
"Van.." sapa Lena berdiri dari duduknya. Bersiap menyambut kedatangan Vano dengan senyumnya. Tapi sayangnya di abaikan oleh Vano. Bahkan Vano daja tidak memandangnya.
Lena, Lena. Padahal Vano selalu acuh padanya pada setiap kesempatan. Tapi dia sendiri yang mempermalukan dirinya sendiri. Sungguh tidak tahu malu. Segitunya ingin masuk keluarga terpandang.
Vano menggeser sedikit kursi ke belakang. "Silahkan Tuan Putri." ucap Vano mempersilahkan Ella duduk.
Ella tersenyum dan duduk di kursi tersebut. "Makasih pangeran." ucapnya. Semakin membuat Oma Yeti menatapnya tidak suka. Merasa di acuhkan, Lena kembali duduk.
Ella melihat Tante Dewi memandangnya dengan senyum mengembang di bibir. "Tante sudah lama?" tanya Ella dengan ramah.
"Belum sayang. Nih tante sama anak kesayangan tante." ucap Tante Dewi dengan ekor mata mengarah ke arah Marcell. Putranya yang sedari tadi menunduk. Sibuk dengan gawainya.
"Lena. Perlihatkan pada Vano." ucap Oma Yeti tiba-tiba dengan suara marah. Lena mengambil amplop coklat panjang dan menyerahkan pada Vano.
Lena tersenyum saat Vano membuka isi amplop tersebut. Sementara tante Dewi nampak kepo dengan isi amplop tersebut.
"Kamu lihat, apa kamu akan menikah dengan ****** seperti itu." seru Oma Yeti membuat Marcell menghentikan permainan gamenya di gawainya
Dan mencuri pandang ke arah Ella yang terlihat cuek. Membuat Marcell tersenyum samar. Oma Yeti memandang Ella remeh.
Vano meletakkan beberapa foto Ella bersama dengan Jo di atas meja. Tangan Ella terulur mengambil fotonya. Ingin sekali Ella berkomentar tentang fotonya dan Jo.
"Mereka memang terlihat sangat serasi." celetuk Ella. "Sangat tampan." jari jemari Ella mengelus foto Jo.
Membuat Mona Yeti dan Lena memandang Ella dengan tatapan sinis. Bisa-bisanya Ella memuji lelaki lain. Di hadapan Vano.
Secara tiba-tiba Vano menyerobot foto yang sedang di pegang Ella dan menyobeknya. Lena tersenyum senang. Dirinya berpikir jika Vano pasti akan marah pada Ella.
Vano memandang tajam ke arah Ella. Sementara sang model hanya tersenyum samar. Ella tahu kenapa Vano menyobek foto tersebut. Pasti karena Ella memuji Jo. Sehingga Vano tidak terima.
"Dasar ******. Van, kamu lihatkan. Betapa murahannya perempuan yang kamu cintai." cibir Lena.
"Kamu cemburu." goda Ella dengan menowel dagu Vano.
Vano secara cepat mengambil tangan Ella yang masih mengambang di udara dan menggenggamnya. "Jangan pernah memuji lelaki lain Ell, atau akan aku habisi dia." geram Vano.
Ella tersenyum mengejek. "Idiihhh,,, kamu tahukan sekarang dia ada di mana. Memang kamu bisa mengambilnya. Tuan Haris Subagyo. Berani." Ella mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
"Awww,,," seru Ella saat Vano mengigit pelan jari Ella. Segera Ella menarik tangannya dari Vano. Dan mengelus bagian yang tergigit.
"Mana aku berani. Yang ada kita tidak jadi menikah." ujar Vano di barengi tawa dari Ella.
Lagi-lagi Marcell tersenyum samar melihat Ella. Dan kali ini tawa Ella yang membuat Marcell tersenyum. "Sungguh cantik." batin Marcell.
Interaksi Vano dan Ella tak luput dari pandangan Oma Yeti dan Lena. Mereka merasa heran. Kenapa Vano sama sekali tidak marah. Malah terlihat biasa saja.
"Brengsek. Pelet apa yang kamu gunakan, ******,,,," batin Lena merasa kesal karena rencananya tidak berhasil.
__ADS_1
Tante Dewi mengambil salah satu foto di atas meja, dan melihatnya.
"Ell,, inikan model lelaki itu. Kamu kenal?" tanya tante Dewi.
"Kenal tante. Kita sesama model pasti kenal." ucap Ella ramah. Tante Dewi memandang Ella, dan sesekali melirik ke arah Vano. Dan Vano hanya menampakan ekspresi datarnya.
Tante Dewi kembali meletakkan foto tersebut. Tante Dewi mengira jika Vano tidak marah pada Ella, karena mereka sesama model. Dan juga, foto tersebut beradegan biasa. Tidak ada yang intim.
"Ternyata foto seperti ini. Pantas Vano tidak marah. Aku pikir foto apaan." batin Tante Dewi melihat ke arah Lena yang sedari tadi memasang wajah masam. Dam memandang ke arah Ella. Tante Dewi hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"Oma, Vano dan Ella datang ke sini untuk memberi kabar bahagia."
"Maksud kamu?" tanya Oma Yeti.
"Dia minggu lagi Vano dan Ella akan menikah." ucap Vano.
"Apa!!" seru Oma Yeti dan Lena bersama.
Marcell dam Tante Dewi hanya diam dan menyimak. Mereka tidak berani berkomentar apapun. Tapi mereka juga kaget dengan kabar tersebut. Lantaran terkesan mendadak.
"Dua minggu lagi." ulang tante Dewi tidak percaya.
"Iya tante, bertepatan dengan ulang tahun saya." jelas Ella membuat Tante Dewi mengerti.
"Vano, apa mata kamu buta. Foto itu sudah membuktikan Van." Oma Yeti benar-benar tidak habis pikir dengan Vano.
Vano tersenyum. "Lalu, aku harus menikah dengan siapa. Kamu." Vano memandang ke arah Lena. "Katakan, apa yang bisa aku banggakan dari dirimu. Apa aku tidak akan malu, jika membawamu menemui rekan bisnisku." cela Vano pada Lena, karena memang Lena hanya bisa menggunakan bahasa negaranya saja.
"Miskin, belagu, tidak tahu diri, sombong. Ingat sayang, tempat mu di mana." timpal Ella melihat ke arah Oma Yeti dan Lena dengan senyum mengejek.
"Kam,,,"
"Dan satu lagi, foto ini." Ella mengambil semua foto di atas meja satu persatu dan melihatnya dengan senyum yang sulit diartikan.
"Ini hanya foto biasa. Cuma seperti ini. Bahkan saya mempunyai koleksi foto bersama para lelaki. Dan yang pasti, lebih dari ini." Ella kembali melempar foto itu ke atas meja.
"Apa kalian mau lihat." Ella sedikit memajukan badannya ke arah Oma Yeti dan Lena.
"Lancang!" teriak Oma Yeti dengan wajah merah karena marah.
"Lihat, apa kamu akan menikahi seorang perempuan seperti dia. Oma tidak akan pernah merestuinya." ucap Oma Yeti sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah Ella.
"Selamanya Oma tidak akan menerimanya masuk ke dalam keluarga besar kita." ucapnya dengan mata melotot ke arah Ella.
Vano hanya diam. Dia tahu jika berbicara dengan Oma Yeti mengenai Ella pasti tidak pernah berakhir baik. Jadi, Vano lebih memilih tidak ambil pusing.
Mau melawan, dia adalah ibu dari mamanya. Perempuan yang sudah melahirkan dan merawatnya. Jadi Vano memilih diam, dan tidak berkomentar. Karena menurutnya, akan percuma. Membuang-buang tenaga dan pikiran.
__ADS_1
Ella meminum air yang memang sudah di sediakan untuknya. "Ella Putri Subagyo. Seharusnya anda tahu itu. Keluarga Subagyo dan keluarga anda. Nyonya Besar Yeti Widarto. Lebih hebat siapa. Apa anda pikir saya perempuan bodoh yang akan melepas nama Subagyo dan masuk ke dalam keluarga,,,, Yang kastanya berada di bawah keluarga saya." ucap Ella penuh penekanan dan tersenyum miring.
Semua hanya diam. Perkataan Ella seperti belati yang tepat mengenai sasaran. Bahkan mulut Oma Yeti terbungkam. Karena memang benar. Keluarga Oma Yeti tidak ada apa-apanya di banding keluarga Ella.
Keluarga Oma Yeti berbeda dengan keluarga Vano. Karena Oma Yeti adalah ibu kandung dari Nyonya Risma. Mamanya Vano. Tapi setelah menikah, Nyonya Risma melepas nama belakangnya.
Dan menjadi bagian dari keluarga Tuan Danto. Sementara Vano juga menyandang nama dari keluarga Tuan Danto. Vano Reyandli.
"Dan ingatlah Nyonya Besar. Tidak ada niat saya melepas nama belakang saya. Bahkan jika itu untuk keluarga Tuan Danto." ucap Ella tegas.
"Sayang,,, mana bisa. Setelah menikah kamu akan menjadi Nyonya Muda keluarga Reyandli." ucap Vano membawa telapak tangan Ella ke genggamannya.
"Van, itu hanya sebutan. Namaku akan tetap seperti semula." kekeh Ella.
"Tapi sayang..."
"Jadi nikah nggak."
"Iya jadi." Vano mencium pipi Ella. Membuat sang model tersenyum.
Perlakuan Vano pada Ella mendapat sorotan dari semuanya. Vano yang notabennya adalah seorang dengan sifat dingin dan sombong. Seketika mencair di hadapan Ella.
"Semoga kalian selalu bahagia." ujar Tante Dewi melihat kemesraan keduanya.
Vano hanya mengangguk kecil. "Terimakasih tante." ucap Ella.
"Oma, semuanya. Kami pamit. Tante, nanti undangannya akan di antar ke rumah tante." ucap Vano.
"Iya, tante tunggu sayang." baru kali ini Vano berbicara panjang pada tante Dewi. Bahkan sebelumnya, Vano tidak pernah berinteraksi dengan dirinya. Vano hanya akan menjawab seperlunya saja. Itupun dengan jawaban yang sangat singkat.
"Oh ya Lena. Aku hampir melupakan sesuatu." Ella berdiri dan mengambil tas nya. "Jika menginginkan sesuatu, kamu seharusnya mengaca dulu. Tenang saja, jika di rumahmu tidak ada kaca. Bukankah di sini banyak. Bukankah rumah ini rumahmu juga." ucap Ella sekalian menyindir Oma Yeti.
Ella berdiri dari duduknya dengan tangan bergelayut pada Vano yang sudah berdiri lebih dulu. "Kamu bisa memiliki semua kaca di sini Lena. Karena kamu adalah asisten dari Nyonya Yeti." cibir Ella seakan perkataannya mengingatkan Lena. Siapa Lena.
"Kalau saya, saya tidak perlu menggunakan kaca. Karena beginilah saya sedari kecil." ucap Ella semakin merendahkan Lena.
Dari balik pintu, ada dua pelayan di rumah Oma Yeti yanga sedang mengintip perdebatan mereka. Senyum tampak merekah di bibir mereka.
"Lena, Lena. Dia terus saja meminta Nyonya Besar untuk di nikahkan dengan Tuan Muda Vano. Mana bisa. Di lihat dari manapun Nona Ella lebih baik dari kamu. Dasar tidak tahu diri." omelnya.
"Dia ingin hidup kaya. Tapi secara instan."
"Kenapa tidak jual tubuhnya saja. Di luar banyak om-om hidung belang. Lumayan kan jika bisa jadi simpanan om kaya."
"Nggak laku."
Mereka berdua segera pergi dari balik pintu saat melihat Ella dan Vano berjalan ke arahnya.
__ADS_1