
"Maaf ya, kemarin aku tidak jadi datang. Ibuku sakit." ucap Hana merasa tidak enak pada temannya, padahal dia sudah memberitahunya jika ada lowongan kerja si salon tempatnya bekerja.
"Tidak masalah, lagipula kamu juga sudah memberitahu lewat pesan." ucap Nora, teman Hana yang bekerja di salon.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Nora.
"Sudah membaik." jawab Hana.
"Ayo, aku antar. Kamu sudaj ditunggu di ruangan Nona Virna." ucap Nora membawa Hana menemui pemilik salon.
Sebelum masuk ke sebuah ruangan, Nora mengetuk pintu terlebih dahulu. "Masuk..!!" terdengar suara dari dalam mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Maaf Nona, saya menggangu. Saya mengantarkan teman saya. Yang sudah saya ceritakan kemarin." ucap Nora memberitahu pada pemilik salon tempatnya bekerja.
Nampak seorang perempuan cantik tengah duduk di kursi single, yang terhalang meja mereka. Dia hanya memandang Nora dan Hana secara bergantian. Selanjutnya menganggukkan kepala dengan pelan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Mau melanjutkan pekerjaan saya." pamit Nora. Meninggalkan Hana bersama pemilik salon di dalam ruangan.
"Silahkan duduk." ucapnya dengan ramah.
"Terimakasih. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Hana." ucap Hana dengan sopan.
"Saya sudah tahu. Asisten Ella kan?" tanyanya, di jawab anggukan oleh Hana.
"Saya Virna." ucapnya memperkenalkan diri.
"Karena salon saya sedang membutuhkan karyawan, kamu saya terima disini. Tapi dengan masa percobaan selama sebulan. Dan Nora yanga akan menjadi pembimbing kamu selama masa percobaan." jelas Virna.
"Terimakasih banyak Nona Virna. Jika saya boleh tahu, kapan saya akan memulia bekerja?" tanya Hana.
"Besok." jawab Virna singkat.
"Jika selama satu bulan, jika saya suka dengan pekerjaan kamu, kamu akan terus bekerja di sini. Sebagai karyawan di salon saya. Tapi maaf, jika saya merasa kamu tidak cukup mampu. Saya harap kamu tidak akan kecewa saat saya menyuruh untuk meninggalkan salon saya." jelas Virna.
"Baik Nona."
"Jangan buat saya kecewa." ucap Virna.
"Baik Nona, terimakasih karena sudah memberikan kesempatan pada saya." ucap Hana, dan undur diri meninggalkan ruangan Virna.
Hana sempat berpikir jika dirinya akan di tanya penyebab dia tidak lagi bekerja dengan Ella. Ternyata tidak. Dugaannya salah.
Terlihat jika Virna bukan perempuan yang suka mencampuri kehidupan orang lain. Yang Virna inginkan hanyalah karyawan yang terampil dan pandai saat bekerja.
"Bagaimana?" tanya Nora setelah Hana keluar dari dalam ruangan Virna.
"Terimakasih banyak. Mulai besok aku akan bekerja. Dengan masa percobaan satu bulan." ucap Hana tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Semangat." ucap Nora. Hana mengangguk pelan dan tersenyum senang.
"Kamu tenang saja, Nona Virna buka tipikal pemimpin yang jahat dan sadis. Yang terpenting buat dia, karyawannya bekerja dengan baik. Dan memuaskan. Selebihnya, dia tidak akan marah." jelas Nora.
"Dia juga tidak bertanya penyebab kamu tidak lagi bekerja dengan Ella. Dia hanya bertanya dan memastikan jika kamu adalah Hana. Seseorang yang pernah bekerja sebagai make up model bernama Ella." imbuh Nora.
Karena sebelumnya Hana mengatakan alasan kenapa dia tidak lagi bekerja dengan Ella. Yakni karena sang model tengah berbadan dua.
Tapi Hana meminta Nora untuk tidak memberitahu pada orang lain. Selain pada pemilik salon, itupun jika dia bertanya. Dan Nora menyetujuinya. Karena menurut Nora, tidak ada untungnya juga buat dia menyebarkan informasi tersebut.
Karena Hana tahu, jika keluarga Ella maupun Vano belum membuka kepada publik akan konsisi yang Ella alami saat ini. Entahlah, Hana sendiri juga tidak tahu mengapa.
Bisa jadi karena kehamilan Ella masih muda. Yaitu masih lima minggu. Dan juga diluar, banyak sekali orang atau sekelompok orang yang menginginkan keluarga Vano dan Ella mengalami rasa sedih.
"Terimakasih banyak. Aku pulang dulu." ucap Hana pamit.
"Sampai jumpa besok." seru Nora, dijawab lambaian tangga dari Hana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella dan Rio meninggalkan markas. "Maaf Nyonya, kita kemana?" tanya Rio di balik kemudi.
Tampak Ella masih diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aku juga bingung." ucap Ella.
"Hana." gumam Ella tidak sengaja melihat Hana berada di area parkir sebuah salon. "Berhenti." seru Ella. Seketika Rio menepikan dan menghentikan mobilnya.
__ADS_1
Ella membuka jendela mobil. Berteriak memanggil Hana dari dalam mobil, dengan hanya memperlihatkan sedikit kepalanya. "Hannnn...!!" teriak Ella.
Hana yang mendengar suara orang sedang memanggil namanya langsung mencari ke sumber suara. "Ella." batin Hana. Karena jarak keduanya tidak terlalu jauh.
Hana mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil miliknya. Dirinya malah menghampiri mobil Ella. Dengan cepat Ella membuka pintu mobil belakang, membuat Hana segera masuk ke dalam.
"Aaaaaa.....!!!!" teriak keduanya sambil berpelukan. Rio sontak menutup mata dengan ekspresi lucunya. Dirinya menggelengkan kepala dan menggaruk kedua daun telinganya.
Rio benar-benar tidak menyangka. Istri dari Tuannya ternyata bisa bersikap seperti bunglon. Baik, ramah, dan sopan saat berada di depan umum.
Sadis dan kejam. Bahkan tidak mempunyai hati saat menyiksa musuh dan tawanan. Juga pengkhianat. Dan sekarang, dia bersikap konyol dan juga bar-bar saat bertemu asistennya.
Dan Rio dapat simpulkan jika Ella dengan asistennya, mempunyai hubungan lebih dari sebatas pekerjaan. Terlihat keduanya tampak begitu akrab. Dan juga tanpa jarak.
"Sedang apa?" tanya Ella, melihat Hana di depan salon.
"Selamat Tuan Putri. Sebentar lagi akan menjadi mama muda yang cantik dan cetarrrrrr." ucap Hana. Bukannya menjawab pertanyaan Ella, Hana malah mengucapkan selamat atas kehamilan sahabatnya tersebut.
"Setelah ini kamu mau kemana Ell?" tanya Hana.
"Tidak ada."
"Sama. Bagaimana kalau kita berbincang. Ada yang ingin aku sampaikan." ajak Hana.
"Boleh. Rio, kita ke apartemen milikku." ucap Ella pada Rio.
"Apartemen." batin Hana. Entah kenapa mengingat apartemen Ella membuat Hana menjadi susah bernafas.
"Kita ke apartemen saja ya Han. Sudah lama aku tidak ke sana. Setelah menikah, aku bahkan belum pernah ke sana." tutur Ella. Karena Ella terakhir ke sana sekitar dua bulan yang lalu. Bahkan lebih.
Tapi Ella selalu menyuruh seseorang untuk membersihkan apartemennya. Setidaknya seminggu tiga kali.
"Han..." panggil Ella, karena Hana malah diam dengan tatapan mata seperti kosong.
"Han." Ella menepuk keras pundak Hana. Membuat Hana terkejut, dan kembali mendapatkan kesadaran.
"Ada apa?" tanya Ella.
"Kamu nggak apa-apa kan Han?" tanya Ella menyipitkan matanya.
"Ah,, eh, nggak. Nggak apa-apa." ucap Hana segera bersikap normal.
"Kita ke taman saja ya. Lebih enak berbincang di sana. Bagaimana?" tanya Hana.
"Rio, ke taman terdekat." ucap Ella mengubah tempat tujuan mereka.
Ekor mata Ella melirik ke arah Hana. "Ada apa dengan Hana." batin Ella.
"Sejak gue nyebut apartemen. Dia manjadi berubah." imbuh Ella dalam hati. Tapi Ella tidak ingin bertanya pada Hana.
Ella adalah perempuan yang sangat peka. Sekali dia melihat raut wajah seseorang, dirinya bisa melihat jelas apa makna yang tersirat dari raut wajah tersebut.
Ketakutan. Itulah yang Ella lihat dari raut wajah Hana. Tapi apa, dan kenapa. Ella merasa Hana punya sesuatu yang di sembunyikan dari dirinya.
Dan semua itu berada di dalam apartemennya. "Ada apa dengan apartemen gue." batin Ella.
Sesampainya di taman, Ella menyuruh Rio untuk menunggunya di mobil. Tapi Rio tidak mau. Dia kekeh mengikuti Ella dan Hana masuk ke dalam taman.
Tentu saja alasan utamanya adalah keamanan dan keselamatan. Rio tidak mau mengambil resiko. Dirinya tidak ingin kecolongan. Yang bisa mengakibatkan Ella terluka.
Dan jika itu semua sampai terjadi, orang pertama yang di bunuh Vano adalah dirinya. Karena Tuannya sudah memberi perintah padanya. Untuk menjaga sang istri.
"Jika memilih. Pasti gue lebih memilih bekerja di perusahaan atau ikut dalam sebuah penyerangan. Dari pada menjaga istri Tuan Vano." batin Rio.
Karena pastinya Rio tidak perlu mengawasi pergerakan dari Ella. Dan tidak perlu merasa was-was setiap saat.
Ella menghentikan langkah kakinya. Demikian juga dengan Hana. Dia juga berhenti saat Ella berhenti. "Kamu tunggu saja di sana. Saya akan duduk di sini." ucap Ella memberitahu Rio.
Rio melihat ke arah dimana Ella menyuruhnya untuk duduk. "Baik." ucap Rio. Karena memang jarak tempat duduknya dan juga tempat duduk Ella tidak begitu jauh.
Dan Rio masih bisa memantau Ella dari tempat tersebut. "Siapa dia Ell?" tanya Hana setelah Rio meninggalkan mereka berdua, menuju tempat yang Ella tunjukkan padanya.
Ella mendaratkan pantatnya di bangku taman, yang di atasnya terdapat payung. Yang dapat melindungi pengunjung taman dari panas maupun hujan. "Rio." jawab Ella singkat.
__ADS_1
"Gue tahu namanya. Maksudnya bukan itu." ketus Hana. Karena memang Hana sudah tahu namanya, karena Ella sempat beberapa kali menyebut namanya di depan Hana.
"Waaoowww,,, dari mana elo tahu namanya." goda Ella. Padahal Ella tahu dari mana Hana mengetahui nama bawahan Vano ini.
Hana memandang sinis ke arah Ella. Tapi Ella malah tertawa. Merasa pandangan Hana yang sinis terhadapnya sangatlah lucu dan imut di wajah Hana. "Dia orangnya Vano." jelas Ella.
"Emm,,,"
"Kenapa elo tadi di depan salon. Ciee,,, pasti lagi perawatan ya." tebak Ella dengan senyum menggoda Hana.
"Perawatan apaan. Cari kerja." celetuk Hana. Bibir Ella yang berbentuk bulan sabit seketika langsung datar mendengar perkataan Hana.
Hana juga menyadari perubahan raut wajah Ella. Tampak Ella tidak suka mendengar perkataan Hana. "Ell, gue nggak mau merepotkan kamu." ucap Hana.
"Kamu akan menjadi bekerja sebagai asistenku lagi setelah aku kembali di depan kamera." sahut Ella.
"Iya tahu. Dan aku akan menantikannya."
"Kamu akan tetap aku bayar selama aku hamil. Kamu tidak usah khawatir." jelas Ella.
"Ell, jangan membuatku seperti itu." keluh Hana.
"Maksud kamu?" tanya Ella, dirinya benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Hana.
"Pasti semua orang akan mencibirku Ella. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak bekerja akan mendapat gaji."
"Bisa. Lagian siapa yang akan mencibir kamu?" tanya Ella.
"Semua orang." jawab Hana dengan tegas.
"Ell, aku mohon mengerti posisiku. Aku tahu, kamu ingin membantu keluargaku. Cukup dengan membiayai pendidikan Arik saja. Kami sudah sangat senang."
"Bagaimana nanti aku akan mengangkat wajahku Ella. Pasti mereka mengira aku dan keluargaku adalah parasit."
Ella memandang ke arah Hana yang terlihat sedih. Dan Ella mengerti maksud perkataan Hana. "Kamu bisa bekerja di perusahaan papa." usul Ella.
"Tidak mungkin. Aku hanya lulusan SMA. Tidak tahu menahu tentang pekerjaan kantor. Berbeda dengan Arik." jawab Hana.
Karena kemungkinan besar Arik akan bekerja di perusahaan Tuan Haris setelah lulus kuliah. Arik akan mengabdi kepada keluarga Ella sebagai ucapan terimakasih. Meskipun keluarga Ella tidak meminta hal tersebut.
"Kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Ella.
"Sudah. Di salon tadi." jawab Hana dengan wajah bahagia.
"Jadi, mulai bulan depan kamu tidak perlu mengirimiku uang. Karena aku sudah bekerja." ucap Hana.
"Baiklah. Semoga kamu betah kerja di tempat baru tersebut." ucap Ella tulus.
"Terimakasih. Pasti, tenang saja." ucap Hana menyakinkan Ella, jika Ella tidak perlu khawatir.
"Bagaimana keadaannya di dalam?" tanya Hana melihat ke arah perut Ella yang masih rata.
"Baik. Sehat. Dan aku sedikit merasa bosan." ucap Ella.
"Kenapa?"
"Kamu tahu sendirikan. Aku tidak pernah bersantai lama. Dan ini, aku benar-benar tidak di perbolehkan oleh Vano untuk beraktifitas, yang menurut Vano akan berbahaya untuk kami berdua. Karena usianya masih beberapa minggu. Lima minggu." keluh Ella.
Hana hanya bisa tersenyum. Hana tahu bagaimana Ella. Pasti Ella sangat bosan dan jenuh. Apalagi selama ini, meskipun Ella berasal keluarga kaya, namun dia bukan sosok perempuan manja yang akan bersantai dan menghamburkan uang keluarganya.
Dia perempuan pekerja keras dan juga tekun. Tidak bisa bersantai dalam waktu lama.
"Aku akan melukis. Untuk mengisi waktu." ucap Ella.
"Bisa?" tanya Hana tidak percaya. Karena Hana belum pernah melihat Ella melakukan hal tersebut.
"Bisa. Sewaktu masih duduk di bangku SMP, gue senang dengan kegiatan tersebut." ungkap Ella.
"Waoowww." salut Hana. Mengetahui jika Ella adalah perempuan dengan banyak bakat. Entah apalagi yang Ella bisa selanjutnya. Hana benar-benar di buat terkejut.
"Gue lama nggak ketemu Denis. Sibuk banget ya dia." tanya Ella pada Hana.
"Iya." jawab Hana sekenanya, dan raut wajah Hana terlihat masam.
__ADS_1