DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 210


__ADS_3

"Ella di mana Bik?" tanya Nyonya Risma pada bibik setelah beliau sampai di rumah Vano.


"Nyonya Ella sedang istirahat, Nyonya besar." ucap Bibik.


"Baiklah, saya akan ke atas. Tidak sabar pengen ketemu menantu cantikku itu." ucap Nyonya Risma antusias.


Karena hari sudah sore. Nyonya Risma berpikir jika Ella pasti hanya beristirahat, bukan tidur. Karena itu, Nyonya Risma berniat menemui menantunya tersebut.


"Anu Nyonya Besar. Emm,,,, Nyonya Ella sedang tidur. Bersama Tuan Vano." ucap Bibik dengan hati-hati.


"Vano. Dia nggak kerja?" tanya Nyonya Risma terheran.


"Bekerja Nyonya, tapi sudah pulang." jawab Bibik.


"Pukul berapa Vano pulang?" tanya Nyonya Risma menyelidik.


"Sekitar pukul satu siang Nyonya." jawab Bibik.


"Satu siang." batin Nyonya Risma. Tanpa menunggu lebih lama, Nyonya Risma menaiki tangga menuju ke kamar Ella dan Vano.


Tampak keduanya tertidur di atas ranjang besar. Ella lengkap dengan pakaian di tubuhnya. Sementara Vano hanya menggunakan celana pendek tanpa memakai pakaian.


Vano memeluk Ella dari belakang. Jangan lupa, tangan Vano menelusup ke dalam baju Ella. Dan Nyonya Risma sangat tahu betul, kemana tangan itu bermuara.


"Dasar." ucap Nyonya Risma yang mengintip mereka dari balik pintu. Karena pintu kamar mereka tidak dikunci. Sepertinya Nyonya Risma sudah tahu apa yang terjadi.


"Melihat kalian bahagia, mama juga bahagia." batin Nyonya Risma merasa lega. Beliau tidak ingin membangunkan keduanya. Dengan hati-hati, Nyonya Risma menutup kembali pintu kamar Vano.


Nyonya Risma kembali melangkah turun ke lantai bawah dengan senyum di wajahnya."Jangan bilang pada mereka jika saya datang ke sini." pinta Nyonya Risma pada bibik.


"Baik Nyonya." sahut Bibik dengan sopan, sedikit membungkukkan badan.


Sekitar pukul lima sore, Vano terjaga lebih dulu dari tidurnya. Sementara Ella masih tertidur lelap. "Cantiknya istri aku." gumam Vano memandang penuh kagum pada wajah istrinya.


Dengan gemas, Vano mencium seluruh wajah Ella. Membuat Ella terusik dari tidurnya. "Van,, aku masih ngantuk." rajuk Ella dengan suara manja, dan mata masih terpejam.


Vano terkekeh pelan. Membawa Ella ke dalam pelukannya kembali. Tiba-tiba, Vano teringat sesuatu. Makan siang.


Bukankah mereka telah melewatkan makan siang. "Sayang, kamu sudah makan siang apa belum?" tanya Vano, dijawab gelengan pelan dari Ella.


Meski mata Ella masih terpejam, tapi Ella tidak sepenuhnya tertidur. Dia masih mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami.


Segera Vano turun dari ranjang. Mengambil kaos dan segera memakainya sambil berjalan. Vano bergegas turun ke bawah. Menemui pembantu di dapur.


"Siapkan makanan untuk istriku, sekarang." pinta Vano.


"Baik Tuan." segera mereka menyiapkan makanan untuk Nyonya mereka. Sementara Vano duduk di kursi tak jauh dari mereka. Memperhatikan setiap gerakan dari para pembantunya.


Pranggg.... sebuah mangkok terjun bebas dari tangan. "Maaf Tuan." ucap pembantu yang memecahkan mangkok tersebut.


Tapi Vano hanya diam tanpa berkata apapun. Dan hanya melihat ke arah mereka.


Tanpa menunggu perintah dari majikannya, bibik segera menyuruh salah satu dari mereka membersihkannya.


Vano. Pasti mereka bekerja dengan rasa tertekan dan rasa takut serta khawatir. Karena majikan mereka memperhatikan kinerja mereka.


"Sudah Tuan." ucap Bibik.


Vano mengambil nampan dari tangan Bibik. "Bekerjalah dengan hati-hati. Saya tidak mempekerjakan orang yang ceroboh." ucap Vano meninggalkan dapur.


Padahal, mereka bersikap seperti itu karena kehadirannya. Hufffttt..... mereka langsung duduk, seperti tidak punya tenaga. "Kalian ini." ujar bibik.


"Bik, jantung saya rasanya mau copot."


"Sama, rasanya udara di dapur habis."


"Tubuh saya saja masih bergetar."


"Seketika badanku membeku."


Vano, tanpa dia sadari kehadirannya mempengaruhi para pekerja di rumahnya.


"Sayang, bangun. Makan dulu." Vano menaruh nampan berisi makanan di atas meja, di samping tempat tidur.


"Sayang." Vano mengusap pelan pipi Ella. Membuat Ella terusik dari tidurnya. "Apasih sayang..." ucap Ella dengan suara serak. Masih dengan memejamkan mata.


"Makan dulu. Kamu melewatkan makan siang. Ayo." Vano membantu sang istri untuk bangun dari tidurnya.


Dengan malas dan mata masih enggan untuk terbuka, Ella duduk dan menyenderkan kepalanya di senderan ranjang.


"Buka mata kamu sayang." Vano mengecup kedua mata Ella bergantian.


"Kakak, maaf ya. Kakak pasti lapar." ucap Vano mengelus lembut perut sang istri.


"Dan semua ini karena papa." celetuk Ella.

__ADS_1


"Ell, jangan bilang begitu." tegur Vano dengan lembut.


"Makan dulu. Buka mulut kamu." Vano menyuapi Ella dengan telaten. Hingga tanpa terasa, Ella menghabiskan makanannya di atas piring.


"Nggak mual kan?" tanya Vano, dijawab gelengan kepala dari Ella.


Karena Ella hanya akan mual jika mencium bau atau wangi yang dia tidak suka. Jika pagi, Ella juga tidak muntah berlebihan. Hanya muntah biasa, tidak menjadikan tubuhnya sampai lemas.


"Kamu nggak makan?" tanya Ella tersadar, jika sang suami pasti juga belum makan.


"Gampang. Yang terpenting kalian." Vano mengusap bibir Ella.


"Apa?" tanya Vano saat tangan Ella hendak meraih sesuatu.


"Ponsel aku." ujar Ella.


"Sebentar." ucap Vano. "Ini." imbuhnya, dengan memberikan ponsel pada Ella.


"Kenapa?" tanya Vano saat raut wajah Ella berubah.


"Perusahaan Viki dalam kesulitan." jawab Ella.


Papa Ella, Tuan Haris memberitahu lewat pesan tertulis pada Ella. Jika kemarin, Viki datang. Dan menceritakan masalahnya.


"Bolehkan aku menemui Viki." izin Ella dengan mata lucu penuh harap.


"Viki tidak seperti aku Van. Meski begitu, dia mempunyai hati yang lembut. Kamu masih ingat Jo, bahkan Viki melepaskan Jo. Menyerahkan Jo pada papa." cicit Ella.


"Jika aku jadi Viki, pasti Jo akan mati di tanganku." imbuh Ella tersenyum jahat.


Vano bergidik ngeri, melihat perubahan ekspresi wajah dari istrinya saat Ella berkata, jika Jo akan mati di tangannya.


"Dari kita bertiga, yang mempunyai hati pemaaf adalah Viki. Dia itu orangnya tidak tegaan. Denis, meski sedikit keras kepala, dia juga masih mempunyai hati lembut." cicit Ella.


"Minum dulu." Vano mengalihkan topik pembicaraan. Memberikan air minum untuk Ella.


"Kenapa Hana tidak menghubungiku. Semoga mereka baik-baik saja." batin Ella.


"Ada apa lagi, hemmm." tanya Vano melihat Ella terdiam, memandang ke arah ponselnya.


"Eeemmm,,, tidak. Bolehkan aku bertemu Viki." pinta Ella lagi dengan tatapan mata yang lucu.


"Iya, nanti aku antar." ucap Vano mengecup kening sang istri.


"Kamu nggak makan?" tanya Ella.


Ella terlebih dulu membersihkan badannya. Dan Vano duduk dengan menghadap laptop di depannya. "Ternyata mereka." gumam Vano mendapat laporan dari Reza, tentang penyerangan terhadap Ella.


Vano mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Reza. "Lakukan seperti biasa. Hancurkan perusahaannya jika dia melawan." ucap Vano di ujung ponselnya.


Ella keluar dari kamar mandi memakai baju handuk di badannya. "Lagi apa?" Ella langsung duduk di pangkuan Vano.


Vano memeluk tubuh Ella. Mengendus harum badan sang istri. "Mandi gih." ucap Ella mengecup rahang tegas milik Vano.


"Van..." seru Ella dengan nada rendah.


Vano menciumi leher Ella. "Kamu yang mulai sayang."


"Van,, geli. Lepas." Ella mendorong tubuh Vano, menghalangi Vano mencium ke arah wajahnya.


"Cepat mandi. Kamu belum makan loh." ucap Ella mengingatkan.


"Sekarang aku ingin makan sayang." ucap Vano dengan suara beratnya, dan tangan memeluk erat tubuh Ella.


"Nggak usah aneh-aneh." ucap Ella menatap tajam ke arah Vano. Karena Vano memandangnya dengan tatapan mesumnya.


"Ya." ujar Vano dengan memohon.


"Jangan sekarang. Aku lelah." ucap Ella.


"Baiklah." Vano mendekap tubuh sang istri.


"Tapi nanti malam lagi ya." ucap Vano menatap sang istri. "Aku janji, nanti aku antar ke rumah Viki. Ya,,," imbuh Vano. Merengek seperti anak kecil.


"Iya." Ella mencubit gemas kedua pipi Vano.


Ella Berdiri dari pangkuan Vano. "Mandi sana. Aku siapkan makan malam."


"Ayo Van...." seru Ella kesal. Karena Vano masih duduk, tersenyum memandang ke arah Ella.


"Vano." Ella berkacak pinggang menghadap ke arah Vano.


Vano tertawa lepas. "Jangan galak-galak sayang. Nanti kakak takut loh." ucap Vano, berdiri dan menggelitik pinggang Ella.


"Vano." teriak Ella memukul ke arah Vano. Segera Vano berlari ke kamar mandi. Ella tersenyum ketika badan Vano sudah masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kamu tahu. Mama sangat mencintai papa." gumam Ella melihat ke arah perutnya.


Segera Ella merapikan kasur besar miliknya. Mengambil pakaian kotor Vano yang tergeletak di kursi, memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.


Tidak lupa, Ella mematikan laptop Vano yang masih menyala. Ella membaca pesan dari Reza, tentang penyerangan tadi siang.


"Ternyata benar. Rival perusahaan Vano." Ella menutup kembali laptop milik Vano.


"Eh.." Ella tersadar jika dirinya belum memakai baju. Segera Ella memakai baju. Dan merias wajahnya tipis.


"Selesai." ucap Ella menguncir rambutnya ke belakang. Segera Ella masuk ke ruangan lain. Mengambil pakaian ganti untuk Vano.


Ditaruhnya pakaian tersebut di tepi ranjang tempat tidur. "Van,,,!! Sayang,,!!! Aku turun dulu,,!!" teriak Ella dari luar.


"Iya,,,!!" sahut Vano dari dalam kamar mandi.


Segera Ella turun ke bawah. Membawa nampan yang berisi piring kotor bekas makan tadi sore.


"Nyonya. Kenapa tidak panggil kita." ucap pembantu di rumah Ella, segera mengambil nampan dari tangan Ella.


"Apa sih. Ini kan nggak berat." kekeh Ella.


Ella melangkahkan kakinya ke dapur. "Sudah selesai bik?" tanya Ella.


"Sudah Nyonya. Tinggal menyiapkan." ucap Bibik.


"Sini, aku bantu." ujar Ella.


"Jangan Nyonya. Nyonya duduk saja." ucap pembantu lain.


"Iya, sebaiknya Nyonya duduk saja. Bahaya kalau ketahuan Tuan."


"Kasihani kami Nyonya. Nanti kami kena marah."


"Baiklah." Ella duduk di kursi dekat dapur. Memperhatikan pembantu di rumahnya menyiapkan makan malam.


Vano berpesan pada semua pekerja di rumah. Jika tidak memperbolehkan Ella melakukan pekerjaan. Apapun itu. Jika Vano melihat Ella melakukan pekerjaan, mereka yang akan terkena masalah.


Karena saat ini sang istri sedang hamil. Dan Vano, tidak ingin Ella kecapekan. Atau terjadi sesuatu dengan keduanya. Baik Ella, ataupun bayi dalam kandungannya.


"Nyonya minta sesuatu?" tanya Bibik.


"Bik, besok pagi aku kepengen bubur sum sum. Boleh?" tanya Ella.


"Boleh Nyonya. Besok pagi akan bibik buatkan." ucap Bibik.


"Jangan banyak-banyak." ucap Ella.


"Apanya sayang, yang jangan banyak." ujar Vano yang mendengar percakapan Ella dengan bibik. Tapi hanya di ujung pembicaraan.


"Nggak. Aku besok kepengen sarapan bubur sum sum." Ella memeluk Vano yang tengah berdiri di sampingnya.


"Kenapa tidak sekarang?"


"Aku kepengen besok. Pas sarapan. Kelihatannya enak." ucap Ella dengan tatapan sedang menghayal sesuatu.


"Baiklah Tuan Putri. Sebaiknya sekarang kita makan." ajak Vano.


"Silahkan duduk." Vano menarik kursi yang akan di duduki Ella ke belakang.


Seperti biasa, Ella mengambilkan beberapa makanan di atas piring milik Vano. "Terimakasih." ucap Vano, saat Ella menaruh piringnya di depan Vano.


"Padahal tadi aku sudah makan. Tapi entah kenapa, aku merasa tidak kenyang." gumam Ella, melihat ke arah piringnya yang sudah penuh dengan makanan.


"Itu tandanya kamu dan kakak sehat." ucap Vano.


Vano mencuri pandanga ke arah Ella. Melihat sang istri makan dengan lahap.


Selesai makan malam, seperti janji Vano. Mereka pergi ke rumah Viki.


"Mbok..." seru Ella setelah masuk ke dalam rumah.


"Non Ella." ucap Mbok, segera menghampiri Ella dan memeluknya. "Mbok kangen Non." ucap Mbok melepas pelukannya.


"Cengeng." goda Ella melihat mbok menangis.


"Non,," ucap Mbok melihat ke arah Vano dengan tangan mengusap air mata di pipinya. Karena selama menjadi suaminya, Ella belum pernah mengajak Vano untuk berkunjung ke rumah Viki.


"Dia Vano. Suami Ella." ucap Ella memperkenalkan suaminya pada mbok.


Ella memegang lengan sang suami. Ella mencubit pelan lengan Vano. Meminta Vano bersikap ramah pada mbok. Pembantu di rumah Viki.


Tapi Vano tetap acuh. Dia akan tetap menjadi seorang Vano. Yang dingin pada orang. Ella hanya mendengus dan tersenyum pada mbok.


"Mari Non, mbok antar ke belakang. Semua sedang berkumpul di belakang." ucap mbok.

__ADS_1


"Van, senyum." bisik Ella.


Vano menarik paksa bibirnya. Membuat Ella berdecak sebal. Segera Vano melingkarkan tangannya di pinggang Ella, saat sang istri hendak berjalan mendahuluinya.


__ADS_2