
Gedung Agung Jaya Group tujuan Diana tidak jauh lagi, tapi ada hal yang menarik perhatian Diana, saat dia melihat beberapa orang berkelahi di tepi jalan menarik perhatian Diana. Diana meminta supir taksi untuk menurunkannya di sana. Setelah membayar ongkos taksinya, Diana langsung mendekati beberapa orang yang terlibat perkelahian itu.
Diana langsung masuk ke kerumunan orang yang saling pukul, dia tidak segan memukul mereka semua.
“Kenapa Anda memukuli kami semua, Anda pedukung siapa?” tanya salah satu yang berkelahi.
“Aku memukul kalian supaya otak kalian bisa bekerja lagi!” maki Diana.
“Hei Nona! Jika kamu ke sini hanya untuk ceramah pergi saja! Kami tidak butuh ceramahmu!” Yang lainnya langsung memarahi Diana.
“Aku tidak mau ceramah, aku hanya mau tanya apakah hal yang kalian perjuangkan sepadan dengan perkelahian kalian? Kalau sepadan ya silakan lanjut. Kalau tidak lebih baik gunakan otak kalian untuk berpikir mencari jalan keluar dan penyelesaian bersama-sama.”
"Banyak omong kau Nona kecil!" Maki yang lainnya, dia langsung menyerang Diana.
Tapi belum sempat dia menyentuh Diana, laki-laki itu sudah terlempar cukup jauh dari posisi sebelumnya. Melihat hal itu membuat yang lainnya takut untuk menyerang Diana.
Diana masih memandangi orang-orang itu. “Manusia itu makhluk yang istimewa, mulia, dan dibentuk dengan bentuk sempurna dari mahluk Tuhan yang lain. Dengan kalian seperti ini, lalu apa bedanya kalian dengan binatang?"
"Punya masalah malah menyelesaikan dengan perkelahian? Di mana otak kalian?”
Mereka semua diam, dan terlihat berpikir.
“Kesampingkan ego kalian, dan bicarakan dengan kepala dingin, bermusyawarah bersama mencari titik damai.”
"Kalau kalian malas berdamai, sini aku bantu kalian, karena dengan berkelahi tidak ada istilah menang, ingat pribahasa menang jadi arang, kalah jadi abu?"
__ADS_1
"Ayo maju, apa gunanya jadi arang, lebih baik kalian ku jadikan abu semua."
Mereka semua mundur menajuhi Diana. Melihat raut ketakun di wajah mereka, Diana berlalu begitu saja dan meneruskan kembali tujuannya.
Setelah kepergian Diana, orang-orang yang terlibat perkelahian itu saling pandang.
"Benar yang wanita itu katakan, kenapa kita tidak berunding dulu, kalau salah satu dari kita hilang nyawa, tidak sepadan dengan hasil yang kita perjuangkan."
Mereka semua saling berjabat tangan, dan menentukan tempat untuk perundingan damai mereka.
Selama perjalananya menyusuri trotoar, handphone Diana terus berdering, Diana sekilas meliriknya, melihat yang menelepnnya Tony, Diana malas mengangkatnya dia mengabaikan deringan handphone itu. Sesampai di Gedung Agung Jaya, Diana langsung menuju ruangan Ivan yang ada di lantai teratas Gedung itu.
“Nona Muda.” Dillah terlihat sangat menghormati Diana.
“Tuan Ivan sedang rapat, silakan tunggu di dalam.” Dillah membukan pintu ruangan Ivan.
Diana dan Dillah memasuki ruangan Ivan.
“Apa Nona butuh sesuatu?” Dillah memastikan.
“Tidak ada,” sahut Diana sopan.
“Kalau butuh sesuatu silakan panggil saya, atau Nona panggil Barbara.”
Diana menganggukan kepalanya.
__ADS_1
“Saya undur diri dulu, barangkali Tuan membutuhkan saya di ruang rapat.” Dillah pergi dari ruangan Ivan, meninggalkan Diana sendirian di sana.
Dillah bergegas menuju ruangan rapat, sesampai di sana Ivan terlihat sangat fokus menyampaikan presentasinya, membuat Dillah harus menunggu di tempatnya. Saat Ivan menyudahi presentasinya, Dillah langsung mendekati Ivan dan berbisik padanya.
“Tuan, ada Nona Diana menunggu Anda di ruangan Anda.”
Mendengar Diana ada di kantornya Ivan terlihat begitu bahagia, tapi rapat yang dia pimpin belum selesai. Ivan kembali melanjutkan rapatnya agar selesai lebih cepat. Setelah penyampaian darinya selesai, Ivan meminta Yudha dan Dillah meneruskan rapatnya, sedang dia izin undur diri.
Ivan memacu cepat langkahnya menuju ruangannya, sesampai di sana, Ivan melihat Diana duduk santai di sofa empuk sambil meluruskan kakinya.
“Diana.” Ivan sangat bahagia.
Diana langsung bangkit dan menghampiri Ivan. “Maaf jika kedatanganku mengganggu pekerjaanmu.”
“Tidak sama sekali, aku sangat bahagia melihatmu di sini.”
“Aku ke sini ingin menagih semua biaya, termasuk menagih biaya dari obat langka yang aku gunakan kemaren, obat itu belum diperjual-belikan, mereka hanya meminta ganti untuk biaya pengembangan obat itu.”
“Iya, aku akan membayar semuanya, aku tahu obat itu tidak murah.”
“Baguslah kalau kamu tahu, jadi aku tidak perlu Panjang lebar menjelaskan biaya pengembangan obat itu.” Diana meraih tasnya. “Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, aku pergi dulu.”
Saat Diana melewati Ivan, Ivan menahan langkahnya dengan memeluk Diana dari belakang.
"Jangan pergi secepat ini, aku sangat merindukanmu."
__ADS_1