DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 156


__ADS_3

Begitu bangun dari tidurnya, Lena membuat keributan di rumah Vano. "Kalian ini pembantu. Nggak usah sok." serunya saat Lena dengan angkuh meminta di masakkan makanan yang diinginkannya.


"Cepat. Mau di pecat." ancamnya dengan nada angkuh.


Para pembantu hanya menggelengkan kepala dan melangkah menuju ke dapur. Mereka enggan sekedar meladeni Lena.


"Tunggu. Kamu, sini." Lena memanggil salah satu pembantu.


"Dimana Vano dan Ella?" tanyanya dengan nada sinis.


"Tuan dan Nyonya sudah meninggalkan rumah sejak tadi pagi." jawabnya.


"Sudah sana pergi." usirnya dengan mengibaskan telapak tangannya.


"Aaa,,,, berani sekali mereka mengacuhkanku."


Selesai melahap makanan, Lena melangkahkan kaki menaiki tangga. Padahal kamarnya berada di bawah. Apa yang akan di lakukan oleh perempuan abstrak tersebut.


Dengan senyum misterius, Lena berdiri tepat di depan kamar Vano dan Ella. "Kenapa tidak, mereka sedang tidak ada." gumam Lena.


Dengan beraninya Lena masuk ke dalam kamar Vano tanpa meminta izin. Baru beberapa langkah masuk ke dalam, mata Lena memandang takjub kamar mereka. Dan juga wangi kamar Ella. Membuat Lena menghirup dalam-dalam. Merasakannya sampai ke dalam otak.


Apalagi kamar mereka sangat luas dengan berbagai perabot yang mewah dan tentunya mahal.Berbeda jauh dengan kamar yang saat ini Lena tempati.


Tangan Lena dengan pelan menelusuri segala perabot di dalam kamar Vano. Matanya terhenti ke sebuah pintu. "Tempat apa itu?" batinnya.


Karena rasa penasaran, di bukanya pintu tersebut. "Waowww..." matanya berbinar melihat banyaknya baju Ella yang tergantung rapi.


Sebuah meja panjang, dengan banyak laci yang berisi asesoris dan perhiasan milik Ella. Berbagai model sepatu dengan banyak warna yang berjejer rapi di tempatnya. Dan juga berbagai tas mewah dengan berbagai ukuran dan warna.


Sungguh, Lena akan sangat betah berada di dalam sini. Apalagi di pinggir ruangan ada sebuah cermin. Dan didepannya terdapat beberapa macam make-up dan juga parfum.


"Kapan semua ini di bawa kemari. Bukankah baru kemarin mereka sampai. Dan juga, Ella kelihatannya tidak tahu tentang rumah ini." gumam Lena bertanya pada dirinya sendiri.


Lena, hanya untuk memindahkan pakaian dan segala keperluan Ella tidak membutuhkan waktu lama. Mereka orang berkuasa dengan mempunyai banyak bawahan.


Tangan Lena terulur mengambil sebuah gaun yang menarik perhatiannya. Gaun berwarna silver bercampur taburan emas, tampak indah dan mewah.


Lena menghadapkan badannya ke depan cermin. Dengan gaun tersebut ia letakkan di depan tubuhnya. "Sangat indah." Lena benar-benar kagum dengan gaun tersebut.


Diletakkannya gaun tersebut di atas meja. Dengan beraninya, Lena mulai mengambil, mencoba berbagai macam barang milik Ella.


Bahkan Lena beberapa kali menyemprotkan parfum ke arah badannya. "Memang berbeda." Lena mencium wangi dari parfum yang baru saja dia semprotkan. Membedakan wangi parfum murah miliknya dan parfum mahal milik Ella.


"Kenapa pintu kamar Nyonya terbuka." gumam seorang pembantu yang tidak sengaja melihat pintu kamar majikannya sedikit terbuka.


Segera dia masuk ke dalam kamar majikannya dengan perlahan. "Siapa yang berani masuk. Nyonya dan Tuan belum pulang."

__ADS_1


Matanya melotot sempurna melihat Lena berada di dalam ruangan tempat majikannya menyimpan pakaian dengan segala perlengkapannya. "Apa yang harus aku lakukan." gumamnya.


Segera dia keluar dari kamar dan memberitahu bibik. "Lena itu sangat angkuh dan sok berkuasa. Jika kita tegur, malah akan menjadi masalah." ucap Bibik.


"Sebaiknya kita lapor saja pada Nyonya." saran rekannya.


"Baiklah." Bibik segera menelpon Ella. Dan jawaban Ella membuat Bibik tersenyum.


"Kunci pintunya dari luar. Jangan dibuka, apapun yang terjadi. Nyonya sendiri yang akan membuka pintunya nanti." ucap Bibik setelah Ella mematikan sambungan teleponnya.


"Beres. Laksanakan." ucapnya dengan semangat, dan segera berlari ke atas. Melakukan perintah dari majikannya dengan senang hati.


"Makan tu baju. Kalau haus, minum air keran." ucapnya terkekeh geli. Karena di dalam kamar Ella tidak ada makanan atau minuman.


*


*


*


"Hannn..." seru Ella saat dirinya melihat Hana sedang duduk di kursi salah satu cafe, menunggu kedatangannya.


Begitu mendengar suara Ella, Hana langsung berdiri dari duduknya. Bibirnya tersenyum dengan tangan merentang.


"Kangen." ucap keduanya saling berpelukan melepas rindu. Padahal mereka hanya beberapa hari tidak bertemu. Dan setiap hari selalu berkabar pesan.


"Kamu baik-baik sajakan?" tanya Ella di jawab anggukan oleh Hana.


"Ell, padahal kita bukan saudara. Tidak ada hubungan darah. Tapi kenapa, kamu selalu tahu jika aku sedang tidak baik-baik saja." batin Hana.


"Jangan berbohong. Katakan, ada apa?" Ella menggenggam telapak tangan Hana.


"Sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman. Jangan di sini." Ella mengajak Hana pergi dari cafe.


"Katakan." Ella menghentikan mobilnya di tepi jalan yang terlihat sepi.


"Mama Denis. Beliau tidak menyukaiku." ucap Hana lirih.


Hanya dengan Ella, Hana berani mengungkapkan perasaannya dan juga berbagi keluh kesah. Menumpahkan segala apa yang dirasakannya.


"Apa beliau menemui kamu?" tanya Ella. Hana mengangguk pelan.


"Sudah ku duga." batin Ella. Karena mama Denis sempat menelpon Ella dan bertanya mengenai Hana. Sementara Ella, hanya menjawab dengan singkat pertanyaan dari mama Denis.


"Ell, aku takut. Aku harus bagaimana?" tanyanya dengan suara gemetar. Menahan tangis.


"Bagaimana dengan Denis?" tanya Ella.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan padanya." ucap Hana sendu.


"Semua akan baik-baik saja." Ella tersenyum, memeluk Hana. Seolah memberikan kekuatan untuk sahabatnya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bersedih Han. Aku akan harus melakukan sesuatu." batin Ella.


Berbicara dengan mama Denis. Tidak akan Ella lakukan. Selama dirinya berteman dengan Denis, selama itulah Ella juga mengenal keluarga dari sahabatnya tersebut


Mama Denis termasuk perempuan yang sangat ambisius. Dan juga menginginkan sesuatu yang menurutnya pantas untuk keluarganya.


Termasuk pendamping untuk bersanding dengan Denis. Beliau menginginkan seorang perempuan yang setara dengannya untuk menjadi menantunya.


Ponsel Ella berdering, diangkatnya panggilan telepon dari rumahnya. "Ada apa Bik?" tanya Ella dari ujung ponselnya. Yang ternyata Bibik menghubunginya dan memberitahu soal Lena.


"Baiklah, karena saya perempuan yang baik hati. Saya akan dengan senang hati mengizinkan dia tetap berada di dalam kamar. Sampai puas."


"Jadi bik, kunci saja pintu kamar saya dari luar. Saya sendiri yang akan membukanya jika nanti pulang. Biarkan Lena berbahagia di dalam kamar." Ella mematikan panggilan telepon dari bibik.


"Lena, kamar. Maksud kamu apa Ell?" tanya Hana yang memang tidak mengetahui apapun.


"Maaf, aku lupa memberitahu kamu. Sekarang aku dan Vano menempati rumah baru. Vano memberikannya sebagai hadiah pernikahan."


"Dan Lena, sementara akan tinggal bersama kami. Sampai Oma Yeti kembali ke sini."


"Lena, kenapa bisa perempuan jadi-jadian itu tinggal bersama kalian." tanya Hana penasaran.


"Oma yang meminta. Dia menitipkan Lena pada Vano. Sementara."


"Benar-benar manusia licik. Gue heran, kenapa Oma segitu nggak senang nya sama elo. Padahal elokan nggak pernah berbuat jahat sama Oma. Heran deh gue Ell."


"Lena juga. Perempuan nggak punya malu. Benar-benar muka badak. Elo kenapa mau nampung dia sih." sungut Hana.


"Menurut elo." Ella memainkan alisnya.


Hana tertawa melihat wajah Ella. "Tapi jangan sampai anak orang kehilangan nyawa." ujar Hana mengingatkan Ella.


Hana tahu, jika pasti Ella mempunyai rencana, kenapa dia memperbolehkan Lena tinggal dirumahnya.


"Han, gue mau atur jadwal gue. Bisa kan?" tanya Ella.


"Bisa banget. Tapi kayaknya gue bakal banyak nganggurnya deh." ucap Hana pura-pura bersedih.


"Nggak usah akting. Oh iya, bagaimana kalau kamu belajar kerja di perusahaan papa." tawar Ella.


"Jangan gila Ell,,, kuliah saja gue nggak lulus. Lagian gue nggak tahu soal bisnis. Gue malah jadi OG di sana." ucap Hana.


Entah kenapa tiba-tiba Ella meminta Hana untuk belajar bisnis. Dengan tahap awal, memulai belajar dengan bekerja di perusahaan sang papa.

__ADS_1


__ADS_2