
"Kenapa tidak mengabariku jika kalian sudah selesai?" tanya Vano.
"Bukankah sudah." jawab Ella yang masih sibuk memasang sabuk pengaman di badannya.
"Jika kamu mengabari lebih awal, aku bisa menjemputmu sejak tadi." ujar Vano.
Tapi Ella tidak menyahut perkataan dari Vano. Dia sibuk dengan ponselnya. "Elll." panggil Vano dengan lembut.
"Iya." jawab Ella dengan tatapan masih terfokus pada layar ponsel.
"Huhhh. Besok aku jemput kamu ya. Apa sekarang saja." kesabaran Vano benar-benar di uji oleh Ella.
"Bukankah perjanjiannya besok." jelas Ella.
Vano melirik ke arah Ella. Dirinya penasaran, sebenarnya ada apa di dalam ponselnya. Sehingga dia lebih tertarik melihatnya dari pada memperhatikan Vano.
"Van, bisa lebih cepat. Aku ingin segera sampai ke markas." pinta Ella dengan nada datar.
Vano pun mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata. Sementara Ella masih fokus pada layar ponselnya. Sepertinya dia sedang melakukan komunikasi dengan seseorang melalui ponselnya.
Ella langsung bergegas turun dari mobil Vano begitu sampai di tempat tujuan. Tidak ingin ketinggalan, Vano pun segera menyusul langkah kekasihnya.
"Dian Bestari." ucap Ella didepan seorang perempuan yang di ikat tubuhnya dengan kursi. Itulah nama adik dari Vera.
"Lepaskan." perintah Ella pada bawahannya.
Ponsel Ella dan Vano berbunyi bersama. Keduanya saling pandang. Dan mereka yakin jika isi dari pesan tersebut sama adanya.
"Kamu tetap di sini. Biar aku yang mengurus sisanya." ucap Vano.
"Hati-hati." seru Ella saat Vano melangkahkan kaki menjauh dari Ella.
Bukannya menjawab perkataan Ella, Vano malah membalikkan badan dan kembali menghampiri pujaan hatinya.
Vano membawa Ella ke dalam pelukannya. "Pasti. Kalian, jaga Tuan kalian. Jangan sampai lengah." ucap Vano pada anak buah Ella setelah melepaskan pelukannya pada sang model.
Vano mencium dahi Ella sebelum pergi dari markas.
Hari ini sungguh hari yang begitu berarti bagi Ella. Bagaimana tidak, Vano benar-benar memberi perhatian padanya.
"Kelihatannya perlu mengadakan syukuran." gumam Ella memandang Vano yang berjalan semakin menjauh dari dirinya.
Ternyata yang memberi pesan pada Ella dan Vano adalah bawahan mereka. Yang mengatakan jika Vera pergi dengan seorang lelaki, menaiki mobil.
__ADS_1
Tetapi bawahan keduanya saat ini tengah memantau dan mengejar ke mana mobil tersebut bergerak.
"Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Dian.
Saat di panti, nama itulah yang di pakai olehnya. Tapi setelah di adopsi oleh keluarga Vera, namanya telah di ubah. Lebih tepatnya, identitasnya benar-benar di ubah oleh orang tua Vera.
Ella memandang ke salah satu bawahannya dan memberikan isyarat untuk menunjukkan sesuatu.
"Ini." Dian membuka satu-persatu lembar foto yang baru saja ia terima. Dan foto tersebut baru saja di cetak. Karena Ella juga baru saja mendapatkannya.
"Kamu." Dian menatap ke arah Ella dengan tatapan antara benci dan takut.
Ella mengambil kursi yang tadi di pakai untuk mengikat tubuh Dian. "Aku tidak perlu berbasa-basi. Seharusnya kamu tahu apa keinginanku." ucapnya menyenderkan badannya di kursi.
"Bajingan. Benar-benar terkutuk kalian. Kamu sudah menghancurkan hidup kak Vera. Dan lihat, sekarang kamu menyiksaku. Dan kamu,, kamu,,, mau berbuat jahat pada anak yatim piatu." seru Dian tidak terima.
"Iya. Aku bukan mau berbuat jahat pada anak yatim piatu. Tapi sudah. Sudah berbuat jahat pada anak yatim piatu. Bukankah kamu juga yatim piatu." ucap Ella datar.
Sungguh, Ella sebenarnya tidak tega berbicara demikian. Tapi jika seandainya Dian tidak mencari masalah dengan dirinya, pasti dia juga tidak akan berada dalam seperti sekarang ini.
"Cuih,,, aku tidak sudi menuruti semua permintaanmu. Aku lebih memilih mengakhiri hidupku saja." ujar Dian sambil meludah.
"Yakin. Mau mati." kata Ella sambil tersenyum sinis.
"Pasti akan aku kabulkan. Tapi sebelum itu, kamu lihat dulu sesuatu pertunjukan yang sangat menarik. Dan aku yakin, kamu pasti sangat suka." Ella mengangkat kakinya sebelah, dan meletakkannya di atas pahanya.
"Upsss, ternyata bawahan ku sangat handal." Ella tersenyum manis.
Diputarnya sebuah video di hadapan Dian. Dimana ada seorang anak lelaki berumur 9 tahun, dengan darah di badan dan kepalanya. Tidak hanya itu, di sebelah kepalanya juga ada darah yang tercecer di aspal.
Bahkan, tampak terlihat jelas. Banyak memar di bagian tubuhnya yang terlihat. Seperti tangan dan kaki.
Tidak luput wajahnya juga lebam semuanya. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tidak hanya itu, telinganya juga berdarah. Dan mata anak tersebut tampak melotot ketakutan.
Tapi sangat jelas jika anak berusia 9 tahun tersebut sudah tidak bernyawa. Dengan mata tetap terbuka.
Dian berteriak histeris melihat video tersebut. Dia memanggil-manggil nama seseorang. Teriakannya terhenti dan langsung menatap tajam ke arah Ella. Terlihat kebencian pada sorot matanya.
"Biadab. Bagaimana bisa kalian menghilangkan nyawa anak kecil. Dia tidak bersalah. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini." seru Dian menggebu-gebu.
Dian hendak menyerang Ella. Tapi dengan sigap bawahan Ella mencegahnya. "Lepas. Akan aku bunuh wanita kejam ini. Lepas." berontaknya dengan menggerakkan tangannya.
*****
__ADS_1
Di tempat lain. Tepatnya di tengah jalan.
"Ini uangnya sayang." Hana memberikan uang pada anak kecil berumur 9 tahun.
"Terimakasih kakak." ucapnya dengan senang.
"Kakak, kapan giliran kita?" tanya salah satu dari mereka.
"Besok, kakak akan memberitahu kalian. Oke. Sekarang kalian pulang ke panti. Nanti ibu panti khawatir." ujar Hana.
"Kamu jangan lupa, di bersihkan dulu wajah dan badannya. Nanti orang panti pada takut melihat kamu seperti itu." jelas Hana.
"Siap kakak." ucapnya sembari mengangkat tangannya seperti memberi hormat pada komandan.
"Nanti, kalau di tanya ibu panti. Bilang saja kamu dapat uang dari seseorang. Jangan bilang jika kita sedang mengadakan pemotretan seperti ini. Oke." ucap Hana.
"Tenang kakak. Aman." ucapnya.
"Besok kita bertemu lagi di tempat ini ya." kata Hana.
"Beres kakak." sahut mereka bersama.
Anak-anak tersebut pulang ke panti asuhan. Dimana mereka tinggal dan di besarkan selama ini.
Sebelumnya, Ella sudah membuat rencana yang menggelikan. Bagaiman tidak. Ella menyuruh Hana dan beberapa bawahannya menemui anak panti asuhan tanpa di ketahui oleh ibu panti.
Ella meminta Hana dan yang lainnya berpura-pura membutuhkan model anak kecil yang meninggal karena kecelakaan.
Awalnya mereka bingung, bagaimana berbicara pada anak panti tersebut. Karena mereka semua berada di dalam lingkungan panti.
Tapi sepertinya dewi keberuntungan berpihak pada mereka. Ada segerombolan anak panti yang berjalan dari luar. Terlihat empat anak baru saja melakukan kegiatan di luar panti.
Hal tersebut tidak di sia-siakan oleh bawahan Ella. Namun ternyata tidak mudah mengajak anak-anak melakukan ide dari Ella.
Mungkin saja, mereka sudah di wanti-wanti oleh ibu panti supaya tidak mudah percaya dengan orang asing atau orang yang mereka baru kenal.
Hana memperlihatkan fotonya bersama Ella dengan ibu panti dan beberapa penghuni panti lainnya. Hana meyakinkan mereka jika mereka tidak bermaksud melakukan hal jahat. Dan Hana juga meyakinkan jika dirinya mengenal ibu panti. Maka dari itu Hana mempunyai foto bersama penghuni panti yang lain.
Dan sampai akhirnya, bujukan Hana pun membuahkan hasil. Dan berjalanlah semua rencana Ella secara mulus.
Sebagai make-up artis, tidak sulit bagi Hana untuk membuat keadaan bocah berumur 9 tahun tersebut terlihat mengenaskan. Apalagi di samping kepalanya di taruh cairan berwarna merah menyerupai darah.
Benar-benar seperti nyata apa yang terekam di video tersebut. Setelah memastikan hasil dari rekaman tersebut benar-benar bagus, Hana mengirimkannya pada Ella.
__ADS_1
"Ella, rencanamu sungguh hebat. Aku tidak pernah menduga sebelumnya." ucap Hana.
Awalnya Hana mengira Ella akan benar-benar mencelakai anak panti. Ternyata dugaan Hana salah besar.