DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 36


__ADS_3

"Kenapa." Ella sudah berada tepat di depan Reza.


Deg,,, Reza membuka mata. Jantungnya berdetak dan nafasnya terasa berat. Wajahnya seakan terbakar. Panas dan merah.


Reza memindai setiap detail wajah Ella yang berada di depannya. Kedua bola mata yang indah. Hidung mancung. Bibir merah yang seksi. Kulit bersih dan mulus.


Glekk... Reza menelan ludah kasar saat manik matanya menatap ke arah bibir Ella.


Ella memicingkan sebelah matanya saat melihat Reza hanya diam sembari menatap ke arahnya.


Ella menjentikkan jarinya di depan wajah Reza. "Elo kesambet setan gedung." pungkas Ella.


Suara langkah kaki mengalihkan pandangan keduanya ke sumber suara. Vano datang dengan setengah menyeret tangan Vera.


Vano menghempaskan badan Vera di depan Ella dan Reza. Vera menggunakan pakaian yang sangat seksi yang menampilkan beberapa bagian yang membuat kaum adam terhipnotis.


Aawww,,, Vera berteriak saat tubuhnya tersungkur di lantai.


Prok prok prok.... "Lihat, betapa indah dan seksi tubuh seorang model seperti anda. Pantas saja, banyak lelaki yang tergila-gila dengan tubuh kamu." ucap Ella berjongkok di depan Vera dengan memainkan ujung pisaunya di paha Vera yang terlihat.


Ella mendongakkan wajahnya, dan menatap ke arah Vano. Hanya ekspresi datar yang Ella perlihatkan. Pandangan mereka bertemu, tatapan mereka saling mengunci. Hingga Ella memutuskan kontak mata mereka.


"Pasti baju ini sangat mahal. Berapa malam anda berada dia atas ranjang Tuan Vano. Hingga mampu membeli pakaian mahal seperti ini. Ck ck ck."


"Elll..." ucap Vano lirih dengan nada lembut.


"Waoow... Hhhhh." Ella tertawa saat Vera mendorong dirinya kebelakang.


Vera berdiri dan segera mendekat ke arah Vano. " Van, bawa aku pergi dari sini. Apa kamu lupa apa yang sudah kita lakukan. Ayolah. Aku lebih segala-galanya dari dia." Vera memegang lengan Vano dan menuding ke arah Ella.


"Menjijikkan." cibir Ella.


Vano melepaskan tangan Vera. "Menyingkirlah." sarkas Vano.


Vera tetap berusaha merayu Vano. Saat ini dia hanya ingin selamat. Apapun akan dia lakukan. Asal dapat selamat. Di tambah lagi, dia melihat dua orang suruhannya sudah terkapar tidak sekarat.


"Van, aku rela kamu jadikan pemuas ranjangmu. Asal kamu tetap mengizinkan aku di sampingmu."


"Ckck... Betapa beruntungnya lelaki tersebut." ejek Ella sambil memandang ke arah keduanya dengan senyum mengejek.


Vano memegang bahu Vera dengan lembut. "Kamu yakin, rela melakukan apa saja." tanyanya.


Tanpa berpikir panjang, Vera mengangguk dengan pasti dengan senyum di bibir. Merasa masih ada harapan untuk dirinya keluar dari masalah ini.


"Kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan." Vano memandang ke arah Reza.


"Baik Tuan."

__ADS_1


Vano berjalan mendekat ke arah Ella. "Biar Reza yang mengurus semuanya." Vano membelai lembut pipi Ella.


Beberapa orang lelaki memakai jaket masuk ke dalam gedung. Ella meninggalkan Vano dengan tangan mengambang. Vano menggenggam erat tangannya dan membawanya ke bawah.


Dia harus bisa meredam emosinya sendiri saat Ella terang-terangan menolak sentuhan darinya.


Siapa yang tidak akan marah dan sakit hati jika melihat orang yang di cintanya bersama wanita lain dalam satu ranjang. Itupun keduanya dalam keadaan sama-sama tanpa benang sehelai pun.


"Kalian sudah membawa peralatannya." tanya Ella.


"Sudah Nona. Seperti yang anda perintahkan." jawabnya.


Ella membalikkan badan dan menunjukkan jarinya pada Vera. "Itu artisnya kalian." ucapnya.


"Dan itu pemain lainnya." Ella menunjuk ke arah lain. Dimana seorang lelaki sedang duduk di lantai dengan menahan sakit.


"Kalau kalian ingin berpartisipasi, silahkan." tawar Ella pada beberapa bawahannya.


"Maaf Nona, kami tidak tertarik." ujarnya melirik ke arah Vera.


"Well, kalian bisa memulai mempersiapkan semuanya." kata Ella.


Doorrr,,,, dooorrrr.....


Ella menembak senjata api dua kali ke tempat berbeda, ke tempat dua orang yang sudah tidak bernyawa. Bukan pada orangnya, tapi Ella menembak di sebelahnya. "Kalian urus mereka."


Reza melirik sebentar ke arah Vano berdiri menatap Ella. Senyum samar Vano tampak di bibirnya.


"Sekarang Tuan Vano pasti akan benar-benar mengikat Nona Ella selamanya. Mereka memang serasi." batin Reza.


Seorang perempuan cantik masuk ke dalam gedung kosong tersebut dengan menenteng tas kecil. Di mana tas tersebut berisi alat make up. "Maaf Nona, apa anda tidak membutuhkan seseorang untuk merias artis anda." ujarnya dengan tersenyum.


"Silahkan. Aku hanya ingin hasil yang memuaskan." ucap Ella.


"Anda tenang saja. Jari jemariku ini sudah lihai membuat takjub banyak mata." ucap Hana dengan sombong.


"Bawa masuk." Hana menyuruh orang bawahan Ella untuk membawa Vera ke dalam ruangan yang berbeda.


"Lepas." Vera berontak saat dia di seret dengan kasar oleh bawahan Ella.


Sementara Hana berjalan di depannya dengan anggun.


Sedangkan yang lainnya masuk kedalam ruangan berbeda untuk membuat studio.


Sebelumnya, Ella memberi pesan tertulis pada bawahannya dan juga Hana. Mendapat perintah dari atasannya, membuat mereka segera bergegas. Apalagi Hana, rasa kesal pada Vera membuatnya ingin sekali mengerjai Vera.


Setelah Ella menceritakan perbuatan Vera pada Hana tentang orang suruhan Vera, Hana sangat marah. Ingin sekali Hana melabrak Vera saat dia bertemu di studio pemotretan tadi pagi. Tapi Ella tidak mengizinkannya.

__ADS_1


"Gila. Ternyata Hana tidak kalah sadisnya dengan Ella." batin Reza.


Beberapa orang membersihkan jejak dua mayat tersebut. Seorang lelaki yang Ella tembak tepat di telapak kakinya mendekat ke arah Ella. "Non, saya mohon. Lepaskan saya. Saya berjanji akan menjadi pengikut Nona yang setia." ujarnya memohon dengan menyatukan kedua telapak tangan.


"Setia." gumam Ella dengan senyum mengejek.


Seorang lelaki bertubuh tegap berdiri di belakangnya dan menyeretnya menjauh dari Ella.


"Non, saya mohon. Berikan saya kesempatan." ujarnya berteriak dengan tubuh di seret dari belakang oleh bawahan Ella.


"Diam. Kau hanya perlu memohon untuk bisa bernafas. Itupun sudah di berikan pada Nona kami. Jadi jaga mulutmu, jika masih ingin bernafas." bawahan Ella mencengkeram erat lehernya dan kembali menyeretnya.


Dari ruangan berbeda, Vera berlari dan bersimpuh di hadapan Vano. "Aku mohon Tuan, tolong aku. Akan kulakukan apapun yang kau inginkan." ucapnya.


Ella tersenyum sinis menatap keduanya. "Sayang sekali, ternyata lelaki yang kau harapkan hanya menganggap mu sebagai jalangnya saja." kata Ella.


"Tuan." ucap Reza lirih di samping Vano.


"Biarkan Ella yang menyelesaikannya." kata Vano.


Vano ingin melihat, apa yang akan Ella lakukan pada Vera. Sampai di mana Ella akan bertindak.


Beberapa orang berlari mendekat ke arah Vano. "Mari Nona. Kami harap anda bisa bekerjasama dengan baik." ucapnya sambil menggendong tubuh Vera di pundaknya seperti sebuah karung.


Hana mendekat ke arah Ella. "Sebentar lagi kamu harus menghadiri peragaan busana Ell." ujarnya.


Ella memasukkan senjata api di balik bajunya. Dia melihat sambil memainkan pisau lipat. Seperti ada yang dipikirkan olehnya saat ini.


Ella memandang seorang bawahannya dan memanggilnya dengan menggerakkan jarinya. "Lakukan tugas kalian dengan baik. Jangan menyakiti bagian tubuhnya. Emmm... jangan sampai kulit mulusnya terluka." ujar Ella dengan senyum menakutkan.


"Ell,,, nggak bisa gitu dong. Dia harus di beri pelajaran." ujar Hana merasa kesal dengan Ella.


Ella memandang ke arah Hana dan tersenyum menakutkan sambil memainkan kedua alisnya.


"Aku memang baik hati Han,,, hahaha." kata Ella dengan tertawa.


*****


Ellaaaaaa,,,,,,,,,!!!


Katanya keturunan mafia, kok nggak ada kejam-kejamnya sih. Sebel author,,,,, 😤😤


Ternyata bukan cuman bodoh dalam masalah cinta.


Apasih maunya si Ella. Sok baik.


Gedek author sama Ella... 😡😡😡

__ADS_1


__ADS_2