DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 130


__ADS_3

"Non,,, kenapa datang ke sini nggak bilang-bilang." ucap seorang perempuan yang bertugas membersihkan vila milik keluarga Ella yang berada di puncak.


"Mampir bik." ucap Ella.


"Maaf ya Non, nggak ada makanan. Apa mau mbok masakin sesuatu?" tanyanya.


"Mie kuah aja bik, seperti biasa. Mienya saparuh, di kasih sayur. Pedes."


"Baik Non. Non istirahat saja dulu. Kamarnya sudah bersih Non." jelasnya.


Karena memang setiap hari bibik selalu membersihkan vila ini meski pemiliknya belum tentu datang. Beliau tidak mau di anggap makan gaji buta.


Ella merebahkan badannya di kursi berukuran besar di depan televisi. "Mang,,," seru Ella.


Seorang lelaki paruh baya datang tergopoh-gopoh mendengar Ella memanggil dirinya. "Siapkan kudanya ya. Besok Ella mau pakai." ucap Ella.


"Baik Non. Permisi." ucapnya disambut anggukan kecil dan senyum dari Ella.


"Ini Non." bibik menaruh mangkok berisi mie kuah di tas meja. "Masih panas Non." ucapnya.


"Iya, makasih."


"Ada lagi Non?" Ella menggelengkan kepala.


"Eh iya Non, selamat ya atas pernikahannya. Bibik tahu dari televisi."


"Terimakasih bik." Pernikahan Ella dan Vano bahkan menjadi pemberitaan utama di setiap berita. Bagaimana tidak pernikahan dua keluarga pemilik perusahaan besar. Dan sangat berpengaruh.


Apalagi Vano juga memiliki perusahaan sendiri yang sudah dirintisnya semenjak dia duduk di bangku SMA. Dan sekarang perusahaannya sama besarnya dengan perusahaan sang papa.


Belum lagi Ella, dia merupakan model kelas atas. Mempunyai kenalan dari berbagai kalangan. Sementara Nyonya Risma merupakan pemilik butik yang terkenal.


Dan Nyonya Ane, ibu rumah tangga. Namun beliau aktif dalam kegiatan sosial. Beliau adalah ketua dari suatu yayasan milik keluarganya yang juga bergerak di bidang sosial.


Ella meninggalkan mangkok bekas makannya untuk tetap di atas meja. Menuju ke dalam kamar, segera membersihkan badannya dan merebahkan badannya.


Ella segera memejamkan mata, karena besok pagi dia harus bangun pagi. Dia ingin berkeliling Vila menaiki kuda kesayangannya. Sudah lama dirinya tidak menengok kuda kesayangannya.


"Eghhhh...." Ella melenguh dan meregangkan otot. Suara alarm yang sengaja dia nyalakan sedang berbunyi. Ella tidak ingin bangun kesiangan. Dan rencananya untuk berkuda di pagi hari gagal.


Ella mengendorkan badannya. Ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Sebuah lengan kekar berada di atas perut ratanya.


"Astaga." seru Ella saat dirinya menengok ke samping. Wajah yang begitu tampan seperti terukir dengan teliti dan hidung mancung beserta bibir tebal seksi berada di sampingnya. Tepat di depan wajahnya.


Ella duduk dan memegang kepalanya. "Sadar Ella. Segitu pengennya elo bertemu suami elo."

__ADS_1


Vano tersenyum melihat tingkah lucu dari istrinya. Vano mengikuti Ella duduk. "I love you, my wife." bisik Vano.


Ella kaget dan meloncat turun dari ranjang mendengar suara Vano seperti nyata di telinganya. Ella menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. "Oh my god. Gue bener-bener sinting." ucapnya dengan mata terpejam.


Sebuah tangan melingkar diperut Ella. Membuat si empunya membuka mata dan hendak berontak, tapi kekuatan tangan yang melingkar di perutnya lebih kuat. "Sayang, diamlah." ucap Vano lirih.


Ella membeku seketika. Dengan pelan, Ella membalikkan badan. Di rabanya wajah di depannya dengan pelan. "Nyata." gumamnya masih bisa didengar Vano.


"Aaaawww." Ella meringis saat Vano menarik gemas hidung mancungnya. "Apa suamimu ini makhluk gaib. Hemmm." Vano menggesekkan hidungnya pada hidung Ella.


Dengan pelan, Vano membawa Ella duduk di pangkuannya. Ella duduk di atas paha Vano dengan wajah saling berhadapan. Tangan Ella melingkar di leher milik suaminya.


"Kamu ke sini?" tanya Ella tidak percaya, jika suaminya menyusul dirinya. Padahal Ella sama sekali tidak berharap.


"Kenapa, tidak suka. Apa aku menganggu."


"Oma." kata Ella lirih.


"Tenang saja, di sana ada Papa dan Mama. Nanti aku juga akan ke sana." ucap Vano. Ella membuang wajahnya. Entah kenapa sepertinya Ella tidak rela jika Vano pergi lagi.


"Hanya menjenguk sebentar, lalu pulang." ucap Vano menarik badan Ella supaya lebih menempel padanya. Sepertinya Vano tahu jika Ella tidak menginginkan dirinya pergi.


"Maaf." cicit Ella. "Aku egois." imbuhnya, menundukkan kepala.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Meninggalkanmu di malam pernikahan kita. Pasti kamu sangat kesepian." Vano memegang dagu Ella.


Ella menggeleng pelan. "Iya, aku kesepian." ucapnya. "Tapi hanya beberapa jam. Karena aku melakukan sesuatu yang membuatku melupakan kamu. Walau sejenak." batinnya.


Mana mungkin Ella menceritakan pada Vano jika dirinya ikut ajang balap liar saat malam pernikahan mereka. Bisa-bisa,, Vano akan marah. Dan akan membuat Ella sedikit terkekang. Karena pasti Vano akan menyiapkan orangnya untuk mengawal dirinya.


"Terimakasih." Vano mengecup singkat bibir Ella.


"Kamu rela menolak beberapa pekerjaan demi aku." Ella tersenyum mendengar penuturan lembut dari Vano. Jarinya bermain di rahang milik sang suami.


"Apa Oma sudah membaik. Lalu bagaimana Oma mengizinkanmu pergi. Semua baik-baik sajakan?"


Sebelumnya di dalam pesawat.


"Ada apa Van?" tanya Tuan Danto melihat anaknya seperti memikirkan sesuatu setelah menutup panggilan telepon.


"Ella."


"Hemm. Papa paham. Jika kamu ingin kembali. Kembalilah. Papa dan mama yang akan menjaga Oma."


"Bagaimana jika Oma mencari Vano?"

__ADS_1


"Kamu bisa datang sewaktu-waktu." ucap Nyonya Risma.


"Lagi pula Oma akan di rawat di ruangan yang steril. Dan mempunyai aturan jam kunjung." ucap Tuan Danto.


"Tenang saja, dokternya adalah sahabat papa." bisik Tuan Danto di balas gelengan dan senyuman oleh Vano.


"Jika sudah berhubungan dengan Oma, Vano akan merasa lemah. Apalagi setelah kita tahu penyakit Oma beberapa tahun yang lalu." ujar Vano


Nyonya Risma menepuk pelan pundak Vano. "Oma akan baik-baik saja." kata sang mama.


"Mama jangan lupa untuk menjaga Lena." ucap Vano.


Nyonya Risma terkekeh pelan. "Dia akan berada di tangan yang tepat." ujarnya menepuk dadanya sendiri.


Kembali ke villa.


"Lena akan bersama dengan mama?" tanya Ella tidak percaya. Pasalnya sang mertua juga tidak menyukai Lena.


"Kenapa?" Vano melihat Ella menyatukan alisnya.


"Apa kabar nanti dengan Lena?" tanya Ella dengan ekspresi yang susah di mengerti.


Vano terkekeh melihat Ella. "Kenapa, kamu mengkhawatirkan Lena?" tanya Vano.


"Sedikit." ujar Ella membayangkan Lena akan berada di samping mertuanya. Dan akan menjadi asisten pribadi dari mertuanya.


"Mama tidak sejahat itu sayang." ucap Vano dengan tangan membelai pipi mulus sang model.


"Sungguh?" tanya Ella dengan senyum miring.


"Sepertinya kamu tahu sesuatu."


"Bagaimana kamu tahu aku di sini?" tanya Ella.


"Ada sebuah cip yang aku tanamkan dalam tubuhmu. Sehingga di manapun kamu berada, aku pasti akan tahu." Ella mengerutkan dahinya.


"Kamu mau tahu, di bagian mana aku menanam cipnya?" Ella tersenyum dan mengerucutkan bibirnya.


"Di sini."


"Awwww,,,,,asssss." Ella mengeluarkan suara ******* saat kedua tangan Vano meremas dua buah bukit kembar miliknya.


"Modus." Ella memukul pundak Vano dengan wajah merah dan menyembunyikan senyumnya.


"Tapi senangkan?" Vano mengerlingkan matanya dengan genit.

__ADS_1


"I love you, my wife." Vano mengecup bibir Ella.


Kecupan kecil yang berubah menjadi *******. Tangan Vano pun beralih ke pantat Ella dan meremasnya. Sementara yang satunya menahan tengkuk sang istri.


__ADS_2