Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 76 Menculik?


__ADS_3

Emosi Ivan perlahan mereda, setelah mengusir tiga teman wanitanya. Dia melupakan tatapan mata dari teman-teman dan kakaknya, saat ini dalam pikirannya hanya Diana. Ivan berjalan mendekati Diana. “Apa mereka melukaimu?” Ivan tidak bisa menyembunyikan mimik kekhawatirannya.


Diana menggelengkan kepalanya.


“Perlihatkan tanganmu." Ivan tidak bisa percaya begitu saja.


Diana memperlihatkan kedua telapak tangannya. Melihat luka Diana tidak bermasalah, Ivan sangat lega. Perlahan raut kekekhawatirannya memudar. Diana mengambil handphone dan mulai mengetik …


*Terima kasih atas semuanya.


Ivan terdiam membaca tulisan yang tertera di layar handphone Diana.


Kenapa dia selalu berterima kasih?


“Sudah kewajibanku untuk—”


Brak!!!


Semua orang terperanjat mendengar suara gebrakan yang begitu kencang. Pintu ruangan itu dibuka paksa, hingga menimbulkan suara gebrakan, pintu itu tampak rusak karena tendangan seseorang.


"Nizam?"


Teman-teman Ivan sangat mengenali sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu, namun mereka semua diam, melihat Nizam dengan wajah yang selimuti kemarahan. Diana langsung mendekati Nizam, dia meminta Nizam untuk tenang dengan Bahasa isyaratnya.


Nizam tidak menuruti permitaan Diana, dia berjalan melewati Diana begitu sjaa dan mendekati Ivan, dia mencengkram bagian krah kemeja Ivan. “Kenapa kamu menculik Diana?!” makinya pada Ivan.


Diana berlari kearah Ivan dan Nizam, meminta Nizam melepaskan Ivan. Cengkraman Nizam perlahan melemah.


Semua teman Ivan yang ada dalam ruangan saling pandang. Setahu mereka Diana adalah tunangan Ivan, mereka heran, bagaimana mungkin Ivan menculik tunangannya, apalagi sebelumnya Diana datang seorang diri.


Yudha segera beranjak dari tempatnya, dia mendekati pengacara Nizam. Dia menjauhkan Nizam dari Ivan. “Nizam, sebaiknya duduk dulu, nanti Ivan akan ceritakan kenapa Diana bisa ada di ruangan ini.”


“Benar, sebaiknya duduk dulu, biar kamu tenang, Nizam," usul Shady.


"Tenangkan dirimu Nizam, kita bicarakan baik-baik," ucap Yaqzhan.


Nizam masih terlihat sangat marah pada Ivan. Rasanya dia tidak ingin melepaskan laki-laki itu.


"Yudha, sebaiknya kamu papah dia ke sini, sepertinya dia mabuk,” sela Angga.


“Aku tidak mabuk!!” kemarahan Nizam semakin berkobar karena disangka mabuk. Mendengar suara Nizam yang sangat lantang, seketika Yudha dan Angga membisu.


Diana mencoba menenangkan Nizam, dia berjalan menuju sisi ruangan, dan mengambil segelas air di sana, dia memberikan segelas air putih pada Nizam. Melihat wajah Diana yang begitu tenang, perlahan kemarahan Nizam memudar. Nizam segera menegak air putih yang ada dalam gelas.

__ADS_1


“Kenapa kamu semarah ini? Apa kamu cemburu melihat Diana bersamaku?”


“Uhukkk!” Nizam tersedak mendengar pertanyaan Ivan. Nizam berjalan kearah meja meletakkan gelasnya di sana, dengan tenang dia menarik beberapa lembar tisu. Setelah merasa nyaman, Nizam menoleh kearah Ivan. “Aku datang ke sini dengan Diana, karena ada kasus yang harus ku bahas dengannya, aku panik saat dia tidak ada di ruanganku."


"Diana sangat berharga bagi keluarganya, dia bersamaku, maka Diana tanggung jawabku! Aku mencarinya ke mana-mana seperti orang gila! Aku seperti ini karena panik! bukan karena mabuk! dan kalian menuduhku mabuk?!”


"Kalau kalian mengemban suatu tanggung jawab yang sangat berharga, lalu kalian kecolongan dalam menjaganya, bagaimana perasaan kalian?!" Ujung jari telunjuknya mengarah pada Ivan. "Dan kau menuduhku cemburu!?"


Ivan dan teman-temannya semakin bungkam. Nizam berusaha menurunkan emosinya yang kembali memuncak. “Diana, aku tunggu kamu di ruangan yang tadi.” Tanpa menoleh pada siapa pun, Nizam menggalkan ruangan yang ditempati Ivan dan kawan-kawannya, dia kembali ke ruangan yang dia sewa.


Diana mengetik kata baru.


*Ada hal penting yang harus aku bahas dengan pengacaraku, boleh aku pergi?


Setelah membaca tulisan Diana, Ivan menganggukkan kepalanya. Diana segera kembali ke ruangan yang sebelumnya dia tempati. Saat Diana memasuki ruangan yang ditempati Nizam, dia melihat laki-laki itu sangat fokus dengan layar laptopnya.


“Ruangan ini kedap udara, jangan lupa kunci pintunya, Diana.”


Diana segera mengunci pintu, lalu berjalan mendekati Nizam. Saat Diana duduk di dekatnya, Nizam langsung mengarahkan laptop yang memuat Riwayat penyakit pasiennya.


“Operasi untuk pasien ini harus berhasil, Diana. Kalau gagal, namamu akan kena masalah. Padahal kasus ini sangat rumit.”


Diana mengamati jeli setiap laporan yang tertera. Benar seperti apa yang Nizam katakan, ini adalah kasus yang rumit.


Diana menggelengkan kepalanya, menolak usul Nizam. “Aku akan berusaha semampuku untuk menolong pasien ini.” Diana terus membahas tentang rencana operasinya dengan Nizam.


Di ruangan yang Ivan tempati bersama teman-temannya.


Ivan mengusir semua orang, termasuk Yudha dan Angga. Kini tinggal sendirian. Seketika perasaanya kacau melihat Diana pergi menyusul pengacara nizam, rasanya sulit percaya Diana dan Nizam hanya membahas perkara hukum di tempat mewah ini.


*


Di ruangan yang ditempati Diana dan Nizam.


Karena pembahasan mereka tentang operasi selesai, Diana dan Nizam membereskan barang-barang mereka. Diana dan Nizam berjalan bersama keluar dari ruangan itu.


“Diana, kamu ingin kembali ke kampus, atau Rumah Sakit? Kemana kamu mau, aku akan mengantarmu.”


“Terima kasih, Nizam. Tapi aku akan pulang dengan Ivan saja.”


Wajah Nizam seketika kehilangan cahaya keceriaan, kala mendengar jawaban Diana. “Diana, kamu harus ingat apa misimu, jangan terlalu dekat dengan Ivan.”


"Ingat, salah satu misimu memastikan apakah ada keterlibatan keluarga Agung dalam kasus pembunuhan kedua orang tuamu!"

__ADS_1


"Jangan sampai perasaanmu membuatmu melupakan misimu!"


Diana tidak menghiraukan ucapan Nizam, dia langsung menuju ruangan yang Ivan tempati. Melihat Diana menuju ruangan itu, Nizam sangat marah, dia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan clubhouse.


Ceklak!


Saat pintu terbuka sempurna, kedua mata Diana di suguhi pemandangan yang sangat menyesakkan hatinya, rasanya hatinya dihimpit diantara bongkahan batu besar saat melihat pemandangan di depan matanya.


Kegiatan dua orang yang ada dalam ruangan itu seketika terhenti saat mendengar suara pintu terbuka. keduanya terkejut mendengar suara pintu terbuka. Ivan masih menenggelamkan wajahnya di bagian tubuh wanita yang berada dalam dekapannya, saat Ivan menegakkan wajahnya, dia sangat terkejut melihat Diana berdiri di depan pintu.


 


Diana di sana? Lalu yang di sini?


 


Saat Ivan menoleh ke samping ....


Dugggg!


 


Veronica?


 


Veronica malah tersenyum dan mengusap lembut wajah Ivan, Ivan masih syok dia menepis kasar tangan Veronica, dan menjauh dari Veronica. Ivan masih berusaha mengembalikan kesadaranya, dirinya masih tidak percaya dengan hal yang baru dia sadari, namun saat dia memandang kearah pintu, Diana sudah tidak ada di sana.


**


Diana melangkah begitu cepat, dia tidak tahu kenapa perasaannya sesakit ini melihat Ivan bersama Veronica, apalagi atasan yang Veronica kenakan hampir terlepas.


Diana mengusap ujung matanya yang terasa basah dengan jari telunjuk. Saat melihat setetes crystal bening di ujung telunjuknya, Diana sangat marah dengan dirinya sendiri.


 


*Apa ini? Kenapa ini terlepas?!


Cukup Diana! Jangan ulangi lagi hal ini*!


 


Diana berusaha melupakan rasa sakit yang mendera hatinya, dia memasang wajah dinginnya, dan meneruskan langkah meninggalkan Clubhouse ini.

__ADS_1


__ADS_2