
Qiara dan Dillah masih bekerja keras diatas tempat itu, mereka masih semangat menciptakan guncangan hebat diatas tempat persegi yang sangat empuk itu. Suara legguhan dan rintihan yang bersahutan memecah kesunyian dalam kamar itu.
Tiba-tiba deringan panggilan terdengar, membuat Dillah terpaksa menghentikan kegiatan yang sangat memabukkan ini. Saat melihat identitas pemanggil adalah Ivan, Dillah langsung menarik dirinya dari lembah kenikmatan.
“Kenapa baby ….” rintih Qiara.
“Ivan.” Dillah memperlihatkan layar handphonenya pada Qiara. Dia meminta Qiara untuk diam, dengan bahasa isyaratnya. Dillah segera menerima panggilan Ivan.
“Iya Tuan.”
“Aku sudah di bandara, dan dalam perjalanan menuju hotel.”
“Apa Tuan ingin dijemput?”
“Tidak perlu, aku sudah meminta Narendra untuk menjemputku.”
Qiara menarik Dillah, agar posisi Dillah berbaring telentang, dia sengaja naik keatas tubuh Dillah, Dillah masih berbicara dengan Ivan, sedang dirinya kembali bekerja keras diatas sana. Membuat Dillah berusaha menahan rasa yang semakin meledak-ledak.
Di ujung telepon sana Ivan merasa aneh, selain suara Dillah yang tertahan, napas Dillah terdengar begitu memburu. “Kamu sakit Dillah?”
“Tiitt-titt-tidak Tutt-Tuan.”
“Kalau kamu sakit, kamu istirahat saja. Tapi jika benar kamu baik-baik saja, temui aku di club 1 jam lagi. Teman-temanku akan merayakan ulang tahun Veronica di sana.”
“Emmm.” Dillah merapatkan kedua mulutnya. “Saya akan segera ke san-na Tuan.”
Walaupun Ivan merasa aneh dengan Dillah, dia tidak bertanya lagi dan menutup panggilan teleponnya.
“Kamu nakal!” jerit Dillah.
“Aku tidak bisa berhenti, aku sangat menginginkan kamu baby.”
Dillah merubah posisi pertarungan mereka. “1 jam lagi, Ivan memintaku untuk menemuinya di salah satu club, katanya di sana merayakan ulang tahun Veronica.”
"1 jam waktu yang cukup baby untuk kita."
"1 jam waktu yang sangat sedikit menurutku." Dillah kembali aktif bergerak memimpin petualangan mereka lagi.
“Ak-ku melupakan ulang tahun Veronica,” ringis Qiara.
"Lupakan mereka sesaat, kita nikmati ini," bisik Dillah.
"Kamu benar baby." Qiara sengaja meleguhh sekuat yang dia bisa.
Semangat Dillah semakin berkobar melihat Qiara seperti ini. Tapi waktu terus berjalan, menginagtkan Dillah akan permintaan Ivan. “Sebenarnya aku ingin seperti ini sepanjang malam bersamamu, Qiara. Tapi kakak sepupumu memanggilku.” Dillah semakin mempercepat temponya.
__ADS_1
“Selesai acara, kamu boleh kembali ke sini baby.” Qiara membelai lembut wajah Dillah.
“Aku pasti datang lagi, tapi kita selesaikan yang satu ini.”
Dillah terus memimpin petualangan. Mereka berdua terus berpetualang tanpa henti, hingga menciptakan suara khas dan guncangan hebat diatas tempat tidur. semakin indah karena diwarnai suara rintihhan yang bersahutan.
**
Suasana malam semakin dingin dan semakin sepi, tapi laki-laki tampan yang kini berusia 35 tahun itu begitu tergesa-gesa keluar dari hotel. Setelah menerima laporan dari anak buahnya kalau ada yang Menyusun rencana untuk membunuh Diana, dia tidak tenang. Mulanya dia meremehkan laporan anak buahnya, karena dia mengetahui kemampuan Diana. Mendengar kalau orang itu menyiapkan 100 orang petarung handal, dia pun takut kalau terjadi sesuatu pada Diana.
Mendapat laporan kalau Diana berada berada di suatu wilayah, Dia segera meminta supirnya untuk menuju wilayah itu. Setelah lumayan lama menyusuri jalan, akhirnya dia menemukan sebuah motor sport yang dia duga itu Diana.
“Ikuti pengendara itu, jangan sampai kehilangan jejaknya.”
"Baik Tuan." Mobil itu terus mengikuti kemana motor itu melaju.
Diana melirik kaca spion motornya, dia merasa ada yang mengikutinya. Melihat nomor polisi mobil itu, Diana bisa mengenali siapa pemilik mobil yang terus menguntitnya. Diana menurunkan kecepatan motornya, lalu sengaja berhenti di tengah jalan. Melihat targetnya menghalangi jalan, supir menghentikan mobilnya. Diana kembali melajukan motornya, tapi dia hanya memutari mobil yang sedari tadi mengikutinya. Setelah beberapa putaran, Diana berhenti, dia terus menaikkan gass motornya,
Brmmmm! Brmmmm! Brmmm!
Seakan itu peringatan pada seseorang yang berada dalam mobil itu agar tidak mengikutinya. Fredy menautkan kedua alisnya, dia berusaha mengamati keadaan pengendara motor itu, dia juga memahami peringatan dari Diana. Setelah memberi peringatan, Diana kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Bagaimana Tuan Fredy? Apakah kita terus mengejarnya?” tanya supir.
Mobil Fredy memutar arah, dan melaju kearah hotel. Di dalam mobilnya Fredy menelepon sekretarisnya.
“Athar, mulai sekarang aku tidak mau melihat Fazran lagi!”
“Baik Tuan.”
Fredy membuang napasnya kasar. Selama dia masih bernapas dia tidak akan memaafkan orang yang berusaha menyakiti Diana.
Aku memang tidak mungkin memilikimu Diana, tapi kamu lah alasanku untuk tetap bertahan hidup di dunia ini, selama aku hidup tidak akan aku biarkan orang-orang yang menyakitimu hidup dengan nyaman. Aku akan membuat hidup mereka menderita karena mengusikmu, permataku.
**
Di sebuah club malam yang di sewa oleh Shady. Beberapa rekan mereka sudah datang. Di sana ada Yafzhan, Shady, Veronica, Dillah, dan Yudha. Yudha sangat malas melihat Veronica, rasa muaknya pada veronica semakin bertambah karena kasus terbaru veronica. Yudha datang hanya karena sahabanya Yaqzhan. Mereka masih menunggu kedatangan Ivan. Suasana terasa canggung, Dillah undur diri untik menerima telepon, sedang Yudha hanya diam memandangi pemandangan sekitar. Yaqzhan juga merasa bosan, dia mengotak atik handphonenya untuk mengusir rasa bosannya.
“Ve, kamu sangat cantik malam ini,” puji Shady.
“Terima kasih, Dy.”
“Selamat ulang tahun.” Shady memberikan hadiah kecil untuk Veronica.
Veronica tersenyum menerima hadiah dari Shady, saat Veronica memandang ke arah pintu masuk, senyuman Veronica semakin merekah saat melihat Ivan berjalan kearahnya. Veronica meletakan hadiah dari Shady diatas meja, dia langsung berlari kearah ivan dan menyambutnya.
__ADS_1
“Ivan ….” Sepasang mata Veronica berbinar bahagia melihat Ivan menghadiri pesta ulang tahunnya.
“Ayo kita ke sana, teman-teman tengah menunggumu.” Veronica menyilangkan kedua tangannya di pergelangan tangan Ivan.
Dada Shady begitu sesak, melihat Veronica melupakan kadonya dan melupakan dirinya, Shady merasa dikucilkan Veronica karena kehadiran Ivan.
“Kapan sampai van?” tanya yudha.
“Satu jam yang lalu,” sahut Ivan.
“Jangan terlalu sering bepergian Van, nanti Diana malah akan pergi meninggalkanmu,” ledek Yudha.
“Diana dan Ivan sudah tidak bertunangan Yudh! Tante Rani sendiri yang memutuskan pertunangan mereka,” sela Veronica.
Yudha tersenyum sinis, dia tahu veronica sangat mencintai Ivan. “Tapi putus atau berlanjutnya pertunangan Ivan tergantung keputusan kakek Agung, bukan pada keputusan tante Rani. Yang aku tahu, kakek Agung bersikeras mempertahankan pertunangan Ivan dan Diana. Selama kakek Agung menginginkan lanjut, maka pertunangan ini masih berlanjut.”
Veronica berusaha memendam kekecewaannya, namun Yudha bisa menangkap kalau Veronica sangat sakit mendengar kenyataan ini. Yudha tersenyum bahagia melihat Veronica sesakit ini.
“Lanjut atau putus kan tidak berpengaruh pada Ivan, yang aku tahu Ivan tidak peduli dengan pertunangan ini,” sela Veronica.
“Sayangnya Ivan sangat peduli, dan Ivan sangat berharap pertunangan ini tetap berlanjut,” sahut Yudha.
“Bagaimana kalau kita mulai acaranya? Malam ini adalah acaraku, bisa kita fokus dengan acara ulang tahunku?” Veronica berusaha mengusir rasa sakit di hatinya dengan merubah pembahasan mereka.
“Veronica benar, malam ini malam bahagia untuknya, ayo kita mulai acaranya,” sambung Shady.
Mereka semua berjalan mendekati kue ulang tahun Veronica.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki menyita perhatian semua orang, terlihat seorang wanita dengan celana Panjang yang sangat ketat dan tubuhnya dibalut jaket kulit, semua memandang Diana dengan tatapan tidak suka. Kecuali Ivan dan Yudha. Keduanya sangat bahagia melihat Diana ada di tempat ini.
Srettt!
Diana membuka jaket kulit yang membungkus tubuhnya, mata mereka disuguhi pemandangan tubuh Diana yang begitu seksi hanya mengenakan kaos ketat lengan pendek. Walau penampilan Diana sangat berbeda dengan para pengunjung club malam, tapi Ivan tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada Diana. Melihat Ivan memandang Diana tanpa berkedip, Veronica sangat terluka.
“Diana.” Yudha mengangkat tangannya menyapa Diana.
Mendengar nama Diana, Dillah sangat terkejut. Dia tidak menyangka Diana bisa lepas dari 100 orang preman terlatih.
“Ngekkk!” Dillah hanya bisa menelan salivanya dan menyembunyikan ketakutannya.
“Diana berhasil lolos dari jebakan Anda, Nyonya.” Ucap Dillah pada seseorang di ujung telepon sana.
Karena Diana selamat, posisinya saat ini tidak aman, dia segera pergi dari sana sebelum Ivan mengetahui kesalahan dirinya.
__ADS_1