
Malam hari, Ella dan Vano menghabiskan waktu di gazebo belakang rumah. "Apa yang kamu lakukan seharian ini?" tanya Vano, dengan jari menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah cantik Ella.
"Kenapa harus bertanya. Seharusnya kamu sudah tahu." jawab Ell dengan nada sinis, sembari memeluk badan Vano dari depan. Meletakkan wajahnya di dada bidang milik sang suami.
Vano terkekeh pelan mendengar jawaban dari Ella. Karena apa yang dikatakan oleh sang istri semua memang benar adanya. Karena Rio akan memberi tahu semua dan setiap kegiatan, juga gerakan yang dilakukan Ella pada dirinya.
"Aku hanya ingin mendengar dari mulut istriku secara langsung." ucap Vano mencium pucuk kepala Ella. Vano merasa lega. Kekhawatirannya yang dirasakan sejak berada di perusahaan tidak terjadi.
"Kenapa?" tanya Vano, saat Ella mengalihkan posisinya menyandar di badan sang suami. Dengan bersedekap dada. Tetap menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Vano
"Dingin." tanya Vano mendekap tubuh sang istri dari belakang.
"Bagaimana perusahaanmu." tanya Ella.
"Baik. Berjalan sesuai apa yang suamimu inginkan." bisik Vano.
Vano dengan cepat menyelesaikan masalahnya dengan salah satu perusahaan lawan. Dimana pemilik perusahaan tersebut bahkan dengan berani menyerang Ella di tengah jalan.
Tapi Vano bergerak cepat. Dirinya segera menyuruh Reza untuk menyelesaikannya. Hingga perusahaan tersebut tidak punya pilihan lain, selain tunduk pada kemauan Vano.
Sehingga pemilik perusahaan tersebut pasti memiliki rasa dendam. Dan pastinya, Vano sudah mempersiapkan sesuatu. Seandainya dia masih berani melawan bahkan mencari masalah dengan Vano.
Bahkan Vano tak akan berpikir dua kali untuk membuat perusahaan tersebut gulung tikar saat itu juga.
"Bagaimana dengan Viki? Apa dia sudah mengajukan kerja sama?" tanya Ella, memegang erat lengan sang suami yang melingkar di depan dadanya.
"Tidak. Dan aku berharap dia tidak memberikan kertas berisikan kerja sama." ucap Vano.
Ella mendongakkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Ella dengan bibir cemberut.
Vano memegang rahang Ella. Merasa gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh sang istri. Mencium seluruh wajah sang istri yang sedang mendongak, melihat ke arah wajahnya.
"Van,,, geli." Ella menahan kepala sang suami, mendorongnya ke atas. Vano terkekeh mendapat perlakukan seperti itu dari Ella.
"Viki itu temanku." celetuk Ella memegang lengan kanan Vano, dan menyenderkan kepalanya di bahu kanan milik Vano.
"Tapi aku merasa sedikit geli-geli gimana gitu." ucap Vano sambil bergidik, seperti membayangkan sesuatu.
"Apa sih Van." Ella memukul lengan sang suami. Ella tersenyum melihat ekspresi Vano yang menurutnya lucu saat berbicara.
"Aku sampai membayangkan, jika aku berdua dengan Viki. Di dalam ruangan,,,, astaga." Vano memeluk semakin erat tubuh sang istri, membayangkan sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding semua.
"Van." Ella memukul lengan Vano. "Sesak." imbuh Ella.
Vano melonggarkan pelukannya, sementara Ella tertawa terbahak. Sampai keluar air mata di sudut mata Ella. Dirinya dapat menebak, apa yang sedang berputar di dalam pikiran sang suami.
"Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh. Lagi pula, mana mungkin Viki melakukan semua itu pada kamu." ucap Ella mengusap sudut matanya yang berair.
"Memangnya kamu tidak cemburu." tanya Vano mencium pipi sang istri dari samping.
"Tidak." geleng Ella.
"Jahatnya." ucap Vano merajuk.
"Jika kalian mau. Aku ikhlas berbagi dengan Viki." ucap Ella cekikikan.
"Kamu pikir suamimu mau. Dasar." Vano menguyel-uyel gemas pipi sang istri.
"Kenapa?" tanya Ella, saat tiba-tiba Vano terdiam.
"Tidak, hanya sedikit kasihan saja. Bagaimana Viki menjalani hidup selama ini." ujar Vano.
"Van.." panggil Ella dengan nada lembut.
"Iya." Vano mengelus pipi istri yang selicin porselen.
"Lapar." cicit Ella. Padahal keduanya baru saja selesai makan malam.
"Tuan Putri mau makan apa?" tanya Vano dengan mesra.
"Sate tahu." jawab Ella.
"Sate tahu." gumam Vano, meras aneh dengan permintaan sang istri.
"Mana ada." ujar Vano. Karena setahu Vano, yang namanya sate adalah berasal dari daging.
"Kamu itu. Ada, ayo." Ella berdiri dan menarik tubuh Vano supaya ikut berdiri.
"Benar? Dimana?" tanya Vano merasa heran dan juga masih sedikit tidak percaya dengan permintaan sang istri.
"Makanya, ayo ikut aku." ajak Ella.
"Serius. Ada." Vano menatap Ella.
__ADS_1
"Ada." seru Ella.
Ella mengajak Vano keluar mencari sate tahu yang diinginkan oleh Ella.
"Ini?" tanya Vano dengan mengambil satu tusuk sate tahu dan melihatnya dengan memutar.
"Makan saja. Enak kok." ucap Ella dengan tangan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Ella membawa makanan tersebut pulang ke rumah. Lantaran ada sedikit drama dengan Vano. Dia tidak mau makan di tempat tersebut.
Alhasil, Ella harus mengalah dan membungkusnya. Lalu di makan di rumah.
Vano menaruh kembali sate tahu yang sudah dipegang di tangan. Ada rasa enggan untuk memakannya.
Berbeda dengan Ella. Dia makan dengan lahap. Seolah tidak terpengaruh oleh Vano yang tidak mau memakannya.
"Kamu sering makan ini?" tanya Vano melihat sang istri makan dengan lahap.
"Tidak. Tapi pernah. Sewaktu masih berseragam putih abu-abu. Aku dulu sering makan ini. Bersama Viki dan Denis." jelas Ella.
"Kamu beneran, nggak mau?" tanya Ella. Vano hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Ya sudah. Aku makan semua saja."
"Ell, nanti perutmu sakit." ucap Vano mengingatkan.
"Tidak akan. Ini tidak pedas sama sekali." ujar Ella.
Vano berdiri. Masuk ke dapur. Membuatkan susu untuk Ella. Susu yang diperuntukkan untuk ibu hamil.
"Terimakasih." ucap Ella, saat Vano meletakkan segelas susu di meja depan Ella.
Vano mengusap pelan kepala Ella dan terkekeh. "Sudah?" tanya Vano setelah semua makanan di depan Ella ludes masuk ke dalam perut sang istri. Beserta segelas susu ibu hamil.
"Kita istirahat. Malam sudah larut." ucap Vano.
"Tidak baik, ibu hamil tidur terlalu larut." imbuh Vano.
Vano dan Ella berjalan menaiki anak tangga, tanpa membersihkan meja makan yang berantakan. Karena sudah ada pembantu yang akan membersihkannya.
Ella lebih dulu membersihkan badan. Berganti pakaian dengan menggunakan piyama tidur. Setelah sang istri selesai, Vano juga mengikuti ritual tersebut.
"Van,, aku mau tidur." ucap Ella, saat Vano memeluknya dari belakang.
"Tidur saja. Pejamkan matamu." ucap Vano, mencium tengkuk Ella, sedikit menjilati dan juga mengigit kecil.
Sementara tangan Vano yang satunya, sudah bergerilya. Membelai bagian tubuh Ella yang lain. Yang lembab dan sedikit berair. Dimana tempat tersebut adalah tempat favorite bersarangnya senjata milik Vano.
"Mana bisa aku tidur, emmmhh..." ucap Ella disertai lenguhan.
"Pejamkan saja matamu. Biar aku yang bermain sendiri." ucap Vano tersenyum jahil.
"Mana bisa.... ahhhhh."
Apa yang dikatakan Ella pasti percuma. Vano tidak akan melepaskannya begitu saja. Apalagi sudah terdengar deru nafas Vano yang sudah terbakar gairah.
Kini, Ella hanya bisa pasrah. Menuruti keinginan sang suami. Erangan dan ******* silih bersahutan di dalam ruangan yang luas tersebut.
Bahkan, entah bagaimana caranya. Keduanya sudah polos. Tanpa benang sehelaipun yang menempel di tubuh keduanya.
Hawa dingin yang terasa sejak tadi langsung sirna sekaligus. Tergantikan oleh hawa panas dari dua insan yang tengah merasakan nikmatnya melakukan olah raga panas di atas ranjang. Saling bertukar saliva dan juga keringat.
Setelah berjibaku selama puluhan menit dengan gairah, akhirnya keduanya sama-sama merasakan pelepasan pertama. Merasakan bagai terbang ke nirwana.
"Makasih." Vano mencium kedua kelopak mata Ella, turun ke hidung mancung milik sang istri. Berakhir di bibir Ella yang sudah sedikit membengkak.
Ella mendorong badan Vano, karena terlihat Vano sangat menikmati bibir seksi miliknya. Dan Ella tahu, jika dibiarkan tidak mungkin sang suami akan meminta ronde selanjutnya.
"Ngantuk." ucap Ella dengan nada manja.
"Iya." Vano menghentikan gerak bibirnya. Membawa sang istri dalam pelukannya.
Sebenarnya Vano masih menginginkan ronde selanjutnya. Namun dirinya harus menahan keinginannya.
Lantaran sekarang di perut sang istri telah tumbuh Vano junior. Dirinya tidak boleh egois. Dan hanya memikirkan keinginannya saja.
Ella tersenyum samar. Karena biasanya, Vano pasti akan meminta ronde kedua meskipun Ella sudah menolaknya. Tapi malam ini, satu kali pelepasan Vano sudah berhenti.
"Bersihkan dulu, sebelum tidur." bisik Vano. Dengan malas, Ella bangun. Hendak mengambil piyama untuk di pakainya. Tapi tangan Vano sudah mengangkat tubuhnya terlebih dahulu.
"Eeee...." seru Ella saat tubuhnya sudah melayang di udara.
"Kita bersihkan bersama." ucap Vano, seraya menggendong tubu sang istri di depan. Dengan keduanya masih dalam keadaan polos.
__ADS_1
"Hanya membersihkan. Tidak lebih. Tidak perlu khawatir Nyonya." ucap Vano mencium gemas pipi sang istri.
Karena Ella menatap Vano dengan tatapan menyelidik dan penuh curiga.
Vano menurunkan tubuh sang istri dengan pelan di kamar mandi. "Aku sendiri saja." tolak Ella, saat tangan Vano terulur ingin membasuh bagian sensitif mulik sang istri.
"Lebih baik kamu bersihkan punya kamu saja." ujar Ella, melirik ke arah milik Vano yang seperti belalai.
"Oke." sahut Vano.
"Vano..." seru Ella dengan kedua mata melotot, karena Vano malah mendekatkan senjatanya ke arah pantat milik sang istri.
"Apa...." goda Vano. Membuat Ella semakin kesal.
"Tidak sayang. Jangan..!!" seru Vano tersenyum dan melangkah mundur, dengan kedua tangan di angkat ke atas. Karena Ella sudah memegang gagang shower yang di arahkan pada dirinya.
Ella meletakkan gagang shower dengan bibir cemberut, tangannya juga sibuk membersihkan bagian tubuhnya yang kotor.
"Bibir bibir. Jaga bibir jika tidak ingin dicium." ucap Vano bersenandung dengan tangan juga sibuk membersihkan pusaka miliknya. Padahal Vano sengaja menggoda sang istri, sebab bibir Ella yang masih cemberut.
Ella segera keluar dari kamar mandi selesai membersihkan tubuhnya. Membuat Vano tersenyum. "Santai sayang, aku tidak akan memakanmu lagi." teriak Vano.
"Perempuan hamil tidak boleh tidur larut malam." oceh Ella menirukan perkataan sang suami. Vano yang mendengarnya hanya tertawa lepas di dalam kamar mandi.
Apalagi pintu kamar mandi tidak tertutup. Menjadikan Vano dapat mendengar dengan jelas perkataan Ella. Dan dapat melihat tingkah sang istri yang menurutnya lucu.
Tidak ingin berlama-lama, Ella segera memakai piyamanya kembali. Dan segera merebahkan badannya. Karena rasa kantuknya sudah menyerang kedua matanya.
"Kenapa tidak memakai selimut." ucap Vano, yang hanya memakai celana pendek. Menyusul sang istri yang sudah berad di atas ranjang terlebih dahulu.
Vano menarik selimut, menutupi tubuh keduanya dengan selimut tersebut. "Astaga." gumam Vano, ternyata Ella sudah masuk ke dalam dunia mimpi.
"Cepat sekali kamu tidurnya." gumam Vano terkekeh pelan, mencium pipi sang istri. Dan membawa ke dalam pelukannya.
Pagi hari, Ella merasa mual. Segera dia bangun, bergegas menuju kamar mandi. Tapi seperti pagi-pagi sebelumnya. Ella hanya muntah biasa. Tidak begitu parah. Suaranya tidak sampai membangunkan Vano.
Setelahnya, Ella langsung mencuci muka dan menggosok gigi. Keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.
Laptop. Ella teringat akan laptopnya. "Pasti sudah selesai." ucap Ella.
Ella melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana dirinya menyimpan laptop tersebut. "Nanti saja. Lagipula sebentar lagi Vano pasti akan bangun." gumam Ella.
"Sayang, bagun." Ella dengan pelan menggoyang tubuh Vano.
"Euggghhhh." Vano melenguh dengan kedua tangan di rentangkan ke samping, meregangkan otot-ototnya.
"Pagi." ucap Ella, saat Vano mulai membuka kedua matanya.
"Pagi mama. Pagi kakak." sahut Vano dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
Vano mencium pipi sang istri dan juga perut Ella, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Ella menyiapkan pakaian kerja untuk Vano.
Sembari menunggu sang suami mandi, Ella memainkan ponsel miliknya. "Hana." gumam Ella.
Teringat akan sahabatnya tersebut. Karena sampai sekarang, Hana sama sekali tidak memberi kabar pada dirinya.
"Telpon apa tidak ya." gumam Ella. Dirinya sedikit ragu saat akan menghubungi Hana.
Suara pintu terbuka, mengalihkan pandangan Ella. Segera Ella meletakkan ponselnya. Dan menghampiri sang suami.
Membantu Vano memakai pakaian. "Selesai." ucap Ella. Dengan sentuhan terakhir memakaikan jas pada tubuh kekar milik sang suami.
"Biar aku saja." ucap Vano, saat Ella hendak mengambil tas kerja milik Vano.
Keduanya berjalan turun dari tangga. Menuju ruang makan. "Sepertinya kamar kita harus berpindah ke bawah." ucap Vano di sela-sela sarapan.
"Iya." sahut Ella. Membenarkan perkataan sang suami. Lantaran akan sangat berbahaya untuk Ella yang sedang hamil naik turun tangga.
"Besok saja, jangan sekarang." cicit Ella.
Selesai sarapan, Ella mengantar Vano berangkat kerja sampai teras rumah. "Nanti mau kemana?" tanya Vano.
"Di rumah saja." jawab Ella. Karena memang hari ini dirinya tidak ada kegiatan untuk keluar dari rumah.
"Hati-hati di rumah." Vano mengecup lembut dahi sang istri sambil memeluknya.
"Papa juga. Hati-hati." ucap Ella dengan nada terdengar manja di telinga Vano.
"Rasanya tidak ingin berangkat kerja" ucap Vano masih memeluk badan sang istri dengan erat.
"Van.. sana. Cepat berangkat." Ella mendorong pelan tubuh Vano, menjauh darinya. Ella masuk ke dalam rumah setelah mobil Vano sudah tak terlihat lagi.
Segera Ella pergi ke dalam kamar. Mengambil laptop yang dia sembunyikan. Ella duduk di atas tempat tidurnya dengan duduk bersila. Tangannya mulai menyalakan laptop.
__ADS_1
"Sudah selesai. Saatnya melihat hasilnya." ucap Ella.