
Sesampai di komplek Konsorsium, Diana mengantar Dillah menuju kamar yang disiapkan untuk Dillah. “Maafkan aku Nona, kehadiranku hanya mengacaukan kesenanganmu.”
“Tidak apa-apa, santai saja. Lebih baik kamu istirahat sana.”
Diana hendak melangkah meninggalkan Dillah, tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Dillah.”
“Iya, Nona?”
“Di sini, kamu boleh ke mana saja, hanya saja ada larangan khusus untuk semua tamu dan pelayan di sini.”
“Apa itu Nona?”
“Kamu tidak boleh memasuki area barat dari komplek ini.”
“Kenapa aku dan para pelayan tidak boleh ke sana, Nona?”
“Aku tidak bisa menceritakan kenapa, hanya saja tempat itu terlarang.”
Diana segera pergi meninggalkan Dillah, sedang Dillah langsung menuju kamarnya, di sana dia segera menelepon Yudha.
“Aku sangat damai bekerja tanpa gangguanmu, malah sekarang kamu menggangguku,” omel Yudha di ujung telepon sana.
“Apa yang aku temui di Jerman ini, sepertinya akan sulit bagi Anda untuk percaya,” ucap Dillah.
“Memangnya kenapa?”
“Rasanya dunia ini sangat sempit, aku bertemu kak Birma di sini.”
“Apa? Birma sedang liburan di Jerman?" tanya Yudha.
"Bukan!"
"Terus dia sedang apa? Pastinya liburan dong, apalagi saat ini Kak Angga masih di tanah air, dia masih fase pemulihan,” ucap Yudha.
__ADS_1
“liburan apanya? Kak Birma mendapat tugas yang sama sepertiku.”
“Apa? Kak Angga juga menugaskan Birma untuk menjaga Diana?” Yudha terdengar tidak percaya.
“Bukan begitu hon-hon sayang ...." ledek Dillah.
"Dihh! Najis!" maki Yudha.
"Tidak usah jaim begitu, aku tahu Anda suka padaku, sebab itu Anda tidak bisa pada wanita," ledek Dillah.
"Untung kamu jauh di sana, kalau kamu ada di depan mataku, pengen tak hiihhhhh!"
Dillah tertawa lepas mendengar kekesalan Yudha.
"Kak Birma ada di sini, karena ditugaskan Angga untuk mengawal kekasihnya Jennifer, nah tugas dia sama denganku, aku kan di sini mengawal Nona Diana."
Yudha mulia memahaminya. "Ya, tugas kalian sama-sama menjaga pasangan bos kalian," ucap Yudha.
"Akhirnya, otak Anda bekerja juga," gerutu Dillah.
“Ternyata yang ingin Diana temui di Jerman adalah Jennifer,” ucap Dillah.
"Apa? Diana ke Jerman menemui Jennifer?"
"Yup! benar sekali, bahkan saat ini kami berada di sebuah komplek, katanya ini sebuah konsorsium," terang Dillah.
"Aku semakin penasaran dengan Diana," ucap Yudha.
"Kurangi rasa penasaran Anda, Tuan. Waktu akan menjawab semuanya."
“Aku semakin tidak mengerti, bagaimana bisa Diana dan Jenifer bisa saling mengenal,” gumam Yudha.
“Tadi Kak Birma sempat cerita sedikit, kalau Jennifer dan Diana pernah berada dalam satu organisasi yang sama, di mana itu sebuah organisasi melindungi anak-anak yang menjadi korban kekesaran keluaga mereka, bukankah Nona semasa kecil di siksa keluarga Ayahnya.”
__ADS_1
"Mereka wanita tangguh sepertinya," tebak Yudha.
"Sangat, bahkan tadi aku--" Dillah teringat janjinya pada Ivan, kalau dia tidak akan bercerita pada siapapun kalau Diana jago menembak dan memanah."
"Tadi apa?" tanya Yudha.
"Tadi aku sempat mendengar, ternyata Jennifer masuk penjara bukan karena dia seorang penjahat, dia hanya seorang gadis yang kelaparan dan terpaksa mencuri untuk makan, karena hasil mengamen dari memerkan aksi bela dirinya masih kurang untuk makan." Dillah berusaha mengarang cerita lain.
"Owh pantas saja informasi yang di dapat Kakek Agung kalau kekasih Angga memiliki catatan kriminal." Yudha berusaha mengingat laporan penyelidikan siapa kekasih Angga.
"Nah, keduanya merasa dekat karena merasa senasib."
“Berarti, Jenifer sama seperti Diana yang pernah mengalami siksaan dari keluarga mereka?” ucap Yudha.
“Iya, itu yang aku ketahui saat ini, saat kami pertama datang, Nona Jennifer mengatakan, kalau mereka dekat karena memiliki banyak persamaan, mungkin ya kembaran nasip seperti kataku tadi. Karena merasakan persamaan dalam beberapa hal, keduanya terlihat saling menyangi.”
“Aku turut senang mendengarnya, jika hubungan mereka sampai di pernikahan nanti, setidaknya kedua menantu Agung Jaya menyayangi satu sama lain dan tidak ada persaingan antara mereka nanti.”
"Itu juga yang di ucapkan Ayah kami, ternyata Ayah sudah mendengar tentang Jennifer dan Diana, sehingga dia bilang pada kami, kalau penerus Agung Jaya wanita rendah hati dan sangat dermawan," ucap Dillah.
"Ya sudah Tuan, hanya ini yang ingin aku sampaikan, kalau aku bertemu kakakku, dan kekasih Tuan Angga. Oh ya, kekasih Tuan Angga kalau ku lihat sama cantiknya dengan Nona Diana, semoga Anda tidak tergoda ya," ledek Dillah.
"Ingin rasanya aku mencekikmu Dillah! Andai aku punya banyak waktu, aku ingin mengajakmu taruhan, antara kita berdua siapa yang lebih dulu mendapatkan kekasih," tantang Yudha.
"Sepertinya sama-sama sulit, Tuan. Karena kita sama-sama sibuk, mana ada wanita yang mau di duakan dengan pekerjaan selamanya. Hanya bekerja dan tidak ada buat waktu untuknya. Makanya kita belok saja, ini sudah pas," ledek Dillah lagi.
"Asem kau!"
Dillah tertawa dan langsung menyudahi panggilan telepon mereka.
Setelah melaporkan semuanya pada Yudha, Dillah merasa lega. Dia menyimpan kembali handphonneya. Dillah melihat pemandangan dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Saat memandang keluar jendela, Dillah melihat sebuah rumah tua di sana. Melihat matahari tenggelam kearah rumah itu, Dillah sadar itu adalah bagian barat.
“Wilayah terlarang itu terlihat sangat menyeramkan, pantas saja semua orang di larang ke sana, sepertinya itu tempat angker dan sarang hantu, iiiii!” Dillah mengusap tengkuknya, melihat rumah tua itu seketika bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Kedua bola mata Dillah membulat sempurna, saat dia melihat Diana memasuki rumah tua yang sangat menyeramkan itu. “Kenapa Nona masuk ke rumah berhantu itu? Apa dia sedang adu nyali di sana?”