
Ruang rapat kantor Agung Jaya.
Ivan menatap Diana begitu tajam. “Kalau bukan Manager Wang, lalu siapa yang menjadi tikus di perusahaan Agung Jaya?” tanya Ivan pada Diana.
“Sangat mudah, yang mengurus pembelian barang, penjualan barang, dan yang mengurus pajak, siapa?”
Ivan memandangi 10 kepala bagian yang mengikuti rapat di ruangan ini.
Diana tersenyum sinis pada beberapa pegawai ivan. “Maafkan aku, jika aku terlalu lancang mengungkap kecurangan ini.” Diana meminta maaf, namun raut wajahnya seperti mengolok-olok.
"Kalian semua, kamari!" Ivan meminta 10 kepala bagian untuk berdiri menghadapnya. Mereka semua pun berdiri menghadap Ivan.
“Katakan padaku, atau kalian mau aku mencari tahu dengan caraku sendiri?” kecam Ivan.
Semuanya kompak terus menunduk, andai mereka mengelak, Ivan pasti bisa mengetahui kelicikan mereka, karena Ivan sudah tahu dititik mana permainan mereka.
“Maafkan kami Tuan, kami sangat butuh uang. Terpaksa kami mengambil jalan pintas ini,” ucap salah satunya.
Manager Wang terlihat sangat geram pada anak buahnya. “Aku mempercayai kalian, kita bekerja sama demi kemajuan Agung Jaya. Agung jaya Berjaya bukan hanya perusahaan ini yang jaya, tapi kehidupan semua pekerjanya!”
“Manager Wang, aku tidak mau tahu, tolong Anda urus mereka semua, mulai detik ini, aku tidak ingin melihat wajah mereka semua!” ucap Ivan.
“Apa perlu melaporkan mereka ke polisi?” tanya Manager Wang.
“Kalau Anda mau repot berurusan dengan meja hijau, silahkan.” Ivan menyerahkan semua keputusan pada Manager Wang.
Diana melihat gelagat aneh dari 10 orang yang menjabat kepala bagian yang berbeda, terlihat mereka saling kode.
__ADS_1
Shat! Shap! Shup!
Pisau buah yang ada di atas meja berpindah begitu cepat, salah satunya langsung menyerang Ivan, namun yang menyerang Ivan langsung terjatuh karena pukulan Ivan, begitu juga orang yang menyerang Diana, hanya hitungan detik Diana langsung melumpuhkan orang itu. Saat yang sama pegawai Ivan yang lain ingin menyerang Manager Wang. Diana merebut pisau lawannya, dan melemparnya kearah laki-laki yang menyerang manager Wang. Hingga pisau itu menancap di pahanya.
Melihat hal darurat itu Farhan mematung, di luar dugaannya ternyata Diana sangat lihai bela diri.
Ivan kesal melihat Farhan yang memandangi Diana tanpa berkedip. “Apa yang kamu tunggu Farhan! Panggil keamanan!”
Farhan langsung menekan alarm keamanan. Saat yang sama penyerang lain ingin menyerang Farhan, Tapi Dillah dengan sigap melumpuhkan penyerang itu dengan tangan kosong. Semua kepala bagian yang korupsi itu pun di lumpuhkan. Diana tersenyum melihat kerja Dillah.
“Wah hebat sekali kamu Dillah,” puji Diana.
“Akhirnya bisa juga aku melindungi orang, biasanya aku selalu dilindungi,” ucap Dillah.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Diana.
Obrolan mereka terhenti saat banyak keamanan datang, dan mereka langsung menyeret 10 kepala bagian itu. Manager Wang juga pamit undur diri untuk memberi pelajaran pada para pengkhianat itu.
“Wow ….” Akhinya ungkapan kekaguman itu lepas dari mulut Farhan. “Sangat luar biasa, Nona muda terlihat begitu halus, lemah, kalau melihatnya dia seperti Tuan Putri manja, ternyata dia super women,” puji Farhan. Sangat sulit bagi Farhan melupakan saat Diana menghajar para penyerang itu.
“Sekali lagi kamu memuji permataku, ku potong lidahmu! Ku sumpal mulutmu dengan batu!” maki Ivan.
“Em!” Farhan terkejut, selama bekerja pada Ivan baru kali ini dia mendapat ancaman dari Ivan.
Farhan menarik Dillah ke ujung ruangan, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Dillah. “Di mana Tuan mendapat wanita special karet seribu seperti Nona?” bisiknya.
“Aku tidak tahu, yang aku tahu mereka di jodohkan,” sahut Dillah.
__ADS_1
“Luar biasa, pantas saja Tuan sangat mencintai Nona, ternyata Nona sangat berbeda dari gadis-gadis yang memburu cinta Tuan.”
“Itu hanya sedikit keajaiban Nona yang terlihat," ucap Dillah.
"Apa maksudmu?" tanya Farhan.
"Masih banyak keajaiban lain yang tersembunyi, salah satunya dia adalah dokter hebat yang ada di Rumah Sakit milik Agung Jaya."
"Yang sosoknya sangat misteri?" Farhan semakin kagum.
"Yup!"
“Dia D-R-A-B?” Farhan sangat sulit mempercayai hal itu.
“DRAB singkatan dari namanya, itu adalah Diana Rahma Adelia Bramantyo.” Dillah sangat bangga mengucapkan kata itu.
“Ya Tuhan … aku sangat ingin melihat sosok dokter hebat yang misterius itu selama ini, sekarang aku bisa berada satu ruangan dengannya, bukan hanya melihatnya, bahkan aku menghirup oksigen dari ruangan yang sama dengannya.” Farhan sangat bahagia.
“Jaga bicaramu, jangan terlalu memuja Nona di depan Tuan, Apalagi mengaguminya, kalau kamu nekat memperlihatkan kekagumanmu, bukan hanya kedua matamu yang di congkel Tuan Ivan, mungkin paru-parumu juga dia robek, karena kamu bahagia menghirup oksigen dari ruangan yang sama dengan Nona.”
Mendengar ancaman Dillah, Farhan berusaha menyembunyikan kebahagiaanya. “Oh iya, kemaren aku bertemu dengan Tuan Angga, dia bersama seorang wanita.”
“Dia calon istri Tuan Angga,” sahut Dillah.
“Aku terkejut saat bertemu dengannya, bukan karena dia bersama wanita, pria tampan dan mapan bersama wanita itu wajar, tapi aku terkejut melihat Tuan Angga bisa berjalan tanpa tongkat.”
“Tuan Angga sudah sembuh, dan itu kerja keras Nona Diana.”
__ADS_1
“Ya Tuhan … berapa keajaiban yang dia miliki.” Farhan sangat takjub dengan sosok Diana. “Dia benar-benar seorang dewi yang menjelma di dalam diri seorang gadis desa,” puji Farhan.