DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 138


__ADS_3

"Nanti hubungi aku jika sudah selesai." Vano mencium pucuk kepala Ella dan meninggalkan Ella di parkiran depan salon.


"Jangan lupa mengirim foto padaku" ucap Vano saat tangannya sudah memegang handle pintu mobil, mengingatkan sang istri.


"Iya." kata Ella. Vano sudah mewanti-wanti Ella sejak mereka masih di dalam mobil. Jika Ella harus mengambil fotonya saat dia berada di dalam salon. Dan mengirimkannya pada Vano.


Ella melangkahkan kakinya masuk ke dalam salon saat mobil Vano sudah meninggalkannya.


Hari ini Ella akan memanjakan badannya. Dari mulai ujung kaki sampai ujung rambut. Ella juga ingin sedikit mewarnai rambutnya yang panjang dan hitam.


Sebenarnya Ella ingin memotong pendek rambutnya. Tapi tidak di perbolehkan oleh sang suami.


Selesai melakukan perawatan untuk tubuh, kini Ella duduk di kursi untuk membuat sedikit perubahan pada warna rambutnya.


Ella memotong sedikit rambutnya. Seperti yang di inginkan Vano. Dan memberi warna sedikit ke putih- putihan. Tapi tidak semua rambut Ella berwarna putih. Hanya sedikit semburat saja.


Tidak lupa Ella juga memberi sedikit sentuhan di kuku-kuku tangannya yang cantik.


"Aku ingin warnanya tetap seperti ini." ucap Ella. "Hanya tambahkan warna lain di ujung-ujungnya. Sedikit saja." imbuh Ella.


Ella menghabiskan waktu berjam-jam di salon untuk membuat badan dan otaknya refresh kembali.


Dan Vano, dirinya sedang menemui Oma Yeti. Karena hari ini Oma Yeti sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa.


"Oma." panggil Vano melihat sang Oma berbaring di atas ranjang pasien, sedang di suapi oleh Lena.


"Bagaimana Oma, sudah lebih baik?" tanya Vano dengan lembut.


"Sudah." jawab Oma lirih dengan wajah masih sangat pucat. Dan selang infus masih menempel di tangannya. Juga masih ada beberapa selang lagi di bagian tubuh Oma Yeti.


"Maaf Oma, Vano tidak bisa terus menerus menjaga Oma. Vano juga ada kerjaan di sini. Oma tidak keberatan bukan?" ucap Vano di jawab anggukan oleh Oma Yeti.


Memang benar. Di sini Vano memang mempunyai pekerjaan. Pekerjaan bersama sang istri. Pekerjaan yang sangat menguras tenaga, namun sangat menyenangkan. Pekerjaan yang tidak boleh ditinggalkan.


Dimana Vano selalu ingin mengulang dan mengulang terus pekerjaan tersebut. Pekerjaan untuk mencetak dan membuat keturunan Vano dan Ella.

__ADS_1


"Di mama Mama?" tanya Vano tanpa melihat ke arah Lena.


"Nyonya Risma baru saja keluar bersama Tuan Danto." ucap Lena.


"Oma sebaiknya istirahat." ucap Vano setelah Lena selesai menyuapinya.


Oma pun kembali memejamkan kedua matanya. Dan Vano, duduk di kursi yang berada di dalam ruangan Oma Yeti.


Vano tersenyum saat dirinya membuka ponsel. Ternyata Ella benar-benar menuruti permintaannya, mengirimi beberapa foto di mana Ella sedang melakukan pijat dengan karyawan salon.


"Kamu memang seksi sayang." gumam Vano. Tangan Vano terus mengusap layar ponselnya ke bawah. Melihat semua foto yang di kirimkan oleh Ella.


Lena melihat ke arah Vano. "Tampan sekali dia." batin Lena melihat senyum di bibir Vano.


Lena mendudukkan pantatnya di kursi samping Vano. Tapi Lena tetap memberi jarak. Dia paham betul bagaimana sifat dari cucu Oma Yeti.


"Kamu tidak takut, Ella akan selingkuh." celetuk Lena. Tapi Vano hanya acuh. Dirinya masih betah memandangi foto yang baru saja di kirim istrinya. Memandangi wajah cantik sang istri.


"Kamu di sini. Dan mungkin membutuhkan waktu sedikit lama. Dan istrimu di sana. Sendirian. Apalagi kalian baru saja menikah." Lagi-lagi Vano tidak menanggapi perkataan Lena.


Vano diam dan melihat ke arah telapak tangan Lena yang berada di atas pahanya. Kemudian pandangan matanya kembali lagi ke layar ponsel miliknya. Melihat Vano hanya diam saat di sentuhnya. Membuat Lena semakin berani.


Lena semakin mendekatkan badannya pada Vano hingga lengan keduanya bersentuhan. Mata Lena melihat ke arah ranjang Oma Yeti. Dia ingin memastikan jika Oma Yeti masih memejamkan mata.


"Aku bisa memberikan sesuatu itu untuk kamu." bisik Lena di samping telinga Vano. Dengan tangan masih berada di paha Vano. Mengelusnya dengan lembut.


"Ella. Ternyata dari tadi dia mendampingi foto ******." batin Lena saat manik matanya menatap layar ponsel Vano.


"Tunggu saja, sebentar lagi elo akan di tendang dari keluarga Reyandli. Dan pastinya gua yang akan menggantikan elo." batin Lena dengan penuh percaya diri.


Vano sebagai lelaki dewasa sangat paham apa yang di maksud oleh Lena. Vano tersenyum miring. Membiarkan Lena bertindak seperti keinginannya.


Melihat Vano kembali diam, membuat Lena bersemangat. Dirinya seperti mendapat lampu hijau dari Vano. "Elo lihatkan, lelaki yamg baru saja menjadi suami elo. Diam saja mendapat sentuhan dari jari gue." batin Lena.


Diamnya Vano di anggap Lena sebagai tanda jika Vano juga menginginkan sesuatu yang lebih dari dirinya.

__ADS_1


Dengan pelan Lena menaruh kepalanya di pundak Vano. Menghirup wangi tubuh Vano yang ternyata membuatnya semakin menggila. "Gila, harum sekali." batin Lena.


Dengan bergerak pelan, tangan Lena melingkar di perut Vano. "Perutnya. Gue nggak sabar pengen pegang perut Vano tanpa terhalang kain sialan ini." batin Lena.


Menyentuh perut Vano dari luar kemeja yang dia pakai saja, sudah membuat Lena merasakan roti sobek diperut Vano. Sehingga membuat Lena ingin sekali memasukkan tangannya ke dalam kemeja Vano. Bersentuhan langsung dengan perut Vano.


Lena masih memejamkan matanya. Membayangkan dirinya berada di bawah kungkungan badan kekar dan berotot milik Vano.


Vano bergerak, menaruh ponselnya di atas meja di depannya. Gerakan Vano membuat Lena membuka mata.


Dannn.... Happppp....


"Akkkhhh...... Vannn,,,,, leppp,,,, passss."


Tangan kanan Vano melingkar sempurna di leher milik Lena. Mencekik Lena. Hingga Lena merasakan tidak bisa bernafas.


Kedua tangan Lena memegang dan menarik tangan Vano yang berada di lehernya. Berusaha melepaskannya.


Tapi sayang, kekuatan Lena tidak ada apa-apanya di banding dengan kekuatan Vano.


Lena menatap Vano dengan tatapan memohon. Karena untuk mengeluarkan kalimat dari dalam mulutnya, Lena sudah tidak bisa.


Dan Vano, juga menatap Lena. Tatapan membunuh dengan senyum di bibirnya yang terlihat menakutkan.


"Sudah ku peringatkan berkali-kali. Jangan pernah mendekatiku. Dan berani sekali kamu menyentuhnya." ucap Vano lirih. Dan Lena terus menepuk dan berusaha menarik tangan Vano dari lehernya.


"Ingat satu sebelum kamu kehabisan nafas. Sedikitpun aku tidak berminat dengan perempuan murahan seperti kamu. Menjijikkan." bisik Vano, bahkan tidak mengendurkan cekikannya di leher Lena.


Air mata Lena keluar dari sudut matanya. Bahkan saat ini, Lena sudah lemas.


"Kamu mau membunuhnya. Lepas." ucap seseorang yang baru masuk ke kamar rawat Oma Yeti. Dan langsung menarik tangan Vano dari leher Lena.


Lena terbaring di kursi dengan mata sayu dan nafas tersengal-sengal. Nampak warna merah melingkar di leher asisten Oma Yeti tersebut.


Vano kembali mengambil ponselnya di atas meja dan menaruhnya ke dalam saku celana. "Jangan pernah mencoba mengulangi lagi, jika tidak ingin nyawamu melayang." desis Vano dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


__ADS_2