Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 22 Tak Berkutik


__ADS_3

Tanpa penjelasan apapun, sangat jelas kalau semua ini ulah Veronica lagi, Ivan memandangi Veronica dengan sorot kemarahan, rahangnya juga terlihat mengeras menahan segala kemarahan yang mendidih dalam dirinya. Andai Veronica bukan teman masa kecilnya rasanya cengkraman tangannya sudah menempel di leher Wanita itu dan melemparnya ke bawah sana dari lantai tertinggi di gedung Rumah Sakit ini, seperti yang telah dilakukan orang suruhan Veronica pada ibunya.


Semua diam, hanya tatapan murka dari sorot mata kakek Agung, dan Sofian, yang terus tertuju pada Veronica. Salah satu petugas keamanan berbicara di telepon. Pembicaraannya memecah kesunyian di tempat itu, sangat jelas dari obrolannya, dia memanggil polisi yang sedari tadi menunggu panggilannya.


Veronica hanya bisa menagis sesegukan. “Ivan … aku melakukan semua ini semata ingin membantu tante Rani. Apakah kalian semua di sini tidak ada yang peka dengan keinginannya dan perasannya?”


"Tante Rani tidak bisa menerima kehadiran Diana di tengah keluarga kalian. Diana gadis bisu dari desa yang tidak berpendidikan, tidak pantas berada di tengah keluarga kalian."


Mendengar perkataan Veronica Abimayu geram, ingin sekali menghempaskan kepala gadis itu ke tembok dengan sekuat tenanganya. Tapi mengingat bagaimana privasi Diana, Abimayu hanya bisa menahan dirinya.


Veronica mengusap air mata yang lolos dari pelupuk matanya. "Hiks ...." isaknya.


"Yang aku lakukan, hanya demi kalian semua. Karena aku tahu, kalian tidak berdaya bukan?"


"Hal yang dirasakan tante Rani itu sangat wajar, karena seorang ibu hanya ingin anaknya bahagia. Kamu tidak bahagia dengan perjodohan ini bukan?" Mata Veronica berkaca-kaca memandang Ivan. "Tante Rani merasakan kesedihanmu Ivan, dia tahu kamu pasrah hanya demi kakek Agung."


“Aku sangat sedih mendengar curhatan tante Rani, seorang ibu yang tidak berdaya menyuarakan suara hatinya, juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya ingin masa depan anaknya lebih bagus dan bahagia, tidak terjebak dengan seorang dengan seorang gadis bisu macam dia!” Veronica mengisyarat pada Diana.


"Aku berusaha mengabulkan keinginan tante Rani, karena dia tidak mampu mengutarakan keinginan hatinya, apalagi mewujudkannya."


Diana mendapatkan lagi pesan baru, di sana ada foto Veronica dan Lussy. Keduanya terlihat mengatur rencana mereka. Diana pun mengetikkan kata.


^^^Yang terjadi hari ini tanpa sepengatahuan tante Rani. Kamu dan Lussy mengatur rencana ini tanpa tante Rani. Sebelum kamu mengatur janji ketemu dengan tante Rani, kalian sudah menyiapkan rencana ini.^^^


Veronica semakin terpojok membaca tulisan Diana. Diana memberikan handponenya pada Ivan. Di sana sangat jelas, semua foto membuktikan kalau Veronica memang melakukan semua rencana ini atas keinginannya sendiri.


Ting!


Bunyi pintu lift yang terbuka membuyarkan konsentrasi semua orang, tapi melihat siapa yang keluar dari peti besi raksasa itu, membuat Veronica semakin ketakutan.


“Bisa kami bawa tersangka kami sekarang?” ucap salah satu petugas Kepolisian.


“Bawa saja Pak! Terlalu lama dia di sini, saya tidak jamin dia masih bisa menghirup oksigen lagi,” ucap Ivan, tanpa menoleh sedikitpun pada Veronica.

__ADS_1


"Ivan ...." Veronica meronta, dan terus berusaha meminta belas kasihan lewat tatapan matanya.


Veronica memang Wanita yang cerdik, hanya saja dia menggunakan kelebihannya pada jalan yang salah, dan pada target yang salah. Setelah semua petugas keamanan dan petugas Kepolisian pergi membawa Veronica dan Lussy, keadaan seketika hening.


“Ehm!” Dehaman Abimayu membuat pandangan mata tertuju padanya.


“Apa tidak ada yang ingin minta maaf pada Diana?” Abimayu memandangi kakek Agung, Sofian, dan Ivan bergantian.


Kakek Agung menunduk malu, dia banyak menerima bantuan dari nenek Diana, tapi sejak Diana datang ke rumahnya, keluarganya tidak memperlakukan Diana dengan baik. Bahkan hingga detik ini, keluarganya sering meragukan Diana.


Sofian menoleh kearah Abimayu. Rasanya dia ingin sekali memeluk dan berterima kasih pada Abimayu, karena telah mencegahnya menyakiti Diana, andai tadi dia mematahkan tangan Diana, rasa bersalahnya kian besar karena menyakiti orang yang salah.


Kakek Agung mendekati Diana. “Maafkan kakek Diana.” Sesalnya.


Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Sofian terus menunduk, rasanya dia tidak punya keberanian untuk menatap wajah Diana. Malu, dan sangat menyesal karena tidak bisa melihat Diana dari sisi yang lain. Perlahan Sofian juga mendekati Diana. “Maafkan om." Suaranya seakan tertelan oleh tarikan napasnya yang begitu berat. "Maafkan om Diana," ulangnya dengan suara yang lebih jelas.


Diana menepuk lembut lengan Sofian, saat laki-laki itu menegakkan wajahnya memandang Diana. Terlihat Diana memberikan senyuman kecilnya, dia memberi isyarat kalau dia memaafkan Sofian.


Sofian menarik napasnya begitu dalam dan menghembuskannya perlahan. "Maafkan om, karena tadi hampir mencelakai dirimu, melihat bukti tadi om tidak bisa diam saja, saat melihat sosok yang om yakini telah menyakiti orang yang om cintai.”


Diana menundukkan wajahnya memandang layar handphone, dan mulai mengetik di handphonenya.


^^^Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti om, mungkin akan bertindak lebih tragis lagi. Tidak akan aku biarkan seseorang yang telah mencelakai orang yang aku cinta bisa bernapas lega di muka bumi ini.^^^


“Sejak kita bertemu, om hanya bisa mendengar dan menilai kejelekan kamu, maafkan om,” ucap Sofian.


Diana menjawab dengan ketikan di layar handphonenya.


^^^Kenali dan nilailah aku dari mata dan telinga om sendiri, bukan dari mulut orang lain.^^^


"Maafkan kami." Hanya kata maaf yang berulang, yang bisa diucapkan Sofian.

__ADS_1


“Aku lega, akhirnya semua masalah ini selesai,” sela kakek Agung.


“Operasi Rani berhasil, hanya menunggu proses pemulihannya saja, padahal dari hasil rontgen, rasanya itu sangat parah dan harapan untuk membaik membuatku ragu,” sambung Sofian.


“Operasinya berjalan sangat lancar, dan Nyonya Rani akan baik-baik saja,” sahut Abimayu.


Diana menoleh kearah Ivan yang terlihat salah tingkah. Jemarinya pun kembali mengetikkan kata-kata:


^^^Setelah semua tuduhanmu padaku, dan semua tuduhanmu itu telah disangkal oleh semua bukti yang ada. Semuanya jelas membuktikan kalau aku tidak bersalah. Apa kamu tidak mau meminta maaf padaku?^^^


Ivan mematung, dia hanya bisa menelan salivanya. Malu, menyesal, dan bermacam rasa lain menyatu dalam dirinya.


Melihat reaksi Ivan, Yudha segera menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, melihat raut wajah Ivan rasanya ini sangat menggelitik perutnya, selama ini Ivan yang sering membuat bawahannya tidak berkutik, kali ini Ivan yang tidak berkutik karena membaca tulisan Diana.


Hanya dengan tulisan, seorang Ivan bungkam, bagaimana kalau gadis itu bisa bicara, pikir Yudha.


Hmppp!


Yudha berusaha keras menahan tawanya, namun sia-sia. Tawa itu tetap lepas seketika, bahkan dia lupa kalau dia tengah berada di Rumah Sakit.


“Amm ….” Ivan berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Nanti kita bicara di rumah.”


****


Karya ini bisa lanjut, kalau peformanya bagus, jadi kalau rendah, kemungkinan aku gak lolos ke sesi berikutnya, karyanya pun bisa putus di tengah jalan.


Semoga bisa tetap lanjut ya🙈🙈🙈


Dukungan jempol atau komentar 'Lanjut' dari semua readers sangat membantu perkembangan karya ini.


Jadi ini dinilai dari perkembangan popularitasnya juga. Terima kasih yang telah mendukung karya ini, kalian sangat membantuku.🤗🤗🤗


Sekali lagi aku kasih tau, karya ini bukan ide ku, semua alur dan ide cerita milik editor, aku hanya mengembangkan kata menjadi bab. Sekalian ini proses belajarku, bagaimana membuat novel, selama ini hasil ideku masih kurang dan sangat kacau.

__ADS_1


Aku juga sama seperti kalian, ingin bab ini lancar updatenya, tapi kita semua sama-sama menunggu.


Terima kasih, telah berjuang bersamaku🤗🤗🤗


__ADS_2