Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 208 Jangan Terlalu Keras


__ADS_3

"Pengkhianat?" Rasanya Ivan sulit mempercayainya. "Bagaimana bisa pengkhianat masuk ke organisasi hebat seperti IMO?"


"Itu yang menjadi kebodohan dan kelemahan kami, kami merasa aman, ternyata pengkhianat itu malah orang dekatku," ucap Diana.


"Kamu tahu siapa pengkhianat itu?"


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat fokus Diana dan Ivan pecah.


"Diana, ini aku bibi Zicca."


Diana langsung berjalan menuju pintu dan membuka pintu untuk bibi Zicca.


"Ada apa bi?" tanya Diana.


"Ayah membuatkan obat untukmu." Bibi Zicca memberikan mangkuk kecil yang berisikan cairan herbal. "Menurut penelitian Ayah, peluru dari senjata api mereka mengandung racun, dan Ayah sangat khawatir padamu."


"Terima kasih bi, aku akan segera meminumnya." Diana menerima mangkuk kecil itu.


"Diana, lawan yang berhasil kita sandra tidak mau membuka mulut tentang siapa yang menyuruh mereka, jadi kita apakan mereka?"


Diana berpikir sejenak.


"Kami semua sudah menyiksa mereka, mereka semua tetap bungkam," adu bibi Zicca.


"Lepaskan semua anak buahnya yang selamat, sedang ketuanya, obati dulu luka tembak di kakinya, setelah itu serahkan dia ke pabrik tambang, biarkan dia jadi budak di tambang itu untuk beberapa tahun."


"Baik Diana."


"Jangan lupa diminum, aku permisi dulu," pamit bibi Zicca.


Diana segera duduk di salah satu sofa, dia mulai meminum obat herbal racikan Kakek Hong.


"Racun apa? Apa perlu kita ke Rumah Sakit sekarang?" Ivan panik menguping pembicaraan Diana tadi.

__ADS_1


"Kakek Hong, selain guru bela diri, beliau juga ahli meracik obat penangkal racun, tenanglah." Diana menghabiskan semua minuman itu.


"Aku jadi takut sekarang," gumam Ivan.


"Takut kenapa?" tanya Diana.


"Aku takut kamu kenapa-napa, apa sebaiknya kamu kembali bersamaku saja?"


Diana berdiri mendekati Ivan, di berdiri tegak di hadapan laki-laki itu. "Aku akan kembali, tapi beri aku sedikit waktu lagi."


Ivan terlihat sangat cemas.


"Kalau kamu tidak percaya padaku, sama saja kamu meragukanku, Van."


Ivan meraih tisu, dia menyapu sisa bibir Diana yang basah dengan tisu. "Aku tidak meragukanmu, Diana. Aku hanya terlalu sayang padamu, dan rasanya aku hampir mati membayangkan kamu kenapa-napa."


"Aku baik-baik saja." Diana mencoba meyakinkan Ivan.


"Setelah melihat kejadian tadi, aku sangat takut Diana. Kamu tidak mencintaiku, jadi kamu tidak tahu bagaimana kacaunya perasaanku tadi."


Tatapan sendu dari sepasang mata Ivan membuat Diana tersihir, entah dari mana dorongan itu, dia lebih dulu menyerang bibir Ivan, dan memberikan belitan lidah yang sangat hangat di sana. Cukup lama persilatan lembut itu terjadi.


Ciuman itu seakan mengambil alih semua kesadaran Ivan. Saat kedua tangannya melingkar di pinggang Diana, Ivan reflek menggendong Diana, dan mendudukan wanita itu di meja kecil yang ada di sisi dinding.


Kesadaran keduanya benar-benar hilang, yang ada hanya napfsu yang berbalut rindu yang menguasai keduanya.


Trank!


Vas bunga kecil yang ada di meja itu jatuh karena senggolan tangan Ivan yang tidak bisa diam. Sontak suara itu menyadarkan keduanya. Diana mendorong pelan tubuh Ivan agar menjauh darinya, dia turun dari meja dan merapikan atasannya yang lecek karena tangan nakal Ivan.


"Bagaimana kalau kita periksa keadaan di luar?" Diana mencoba mengusir kecanggungan yang terjalin.


"Baiklah, aku ingin memberi hukuman pada mereka!" Ivan merasa usul Diana sangat tepat, berduaan dengan Diana terus menerus membuat dirinya kehilangan kendali.


"Sudah, kamu jangan ikut menghukum mereka, hukuman dariku sudah cukup." Diana meraih jaketnya dan mengenakan jaket itu, selain melindunginya dari hawa dingin, juga menutupi lecek bajunya karena perbuatan Ivan.

__ADS_1


Plak!


Satu buah batu giok jatuh dari jaket Diana, dan benda itu langsung Ivan pungut.


"Anggota IMO?" Ivan membaca tulisan yang terukir di batu giok itu. "Apa ini? Kenapa ada namamu di sana?"


"Istilah sekarang, itu kartu anggota IMO," terang Diana.


"Kartu berbentuk giok?" Ivan kebingungan.


Diana mengambil giok yang ada di tangan Ivan dan segera menyimpannya. "Aku tidak suka barang yang berbahan logam, aku lebih suka barang yang berbahan batu, dan batu giok pilihanku, aku merasa ada zaman kerajaan, memiliki giok sebagai kartu identitas mereka."


Saat Diana ingin menjauh, Ivan menahan peegerakannya. "Kenapa suka yang batu? Bukankah dirimu sudah keras seperti batu?"


Ivan berdiri, dan membelai sisi wajah Diana. "Aku tahu hidupmu keras, tapi janganlah terlalu keras untuk dirimu sendiri. Bukalah hatimu untuk cintaku, aku tidak meminta kamu mencintaiku, cukup terima cintaku, dan biarkan cintaku menghangatkan semua hidupmu."


***


Di Tanah Air


Setelah meninggalkan gedung Agung Jaya, Agis kembali ke rumahnya.


"Ada apa Agis?" tanya Aridya.


"Mama, ternyata si gembel itu putri CEO Widori Group," adu Agis.


"Apa?!" Aridya sangat syok mengetahui hal itu.


"Saat ini aku artis yang tidak bisa bekerja, semua iklan, film, dan industri hiburan lain tidak berani memakaiku untuk projet mereka, karena diancam oleh Jennifer. Bahkan aku dikeluarkan dari rumah produksi yang selama ini menaungiku dan membesarkan namaku."


"Kamu sudah meminta bantuan Ivan? Mama yakin Ivan pasti membantumu, yah ... walau akhirnya sangat menyakitkan, dia membantu karena kita keluarga Diana." Aridya sangat marah membayangkan sosok Diana.


"Ivan tidak bisa ditemui, bahkan nomor teleponnya tidak aktif, sedari tadi aku berusaha menghubungi Ivan, tapi tidak bisa."


Agis hanya bisa menangis dalam pelukan Aridya. Saat ini wajah cantik, tubuh indah, dan nama besarnya tidak berarti apa-apa, karena tidak akan ada yang mau memakai jasanya di dunia hiburan.

__ADS_1


__ADS_2