
"Sebaiknya jaga selalu ucapan yang keluar dari mulutmu." ucap Reza.
"Kenapa. Vano pasti akan tetap menginginkanku berada di meja ini. Bahkan mungkin lebih. Dan kamu, enyahlah." ucap Santi dengan percaya diri.
"Segera angkat kaki dari perusahaanku." ucap Vano begitu dia sampai di depan ruangannya.
"Apa. Kenapa. Bukankah kamu juga menginginkan aku. Sama seperti aku. Ada apa denganmu Van."
Vano masuk begitu saja ke dalam ruangannya tanpa mempedulikan perkataan Santi.
"Tunggu."
Santi yang tidak terima mengejar Vano. Reza segera menyusul Santi ke dalam ruangan Vano, dan mencekal lengan Santi.
"Lepas." Santi berontak saat tangannya di cekal oleh Reza.
"Lepaskan. Kamu keluar." kata Vano melihat ke arah Reza.
Reza melepaskan tangan Santi dengan kasar, dan berjalan keluar dari ruangan Vano. Santi tersenyum remeh pada Reza. Dia merasa Vano membela dirinya.
"Pasti kamu akan mempertahankan dan membela aku kan sayang. Aku yakin." Santi langsung berhambur memeluk Vano dengan erat.
"Segera kemasi barangmu. Dan angkat kaki dari perusahaanku. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Kamu mengertikan maksud ucapan ku." bisik Vano di telinga Santi.
Santi melepas pelukannya pada Vano dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan mata memandang ke arah Vano.
"Jangan sampai kesempatan yang kuberikan kau sia-siakan." telapak tangan Vano membersihkan jas bagian depan yang dipakainya. Seperti ada debu atau kotoran yang menempel pada jasnya.
"Maksud kamu." tanya Santi.
"Itu pintu keluar. Kamu cukup menemui seseorang di luar sana. Tenang saja. Perusahaan akan memberikan pesangon." Vano duduk di kursinya dengan menyilangkan kakinya.
"Kenapa. Lihat aku Vano. Lihat. Aku lebih cantik dan seksi dari pada Ella." ucap Santi dengan percaya diri.
"Setidaknya Ella asli. Tidak seperti kamu. Palsu." Vano berjalan mendekat ke arah Santi dengan jari menunjuk pada dua bukit kembar milik Santi.
"Jangan pernah kamu membandingkan Ella dengan dirimu. Dia berada di level yang jauh dari jangkauanmu."
"Dan lagi. Dari awal kamu yang datang. Aku tidak pernah memintanya." Vano bersedekap di depan Santi.
"Keluar." Vano menatap tajam ke arah Santi.
"Satu lagi. Jika ingin hidupmu aman. Jagalah kata-kata yang keluar dari mulutmu."
Santi keluar dari ruangan Vano dengan menahan air mata dan kesal di hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan." gumam Santi.
Santi sudah bekerja 7 bulan di perusahaan Vano sebagai sekretarisnya. Selama itu, dia sedikit mengenal karakter Vano.
"Mau ku beritahu, apa yang harus kamu lakukan." Reza berbisik di telinga Santi.
"Hah." Santi terkejut dan memegang dadanya.
"Keluar dari perusahaan ini. Tutup mulut. Lanjutkan kehidupanmu. Bekerja selama 7 bulan, setidaknya kau mengenal karakter atasanmu."
Reza pergi meninggalkan Santi yang masih berada di meja kerjanya.
__ADS_1
"Sial. Tidak semudah yang gue pikirkan. Padahal gue sudah keluar uang banyak untuk mempercantik diri. Lebih baik gue cari aman saja." ucap Santi memutuskan apa yang akan dia lakukan.
"Bagaimana. Kamu ikuti terus kemana pun dia pergi."
Vano berbicara dengan seseorang dengan ponselnya. Ternyata dia menyuruh anak buahnya untuk mengikuti kemanapun Ella pergi.
"Kamu akan tetap menjadi milik Vano. Tetap berada di samping Vano Reyandli. Selamanya." Vano melihat foto Ella di layar ponsel miliknya.
Vano memang sosok yang sangat egois dan berambisi. Apapun yang di inginkan pasti akan dia dapatkan. Dengan cara apapun.
Jika dia sudah mempunyai sesuatu yang dia inginkan, maka sesuatu itu tidak akan pernah dia lepaskan. Kecuali dia yang menginginkan untuk melepasnya.
"Ternyata kamu sangat pintar dalam mengambil keputusan." Reza melihat Santi membereskan barang-barangnya di meja kerja.
Santi yang mendengar dan melihat kedatangan Reza hanya acuh dan tidak menanggapi Reza.
"Kenapa, jangan-jangan kamu tertarik padaku." Santi melihat Reza terus memandang ke arahnya.
"Di luar sana masih banyak perempuan normal. Dan pastinya jauh lebih baik dari kamu." Reza tersenyum dan masuk ke dalam ruangan Vano.
"Brengsek. Lagi pula elo bukan tipe gue." dengan rasa kesal, Santi masukkan barang-barangnya ke dalam kardus.
*****
"Ell, elo kenapa." Hana merasa heran karena Ella memakai kaca mata hitam.
"Mata gue sakit." jawab Ella sembari mendudukkan bokongnya.
"Perasaan tadi nggak kenapa-napa." Hana terus memandang ke arah Ella.
"Belum datang. Katanya masih di jalan."
"Maaf saya terlambat." ucap Nyonya Tiwi setelah dirinya sampai di restoran.
"Tidak apa-apa tante. Kita juga baru sampai." Ella dan Hana bersalaman dengan Nyonya Tiwi.
"Silahkan Nyonya." ucap seorang pegawai restoran menurunkan beberapa macam makanan dan minuman bersama temannya.
"Terimakasih." ucap Nyonya Tiwi.
"Kebetulan ini restoran milik anak saya. Dan tadi saya sudah pesan makan dan minum. Maaf ya jika tidak sesuai selera kalian." Nyonya Tiwi merasa tidak enak. Karena beliau memutuskan memesan makanan tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa tante. Kita pemakan segala. Lagi pula ini semua terlihat menggugah mulut kita untuk mencicipi." ucap Ella.
"Syukurlah kalau begitu." kata Nyonya Tiwi merasa lega.
"Maaf tante, Ella memakai kacamata. Mata Ella sedikit iritasi."
Ella berkata dengan hati-hati, karena penampilannya merasa tidak sopan bagi Ella sendiri. Mau bagaimana lagi. Jika tidak begini, pasti semua orang yang melihatnya pasti akan tahu jika matanya sembab karena baru saja menangis.
"Tidak apa-apa sayang. Tante tidak keberatan."
"Suara Ella, kenapa beda. Dan juga, ada yang lain. Kenapa dengan dia." batin Hana merasa curiga dengan gerakan tubuh Ella yang terkesan seperti terpaksa.
"Maaf, bolehkan tante panggil nak saja. Biar lebih akrab."
"Boleh tante. Kami justru merasa senang. Iyakan Han." ucap Ella.
__ADS_1
"Iya tante." timpal Hana.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan yang tersaji di meja depan mereka.
"Jika tante boleh tahu, apa nak Ella sudah punya kekasih?" tanya Nyonya Tiwi.
"Sudah tante." jawab Ella.
"Emm, tante pikir masih sendiri." ucap Nyonya Tiwi sembari tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kapan kira-kira nak Ella bisa datang ke butik tante. Untuk mencoba pakaian yang akan di pakai nak Ella di peragaan busanan nanti."
"Maaf tante. Nona Ella bisa datang besok sore. Karena pagi sampai siang ada pemotretan. Dan setelah ini, ada pertemuan dengan pengguna jasanya juga." jelas Hana.
Sebenarnya setelah pertemuan ini, Ella tidak ada kegiatan lagi. Tapi Hana terpaksa berbohong pada Nyonya Tiwi. Karena Hana tahu ada yang tidak beres dengan Ella.
"Baiklah, saya tunggu besok sore di butik saya."
"Terimakasih tante." ucap Ella.
"Kalau begitu kami permisi dulu tante. Soalnya sudah ada janji dengan seseorang." ucap Hana dengan sopan.
"Silahkan. Terimakasih banyak ya sayang." Nyonya Tiwi memegang kedua tangan Ella.
"Sama-sama tante." ucap Ella.
"Setelah ini kita ke mana?" tanya Ella setelah dirinya dan Hana masuk ke dalam mobil.
"Sebaiknya elo lepas kaca mata elo. Ada apa Ell?" Hana memandang ke arah Ella.
"Gue bodoh. Sangat bodoh." Ella melepas kaca matanya.
Air matanya mengalir lagi di pipinya. Segera di usapnya air mata tersebut.
"Ell." Hana memandang Ella dengan rasa kasihan dan juga penasaran.
"Setelah ini elo kosong. Elo mau ke mana. Gue temani." Hana mulai menjalankan mobilnya.
"Entahlah. Bawa gue ke tempat yang bisa membuat gue merasa bebas dan nyaman." Ella menghela nafasnya dalam-dalam.
"Ada apa Ell. Elo kenapa?" batin Hana.
"Sepertinya ada mobil yang sedang mengikuti kita." Hana melihat dari kaca spion.
"Coba elo putar-putar saja. Kita lihat benar apa nggak itu mobil ngikutin kita." Ella menengok ke arah belakang.
"Benarkan. Kita berhenti, dia berhenti. Kita belok, dia belok. Sebenarnya siapa mereka." ujar Hana.
"Vano. Dasar bajingan. Brengsek."
Ella tersenyum dengan misterius dan mengumpat dengan mengeluarkan nama-nama binatang.dari mulutnya.
Hana tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ella. Selama ini, sekesal dan semarah apapun Ella pada Vano, dia tidak pernah mengumpat. Apalagi membawa nama Vano dalam kata-kata umpatan tersebut.
"Ell, apa yang sudah Vano lakukan ke kamu." batin Hana melirik sedih ke arah Ella sampai Ella seperi sekarang.
"Baiklah. Kita akan lihat, sampai di mana kehebatan anak buahmu Tuan Vano Reyandli." ucap Ella.
__ADS_1