DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 104


__ADS_3

"Maaf, nggak sengaja." ucap Ella sedikit menundukkan kepala saat dirinya menabrak seseorang yang sedang berjalan di depannya.


Jo tersenyum melihat Ella. "Santai saja Ell, ini gue." ucap Jo berdiri di depan Ella.


Sontak Ella langsung mendongakkan kepala. "Gue pikir orang lain Jo. Tapi, tetap saja. Gue minta maaf. Terlalu sibuk dengan ini." ucap Ella sembari menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih sambil mengangkat ponselnya.


"Show time. Saatnya bermain Mr. Jo." batin Ella.


Ella menyuruh Hana untuk mencari jadwal pekerjaan Jo. Dirinya rela menolak beberapa klien yang ingin menjadikannya sebagai model ambasador hanya untuk segera menyelesaikan rencananya.


"Gue rugi banyak karena rencana ini. Dan elo harus membayarnya."batin Ella tersenyum manis di depan Jo.


"Elo ngapain di sini Ell?" tanya Jo. "Ada pekerjaan?" tanyanya lagi.


"Pertanyaan elo kayak jemuran saja. Banyak bener." ucap Ella tertawa. Dan Jo pun juga ikut tertawa.


"Nggak, ketemu teman. Untuk beberapa hari ini gue mau free dulu. Mau menikmati waktu. Mengistirahatkan badan." pancing Ella.


"Pucuk di cita ulam pun tiba." batin Jo merasa inilah kesempatan untuk mendekati Ella.


Awalnya Jo memang tidak tertarik sama sekali dengan Ella. Tapi setelah melihat Ella yang hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya di apartemen Viki, membuat Jo menjadi semakin penasaran pada sosok Ella.


Di tambah Ella yang sengaja memelorotkan selimutnya hingga memperlihatkan separuh dua buah gunung kembarnya, dan banyaknya tanda percintaan yang di tinggalkan Vano di kulit Ella, membuat Jo menginginkan Ella berada di bawah kungkungannya.


"Kebetulan sekali. Gue juga lagi kosong beberapa hari ke depan." Jo mendekatkan badannya pada Ella. "Tetapi sayangnya Viki sedang sibuk." bisik Jo tidak ingin di dengar oleh orang lain.


Ella mencubit lengan kekar Jo. "Cieee,,, kesepian nih ceritanya." goda Ella. Dan Jo hanya tersenyum.


"Tapi hari ini nggak bisa deh. Soalnya sudah janji sama Vano." ujar Ella.


Raut wajah Jo terlihat masam. Tapi segera dia mengubahnya. "Tidak masalah. Besok juga bisa. Selonggarnya kamu saja."


"Oke. Nanti gue kabari. Soalnya Vano suka banget ngajak tanpa janjian dulu." ucap Ella yang sempat melihat raut masam yang di tunjukkan Jo meski sesaat.


Ella mendekat ke arah Jo. Mencium singkat pipi Jo. "Ya sudah, gue duluan. Sudah di tunggu Vano diparkiran." Ella berjalan menjauh dari Jo.


Jo menghirup udara yang terasa wangi, seperti wangi yang dia cium pada pakaian kotor milik Ella.


Seakan lupa dengan dendamnya pada Ella. Kini Jo berniat untuk mendekati Ella.


Tapi dirinya masih berpikir untuk membalaskan dendam melewati Ella. Padahal, entah dendam atau perasaan tertarik yang ada pada diri Jo saat memandang pada Ella.


"Jika gue bisa mendekati, bahkan memiliki Ella. Gue akan secepatnya menyingkirkan parasit itu. Viki. Sungguh mengganggu. Dia seperti lintah. Selalu menempel." gumamnya.


Jo masih memandang tubuh Ella yang semakin menjauh darinya. "Saingan gue Tuan Muda keluarga Reyandli. Gue harus bermain secantik mungkin."


"Gue sudah tidak bisa menggunakan kekerasan untuk menghancurkan mereka. Sekarang gue akan menggunakan rencana ini." gumam Jo, teringat rencananya selalu gagal dan berakhir kekalahan selalu berada di pihaknya.


Meski Jo dan Viki sudah berhubungan lebih dari setahun, tapi mereka tidak pernah melakukan hubungan intim layaknya pasangan gay lainnya.

__ADS_1


Jo selalu mencari cara dan alasan saat Viki datang menggoda dan mengajaknya melakukan hal tersebut.


Secara, Jo kan lelaki tulen. Berbeda dengan Viki. Mana mungkin dirinya bisa berhasrat untuk melakukan hubungan sesama jenis.


Karena rasa cinta, Viki selalu mencoba mengerti setiap alasan yang di berikan oleh Jo. Dirinya tidak pernah curiga sedikitpun dengan Jo.


Sungguh kasihan kisah cinta keduanya. Ella yang dulu begitu tunduk dan mengikuti keinginan Vano. Tapi akhirnya, sekarang Ella mendapatkan balasan atas kesabaran dari perjuangan kata cinta.


Dan kisah cinta Viki tidak lebih baik dari Ella. Dirinya hanya di manfaatkan dan di bohongi oleh seseorang yang begitu dia cintai. Sungguh miris.


"Senyum dong." Ella mencolek dagu Vano yang tampak cemberut.


"Reza, kenapa sih Tuan kamu. Salah makan." sindir Ella.


Sekarang Ella sudah berada di dalam mobil bersama Vano dan Reza. Di mana Reza duduk di depan, sebagai pengemudi. Sementara Vano dan dirinya duduk di kursi belakang.


Vano masih diam dan menatap lurus ke depan. Ella bergelayut manja di lengan Vano. "Rez, stop. Berhenti." seru Ella melepas tangannya di lengan Vano.


Sontak membuat Reza menghentikan mobil secara tiba-tiba. "Gue akan duduk di samping elo." ucap Ella.


"Jangan macam-macam. Jalan." Vano memegang lengan Ella yang hendak melangkah keluar. Padahal Ella hanya berpura-pura saja. Dan Vano langsung bereaksi.


"Kamu sih cuekin aku." rajuk Ella.


Reza menjalankan kembali mobilnya. Dia menggelengkan kepala melihat perdebatan kecil Tuannya dengan calon Nyonyanya di kursi belakang.


"Kamu terlihat begitu senang setelah kembali." celetuk Vano. Ella menatapnya dengan rasa penasaran akan perkataannya.


Ella tersenyum renyah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vano. Membuat orang di samping Ella menoleh ke arahnya. "Cemburu ya. Pasti. Ayo ngaku." Ella mencolek lengan Vano berkali-kali.


"Cemburu. Dengan orang seperti dia. Bukan levelku." sarkas Vano.


"Baiklah, sekalian saja aku undang dia untuk makan malam bersama keluarga kita." Ella menggoda Vano. Mengambil ponsel di dalam tas dan berpura-pura ingin menghubungi Jo.


Tangan Vano bergerak cepat mengambil ponsel di tangan Ella. "Ini makan malam keluarga. Orang luar tidak di undang." ucap Vano jutek.


Ella menahan senyumnya. Dia malah semakin gencar menggoda kekasihnya. "Lena juga bukan bagian keluarga kamu. Tapi dia ikut."


"Dia asisten oma."


"Reza, kamu juga ikut?" tanya Ella yang mendapat anggukan dari Reza. "Iya Non." jawab Reza.


"Reza asistenku."


"Ingin sekali punya asisten lelaki. Pasti menyenangkan." gumam Ella masih bisa di dengar Vano.


Vano merapatkan tubuhnya dan menghimpit badan Ella ke pintu. "Jangan macam-macam." sorot mata Vano tajam memandang Ella.


"Siapa bilang macam-macam. Aku,,, maunya,,, satu macam. Asisten lelaki. Cukup satu." Ella membelai pipi Vano dengan bibir manyun menggemaskan.

__ADS_1


Emhhhh..... Vano membungkam bibir Ella dengan bibirnya. Tangan Ella mencoba mendorong tubuh kekar Vano. Membuat ciuman Vano terganggu. "Kenapa sayang." ucap Vano merasa heran.


Bukankah mereka sudah sering melakukannya. Dan Ella sudah sangat mahir mengimbangi permainan Vano.


"Lihat tempat." geram Ella dengan mata melotot. Vano mengerutkan dahi.


"Ini mobil aku sayang."


"Ada Reza." Ella mendorong tubuh Vano ke belakang.


Vano melihat dengan sinis ke arah Reza. "Saya tidak melihat dan mendengar apapun Nona." ucap Reza.


"Kamu dengarkan." ujar Vano dengan tangan membelai lembut pipi Ella.


"Memang kamu tuli. Bisu. Hah." sarkas Ella menatap sinis ke arah Reza.


"Kami juga. Lihat tempat." Ella memarahi Vano.


"Iya maaf, habis kamu sih."


"Kok aku."


"Bibir kami bikin gemes. Bikin candu. Manis banget. Jadi pengen itu terus tiap melihatnya." gombal Vano memainkan jarinya di bibir Ella.


Ella menghadap ke depan. "Nggak usah di tahan senyumnya sayang. Senyum kamu manis." ucap Vano seakan mengerti jika kekasihnya mencoba menahan senyum.


"Idiiihhhh,,, pede boros. Siapa yang mau senyumin situ. Nggak lah."


"Masa." Vano menusuk-nusuk pinggang Ella. Membuat Ella tertawa kegelian.


"Vano,,,, stop. Vannnn..." ucap Ella manja.


Reza di kursi depan tersenyum senang melihat keduanya. "Selamat Ell, akhirnya kesabaranmu membuahkan hasil. Dan aku berharap Tuan tidak akan pernah berubah lagi. Mengulangi kesalahan yang akan membuat kalian terpisah." batin Reza yang pernah memiliki rasa untuk Ella.


Entah sekarang. Rasa itu masih ada atau sudah hilang. Yang terpenting Reza sangat bahagia melihat perempuan yang dia kasihi tertawa senang. Dan akan menjalani kehidupannya dengan bahagia bersama orang yang juga mencintainya.


"Turunkan saja aku di sini. Aku akan masuk ke dalam sendiri." ucap Ella setelah mereka sampai di depan butik milik mama Vano.


"Aku takut kami akan jenuh menunggu aku merias wajah dan memilih baju. Nanti aku hubungi setelah selesai. Kita bisa berangkat bersama. Tentunya bersama dengan tante." ucap Ella.


"Maaf Tuan. Bukankah sebentar lagi kita ada meeting dengan klien." ucap Reza mengingatkan Vano.


"Baiklah, hati-hati." Vano mencium pipi Ella.


"Da-da." Ella melambaikan tangan saat sudah keluar dari mobil. Tapi mobil yang di tumpangi Vano tidak lekas berjalan. Membuat Ella kembali menghampirinya.


"Kenapa." tanya Ella sambil membungkuk.


"Kamu masuk dulu. Baru aku pergi." ujar Vano.

__ADS_1


"Astaga. Baiklah Tuan." Ella melakukan kiss bye pada Vano dan melangkahkan kakinya ke dalam butik Nyonya Risma.


"Apa kita sudah bisa berjalan Tuan?" tanya Reza, dijawab anggukan oleh Vano.


__ADS_2