Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 189 Rumah Seram


__ADS_3

Diana tidak menyadari, ada sepasang mata yang melihatnya memasuki Kawasan barat komplek itu. Diana masuk begitu saja kedalam bangunan tua tersebut.


"Hai anak-anak, bagaimana perkembangan kalian?"


Diana mengajak berbicara semua tabung dan bermacam bahan yang ada di ruangan itu. Di sana Diana mengembangkan obat T779. Dia sangat berharap obat itu bisa di produksi dalam skala besar, dan bisa dijual di pasar dengan harga terjangkau. Dengan demikian impian ED Group untuk memonopoli obat itu hancur, karena memiliki hak paten obat itu dan mampu mengembangkannya akan menjadi hal yang sia-sia dalam bisnis, karena obat itu bukan hal yang menjadi ladang bisnis lagi. Harapan Diana obat ini suatu hari nanti hanya suatu obat yang mujarab dan mudah di dapatkan di mana-mana dan harganya terjangkau.


Diana melanjutkan melakukan penelitian, hal ini sulit dilakukan, namun Diana tidak pernah menyerah, dia terus berusaha memproses semua bahan untuk produksi obat T779. Hal ini memakan waktu lama, sebab inilah obat itu menjadi mahal. Diana ingin menyederhanakan pengembangan obat itu, tanpa mengurangi dari khasiat obat tersebut.


Tanpa Diana sadari, semalaman penuh dia terjaga di laboraturium penelitiannya. Tapi dia tetap fokus dengan semua pekerjaannya.


**


Di tempat lain.


Saat sarapan bersama di meja makan, Dillah hanya bertemu dengan Birma.


"Nona Jenni mana?" tanya Dillah.


"Mungkin masih di kamarnya, biarkan majikan kita melakukan apa yang mereka mau, tugas kita menjaga keamanan mereka, dan melaporkan kalau majikan kita baik-baik saja," ucap Birma.


Dillah masih memikirkan Diana.


"Kenapa bingung? Isi tenagamu, makan dulu, kamu tidak bisa maksimal bekerja kalau lapar!" omel Birma.


Dillah dan Kakaknya segera menikmati sarapan yang tersedia. Selesai sarapan, Dillah kembali lagi ke kamarnya. Dia memandang kearah rumah Tua yang menyeramkan itu.


“Nona … apa yang Nona lakukan di sana?”


Dillah tidak bisa menahan diri untuk tidak ke sana, dia segera turun, dan menemui salah satu pelayan.


“Maaf mbak, teman saya yang perempuan sudah kembali dari wilayah barat?” tanya Dillah.

__ADS_1


“Saya belum melihat Nona itu keluar,” sahutnya.


“Bisa antarkan sarapan ke sana? Pasti dia belum makan sejak tadi malam,” pinta Dillah.


“Maaf Tuan, saya masih ingin bekerja di sini, melewati batas larangan pekerjaan saya bisa terancam.”


“Bagaimana kalau Anda siapkan sarapan untuk teman saya? Saya sendiri yang akan mengantarnya ke sana.”


Pelayan itu tampak terkejut dengan perkataan Dillah. "Anda yakin?"


"Saya rela menentang peraturan ini demi majikan saya, kalau dia kenapa-napa bisa jadi bos saya membunuh saya. Jadi saya patuh atau menentang, nyawa saya tetap menjadi taruhan," ucap Dillah.


"Baiklah, tunggu sebentar saya akan siapkan sarapan." Pelayan itu segera menuju dapur.


Dillah mendapatkan apa yang dia mau, satu nampan yang berisi semangkuk bubur, buah-buahan segar, satu gelas air putih hangat, juga satu gelas susu hangat. Dillah memberanikan diri menerobos batas area terlarang itu.


“Huhhhh!” Dillah membuang napasnya, rasa takut itu semakin besar saat berada tepat di depan pintu rumah tua ini.


Dillah menggerakan ring besi yang menempel di daun pintu rumah tua itu.


“Nona, ini saya. Dillah!”


“Nona, saya datang membawakan makanan untuk Nona!”


“Nona, makan dulu, kalau Anda kenapa-napa, nyawa saya dalam bahaya.”


"Nona, tolong kerjasamanya, keluar sebentar dan makan dulu, terus berbicara dengan Tuan Ivan, yakinkan dia kalau Anda baik-baik saja di sini."


"Dengan Anda baik-baik saja, saya juga akan selamat."


Dillah terus berteriak di depan pintu, tapi tidak ada tanda-tanda pergerakan dari dalam rumah. Dillah duduk leseh di teras rumah tua itu. 3 jam berlalu menunggu Diana, tapi yang di tunggu tidak juga membukakan pintu. Makanan yang harusnya untuk Diana, kini semua itu sudah masuk ke dalam perutnya.

__ADS_1


Handphone Dillah berdering, Dillah dengan malas mengambil handphonenya, dia sangat yakin kalau yang meneleponnya saat ini adalah Ivan.


“Iya Tuan,” sapa Dillah.


“Bagaimana keadaan Diana? Apa yang dia lakukan?”


“Aku tidak tahu, Tuan, dia masih di kamarnya, Tuan mau aku masuk ke kamarnya?”


“Jangan,” ucap Ivan.


“Kalau Nona sudah bangun, aku akan mengabari Anda, Tuan.”


Setelah Ivan menutup panggilan telepon mereka, Dillah memandang lemas pintu rumah tua itu. “Mati itu memang pasti, semoga Anda Panjang umur Nona, kalau Nona mati di bunuh orang, pembunuh itu pasti akan Tuan buru sampai ke lubang semut, tapi kalau Nona mati dimakan hantu, yang ada Tuan Ivan akan menggantungku di tugu kota,” gerutu Dillah.


Satu hari berlalu, Dillah benar-benar tidak melihat batang hidung Diana dari pagi, hingga pagi berikutnya menyapa lagi.


**


Di tempat lain.


Tony dan Hadhif mulai melakukan tugas mereka, mereka berdua berada di sebuah lab khusus yang di bangun di bawah tanah.


“Kalau ku pikir-pikir, Diana dan Ivan pasangan yang sangat serasi, kamu ingat, kalau Agung Jaya juga pernah menghempaskan mimpi para pengusaha yang licik?" ucap Hadhif.


Tony mencoba mengingat berita yang pernah viral. "Yang ingin menjual obat penawar dengan harga selangit, tapi di hempas oleh Agung Jaya?


"Yup, tepat sekali," ucap Hadhif


"Saat ini, Tujuan ketua juga sama, dengan tujuan Agung Jaya dulu, saat ini Ketua juga ingin memproduk obat T779 sebanyak mungkin dan menjualnya dengan harga murah, dan ini menghempas mimpi pengusaha licik seperti ED Group.”


“Tapi menurut kabar angin, Agung Jaya mendapat dana dari seorang donator, sedang Ketua berjuang sendiri, kita tim IMO hanya membantu Sebagian kecil," ucap Tony.

__ADS_1


"Tuhan tidak tidur, tujuan mulia ketua dan niat baiknya, pasti akan Tuhan bantu dengan JalanNYA," ucap Hadhif.


__ADS_2