
Tim operasi yang Diana minta pada Profesor Hadju sudah menunggu Diana di ruang operasi. Diana juga sudah mengenakan seragam operasi. Keadaan begitu tenang. Dokter Anastesi mulai menyuntikkan obat bius pada Zaira. Perlahan gadis kecil mulai kehilangan kesadarannya.
Diana menerangkan operasi apa yang akan dia lakukan pada Zaira, saat yang sama kepala keamanan dan ibu Zaira menorobos masuk ke dalam ruang operasi.
“Apa? Kau ingin mengoperasi anak kecil itu dengan dua operasi?” kepala Keamanan sangat marah mendengar sekilas penjelasan Diana pada tim medis.
“Dia tengah sekarat!" Wajah Diana terlihat begitu sedih, andai cukup banyak waktu, dia akan menjelaskan apa yang diderita Zaira, tapi saat ini tindakan medis yang utama. "Maaf, saya harus menyalahi prusedur, karena tidak meminta izin ibunya, karena tadi Anda masih tidak sadarkan diri, demi menyelamatkan Zaira saya harus mengambil tindakan secepatnya. Kalau tidak ditindak sekarang juga, Zaira akan kehilangan nyawanya!”
Ibu Zaira tidak mempercayai ucapan Diana, dia langsung mengangkat putrinya dari ranjang operasi sambil menarik tiang infus. Dia menjauh dari Diana. “Anakku baik-baik saja."
Ibu Zaira terus mundur mejauhi semua tim medis dan mulutnya terus mengatakan 'Anakku baik-baik saja.'
“Lihat anak kecil ini sangat sehat, kau ingin mengoperasi untuk meyelamatkannya. Atau mengoperasi untuk mengambil organ dalamnya!” bentak kepala Keamanan.
Diana menatap kearah Zaira, hatinya semakin menjerit melihat keadaan Zaira yang terus menurun. “Nyonya, percaya pada kami,” pinta Diana pada Ibu Zaira.
Ibu Zaira terus melangkah mundur, dia tidak menyadari keadaan di belakangnya.
Bruk!
Kepala Zaira menghantam dinding begitu keras.
“Zaira!” pekik Diana. Diana tidak bisa lagi menahan kesabarannya.
Bakkkk!
Trantang tang tang!
Diana menendang kereta yang berisi peralatan medis, sehingga apa yang ada dalam kereta itu terhambur ke berbagai arah.
“Berikan laporan itu pada ibu pasien, semakin lama membuang waktu nyawa Zaira taruhannya,” ucap Diana pada tim medis yang akan membantunya.
Beberapa dokter mulai menceritakan apa yang Zaira derita, mendengar penyakit putrinya ibu Zaira hanya menangis dan memberikan putrinya pada tim medis di sana.
__ADS_1
Ibu Zaira dan petugas keamanan diminta menunggu di luar ruang operasi. Ibu Zaira hanya bisa menangis.
“Kenapa Anda mempercayai dokter asing itu?” tanya kepala keamanan UGD.
“Keterangan tim dokter membuatku tidak punya alasan untuk tidak percaya,” jawab ibu Zaira.
“Anda telah dibodohi dokter Asing itu, bagaimana mungkin dia bisa menganalisa penyakit dalam secepat itu? Semua ini butuh bermacam proses yang Panjang Nyonya!”
Fredy sangat geram mendengar pendapat kepala keamanan itu. “Orang yang Anda sebut ‘Orang Asing’ itu adalah seorang dokter bedah yang sangat hebat. Tanpa pemeriksaan Panjang dia bisa menganalisa penyakit dalam yang di derita seseorang! Bahkan Universitas ternama Dunia memintanya untuk mengajar di sana!” ucap Fredy.
“Wow, hebat sekali bicara Anda Tuan, bukankah Anda dan dan wanita itu sama-sama orang Asing di negara ini?” ledek Kepala Keamanan.
“Ja’far! Jaga bicaramu!”
Suara makian itu terdengar sangat lantang. Melihat beberapa orang yang datang kearahnya, kepala Keamanan itu langsung menunduk.
“Wanita yang kamu hina itu adalah seorang dokter bedah yang sangat hebat! Berbagai Rumah Sakit di penjuru Negara menginginkan dia bekerja di Rumah Sakit mereka, dan kepala keamananku malah menghina dia!”
"Seharusnya kalian semua membantunya, dan menyambutnya, karena dia memilih Rumah Sakit sederhana ini untuk menolong pasiennya." Kepala Rumah Sakit sangat malu atas tindakan kepala keamanannya.
Ibu Zaira semakin terisak, dia merasa sangat menyesal karena tidak percaya, juga merasa sangat beruntung, karena anaknya dipertemukan dengan orang hebat saat yang tepat. Sedang petugas keamanan itu hanya diam dan menunduk menerima kemarahan dari Kepala Rumah Sakit.
“Sudah Zayn, lebih baik kita minta izin pada ibu pasien, apakah dia setuju jika operasi anaknya disaksikan oleh para undangan seminar. Masalah Diana, aku akan berbicara dengannya.”
Ucapan seorang laki-laki yang berdiri bersamanya, membuat kemarahan Kepala Rumah Sakit itu mereda.
“Baik profesor Hadju, terima kasih atas kepercayaan Anda pada Rumah Sakit kami yang kecil ini.”
Ibu Zaira tidak mempermasalahkan operasi anaknya di saksikan oleh peserta seminar, baginya suatu keajaiban Zaira bisa bertemu dengan Diana.
Di ruangan operasi, Diana terus melakukan operasi pada Zaira, hal itu di saksikan oleh peserta seminar yang berada di ruangan berbeda. Saat Diana mempercayakan dokter lain untuk melakukan Tindakan, Diana menjelaskan kenapa dia melakukan Tindakan itu. 10 jam berlalu, Diana menyelamatkan nyawa Zaira, juga memberikan ilmu pada peserta seminar yang menyaksikan kerja kerasnya selama 10 jam.
Setelah selesai melakukan operasi, Diana keluar dari ruangan dengan baju biasa. Dia berjalan begitu saja melewati Nizam dan Fredy yang sejak lama menunggunya.
__ADS_1
“Diana!” panggil Nizam.
“Jangan hentikan langkahku, saat ini aku lapar dan ingin makan! Apa kau yang akan ku makan!” maki Diana.
“Di dekat sini ada sebuah pusat perbelanjaan besar, bagaimana kalau kita cari makan di sana?” tawar Nizam.
“Idemu bagus, ayo ke sana.”
“Diana.” Fredy memberikan tumbler pada Diana. “Itu isinya susu hangat, minum dulu untuk menambah tenagamu.”
Diana hanya menerima tumbler yang Fredy berikan padanya, dia sama sekali tidak ingin meminum minuman dalam tumbler itu, Diana masih jera, dia tidak ingin kejadian saat dia kehilangan kesadaran terulang lagi.
Melihat Fredy yang selalu mengikuti Diana, Nizam juga terpaksa mengikuti Diana, walau dia tau Diana tidak suka diikuti. Tapi, dia takut kalau Fredy berbuat sesuatu pada Diana. Diana berjalan jauh di depan sana seorang diri, sedang Fredy dan Nizam mengikutinya dengan jarak aman. Mereka bertiga sudah memasuki pusat perbelanjaan. Fredy hanya bisa mengagumi pemandangan yang ada di depan matanya, Diana berdiri di tangga lift, satu tangannya terus memainkan handphone, sedang tangannya yang satunya masih memegang tumbler pemberiannya, melihat Diana hanya memegang tumbler itu, Fredy hanya bisa meruntuk dalam hati, kesalahan masa lalunya tidak bisa dimaafkan oleh Diana.
“Jangan pernah berpikir untuk mengganggunya!”
Fredy menoleh kearah samping, dia hanya menatap Nizam, tidak menggubris perkataan Nizam.
Di depan sana, Diana sengaja melakukam selfie beberapa kali, dia hanya ingin memastikan jarak Nizam dan Fredy jauh darinya. Melihat di bagian belakangnya Nizam dan Fredy berada cukup jauh, Diana segera menelepon salah satu nomor dalam negri.
“Halo Diana, tumben sekali kamu meneleponku. Kamu merindukanku?”
“Kenapa Nazif mengikutiku? Apa Anda yang menyuruhnya?”
“Aku tidak menyuruhnya mengikutimu!”
“Jangan banyak alasan Nyonya Aridya, sekarang putra Anda Nazif diculik.”
“Apa?!” Aridya sangat panik.
“Diana, tolong selamatkan putraku ….”
Diana langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1