
Semua yang ada di meja menatap ke arah Ella. Melihat senyum merekah di bibir Ella. Membuat mereka seakan tersihir dengan apa yang mereka lihat. Apalagi semua yang ada di meja tersebut adalah laki-laki.
Ingin sekali mereka melahap bibir seksi milik sang model, yang sekarang menyandang nama Nyonya Vano. Bahkan mereka membayangkan betapa lembut dan kenyalnya benda sedikit tebal dan basah yang berwarna merah karena lipstik tersebut.
Seandainya mereka mengetahuinya. Apa mereka masih ingin bermain-main dengan Ella. Kerena mereka hanya melihat sosok Ella dari cangkangnya saja. Cantik, seksi, dan pandai. Serta berperingai baik dan lembut.
Tak ayal, semua orang menjuluki Ella sebagai seorang dewi berhati malaikat. Jika saja mereka mengetahui jati diri Ella. Apa mereka masih memuji sosok tersebut. Atau malah bertekuk lutut di bawah kakinya.
Segera Ella berdehem dan bersikap biasa, menyadari tatapan dari lelaki di sekitarnya. Menghilangkan senyum di bibir seksinya dengan segera.
"Nyonya Ella, bagaimana kabar anda?" seseorang di belakang Ella tiba-tiba menyapa dan memegang kedua pundak Ella.
Ella hanya tersenyum, karena dia tahu siapa yang dengan berani melakukannya. Dengan menghirup wangi parfum yang dia semprotkan pada tubuhnya.
Ella dengan mudah mengenali siapa pemilik tangan yang dengan lancang bertengger di pundaknya. Ella mengambil tangannya dari pundak.
"Sangat baik." ucap Ella, mendongakkan kepala. Dengan tangannya masih menggenggam erat tangan orang tersebut.
Melihat dengan jelas wajah tampan di atasnya, yang juga tersenyum ramah padanya. Dengan tatapan mata nakal.
"Astaga....!!!" serunya saat dia ingin mengecup dahi Ella. Seseorang menarik rambutnya dari belakang.
Siapa lagi kalau bukan Vano. Dia melihat Viki dengan senyum melangkah menghampiri Ella. Segera Vano kembali ke tempat di mana istrinya berada.
"Sayang..." ucap Ella lembut. Segera berdiri dan menarik Vano untuk duduk. Sebelum Vano dan Viki membuat acara seseorang menjadi berantakan.
Vano dengan emosi yang tertahan menaruh minuman dan makanan di meja. Mendudukkan pantatnya di kursi
Tetapi pandangannya tetap melihat tajam ke arah Viki yang mengelus kepalanya yang sakit karena rambutnya di jambak kasar olehnya.
"Rambut gue rusak brengsek." maki Viki pada Vano.
"Sayang..." Ella mengelus telapak tangan Vano yang masih berada di genggamannya.
Memandang Vano dengan tatapan mengiba. Mata Ella seperti berkata. "Kamu tahukan, siapa Viki. Ini di acara orang. Jangan buat masalah."
Vano menarik tangannya dari genggaman Ella. Membuang wajahnya, dengan raut muka kesal. Ella melotot ke arah Viki. Dengan segera Viki juga duduk di samping Ella. Merapikan penampilannya.
__ADS_1
Meski Vano tahu Viki tidak mungkin tertarik dengan sang istri, tapi Vano tetap tidak rela Ella begitu dekat dengan Viki. Hanya berjaga-jaga. Siapa tahu suatu saat Viki akan sembuh. Semoga.
Tanpa Vano duga, Ella mengecup singkat pipi Vano. Membuat hati Vano yang sangat panas seakan lebur mencair menjadi es. Vano tersenyum samar.
"Dasar bucin." ucap Viki lirih, dengan wajah masih cemberut. Dan tangan merapikan rambutnya.
Ella menepuk kasar pundak Viki. Membuat Viki menoleh ke arah Ella dan tersenyum.
Keadaan kembali berjalan seperti semula. Semuanya berbicara mengenai perkembangan bisnis saat ini.
Ella hanya diam dan tidak terlalu ikut dalam pembicaraan mereka. Dirinya menikmati kue yang di ambilkan oleh suaminya.
Tapi tetap saja, beberapa teman sekaligus rekan kerja Vano mencuri pandang ke arah Ella. Mustahil mereka melewatkan sesuatu yang indah di depan mata.
"Memang perusahaan baru. Tapi setahu gue, dia sudah punya perusahaan di luar negeri. Entah apa tujuannya mendirikan perusahaan di sini." ucap Dami.
"Mungkin dia juga ingin membuka cabang di sini." timpal yang lain.
"Ditya Mahendra." celetuk Viki. Seketika tangan Ella berhenti saat dirinya ingin kembali mengambil kue di depannya, mendengar Viki menyebutkan nama seseorang yang tidak asing di telinganya.
Segera Ella bersikap seperti semula. Sebelum semua orang menyadarinya. Entah mengetahuinya atau tidak, tapi nyatanya Vano sudah menyadari sikap Ella.
Dan itu terjadi karena sang pria sepertinya tertarik dengan istri dari Vano Reyandli.
"Apapun tujuannya, selama tidak membuat masalah denganku. Aku tidak peduli." ucap Vano tegas. Menyiratkan sesuatu yang dalam di kalimat tersebut. Membuat semuanya mengangguk setuju.
"Aww..." seru Ella terkejut saat sesuatu yang basah mengena pada bahunya. Membuat semua orang menolah ke arah Ella.
Segera Ella berdiri. "Maaf Nyonya. Saya tidak sengaja." ucap seorang pelayang yang membawa air minum di nampan. Menumpahkan air ke bahu Ella yang sedang duduk.
Tangan Ella sedikit menarik pakaian bagian belakang yang basah. Rasanya sungguh tidak nyaman. "Kamu." Vano memandang tajam ke arah pelayan tersebut.
Membuat pelayan perempuan tersebut menunduk takut dengan tubuh bergetar. Ella segera memegang lengan Vano. "Sayang.." ucap Ella lembut. Mampu membuat Vano mengalihkan pandangannya.
"Jangan, nanti jas kamu malah basah." cegah Ella saat Vano ingin membuka jasnya. Dan mengenakannya pada tubuh sang istri.
"Tidak masalah." kekeh Vano.
__ADS_1
"Van." Ella memegang tangan Vano. Menghentikan gerakan tangan Vano yang ingin membuka jas yang melekat di tubuhnya.
Mana rela Ella melihat Vano melepaskan jasnya. Pasti semua perempuan akan memandang suaminya dengan tatapan lapar.
Saat mereka melihat badan Vano yang berotot, meski berada di balik kemeja. Ella yakin, masih dapat terlihat dengan jelas badan kekar sang suami.
"Ya ampun Ell, biarkan suami melepas jasnya. Dari pada elo kayak gini." timpal Viki.
"Benar kata Viki." ucap Vano.
"Sekali tidak. Tetap tidak." kekeh Ella dengan tatapan tajam ke arah Vano. Membuat Vano menuruti perkataan Ella. "Baiklah." ucap Vano pasrah.
"Segera pergi, jika tidak ingin di pecat." ucap Viki tegas. Membuat pelayan tersebut segera meninggalkan tempat.
Beruntung Ella menggunakan pakaian berwarna hitam dan sedikit tebal. Jika tidak, pasti sudah tercetak jelas dalaman yang melekat pada tubuh seksi milik Ella.
Seorang perempuan dari arah lain tersenyum remeh melihat Ella. Dengan langkah anggun, dia menghampiri Ella. Dirinya akan berperan sebagai peri yang akan menolong istri dari pengusaha muda dan sukses tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Selin dengan polos.
"Astaga." Selin berpura-pura terkejut, menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Akting yang sempurna." batin Ella.
"Siapa yang melakukannya? Ya ampun, bagaimana ini." ucapnya dengan panik.
"Kebetulan saya mempunyai gaun yang belum saya pakai. Ada di mobil. Bisa anda pakai. Jika mau. Bisa saya ambilkan." ucapnya melihat ke arah Ella.
"Bagaimana sayang?" Vano mengelus lembut rambut Ella.
"Kalian tidak mungkin pulang Ell, acara belum di mulai." ujar Viki mengingatkan.
"Kalian perhatikan badanku dan badan dia." celetuk Ella.
Sontak semua mata seperti membandingkan bentuk tubuh Selin dan Ella.
"Sial, pasti di sengaja." batin Selin.
__ADS_1
"Benar juga." ucap Viki.
"Ella." panggil seseorang. Membuat Ella dan yang lain menengok ke arah sumber suara.