Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 203 Dendam lama


__ADS_3

10 menit berlalu, Dillah belum juga kembali. Diana berusaha tenang sambil menekan beberapa titik saraf pada bagian tubuh bibi Zicca. Bibi Zicca terlihat mulai membaik, Diana menghentikan pijatannya.


"Bi, aku keluar sebentar ya. Dillah belum kembali, aku khawatir padanya."


Bibi Zicca menganggukan kepalanya, Diana segera keluar dari kabin, hingga dia melihat saat ini Dillah di tawan oleh sekelompok orang, dan ujung senjata api itu menempel di sisi kepala Dillah.


"Maaf Nona, aku kurang waspada," ucap Dillah.


Diana masih mematung, kedua matanya masih memandangi semua penyerang yang ada di kapal Kakek Hong, Diana juga memperkirakan tempat sembunyi, mengantisipasi serangan dadakan.


“Wage es nicht zu kämpfen, oder ich breche ihm den Kopf!"


(Jangan berani melawan, atau ku pecahkan kepala dia!) ucap salah satu penyerang.


“Was willst du?"


(Apa yang kalian inginkan?) tanya, Diana.


Dillah berusaha tenang, walau dia sama sekali tidak mengerti bahasa yang mereka ucapkan. Yang Dillah fahami saat ini dirinya dalam bahaya. Ujung senjata api itu terus mereka teman di sisi kepalanya. Cengkraman tangan si penyerang juga sangat kencang.


“Überlassen Sie uns das T779-Medikament, das Sie alle im Labor eingenommen haben, und Ihre Entwicklung!"


(Serahkan obat T779 pada kami, yang semua kamu ambil di lab dan hasil pengembanganmu!”


“Was, wenn ich nicht möchte?"


(Kalau aku tidak mau?) tantang Diana.


“Was, wenn ich nicht möchte?"


(Ucapkan selamat tinggal pada temanmu.)


Laki-laki itu semakin menekan ujung senjata apinya ke sisi kepala Dillah.


“Du erschießt ihn, dann wird auch dieser Freund von dir das gleiche Schicksal erleiden!"


(Kamu tembak dia, maka temanmu ini juga akan mengalami nasib yang sama!)


Bibi Zicca tiba-tiba muncul, dia menyandera rekan penyerang, dan menodongkan senjata apinya di sisi laki-laki yang dia sandra.


Ya Tuhan, aku memang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi aku merasa diriku paling lemah di sini, aku tidak bisa melindungi diri, sedang bibi Zicca bisa menangkap salah satu penyerang ini, batin Dillah


Melihat keadaan ini Dillah semakin menciut, wanita yang sakit seperti bibi Zicca saja mampu melawan mereka, bahkan bisa menyandera rekan penyerang. Sedang dirinya  malah disandera pihak penyerang.


Laki-laki yang menyandra Dillah bingung, karena yang di tawan wanita itu atasannya.


"Was sollen wir machen?"


(Kita harus bagaimana?) tanyanya pada rekan yang ada di sampingnya.


"Ich weiß nicht, wenn wir diesen Kerl erschießen, erschießen sie auch den Vorsitzenden."


(Aku tidak tahu, kalau kita tembak laki-laki ini, Ketua juga akan mereka tembak.)

__ADS_1


“Denk nicht über mich! Solange du T779 bekommst, ist es mein Leben wert. Wenn sie dir den T779 nicht geben, erschieße einfach den Jungen."


(Jangan pikirkan aku! Asal T779 kalian dapat, maka itu sepadan dengan nyawaku. Jika mereka tidak mau memberikan T779, tembak saja pemuda itu.) teriak laki-laki yang ditahan bibi Zicca.


Laki-laki yang menyandra Dillah mantap untuk meledakan kepala Dillah dengan timah panas.


"Verabschieden Sie sich von Ihren Freunden"


(Katakan selamat tinggal pada teman-temanmu.) ucap laki-laki itu.


"Anscheinend versteht er unsere Sprache nicht"


(Sepertinya dia tidak mengerti bahasa yang kita ucapkan,) ucap rekannya.


"Say goodbye to your friends." ucapnya pada Dillah.


(Ucapkan selamat tinggal pada teman-temanmu.)


Sepertinya ini benar-benar akhir hidupku, tidak mengapa, setidaknya aku mati karena mengabdi pada Nona, bukan mengkhianatinya, batin Dillah.


Dillah memejamkan kedua matanya begitu rapat. Bersiap menerima kematiannya.


Dorrrr!


Tubuh Dillah terperanjat mendengar suara tembakan itu, tapi sedikitpun dia tidak merasa sakit. Kedua matanya masih terpejam rapat.


Apa karena aku mati dalam pengabdian jadi aku tidak merasakan sakit?


"Das ist unsere letzte Warnung, gib die Medizin her oder er wird wirklich sterben!"


"Heh?" Dillah bingung, dia masih mendengar suara penyandera itu.


Apakah mereka juga ikut mengantarku ke sorga? Atau aku yang ikut mereka ke Neraka karena kejahatanku di masa lalu?


Dillah mencoba membuka sedikit kelopak matanya. "Ternyata aku belum mati." Dillah baru sadar kalau peluru yang mereka tembakan sebelumnya melayang ke udara sebagai tembakan peringatan.


"Das ist unsere letzte Warnung, gib die Medizin her oder er wird wirklich sterben!"


(Jika mereka tidak mau memberikan semua obat T779, habisi saja laki-laki itu!)


"Fertig, Chef."


(Siap, ketua.) Pria yang menyandra Dillah bersiap meluncurkan timah panas ke sisi kepala Dillah.


Shap!


Aaaaak!


Tangan laki-laki penyandra itu terluka terkena lemparan shuriken, membuat senjata yang dia pegang terlempar. Hal ini digunakan Diana untuk menyelamatkan Dillah, Diana langsung menarik Dillah dan membawanya ke tempat aman. Karena keadaan itu, konsentrasi bibi Zicca buyar, laki-laki yang dia tahan melepaskan diri dari cengkraman bibi Zicca, dan membuat Bibi Zicca terjatuh, namun dia segera bangkit dan bersembunyi.


Semua orang langsung berlari mencari tempat aman untuk bersembunyi. Beberapa penyerang terus meluncurkan peluru mereka kearah Diana dan rekan-rekannya.


Dor! Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


Shut!


Diana menyandarkan punggungnya di sisi persembunyiannya, saat ini bahu kananya terserempet peluru lawannya. Diana menatap Dillah, dia lega Dillah tidak menyadari kalau dirinya kena peluru.


"Siapa mereka Nona? Kenapa mereka tiba-tiba ada di kapal Kakek Hong?"


"Entahlah, mereka menginginkan obat T779, kemungkinan besar mereka semua utusan ED Group," sahut Diana.


BRAKKK!


Diana dan Dillah terkejut, ternyata itu bibi Zicca yang menyusul mereka.


"Apa kalian terluka?" tanya bibi Zicca.


"Kami baik-baik saja," sahut Diana.


"Dillah, buka peti kayu yang ada di sampingmu," pinta bibi Zicca.


Dillah langsung membuka peti itu. "Astaga naga!" Dillah sangat syok melihat banyak senjata api di sana.


Diana mengambil 2 sejata api, dan memberikan satu untuk Dillah. "Bisa menggunakannya?"


Dillah menggelengkan kepalanya.


"Tarik ini, dan arahkan ujung senjata api itu pada lawanmu, dan tarik bagian ini." Diana mengajarkan Dillah menggunakan senjata api.


Dillah mengarahkan senjata apinya kearah lain, dan melakukan seperti apa yang Diana ajarkan.


Dorrr!


Dillah sangat kaget, hingga senjata api itu langsung terlempar.


"Tembakan pada lawanmu, Dillah! Bukan padaku!" teriak Kakek Hong.


"Maaf kek, aku tidak tahu kalau Kakek di sana."


"Kau punya dendam lama pada Ayahku, Dillah." ledek bibi Zicca.


"Aku bersumpah, aku tidak sengaja," ucap Dillah.


Dor!


Muntahan peluru dari ujung senjata api Diana membuat Dillah dan bibi Zicca menghentikan perdebatan mereka. Mereka fokus menyerang musuh-musuh mereka.


***


Bersambung.


***


Bahasa Jerman, dari goo-gle tranclate indonesia-Jerman.


Kalau ada kekeliruan mohon maaf ya, semata untuk melengkapi cerita saja.

__ADS_1


__ADS_2