
Semua orang sangat fokus ketempat acara, mereka sangat penasaran sosok dokter yang terkenal dengan kehebatannya itu, namun mereka tidak pernah tahu bagaimana orangnya. Semua orang bertepuk tangan, dokter hebat itu masih belum terlihat, karena keamanan yang menjaganya menghalangi pandangan mereka.
"Diana, nama dokter itu sama dengan namamu," ucap Saras.
Namun orang yang di sampingnya yang dia ajak bicara malah tidak merespon, saat Saras menoleh, yang ada di sampingnya bukan Diana. Saras menyisir keadaan sekitar mencari temannya itu. Hingga saat pandangannya tertuju kearah panggung. Saras mematung melihat sosok temannya yang ada di sana.
"Bukankah itu Diana?"
"Kita tidak salah lihat kan? Mahasiswi yang selalu belajar bersama kita seorang dokter ahli bedah, dan Ilmuan Negara."
Desas-desus bisikan itu terdengar di kalangan Mahasiswa Universitas Bina Jaya. Saras memukul pipinya, memastikan dia tidak bermimpi, tapi pukulannya terasa sakit, dan ini memang sebuah kenyataan.
Di sudut lain, Lucas sangat bahagia melihat Neneknya mau menampakan diri di sebuah acara. Tentang siapa Diana, Lucas terlihat santai. Baginya itu biasa, mengingat bagaimana kecerdasan Diana, di tambah dia berguru secara privadi belajar dengan orang-orang hebat.
Di bagian lain. Thaby mematung mengetahui siapa Diana, dia mengetik pesan untuk Ayahnya.
*Ayah sudah mengetahui siapa Diana?
Tink!
Satu pesan balasan masuk.
\= Sangat tahu, sebelum menjadi Mahasiswi di sini, aku sering berbicara denganya di Rumah Sakit, dia dokter tetap di Rumah Sakit milik Agung Jaya.
\=Sekarang sudah faham, kenapa aku bilang Diana tidak pantas untukmu?
\=Diana kuliah di sini hanya karena misi untuk mengungkap misteri kematian kedua orang tuanya, Diana adalah lulusan terbaik Universitas Jerman. Dia lulus kuliah saat usianya 16 tahun.
__ADS_1
\=Beberapa Negara meminangnya untuk menjadi pengajar di Universitas mereka, tapi Diana memilih bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian obat dunia.
\=Agung Jaya beruntung, karena Diana memilih bekerja di Rumah Sakit Healthy and Spirit.
\=Aku baru tahu, alasan Diana mau bekerja di Rumah Sakit Agung Jaya, hanya karena ingjn mengenal lebih dekat calon suamimya. Tapi menurutnya sulit mengenal sisi jelek Ivan jika dia muncul sebagai seorang dokter. Lalu dia muncul sebagai Mahasiswi.
\=Jika tidak ingin hatimu hancur lebih parah lagi, herhenti berharap Diana mau menerima cintamu.
Diatas panggung sana pembawa acara menyebutkan keberhasilan Diana, semua orang terpukau mengetahui Diana lulus dari Universitas Jerman di usia yang sangat muda.
Rani masih mematung di tempatnya. Meneguk air liur pun saat ini dia tidak bisa.
"Bagaimana Rani, bisa tunjukan padaku wanita yang lebih hebat dari Diana?" ucap Kakek Agung.
Rani tidak bisa menjawab, tidak ada wanita sebaik Diana. Dia semakin tenggelam oleh rasa malu dan kejutan yang sangat menyakitkan ini.
Me-menikah?
Rani ingin mengucapkan kata itu pada lisannya, tapi dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Dia menatap Sofian dengan tatapan yang menginginkan penjelasan.
Sofian memahami arti dari tatapan Rani. "Ivan dan Diana sudah menikah 2 bulan lalu di Jerman."
Saat itu juga Rani jatuh pingsan, dia tidak sanggup menerima segala kejutan yang penuh dengan tekanan itu. Rani langsung di bawa ke Rumah Sakit Healthy And Spirit.
Sedang di Universitas, acara terus berlangsung. Kekaguman mereka pada sosok Diana semakin besar. Orang Genius dan hebat, malah selalu tampil sangat sederhana, dan berteman dengan siapa saja.
Diana diam sesaat.
__ADS_1
"Alasanku ikut acara ini, demi Nenekku. Dia pahlawanku saja rela menempuh jarak ratusan kilometer demi acara ini, mengapa aku yang ada di kota ini harus bersembunyi?"
"Mereka semua, ilmuan Dunia." Diana mengisyarat pada tamu-tamu yang lain, dan memberi hormat pada mereka. "Mereka rela menyeberangi lautan demi acara ini. Tidak ada alasan untukku, untuk bersembunyi."
Diana menghela napasnya untuk mempersiapkan kata-kata. "Alasan lain aku bersembunyi selama ini, aku hanya ingin teman yang tulus. Orang-orang baik akan merasa insecure jika aku dekati, sedang orang-orang jahat mengambil keuntungan dariku. Teman-teman semua, ku harap kalian masih menganggapku sebagai Mahasiswi Universitas ini."
Setelah memberi nasihat dan motivasi, Diana menyudahi sambutannya.
"Boleh saya bertanya satu hal, mungkin pertanyaan saya mewakili pertanyaan banyak orang," ucap pembawa acara.
"Silakan."
"Kenapa Anda memilih menjadi Mahasiwi di sini, bukankah banyak tawaran untuk Anda menjadi Dosen di Universitas terbaik Dunia?"
"Ilmuku belum cukup, sebab itu aku memilih kuliah, aku ingin kuliah dengan waktu yang seperti orang umum, selama ini kuliahku terlaku singkat."
"Luar biasa, ilmuan Dunia seperti Nona Diana masih merasa kekurangan ilmu."
"Pada dasarnya, Ilmu semakin kita gali, malah semakin kurang. Saat ilmu kita bertambah, maka kita semakin sadar kekurangan dan kekeliruan kita."
Dosen wali kelas Diana, yang berada di samping Pak Abi, berbisik pada Pak Abi, "jadi selama ini dia membolos karena tugasnya?"
"Iya, saat ujian waktu itu, dia melakukan operasi pasiennya di Jerman," sahut Pak Abi.
Bermacam rasa menyelimuti hati setiap orang. Ada yang bangga karena satu Universitas dengan si Genius. Ada juga malu, karena selama ini berbuat buruk pada Diana. Saras yang sebelumnya semangat, setelah mengetahui siapa Diana, semangatnya seketika lenyap. Dia bahagia menjadi teman Diana, tapi dia merasa tidak pantas berteman dengan orang hebat seperti Diana.
Sedang beberapa dosen, mulai faham. Kenapa Nilai Diana selalu tinggi, padahal dia Mahasiswi terbanyak bolos. Kini mereka sadar, kenapa Diana bolos selama ini.
__ADS_1