
Sebuah mobil mewah memasuki area gudang tua terbengkalai yang ada di pinggir kota. 101 orang berbadan tegap berbaris di dalam gudang itu, menanti bos yang membayar jasa mereka. Saat seorang wanita paruh baya memasuki gudang itu, pimpinan para laki-laki bertubuh tegap itu mendekati wanita tersebut.
“100 orang, seperti yang Nyonya minta sudah saya siapkan untuk misi Nyonya Wilda.” lapornya.
“Bagus, ku rasa 100 orang tidak akan gagal lagi untuk membunuh gadis udik itu. Gadis itu hanya tahu kalau kalian berjumlah 20 orang,” ucap Wilda.
“Ini akan menjadi kasus pengeroyokan Nyonya, jika kasus ini dicium pihak kepolisian.” Orang suruhan Wilda tidak mau berurusan dengan hukum.
“Tenang saja, aku akan atur supaya kasus ini tidak tercium oleh pihak kepolisian.”
“Baik Nyonya.”
“Pastikan wanita itu benar-benar mati di tangan kalian, jika kalian semua berhasil membunuh wanita itu, aku akan memberi kalian semua bonus tambahan.”
Memastikan rencana balas dendamnya pada Diana sudah diatur, Wilda segera meninggalkan Gudang tua itu. Di dalam perjalanan mobil Wilda berpapasan dengan sebuah motor sport yang melaju cepat di jalanan. Wilda tidak menyadari kalau pengendara motor sport itu adalah Diana.
Motor Sport yang Diana kendarai perlahan memasuki Kawasan gudang tua. Menurut pesan yang dia dapat dari Dillah, preman bayaran yang ditugaskan untuk membunuhnya berkumpul di gudang tua itu. Di dalam Gudang laki-laki yang berbadan tegap tengah menyusun rencana mereka.
Prem! Prem! Prem!
Motor sport itu tiba-tiba menerobos ke dalam Gudang, membuat semua orang yang ada dalam gudang terkejut dengan aksinya, mereka masih penasaran dengan aoaok yang mengendarai motor sport itu. Si pengendara melakukan beberapa kali Gerakan memutar seperti seorang pembalap profesional.
Shutttt!
Saat standart motor itu menyentuh tanah, pengendaranya turun dari motor, perlahan dia membuka helm yang menutup seluruh wajahnya. Melihat siapa pengendara motor itu, ketua preman semakin terkejut melihat itu adalah target mereka.
“Kalian mencariku bukan?” tantang Diana.
Ketua preman itu memberi isyarat pada 100 orang anak buahnya agar bersiap mengambil ancang-ancang untuk menyerang.
“Aku bantu kalian, supaya kalian tidak kesulitan melakukan eksekusi, ku rasa tempat ini aman untuk eksekusi,” tantang Diana.
Diana melepas jaket kulitnya, bersiap untuk menerima serangan dari kumpulan laki-laki bertubuh tegap itu. “Kenapa kalian diam saja? Bukankah kalian bertugas untuk membunuhku? Ayo jangan jadi banci, ini aku datang sendiri, tunggu apalagi? Ayo serang aku.”
Salah satu preman maju ingin menyerang Diana.
“Jangan menghinaku dengan menyerang sendirian, Tuan,” ledek Diana.
“Banyak bacot kau gadis kecil!” Laki-laki yang menyerang Diana terlihat sangat kesal, dari postur tubuh saja dia sudah untung banyak dari Diana.
Shappp!
Satu tinjuan melayang kearah Diana. Diana dengan santai menghindar.
Bougggt!
__ADS_1
Bougghhtt!
Brakkkkk!
Satu pukulan dan satu tendangan dari Diana, membuat laki-laki bertubuh tegap itu terlempar beberapa meter.
“Sudah ku bilang jangan meledekku dengan menyerang satu per satu,” ledek Diana. “Ayo maju semuanya, jangan buang-buang waktuku.”
Ucapan Diana membuat semua laki-laki berbadan tegap itu tersulut emosi. 10 orang diantara mereka maju sekaligus untuk menyerang Diana.
"Kalian masih meremehkanku karena hanya 10 orang," ledek Diana.
Tendangan, pukulan, dan semua serangan dari 10 orang itu berhasil Diana hindari, beberapa saat kemudian semua penyerangnya tergeletak di lantai tidak berdaya. Hal ini tentu membuat rekan-rekan yang lain emosi. Begitu juga ketua para preman itu, dia mengisyarat agar semua bawahannya menyerang bersamaan.
Shaattt!
Boouggg!
Suara gebukan, pukulan menggema, diiringi suara rintihan dan jeritan orang-orang yang terkena pukulan Diana, satu pukulan saja membuat satu orang tak berdaya. Diana begitu mudah menghindari pukulan, bahkan gerakkannya sangat gesit memanjat tubuh penyerangnya lalu menyerang preman yang satu lalu yang lainnya. Satu ayunan tendangan dari kaki Diana, berhasil membuat lebih dari satu orang terjatuh.
Boughh!
Boughh
Ketua kelompok penyerangan sangat geram melihat anak buahnya yang tadinya 100 orang kini tinggal belasan orang. Dia mengeluarkan pisau kecil dan melemparnya kearah Diana.
Shatsss!
Pisau itu berhasil menggores permukaan kulit Diana. Melihat tangannya berdarah, emosi Diana memuncak, keberingasannya tidak bisa dikendalikan lagi, dia menyerang sisa preman yang ada dan membuat mereka semua tumbang. Tersisa satu ketua mereka yang masih memainkan pisaunya. Kesabarannya habis, 100 anak buahnya dibantai oleh Diana dengan mudah. Dia maju dan menyerang Diana.
Boughhh!
Shapp!
Pukulan dan tendangan ketua preman itu berhasil Diana hindari. Dia lanjut menyerang Diana dengan Gerakan yang sangat cepat, Diana berhasil menghindar.
Shatsss!
Luka yang sebelumnya bertambah karena kembali tergores mata pisau penyerangnya. Diana tidak mau bermain-main lagi, dia balik menyerang ketua preman dan berhasil merebut pisau itu juga mengunci pergerakannya.
“Katakan! Siapa yang mengutus kalian!” bentak Diana.
“Iv—van.” Ketua preman itu kesulitan berkata, karena tekanan dari Diana semakin kuat.
“Ivan tidak mungkin merencanakan hal ini, katakan siapa yang membayar kalian!”
__ADS_1
Ketua preman itu bungkam, dia tidak mau mengatakan siapa bosnya. Diana mengarahkan mata pisau itu ke sisi leher ketua preman.
“Kalau ku gores luka di sini, maka kamu akan mati pelan-pelan, dan kamu tahu? Mati perlahan itu sangat menyakitkan.” Diana menekan mata pisau itu ke permukaan leher ketua preman. Cairan merah mulai keluar.
“Apakah Nyonya Wilda yang menyuruh kalian?”
Entah apa yang di tusuk Diana, ketua preman itu sangat kesakitan, dia hanya menganggukkan kepalanya merespon pertanyaan Diana. Diana melempar ke sembarang arah pisau itu, lalu menendang ketua preman, membuat ketua itu tidak berdaya lagi. Sedang Diana kembali mengenakan jaket kulitnya, menaiki motornya lalu meninggalkan tempat itu.
**
Di dalam perjalannya, handphone Wilda berdering, terlihat nama pemanggil adalah Ayahnya, Wilda segera menerima panggilan itu.
“Iya Ayah.”
“Lancang sekali kamu mencampuri urusanku! Apa hak mu ikut campur dengannurusan Universitas? Bahkan kamu sangat kelewatan karena memutuskan pertunangan antara Ivan dan Diana?”
“Harusnya Ayah berterima kasih padaku, karena kalau keluarga Diana marah, Ayah bisa menyalahkanku, pertunangan putus karena aku, bukan karena Ayah, dan Ayah tidak kena masalah.”
“Diam kau Wilda! Setelah aku kembali aku akan memberi perhitungan denganmu!” kecam kakek Agung.
***
Di Rumah Veronica.
Di dalam ruangan kerjanya, Danu hanya bisa memijat pelipisnya, dia sangat pusing dengan kasus Veronica. Kasus yang sebelumnya saja belum bisa dia selesaikan. kini lagi-lagi putrinya menimbulkan masalah. Danu berusaha membuat otaknya bekerja lebih keras untuk melindungi anaknya.
Sedang Veronica masih mengurung diri di kamarnya. Dia hanya bisa menggigiti ujung kukunya, dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya, bahkan untuk kasus yang baru Diana juga memiliki bukti lengkap yang memberatkan dirinya.
Deringan panggilan pada handphonenya membuat pikiran Veronica teralihkan, terlihat nama Shady di layar handphonenya. Veronica segera mengangkat panggilan Shady.
“Happy Birthday to you, Happy Birthday to you ….”
Veronica mengutuk dirinya sendiri, karena kasus ini bahkan dia lupa kalau malam ini adalah ulang tahunnya.
“Waktu menunjukkan jam 00.01 Akhirnya aku bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukmu Ve.”
“Terima kasih Shady.”
“Jangan berterima kasih, aku sudah mengatur pesta untukmu Ve. Club langganan kita, aku menyewanya sampai pagi, aku juga sudah mengundang Ivan, katanya pesawat Ivan mendarat jam 11 tadi, ku rasa dia dalam perjalanan ke sini, oh iya, aku juga mengundang teman-teman kita yang lain.”
Mendengar Ivan akan datang, Veronica mengiyakan kalau dia akan datang. Dia melupakan masalahnya untuk sesaat. Veronica segera mempersiapkan dirinya untuk menghadiri pesta ulang tahunnya karena ingin bertemu Ivan. Dia mengenakan gaun terbaiknya, juga memoles wajahnya secantik mungkin. Veronica yakin, Ivan mau datang ke pesta ulang tahunnya dan akan bersikap baik padanya, karena ini malam bahagianya.
__ADS_1