
Suara lenguhan sahut menyahut di dalam kamar hotel tempat Vano dan Ella menginap. Keduanya tengah menikmati indahnya malam penuh cinta.
Padahal, ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan mereka. Tepatnya, kedatangan Ella.
Di bawah kungkungan badan kekar Vano, Ella merasakan seakan badannya melayang. Sementara lidah, tangan, dan junior Vano bekerja untuk membuat Ella merasakan nikmatnya dunia.
Lidah Vano mengecap, menjilat, dan menyesap setiap jengkal tubuh Ella yang dapat terjangkau oleh lidahnya.
Tangan Vano sibuk menggerayangi dan meremas apapun yang di dapat di bagian tubuh seksi sang model.
Dengan junior sudah sempurna masuk ke dalam sarang. Bergerak maju mundur. Membuat badan di bawahnya juga mengikuti geraknya.
Hingga keduanya mengeluarkan suara nikmat saat mencapai puncak bersama. Dengan tubuh keduanya bermandikan keringat. Vano berkali-kali mencium mesra dan lembut kening Ella.
Dengan posisi Vano masih berada di atas badan sang istri. Dan junior masih berada di dalam sarangnya.
"Kamu seperti candu untuk ku sayang." Vano mencium kedua mata indah Ella bergantian.
"Dari dulu kamu tetap sama honey. Nikmat, legit, sempit." Vano menyesap leher jenjang milik Ella membuat sang model menggeliat dan mengeluarkan suara nikmat.
"Harum badanmu memabukkan." Vano mencium kedua pundak Ella bergantian.
Ella tersenyum mendengar perkataan sayang dan kelembutan dari sang suami. Semua yang di inginkan dan di dambanya, sekarang benar-benar di depan mata.
Suami yang memanjakannya, menatap penuh cinta, memperlakukannya dengan lembut, dan menyayanginya.
Vano menyusupkan kepalanya di antara bongkahan besar di dada Ella. Lidah Vano tidak mau diam. Menjilat bongkahan yang ada di depannya seperti dia sedang menjilat es krim. Sesekali dia menggigit gemas bongkahan tersebut.
Ella melingkarkan kedua tangannya di tubuh Vano yang berada di atasnya. Dia selalu mengeluarkan suara dan menggeliat saat Vano melakukan permainan lidah di dadanya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara nafas yang beraturan. Vano mendongakkan kepala. Bibirnya tersenyum saat melihat Ella memejamkan mata.
"Ternyata kamu tidur honey." Vano tersenyum jahil. Apalagi juniornya masih di dalam sarangnya. Dan masih on.
Jlebbbb,,,,,
Vano menghentakkan kembali juniornya di dalam sarang. Membuat mata Ella kembali terbuka, terkejut karenanya. Vano terkekeh melihat Ella langsung membuka mata.
"Vannnn,,,,ahhh." ujar Ella saat Vano menggerakkan juniornya kembali. Dengan gerakan makin lama makin cepat dan menghentak dengan keras.
Untuk kedua kalinya Ella dibuat tak berdaya di bawah kungkungan sang suami. Vano tersenyum mendapati Ella kembali membuka mata. Menggigit bibirnya.
Apalagi Ella kembali di buat merem melek olehnya. Dan suara-suara aneh kembali sahut-menyahut di dalam kamar.
Hingga Vano kembali mengeluarkan cairan ke dalam rahim milik sang istri.
"Apa... Hemmm...." ujar Vano, melihat Ella mengerucutkan bibirnya. Vano membelai lembut rambut indah milik Ella.
"Kenapa." Vano tersenyum. Vano tahu jika Ella kesal karena kelakuannya. "Tapi enakkan." goda Vano.
__ADS_1
"Buktinya kamu kembali merem melek." Vano mengusap lembut bibir merah Ella.
Pluppp.....Vano mendaratkan bibirnya di bibir sang istri. Keduanya saling memainkan lidah. Ella mengalungkan tangannya di leher Vano.
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka. Keduanya menoleh ke sumber suara. "Siapa?" tanya Ella.
Untuk kedua kalinya terdengar suara ketukan pintu. Vano berdiri dan segera memakai pakaiannya. Begitu juga dengan Ella. Dirinya memunguti pakaiannya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Mama." ucap Vano melihat siapa yang berada di balik pintu. Mengganggu aktifitasnya bersama sang istri.
"Malam-malam begini, ngapain mama ke sini?" tanya Vano.
Nyonya Risma menatap tajam ke arah sang anak. "Mama masih di luar loh ini. Di depan pintu." ucap Nyonya Risma sewot karena Vano malah menghadangnya. Membiarkan dirinya tetap berada si depan pintu.
Vano menggaruk tengkuknya. "Masuk ma."
Nyonya Risma masuk dengan menyenggol bahu Vano. Membuat Vano mengelus bahunya.
"Kemana Ella?" tanya Nyonya Risma duduk di kursi. Matanya menatap kamar Vano yang pintunya terbuka lebar. Vano mengikuti kemana arah mata sang mama.
"Di kamar, mandi. Mungkin." ucap Vano lirih.
Vano melangkahkan kaki ke kamar. Menutup pintu, dan memberitahu sang istri jika mamanya yang telah mengetuk pintu.
"Sayang, mama datang." seru Vano dari luar kamar.
"Iya, mama." tangan Vano merapikan tempat tidur yang berantakan karena aktifitasnya bersama sang istri barusan.
Segera Ella menyelesaikan mandinya secepat kilat. Dirinya tidak mau jika sampai mertuanya menunggunya lama.
Ella keluar dari kamar mandi. Jangan tanyakan lagi, Ella berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan memegang handuk di atas kepala. Dengan mata memandang Vano. Persis seperti patung.
Dirinya tidak percaya, jika Vano merapikan tempat tidur yang baru saja mereka pakai untuk bercinta.
"Sayang, mama menunggu di depan." seru Vano lagi membuyarkan lamunan Ella.
"Mama. Iya. Mama." Ella membiarkan rambutnya yang masih basah. Dan melemparkan begitu saja handuknya.
"Mama." ucap Ella begitu membuka pintu kamar. Ella berlari dan langsung memeluk mama mertuanya.
"Vano." gumam Nyonya Risma melihat anaknya merapikan tempat tidur. Karena Ella tidak menutup pintu kamarnya lagi.
Ella merenggangkan pelukannya. Menoleh ke arah Vano berada. "Ella nggak nyuruh kok ma" ucap Ella takut mertuanya salah paham.
Nyonya Risma terkekeh mendengar perkataan menantunya. "Mama tahu. Mana mungkin Vano mau disuruh-suruh."
"Mama mau minum apa? Biar Ella pesenin." ucap Ella.
"Air putih saja kalau ada. Mama haus."
__ADS_1
"Ada ma, bentar ya." Ella menuju ke tempat di mana dirinya menaruh air botol kemasan mineral.
"Mana Ella?" tanya Vano mencari keberadaan sang istri.
"Ambil minum." jawab mama Vano sambil tersenyum-senyum memandang ke arah Vano.
"Ada apa sih ma." tanya Vano merasa aneh saat sang mama memandangnya dengan tatapan aneh.
"Nggak apa-apa. Mama cuma kangen sama kamu." tangan Nyonya Risma terangkat membelai pipi putranya.
"Ma, Vano udah punya istri." Vano memundurkan badannya.
"Apa sih Van. Mama tahu kamu sudah punya istri. Masa pegang pipi kamu saja mama ngga boleh." rajuk sang mama.
"Minum ma." Ella datang dengan empat botol air mineral.
"Makasih sayang." ucap Nyonya Risma.
Ella duduk di antara Nyonya Risma dan Vano. Dengan lembut Vano mencium wangi rambut Ella yang masih basah. Memainkan ujung rambut Ella.
"Akhirnya kami berubah sayang. Makasih banyak Ell, kamu sudah merubah Vano." batin Nyonya Risma.
"Ma, kenapa mama malam-malam datang ke sini,,,"
"Iya ma, ganggu saja. Kan ini sudah malam." ujar Vano memotong perkataan Ella.
"Awww.." seru Vano saat tangan Ella mencubit paha Vano. "Sakit sayang." rajuknya.
"Kamu sih, kalau ngomong asal saja. Main potong perkataan orang." omel Ella dengan mata melotot ke arah Vano. Dan Vano malah mencium singkat bibir Ella.
Membuat Nyonya Risma tersenyum melihat perdebatan lucu keduanya. Ella memalingkan wajahnya, menghadap ke arah mama mertua. "Maaf ya ma. Mama kan bisa bilang, biar kita yang samperin mama." ucap Ella.
Nyonya Risma mengelus lembut punggung tangan menantu kesayangannya. "Memang kamu mau ke rumah sakit?" tanya Nyonya Risma di jawab gelengan kepala oleh Ella.
"Kamu tenang saja, mama ke sini tidak sendiri."
"Sama siapa ma?"
"Diantar asisten Oma."
"Lena."
"Bukan. Oma kan punya asisten selain Lena."
"Oh iya."
Dan Vano, tangannya masih asyik memainkan ujung rambut Ella yang basah. "Van,,, sakit." ujar Ella saat rambutnya tertarik ke bawah.
Nyonya Risma menggelengkan kepala dan tersenyum melihat perubahan sang anak.
__ADS_1