
"Apa perlu di selidiki?" tanya Denis kembali duduk.
"Biarkan saja. Nanti juga ketahuan sendiri." ujar Ella tenang.
Ternyata Ella dan Denis menyadari jika ada seseorang yang sedang sedari tadi mengintai mereka dari balik pintu. Bahkan mengambil foto mereka berdua beberapa kali.
"Sebentar lagi foto kita akan ada di berita teratas. Elo udah siap?" tanya Ella sembari memasukkan alat make up nya ke dalam tempatnya.
"Itu kan hal biasa buat kita Ell. Pekerja hiburan seni. Bukankah nama elo akan lebih melambung dan melambung lagi."
"Elo pikir balon. Melambung." celetuk Ella.
"Model Mellanie menduakan sang kekasih. Vano Reyandli. Dia berselingkuh dengan seorang fotographer." ucap Denis dengan logat atau gaya berbicara di buat-buat.
"Dan kita berdua akan di hujat. Pasti." ucap Ella.
"Rencana elo apa?" tanya Denis.
"Lihat dulu saja. Nanti gue untung apa nggak dari gosip ini. Kalau baik buat gue. Biarin. Tapi kalau berimbas jelek. Elo pahamkan." ucap Ella.
"Siap komandan." Denis berdiri seraya mengangkat telapak tangannya. Seolah sedang hormat pada atasannya.
Denis. Selain seorang fotographer, dirinya juga pewaris dari perusahaan besar yang bergerak di bidang komunikasi. Orang tuanya mempunyai penyiaran terbesar di kota tersebut.
Dan termasuk pekerjaan mudah bagi Denis untuk menghilangkan berita yang beredar di dunia telekomunikasi. Jika dirinya tidak menginginkan berita tersebut tersebar.
Ella berdiri dan menyampirkan tali tas di pundaknya. Sementara tangan kirinya menenteng sebuah tas. Entah apa isinya. "Gue takut Hana salah paham." serunya saat sudah berada di pintu keluar.
Mendengar nama Hana, membuat Denis terdiam. Pikirannya seakan kosong. "Hana. Salah paham." gumamnya dengan masih berdiri di ruang ganti.
Sementara Ella sudah melangkahkan kakinya, bersiap meninggalkan tempat pemotretan.
Seakan tersadar, Denis segera mengejar Ella. "Kenapa gue nggak kepikiran sampai sana." geram Denis berlari mengejar Ella.
"Apa yang harus gue lakuin?" tanya Denis setelah berjalan sejajar dengan Ella. Sedangkan Ella dengan tenang tetap melangkahkan kakinya.
"Kenapa gue nggak kepikiran sampai sana. Gimana ini Ell."
Ella berhenti mendadak. Membuat Denis juga menghentikan langkahnya. Kepala Ella menoleh ke samping. Ke arah Denis berada. "Memang elo mau jelasin apa. Hana siapa elo." Ella menunjuk ke dada bidang Denis.
Ella kembali meninggalkan Denis yang nampak masih terbengong. "Kenapa gue suka sama Hana sih. Mana kelihatannya Hana nggak merespon lagi. Bertepuk sebelah tangan kayaknya cinta gue." gumam Denis.
Ternyata benar kata orang. Cinta membuat pikiran kita bisa sesat. Meski hanya sesaat.
__ADS_1
"Awww." seru Ella saat tubuhnya di tabrak seorang lelaki berseragam SMA dari arah berlawanan.
"Maaf." ucapnya merasa bersalah melihat Ella memegang lengan tangannya bagian atas.
Ella memandang tajam pada dirinya. "Perhatikan jalan. Simpan ponsel kamu bocah." kesal Ella.
Karena siswa SMA tadi berjalan dengan pandangan mata sibuk pada layar ponsel di tangannya. Sehingga tidak fokus pada jalan yang sedang dia lewati.
"Parfum ini." batinnya melihat ke arah Ella.
"Apa mungkin dia." batinnya lagi.
Ella menggelengkan kepala melihat sikapnya yang malah diam dan intens memandang ke arah dirinya. Ditinggalkannya siswa SMA tadi yang masih terbengong menatap bahu Ella yang tengah berjalan menjauh darinya.
"Ellll.....!" seru Denis mengejar langkah Ella.
Keduanya naik ke dalam mobil Ella. Dengan Ella di balik kemudi. "Kalau bukan temen. Nggak bakal gue mau nganter elo." oceh Ella.
Bukannya menjawab perkataan Ella, Denis malah terlihat memandang ke depan dengan tatapan risau.
"Elo kenapa. Kenyang?" tanya Ella nyleneh.
"Ckk,,, elo tu tahu nggak sih. Gue bingung. Gimana ntar kalau Hana mikir gue suka sama elo. Berabe." sungut Denis.
"Emang Hana suka sama elo. Kenapa elo malah risau sama pikiran Hana. Katanya udah putus asa. Apaan. Ngejar belum ada sebulan udah nyerah. Males gue." timpal Ella.
"Usaha elo kurang. Dengerin baik-baik. Hana belum pernah dekat dengan lelaki manapun. Gue jaminannya." ucap Ella sungguh-sungguh.
"Serius elo."
Ella menganggukkan kepalanya. Senyum terbit di bibir tebal milik Denis melihat Ella mengangguk.
"Gue harus mendapatkan Hana." batin Denis semakin mengembangkan senyumnya.
Ella melirik ke arah Denis yang duduk di sampingnya. Dia menggelengkan kepala melihat Denis yang tersenyum-senyum sendiri.
"Cinta. Memang bisa membuat orang berubah. Berubah jadi apapun. Seperti gue. Bertahun-tahun jadi budak Vano. Astaga, kenapa gue baru sadar sekarang. Ella, Ella. Elo ngaku pinter. Ternyata, elo lebih bodoh dari apapun di dunia ini." kata Ella dalam hati.
Sampai di depan rumah orang tuanya, Ella menghentikan mobil. "Elo nggak mampir." canda Denis begitu keluar dari dalam mobil Ella.
"Sialan." seru Ella sembari menjalankan kembali mobilnya menuju ke rumah paman Haki.
*
__ADS_1
*
"Ada apa Van?" tanya Nyonya Risma pada anak semata wayangnya tersebut.
Nyonya Risma merasa terkejut saat anaknya menelpon dirinya. Karena sebelumnya, Vano bahkan nyaris tidak pernah menghubungi. Atau lebih tepatnya jarang menghubungi dirinya.
Apalagi kali ini Vano menghubungi dirinya dan meminta untuk bertemu. Dan di sinilah sekarang mereka berada. Di butik milik Nyonya Risma.
"Van." seru Nyonya Risma merasa geram pada Vano. Bukannya menjawab pertanyaan sang mama, Vano malah diam dan memandang ke arah mamanya.
"Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan. Lebih baik mama pergi. Masih banyak pekerjaan yang mama belum selesaikan."
"Tunggu ma. Kenapa sih mama tidak sabaran." gerutu Vano.
"Sabar bagaimana. Dari tadi kami cuma mandangin mama. Mama tanya diam. Terus mau kamu apa. Menemani kamu duduk di sini seperti anak kecil. Pekerjaan mama masih banyak boy."
"Pekerjaan Vano juga banyak." gumam Vano.
"La itu. Pekerjaan kamu banyak. Ngapain kamu ke sini. Nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk terus diam. Tidak berfaedah." omel Nyonya Risma.
Vano memutuskan untuk berbicara pada mamanya mengenai Ella. Karena tidak mungkin dirinya berbicara pada papanya. Yang ada malah bertengkar.
Saat berada di perusahaan, dirinya meminta saran pada sekretarisnya. Hasilnya, bisa dipastikan. Vano malah bertambah pusing dengan jawaban dan tingkah sekertaris tersebut.
Alhasil, Vano memutuskan untuk bertanya pada mamanya saja.
"Ini mengenai Ella." kata Vano menatap ke arah mamanya.
Mendengar nama sang model yang sangat ingin dijadikan sebagai menantunya, membuat Nyonya Risma yang sudah berdiri ingin meninggalkan Vano kembali mendaratkan pantatnya di kursi empuk dalam ruangannya.
"Ella meminta Vano menjauh. Dia mengakhirinya."
"Sudah mama duga." kata mama Vano menatap anaknya. Dirinya juga merasa kecewa dengan Vano.
"Lagi pula Ella pasti lebih kecewa sama kamu dari pada mama. Dan juga, dia sosok perempuan yang nyaris sempurna di mata banyak lelaki." imbuhnya.
Nyonya Risma mengambil nafas perlahan. Beberapa detik mereka saling diam. Hanya bergelut pada pemikiran masing-masing.
Seolah lidah Vano kelu untuk berucap, atau lebih tepatnya meminta bantuan pada sang mama.
Karena seumur-umur, bari kali ini Vano akan meminta bantuan pada sang mama setelah dirinya menjadi lelaki dewasa.
Sekarang, lelaki bertubuh kekar dengan wajah tampan yang di gilai oleh kaum hawa tersebut sedang bimbang.
__ADS_1
Akan lah Vano membuang segala rasa angkuh dan sombong untuk meminta tolong pada sang mama.
Akankah Vano membuang rasa percaya dirinya yang sangat amat tinggi hanya untuk mengejar Ella.