa kalau hari ini ada undangan makan siang di rumah Archer. “Benar Yudha, aku akan datang ke sana bersama Diana.”
“Aku kira kau ingin mengerjaiku, ya sudah aku segera ke sana bersama Dillah, lebih aman dia ku bawa daripada meninggalkan dia di perusahaan.”
“Sampai jumpa di sana Yudh.”
Ivan segera menyimpan handphonenya, saat dia menegakkan wajahnya, Diana sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ivan melangkah mendekati pintu kamar mandi. “Diana.”
“Iya.”
“Apa kamu bisa memenuhi undangan ke rumah Tuan Muda Archer?”
Ceklak!
Pintu kamar mandi terbuka. “Tentu saja aku bisa.”
“Kamu yakin? Bagaimana keadaanmu saat ini?”
“Aku baik-baik saja, semalaman dokter hebatku merawatku.” Diana kembali menutup pintu kamar mandi.
Senyuman seketika terukir di wajah Ivan mendengar jawaban Diana, dia segera menuju kamarnya, mempersiapkan diri untuk bertamu ke rumah Tuan muda Archer.
***
Yudha tiba lebih dulu di kediaman Tuan Muda Archer, dia langsung di sambut hangat oleh para pelayan Tuan Muda Archer. Para pelayan itu langsung menghentikan kegiatan mereka, saat Tuan muda mereka berjalan kearah mereka. Melihat hal itu, Yudha langsung berdiri menyambut Tuan rumah yang perlahan mendekat kepadanya.
“Maaf sepertinya saya terlalu awal, tadi saya sudah telepon Ivan, katanya dia segera ke sini bersama Diana,” ucap Yudha.
“Archer.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Yudha.
“Yudha,” sahut Yudha, seraya menyambut jabatan tangan Archer.
Para pelayan kembali menjamu Yudha, sedang Yudha dan Archer terlihat canggung, keduanya bingung harus memulai obrolan apa.
“Apa aku terlambat?”
Ucapan seseorang yang baru masuk menyita perhatian Yudha dan Archer. Melihat sosok yang baru masuk keduanya langsung berdiri menyambut sosok yang baru masuk.
“Selamat datang Pengacara Nizam,” sambut Archer.
Nizam tersenyum dan menyambut jabatan tangan Archer, Yudha juga mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Nizam.
“Ivan dan Diana?” tanya Nizam.
“Mungkin mereka masih dalam perjalanan,” sahut Yudha.
“Silakan duduk, Nizam.” Sambut Archer.
Ketiganya menghempaskan bobot tubuh mereka pada sofa empuk, kegiatan mereka hanya sesekali menyesap teh hangat yang tersedia. Walau ada Nizam diantara mereka tetap saja kecanggungan itu terjalin.
__ADS_1
“Selamat pagi ….”
Mendengar suara yang sangat dia kenali, Archer langsung menegakkan wajahnya, dia tersenyum bahagia melihat sosok yang berada di pintu rumahnya. “Diana.” Archer berjalan cepat dan langsung memeluk Diana. “Aku sangat merindukanmu permata Nyonya Zelin.”
Diana hanya tersenyum dan menepuk lembut pundak Archer. Archer melepaskan pelukan mereka. Dia tersenyum pada Ivan yang berdiri di samping Diana. “Terima kasih Ivan, telah berkenan memenuhi undanganku.”
“Justru saya merasa sangat tersanjung, karena diundang seseorang yang sangat hebat seperti Anda,” puji Ivan.
Archer terlihat sangat hangat dan ceria, dia menggandeng Diana dan Ivan untuk masuk ke dalam rumahnya. Mereka semua duduk di tempat yang mereka inginkan, sedang Archer masih berdiri bersama Diana.
“Nona Diana, sangat lama aku tidak melihatmu.”
Diana langsung menoleh kearah suara itu. “Bu Namima.” Diana melepaskan gandengan tangannya pada lengan Archer dan dia langsung memeluk wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan.
“Aku sangat merindukanmu.”
“Aku juga sangat merindukan Anda, sangat lama kita tidak bertemu,” sahut Diana.
“Ehm!”
Suara dehaman yang terdengar membuat Diana dan Namima melepaskan pelukan mereka.
“Bu, apakah makanan sudah siap?” tanya Archer.
“Semua sudah siap Tuan,” sahut Namima.
Archer memandangi tamu-tamunya. “Karena kita semua sudah berkumpul, mari ikuti saya,” ajaknya.
Mereka semua mengikuti Archer, hingga mereka sampai di ruang makan yang tampak mewah. Ivan dan Nizam mendekati meja yang menyediakan bermacam minuman, Ivan meraih minuman bersoda dan membukanya, sedang Nizam mengambil sebotol bir. Setelah mengambil minuman keduanya berjalan mendekati Diana, dan saat bersamaan keduanya menyodorkan minuman yang mereka bawa pada Diana. Diana hanya memandangi Ivan dan Nizam bergantian, dia tidak tahu harus menerima yang mana.
Ivan mengambil sebotol bir yang Nizam pegang. “Diana tadi malam demam, sebaiknya dia jangan minum bir dulu.”
“Aku sudah lebih baik, Ivan merawatku dengan sangat baik,” sela Diana.
Archer mengambil dua botol minuman yang Ivan pegang. “Sebaiknya Diana tidak meminum kedua minuman ini.” Archer memberikan dua botol minuman itu pada pelayannya. “Bu Namima, sediakan air lemon hangat, dan beri sedikit madu. Berikan pada Diana.”
“Baik Tuan.” Namima segera menyediakan minuman yang dimaksud Tuannya dan memberikannya pada Diana.
Archer memandangi menu yang di sediakan para pelayannya, dia melihat semua makanan yang tersaji adalah makanan pedas dan berminyak. “Tolong jauhkan makanan itu dari kursi ini,” titahnya. Kursi yang Archer maksud kursi yang akan ditempati Diana.
Para pelayan mulai menarik makanan yang ada dan menaruhnya jauh dari kursi yang Tuan Muda mereka maksud.
Archer memberi kode pada salah satu pelayan. “Siapkan bahan-bahan segar untukku.”
“Anda mau masak apa Tuan? Kalau Anda ingin sesuatu para koki siap memasak untuk Anda,” sela salah satu pelayan.
“Tidak perlu, aku ingin memasak masakan khusus untuk Permata terindah itu.” Archer mengisyarat pada Diana.
Kedua bola mata Yudha membulat sempurna mendengar Archer ingin memasak untuk Diana. Yudha mencubit punggung telapak tangannya, berharap apa yang dia dengar, dan apa yang dia lihat saat ini adalah mimpi. “Awh!” Yudha menjerit pelan, cubitannya sakit, dan ini bukan mimpi.
Archer sudah mulai memasak di sudut ruangan mereka berada. Diana berdiri di dekatnya menyaksikan gurunya memasak sesuatu untuknya. Ivan hanya diam dan mengagumi sikap Tuan Muda itu, terlihat dia sangat menyayangi Diana, Andai Tuan muda itu masih sendiri, pastinya Ivan sangat cemburu. Mengingat Tuan muda itu menyayangi Diana seperti seorang Ayah pada anaknya, Seperti kasih sayang seorang kakak pada adiknya, juga perhatian seorang guru pada muridnya, Ivan tidak punya alasan untuk cemburu.
Tidak menunggu lama, satu menu sehat sudah disajikan Archer, dia meminta Diana mencicipinya. “Bagaimana?”
Diana mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan Archer. Dia hanya bisa tersenyum dan mengacungkan dua jempol untuk Archer.
“Ya sudah, ayo bawa ke sana. Kita makan-makan bersama.”
Mereka semua mulai menikmati makanan yang dihidangkan.
__ADS_1
“Maaf ya, aku hanya memasak satu menu untuk Diana,” sesal Archer.
“Tidak apa-apa Tuan, aku merasa sangat bahagia Diana mendapat pelayan istimewa dari Anda,” sahut Ivan.
Mereka semua menikmati menu yang disediakan koki yang bekerja di rumah Archer, sedang Diana mendapatkan menu khusus yang dimasak sendiri oleh Tuan Rumah. Setelah selesai menikmati makanan yang dihidangkan, mereka semua kembali ke ruang tamu. Diana memandang kearah Ivan. Ivan juga menyadari hal itu.
“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Ivan pada Diana.
“Bolehkan aku berbicara hanya berdua dengan Tuan Archer?” tanya Diana. “Ada tugas kuliah yang harus aku tanyakan padanya.”
Ivan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tentu saja boleh.” Dia merasa sangat lega kalau Diana diskusi dengan Tuan Muda daripada Diana bersama Nizam atau Russel.
Diana menoleh pada Tuan muda Archer. “Bisa diskusi sebentar?”
“Ayo ikut aku ke ruang kerjaku.”
Diana dan Tuan Muda Archer berjalan beriringan memasuki sebuah ruangan. Nizam meraih sebotol bir, dia berjalan ke ruangan lain meninggalkan Ivan dan Yudha di ruang tamu.
“Bagaimana tanggapan Diana tentang Lembaga penelitian yang ingin memberikannya royalti itu?” tanya Yudha.
“Diana sama sekali tidak tertarik, dan dia tidak mau datang ke Lembaga penelitian obat itu.”
Yudha terlihat berpikir, berusaha memahami Diana. “Kamu yang harus memberinya pengertian Van. Diana sangat muda, dia tidak memahami keajaiban pada lembaran kertas yang dia tulis waktu itu.”
“Daripada bahas ini, lebih baik kamu fokus pada pelelangan hak paten obat yang bagus itu, bagaimana? Apa ada perkembangan?”
“Belum ada perkembangan, kalau ada aku akan langsung mengabarimu.”
**
Di ruangan lain.
Mendengar cerita Diana tentang masalah ekonomi di Perusahaan Palopy Farmasi, Archer terlihat sedih. Dia memikirkan pertimbangan Diana yang melelang hak paten itu.
“Lebih baik kamu pikirkan lebih serius Diana, apa dengan menjual hak paten itu dengan harga selangit bisa memberi jalan keluar yang bagus? Kalau Uang kamu tidak kekurangan, tanpa menjual hak paten itu, kamu bisa menutupi semua masalah,” ucap Archer.
"Dengan melepas hak paten itu, orang-orang disekitarku akan aman, kemaren mereka menculik Nazif anak Aridya, entah besoknya."
Archer berusaha memahami jalan pikiran Diana.
“Dengan menjual dengan harga yang fantastis, yang berani beli juga hanya perusahaan-perusahaan kuat,” sahut Diana.
“Aku percayakan semuanya padamu, Diana.”
“Setelah dari sini, kamu ada acara?”
“Tidak ada, paling aku ke kampus, pastinya banyak tugas kuliah menantiku di sana.”
“Ya sudah, kamu keluar saja duluan, aku ingin menelepon organisasi kita, memberitahu kabar buruk ini.”
Diana tersenyum dan mengangguk, dia segera keluar dari ruang kerja Archer. Saat Dian menutup pintu, dia mendengar nyanyian-nyanyian aneh, Diana berusaha mencari asal suara itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat siapa yang bernyanyi asal itu.
Nizam berjalan sempoyongan, di tangannya ada satu botol minuman. Diana menghampiri Nizam dan mengambil botol yang Nizam pegang.
“Ini masih pagi, kamu malah mabuk!” gerutu Diana. Diana mengalungkan lengan Nizam di bahunya dan memapah Nizam menuju ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu. Ivan dan Yudha sangat terkejut melihat Diana datang memapah Nizam. Nizam terus berbicara sembarangan, Diana dengan sabar merebahkan Nizam pada sofa Panjang. Tapi Nizam tidak mau melepaskan tangannya dari bahu Diana, hingga Diana terjatuh keatas tubuh Nizam. Melihat hal itu Ivan sangat marah, ingin rasanya menusukkan pisau buah yang tajam itu pada jantung Nizam.
Yudha tidak menyadari bagaimana merahnya wajah Ivan menyasikan hal itu, Yudha mematung mengagumi kesabaran Diana meladeni Nizam.
__ADS_1