Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 278


__ADS_3

Malam yang sangat menyenangkan, Profesor Hadju pribadi yang sangat menyenangkan, membahas bisnis Farmasi, bisnis tambang, bahkan Pendidikan, obrolan beliau selalu menginspirasi. Banyak nasihat yang beliau beri pada Ivan. Hingga malam itu Ivan, Yudha, dan Dillah menginap di rumah Profesor Hadju.


Keesokan paginya.


Di rumah Nenek Zelin Diana dikejutkan dengan kesibukan para pelayan, pagi-pagi mereka sangat sibuk lalu Lalang membawa nampan yang berisi makanan mau pun minuman.


“Bi Makhaya, ada apa? Kenapa para pelayan sangat sibuk?” Diana mencegat bibi Makhaya yang melintas di dekatnya.


“Kepala Suku baru kembali bersama para pengawal Ivan, ternyata mereka menjemput mobil-mobil yang mereka tinggalkan di hutan.”


“Owh ….” Diana bergegas melangkah menuju halaman depan, terlihat mobil-mobil yang dia dan rombongan gunakan sudah terparkir rapi di depan rumah Neneknya.


Ada pemandangan aneh di sana, Diana melihat sosok yang tidak asing tengah melihat-lihat salah satu mobil. Diana segera menghampiri orang itu. “Nizam?”


Laki-laki itu segera berbalik. “Hai Diana.”


“Kenapa bisa kamu datang bersama rombongan?” tanya Diana.


“Tidak sengaja, tadi aku ke sini untuk menanyakan rencana kita dulu, tentang beberapa Mahasiswi pilihan bisa belajar langsung pada Profesor Hadju, di tengah perjalanan aku bertemu Kepala Suku dan rombongan Ivan.”


Nizam kembali fokus pada bawaan yang ada di salah satu mobil. “Bawaan siapa ini?”


“Aku! Memangnya kenapa?”


Nizam langsung berbalik mencaritahu pemilik suara itu. Terlihat Ivan, Yudha, dan Dillah berjalan kearah mereka.


Nizam mengeluarkan beberapa barang dari mobil itu. “Yakin ini barang-barang bawaan kamu Yudh? Tenda? Perlengkapan perkemahan?” Nizam tertawa melihat barang-barang itu.


Yudha terdiam mendengar ledekan Nizam.

__ADS_1


“Kamu pasti berpikir ini desa yang kumuh, di mana warganya hanya tidur di pondok-pondok yang beratap ilalang.” Nizam sangat puas menertawakan Yudha.


“Yang Yudha bawa tidak salah, karena aku yang meminta, aku pikir ingin mengerjai mereka dulu dengan mengelilingi hutan selama seminggu baru aku bawa ke desaku, tapi waktu mereka sayang terbuang,” bela Diana.


“Owh ….” Nizam seketika bungkam, dia segera mengembalikan barang-barang itu. Apalagi dia sangat tahu pribadi Diana yang suka mengerjai dengan mempermaikan mental orang-orang yang belum tahu desanya, dengan menghukum mental mereka berkelana di tengah hutan yang ada di seberang sana.


Yudha semakin bungkam, dia tidak tahu harus berkata apa, Diana melindunginya dari pembulyan Nizam karena dirinya membawa perlengkapan berkemah, karena pikirannya menduga desa Diana desa yang sangat tertinggal.


Diana kembali fokus pada Ivan. “Kalian bertiga sudah makan?”


“Sudah, tadi pagi Anton memasak untuk kami,” sahut Ivan.


“Ya sudah, kalian istirahat dulu sana, pastinya kalian tidak tidur kan tadi malam?” tebak Diana.


“Tuan Ivan dan Profesor yang terus berjaga, aku dan Yudha malah ketiduran,” sahut Dillah.


Ivan, Yudha, dan Dillah segera masuk kedalam rumah. Mereka menuju kamar mereka masing-masing.


Diana menoleh pada Nizam. “Profesor Hadju bersedia mengajari Mahasiswa Bina Jaya?” Diana kembali fokus pada kouta terbatas untuk belajar pada Profesor Hadju.


“Kemaren beliau sempat bilang, dengan syarat kamu yang menyeleksi para Mahasiswa itu, nah yang terpilih akan beliau ajari, dan seperti sebelumnya, beliau akan memberi 3 tempat khusus untuk yang beliau sukai.”


“Ah … rencana itu tidak bisa di rubah ya?”


“Apalagi Diana? Sudah cukup penyamaranmu sebagai Mahasiswa, kasus kematian kedua orang tuamu sudah terungkap, kamu dan Ivan juga sudah menikah. Jadi sudah cukup penyemaranmu sebagai Mahasiswi Universitas Bina Jaya. Dosen-dosen di sana juga tidak bersedia mengajari kamu, mereka sangat insecure saat mengetahui siapa kamu,” ucap Nizam.


“Jangan bahas itu, tiba-tiba perutku melilit teringat hal itu.” Diana langsung masuk kedalam rumah.


Sedang Nizam langsung berjalan menuju rumah Guru Besarnya dan Diana, yaitu profesor Hadju, untuk membahas Mahasiswa yang beruntung yang bisa menggali ilmu pada Profesor Hadju.

__ADS_1


Sesampai di kediaman Profesor Hadju, Nizam langsung membahas apa yang menjadi tujuannya, sedang Profesor setuju, asal Diana mau menyeleksi calon muridnya secara langsung. Mendengar jawaban Profesor Hadju, Nizam langsung mengirim pesan pada Diana, menanyakan kebersediaan wanita itu.


Di rumah Nenek Zelin.


Diana modar mandir di depan kamar mandi menunggu Ivan yang masih mandi di dalam sana.


Ceklak!


Pintu terbuka, Ivan sangat heran melihat Diana yang tampak gelisah sambil memegangi handphonenya.


“Ada apa permataku?” tanya Ivan.


Diana mulai menceritakan rencana yang diminta oleh Pak Abi, tentang Mahasiswa yang beruntung bisa menjadi murid Profesor Hadju, namun dengan syarat Diana yang menyeleksi mereka.


“Itu rencana yang sangat bagus, aku sangat setuju,” ucap Ivan.


“Tapi jika dengan menyeleksi mereka, artinya aku harus menjadi pengajar di sana sampai aku menemukan kriteria yang tepat.”


“Tidak masalah, kamu adalah Mahasiswi lulusan terbaik Universitas Jerman. Bagi sebagian ilmu kamu pada saudara setanah air kamu sayang ….”


“Kamu sudah tahu kalau aku tidak sesungguhnya kuliah?


"Aku baru tahu saat seminar malah, ternyata kamu lulusan terbaik Universitas luar Negri, sebelumnya aku pikir kamu menggunakan nama Profesor Russel untuk jaminan tanggung jawab saat kamu akan mengoperasi orang."


"Beneran kamu tidak marah saat tahu aku hanya pura-pura menjadi Mahasiswa?” tanya Diana.


“Pak Abimayu yang kamu bohongi lebih parah saja beliau tidak marah, apalagi aku, mana bisa aku marah padamu.”


Mendapat dukungan Ivan, Diana menyetujui persyaratan dari Profesor Hadju, untuk menyeleksi beberapa Mahasiswa, Diana berharap banyak orang-orang yang beruntung karena belajar langsung pada guru besarnya.

__ADS_1


__ADS_2