
Di perusahaan, Vano dibuat ketar ketir dengan pertemuan antara Hana dan Ella. Vano mengetahui pertemuan keduanya dari Rio. Bahkan sekarang, Vano tidak bisa konsentrasi pemimpin jalannya rapat.
Rio juga menjelaskan jika Ella tidak sengaja bertemu dengan Hana di jalan. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk bersama dan berbincang di taman.
Bukan tanpa alasan Vano merasa takut. Vano sangat tahu siapa Ella. Dia akan dengan mudah mengetahui sesuatu saat lawan bicaranya melakukan kesalahan atau merubah ekspresi wajahnya.
Vano takut jika sampai Hana mengungkapkan kejadian malam itu tanpa sengaja. Vano yakin jika Hana tidak akan mungkin bercerita pada Ella. Karena jika Hana menginginkannya, pasti sudah sedari dulu dia mengatakan pada Ella.
Lagi pula, Hana tidak akan berani membuka aibnya sendiri. Dan yang lebih masuk akal, keluarga Ella sudah banyak membantu keluarga Hana. Jadi dapat dipastikan, Hana tidka akan bercerita pada siapapun.
Tapi bisa saja Hana melakukan kesalahan kecil saat berbicara dengan Ella. Dan Jangan pernah meremehkan insting seorang Ella. Dia sangat peka.
"Tuan." panggil Reza pada Vano, tapi Vano nampak hanya diam. Dengan pandangan menatap jauh ke depan.
"Khemm,,, Tuan." Reza menepuk pelan pundak Vano.
Segera Vano kembali tersadar. Seluruh karyawan yang berada di ruang rapat merasa heran. Karena sebelumnya, atasan mereka tidak pernah bersikap demikian saat memimpin rapat.
"Lanjutkan." ucap Vano dengan tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa ada sesuatu?" tanya Ella pada Hana. Saat Hana menghela nafas. Seolah ada beban berat yang menghimpit di dadanya. Membuatnya susah untuk bernafas.
"Hubunganku dan Denis semakin jauh." ucap Hana tersenyum hambar.
Dan Ella, dirinya hanya diam. Tidak menyahut kalimat yang baru di keluarkan dari mulut sahabatnya tersebut. Ella membiarkan Hana menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.
"Sudah lebih dari seminggu kita tidak bertemu. Padahal kita masih tinggal dalam satu kota." ucap Hana tersenyum nanar.
Ella menepuk pelan pundak Hana. "Katakan semuanya. Supaya perasaanmu lega. Supaya tidak ada beban yang menghimpit dadamu." ucap Ella.
"Denis mengajari saudaranya untuk berbisnis. Dia seorang perempuan. Dan aku yakin, mama Denis pasti sengaja melakukannya."
"Beliau pasti ingin menjauhkan kami secara perlahan. Dan membuat Denis lebih dekat dengan saudara jauhnya."
"Setiap hari beliau mengirimiku foto Denis bersama perempuan tersebut." Hana mengambil ponselnya. Menyerahkan pada Ella.
Ella melihat satu persatu foto Denis bersama dengan seorang perempuan. Dimana Hana bilang jika dia saudara jauh dari mamanya Denis. Lebih dari sepuluh foto mereka yang berada di dalam ponsel milik Hana.
Ella mengamati secara mendetail foto tersebut. Memang tampak jelas di beberapa foto saat mereka bersama dan saling melempar senyum.
Tapi dapat Ella pastikan, jika Denis hanya tersenyum biasa. Ella bisa melihat dari tatapan Denis pada perempuan tersebut memang hangat. Tapi karena mereka saudara. Tidak lebih.
"Mereka setiap hari bersama. Di rumah, di perusahaan. Tidak mungkin, jika...." Hana tidak melanjutkan perkataannya.
Rasanya hati Hana seperti tertusuk ribuan jarum. Membayangkan jika Denis dan perempuan tersebut mempunyai hubungan.
Hana mengambil dan mengeluarkan nafas dengan pelan. Menengadahkan kepala. Mengedip-ngedipkan kedua matanya. Supaya air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya tidak keluar.
"Bicaralah dengan Denis." saran Ella.
"Dia selalu berkata sibuk, saat aku ingin bertemu." ucap Hana lirih, menundukkan kepala.
Terlihat kedua pundak Hana bergerak. Menandakan dia sedang menangis. Ella berdiri dan mendekat pada Hana. Memeluk sahabatnya tersebut.
"Apa mungkin Denis..." Hana sudah tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia memeluk erat tubuh Ella. Menenggelamkan wajahnya di perut Ella. Karena posisi Ella sekarang sedang berdiri di samping Hana.
"Sudah, jangan menangis." Ella mengurai pelukannya. Mengusap air mata di pipi Hana.
"Kamu masih mencintai Denis?" tanya Ella. Hana mengangguk pelan dengan air mata masih terjatuh di pipi Hana.
"Jika begitu. Katakan semua pada Denis. Tentang mamanya. Sebuah hubungan harus saling terbuka. Jangan menyembunyikan apapun." saran Ella. Tapi Hana menggeleng.
"Kenapa?" tanya Ella.
"Aku tidak ingin Denis dan mamanya bertengkar." cicit Hana masih sesegukan.
"Bodoh." Ella menyentil pelan dahi sahabatnya.
"Jika Denis tahu, kalian berdua bisa membicarakannya. Jadi, kamu tidak merasa berjuang seorang diri dalam hubungan ini." jelas Ella.
"Jika Denis memang benar-benar mencintai dan masih menginginkan kamu, dia akan percaya pada kamu. Dan akan memikirkan cara, bagaimana mama Denis bisa menerima hubungan kalian berdua."
"Tapi jika Denis tidak percaya. Berarti kamu harus melepaskan dia. Denis memang sahabatku sedari SMA. Tapi kamu juga sahabatku. Aku tidak akan memihak salah satu dari kalian."
"Yang aku inginkan, kalian tetap bersama. Tapi, jika memang kalian tidak berjodoh. Setidaknya, jangan sampai ada rasa sakit hati dan sesal di hati kalian."
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Ella pada Hana. Dan Hana mengangguk pelan.
"Setelah ini, kita akan bertemu dengan Denis." ucap Ella.
"Sekarang?" tanya Hana memastikan.
"Iya."
"Bagaimana dengan mama Denis. Aku takut jika kamu nanti akan terseret dalan masalahku Ell." cicit Hana merasa takut.
Ella memegang kedua pundak Hana. Menatap ke arah Hana dengan serius. "Yang perlu kamu pikirkan, adalah bagaimana akan berbicara dengan Denis. Jangan sampai Denis dan mamanya bertengkar. Sebisa mungkin, ajak Denis meluluhkan hati mamanya bersama dengan kamu."
"Supaya mamanya Denis bisa menerima hubungan kalian." ucap Ella.
"Dan untuk aku. Kamu tidak perlu khawatir. Ella bukan perempuan yang mudah di tindas. Dan aku jamin. Mamanya Denis tidak akan berbuat macam-macam dengan ku."
"Kamu percaya?" tanya Ella pada Hana.
"Percaya. Kamu tahu sendirikan Ell, tidak ada orang yang aku percaya selain keluargamu dan keluargaku." ucap Hana.
"Ayo." ajak Ella pada Hana.
"Kita ke perusahaan Denis." ucap Ella pada Rio.
"Kita belum membuat janji." celetuk Hana, saat mereka sudah berada di dalam mobil. Melaju menuju perusahaan Denis.
"Untuk apa?" tanya Ella tersenyum.
Hana memandang Ella. "Aku pernah datang ke sana. Tapi tidak di perbolehkan masuk. Katanya harus buat janji dulu." ucap Hana lirih.
"Lalu?" tanya Ella penasaran.
"Aku mencoba menghubungi Denis. Tapi tidak di angkat. Kata resepsionis, Denis sedang bertemu dengan tamu penting."
"Lalu?" tanya Ella kembali.
"Aku pulang." jawab Hana pelan.
"Setelahnya, apa kamu tidak memberitahu Denis, jika kamu pergi ke perusahaan untuk menemuinya." ujar Ella, mendapat gelengan dari Hana.
"Mulai sekarang, kamu harus menceritakan semuanya pada Denis. Jika kamu selalu menutupinya, bagaimana Denis bisa tahu." kesal Ella.
"Kan ada kamu." ucap Hana.
"Beda sayang. Aku dan Denis berbeda. Aku mungkin akan selalu mendengar setiap kamu bercerita. Dan memberikan saran. Serta membantu sebisaku."
"Tapi Denis, dia lelaki yang mungkin akan hidup bersama denganmu. Kalian akan menjalani semuanya berdua."
"Jika bisa, jangan sampai ada orang luar yang ikut campur masalah kalian. Bahkan keluarga kalian sekalipun. Selesaikan masalah tanpa melibatkan orang lain."
"Karena orang lain, biasanya malah akan memperkeruh keadaan. Paham." ucap Ella.
"Aku akan mencoba." ucap Hana.
"Harus." ucap Ella.
Rio sesekali mencuri pandang ke kursi belakang. Dengan telinga terbuka sempurna. Mendengarkan percakapan antara Ella dan Hana.
"Ternyata bisa bersikap bijaksana juga." batin Rio, menilai Ella.
Sampai di perusahaan, Ella dengan mudah membawa Hana menemui Denis. Tapi saat di depan ruangan Denis. Keduanya bertemu dengan saudara Denis. Lyra.
Hana hanya diam. Begitu juga Ella. Meskipun mereka berdua sudah tahu dari foto yang dikirim mama Denis. Mereka berdua seolah tidak mengenalnya. "Denis ada?" tanya Ella pada sekertaris Denis.
"Untuk apa mencari Denis?" tanya Lyra, sebelum sekertaris Denis menjawab pertanyaan Ella.
Ella tersenyum dan memandang ke arah Lyra. "Hanya berkunjung saja." jawab Ella.
"Jika tidak ada kepentingan, kalian bisa tinggalkan perusahaan ini. Denis sedang sibuk." ucap Lyra dengan angkuh.
Sekertaris Denis hanya diam. Tidak berani membuka mulutnya. Karena dia takut jika sampai salah berbicara. Karena dia tahu siapa yang sedang berada di depannya.
Lyra, saudara dari atasannya. Dan Ella, sahabat dari atasannya. Begitu juga dengan Hana. Dia hanya diam dan memandang ke arah Lyra. Karena sesungguhnya, hati Hana merasa khawatir.
"Begitukah?" tanya Ella sedikit mendesah kecewa.
Ella mengeluarkan ponsel dan menghubungi Denis. "Gue ada di depan ruangan elo." ucap Ella setelah panggilannya di jawab oleh Denis. Dan segera memastikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Ell..." seru Denis begitu membuka pintu.
"Hana, sayang." ucap Denis mendekat dan langsung memeluk Hana.
"Ekhmmm." dehem Ella. "Gue yang telepon elo. Gue ingetin kalau lupa." celetuk Ella sinis.
Denis melepas pelukannya pada Hana. "Gue nggak lupa." ucap Denis mencubit gemas hidung mancung Ella dan memeluknya.
Sementara Lyra, dia merasa kesal. Menggenggam erat telapak tangannya, melihat cara Denis memperlakukan kedua perempuan di depannya.
"Gue juga kangen." ucap Denis mengurai pelukannya pada Ella.
"Tapi elo peluk Hana duluan dari pada gue." rajuk Ella dengan ekspresi lucu. Yang sebenarnya Ella sengaja melakukan semua itu.
Hana tersenyum melihat Ella dan Denis bergantian. "Ell,,, dia kekasih gue. Elo lupa." Denis menoyor pelan kepala Ella.
"Gue sahabat elo. Elo lupa." gantian Ella menyentil dahi Denis.
Ella melirik ke arah Lyra. Tampak Lyra merasa sebal saat Denis berkata jika Hana adalah kekasih dia. Dan apa yang di inginkan Ella berhasil. Bibir Ella tersenyum samar.
Setidaknya, Denis masih mencintai Hana. Dan secara tidak langsung, Denis berkata pada Lyra jika dirinya masih menjadi kekasih dari perempuan bernama Hana.
"Elo begitu sibuknya. Sampai karyawan elo bilang gue nggak boleh masuk nemuin elo." ucap Ella dengan mode masih merajuk.
"Karyawan." ucap Denis merasa heran.
"Dia." tunjuk Ella pada perempuan yang berdiri di belakang Denis.
Segera Denis membalikkan badan. "Maaf Den, aku hanya tidak mau kamu terganggu." ucap Lyra dengan lembut.
"Iya, nggak apa-apa." ucap Denis.
"Seharusnya elo tu buat pengecualian. Dan juga kasih tahu semua karyawan. Kalau kita bertiga bebas ketemu sama elo. KAPANPUN." ucap Ella penuh penekanan.
"Gue, Viki, dan Hana. Kekasih elo." imbuh Ella.
"Iya bawel." ucap Denis.
"Hampir lupa. Kenalkan, dia Lyra. Saudara gue. Dia di sini karena sedang belajar bisnis." ucap Denis memperkenalkan Lyra.
"Dan dia Ella. Sahabat aku. Sementara dia." Denis merangkul Hana dengan mesra. "Dia Hana, kekasih aku." ucap Denis mencium singkat pipi Hana.
"Denn,,,!" ucap Hana.
Denis tertawa pelan. "Kenapa mesti malu." Denis mencubit gemas dagu Hana.
"Nona Lyra belajar bisnis di sini?" tanya Ella dengan ramah.
"Iya." jawab Lyra dengan senyum.
"Gue nggak sangka, keluarga elo jatuh miskin." celetuk Ella melihat ke arah Denis.
"Sampai elo nerima seseorang untuk belajar bisnis di perusahaan elo. Buka les privat pak." celetuk Ella dengan tawa renyah.
Lyra mengepalkan tangan dengan rahang mengeras mendengar perkataan Ella. "Elll..!!!" seru Denis memandang tajam ke arah Ella.
Lyra tersenyum. Dia menyangka jika Denis akan bersikap kasar pada Ella. "Kalau elo mau elo bisa belajar di sini." ucap Denis mengerlingkan sebelah matanya.
"Apa!!" batin Lyra. Yang mengira Denis bakal marah dengan perkataan Ella. Malah Denis bersikap santai. Hana melihat ke arah Lyra. Dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Gue belajar di sini. Apaan." ucap Ella sombong.
"Gue nggak level belajar di perusahan elo. Dengan mudah gue bisa hancurin perusahan elo." imbuh Ella pongah.
"Jangan dong Ell, gue butuh banyak duit buat nikah." ucap Denis seperti seseorang yang teraniaya.
"Iyakan sayang?" tanya Denis dengan lembut menatap ke arah Hana. Dan Hana tersenyum malu.
"Gue capek. Gue butuh kursi." oceh Ella.
"Sayang, kita masuk yuk." ajak Denis menggandeng mesra tangan Hana dan mengajaknya masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Ella.
"Kalian, benar-benar ya." rajuk Ella.
"Maaf Nona Lyra, saya mau menyusul pasangan kekasih ke dalam ruangan. Takutnya mereka melakukan hal yang mesum." ucap Ella tersenyum, meninggalkan Lyra yang hatinya pasti sedang dongkol.
Lyra menghentakkan kakinya ke lantai sepeninggal mereka. Sekertaris Denis berpura-pura tidak melihat.
__ADS_1
"Nyonya Ella. Benar-benar hebat." puji sekertaris setelah Lyra meninggalkan dia sendirian di mejanya.
Karena sebenarnya para karyawan di perusahaan Denis kurang begitu suka dengan Lyra. Karena kesombongannya. Dan berlagak seolah dirinya sama seperti Denis.