
Vano membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah Vera. Tatapan matanya tajam mengarah ke Vera.
"Jangan uji kesabaran ku. Satu kata saja keluar dari mulutmu. Kau akan menyesal pernah di lahirkan."
Vano mencengkeram kuat dagu Vera menggunakan tangannya dengan tatapan membunuh.
"Hah, hah, hah." Vera memegang dagunya yang terasa masih sakit.
Dipandangnya tubuh Vano yang berjalan keluar dari kamar. Sekujur tubuh Vera merasa merinding takut saat mendengar ancaman dari Vano.
"Huh, padahal gue nggak kalah dari Ella. Malah oke gue ke mana-mana dari pada anak kemarin sore itu." gumam Vera masih merasakan sedikit rasa takut di hatinya.
"Apa yang akan dilakukannya, jika gue ngasih tahu Ella. Ahhh,,, gue lihat saja nanti. Nggak perlu gue mikir sekarang." Vera memegang kartu kredit yang Vano tinggalkan di atas nakas.
"Padahal belum apa-apa. Sudah ngasih segini. Gimana kalau gue beneran bisa ngedapetin dia. Apalagi bisa menjadi Nyonya Vano." Vera tersenyum sambil membayangkan sesuatu di benaknya.
"Ke mana perginya Nona Ella. Apa dia ada di rumahnya. Tapi kata Satpam di rumah, Non Ella belum pulang." ucap Reza di balik kemudi.
"Aaa,,,, benar-benar membuat gue pusing. Ternyata dia juga pandai menyembunyikan diri." Reza menatap ke arah jam yang melingkar di tangannya.
Sudah 4 jam lamanya dia mencari keberadaan Ella. Tapi Reza maupun anak buahnya belum menemukan keberadaannya. Hal ini membuat Reza frustasi. Karena biasanya, dia akan dengan cepat menemukan keberadaan seseorang dengan mudah.
Ponsel Reza berbunyi.
"Aku akan segera ke sana. Jangan beritahu siapapun dulu."
Reza menutup panggilan teleponnya dan bergegas ke tempat yang telah di sebutkan oleh seseorang di ujung telepon.
"Kamu yakin." tanya Reza pada anak buahnya.
"Yakin bos. Ada yang melihat Nona Ella masuk ke dalam hotel ini. Tapi,,," ucapnya menghentikan perkataannya.
"Tapi apa!" bentaknya.
"Tidak ada nama Nona Ella di list buku hotel." ucapnya dengan menundukkan wajah.
"Tunggu di sini. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan segera hubungi aku." Reza melangkahkan kakinya menuju ruang pengawasan.
Di mana di ruangan tersebut terdapat banyak layar, yang menunjukkan gambar di setiap lorong hotel.
"Tapi Tuan, saya tidak berani. Ini menyalahi aturan." ucap karyawan hotel bagian pengawasan.
"Lakukan, atau aku akan melakukan sesuatu." Reza menyingkap sedikit jasnya bagian bawah yang memperlihatkan sebuah pistol di pinggangnya.
"Pasti kau tahu siapa aku. Dengan mudah aku bisa menemukan keluargamu. Kamu tahukan maksud ku." ancam Reza.
Tanpa banyak kata, pegawai tersebut mencari keberadaan Ella melalui CCTV hotel. Reza berdiri dengan mata melihat setiap gambar yang memperlihatkan Ella.
"Kamar 909." ujar pegawai hotel.
Dengan langkah pasti, Reza menuju kamar tersebut. Sampai di depan kamar, Reza memakaikan sarung pada telapak tangannya. Dan mengeluarkan alat kecil dari saku kemejanya.
__ADS_1
Entah apa yang di lakukan pada tombol pintu masuk kamar Ella. Dia melakukan dengan sangat santai. Tidak ada rasa takut pada dirinya jika ketahuan pengunjung ataupun karyawan hotel. Bahkan pada CCTV yang sedang menyorot pada dirinya.
"Selesai." Reza memandang ke arah CCTV di dekatnya. Tatapan matanya seperti mengisyaratkan sesuatu pada siapa saja yang sedang bertugas menjaga ruang CCTV.
"Non Ella." gumamnya saat dirinya masuk ke dalam dan mendapati tubuh Ella berbaring di atas ranjang tempat tidur.
Tampak sebotol wisky yang sudah habis berada di atas meja dan juga bungkus rokok.
"Apa benar kau perempuan yang waktu itu." Reza menatap Ella.
Reza ingin menutup tubuh Ella menggunakan selimut. Tapi diurungkannya. Dia tidak ingin meninggalkan jejak apapun di dalam kamar
Reza mendekat dan mencoba mengendus bau mulut dari Ella.
"Hanya alkohol yang tercium." gumamnya.
Diambilnya bungkus rokok di atas meja. Dan di pungutinya beberapa puntung rokok yang berserakan di lantai hingga balkon kamar. Tidak lupa di ambilnya asbak untuk di buang isinya dan dibersihkan kembali.
Reza menghubungi Vano dan memberitahu keberadaan Ella saat ini. Reza berdiri di depan pintu kamar Ella, menunggu kedatangan Tuannya.
"Ella." gumamnya sambil menyenderkan badan ke tembok.
Pikirannya terbayang beberapa tahun yang lalu. Saat dirinya di hajar oleh beberapa orang di jalanan. Jauh sebelum dia menjadi asisten dari Vano.
"Hoe....! Kalau berani jangan keroyokan. Satu lawan satu." teriak Ella saat melihat seorang pemuda di keroyok oleh tiga orang di gang sempit.
Saat itu masih pagi. Sekitar pukul 10. Bahkan Ella masih memakai seragam SMA. Karena dia bolos sekolah dengan beberapa temannya. Karena ketahuan oleh penjaga sekolah, mereka lari untuk menyelamatkan dirinya masing-masing tanpa mempedulikan yang lain.
"Oke." Ella merangsek maju. Tangannya merogoh ke dalam tas sekolah miliknya.
Dan. SREEEEEERRRTTTTT....
"Aaaa,,, brengsek."
"Perihhhh."
"Sialan."
Disemprotkan parfum tepat ke muka mereka. Ella segera memegang tangan pemuda yang di keroyok tadi.
"Cepat larinya. Elo cowok lembek banget sih." Ella memegang lengan Reza dan membawanya berlari meninggalkan gang sempit tadi.
"Amankan." Ella mengatur nafasnya sambil melihat ke belakang. Takutnya mereka mengejar.
Reza juga tampak ngos-ngosan di samping Ella dengan badan setengah membungkuk.
"Elo nggak apa-apa?" Ella menepuk bahu Reza.
"Iya." Reza mengangkat kepalanya. Tampak seorang gadis cantik tanpa make up di depannya dengan memakai seragam SMA.
"Elo jadi cowok jangan letoy dong. Kuat. Biar nggak di diinjak-injak sama orang lain."
__ADS_1
"Elo bolos?" Reza melihat ke arah Ella.
"Iya. Gue lagi bad mood. Eh,, kenapa elo malah urusin gue. Gue pergi dulu. Jaga diri elo baik-baik. Zaman sekarang harus kuat. Biar bisa melindungi orang. Dan juga nggak di remehin orang."
Ella pergi meninggalkan Reza yang masih menatap kepergiannya.
"Dimana Ella." suara Vano membuyarkan ingatannya tentang masa lalunya.
"Di dalam tuan." Reza membukakan pintu untuk Vano.
Sementara Vano masuk kedalam, Reza bersama dua orang lainnya menunggu di luar kamar.
"Ella." Vano melihat sekitar Ella, tampak berantakan.
"Vano." gumam Ella dalam tidurnya.
Vano mendekat dan tersenyum mendengar Ella memanggilnya, bahkan dalam keadaan tidak sadar, atau mabuk.
"Ella. Kamu berbahaya jika mabuk seperti ini. Sudah seperti orang mati."
Vano membenarkan posisi tidur dari Ella. Dan mencium wajah cantik kekasihnya. Ella bahkan tidak terganggu dengan kehadiran Vano.
"Kalian bisa pergi. Besok pagi bawakan kami pakaian ganti."
Vano menghubungi Reza di depan kamar Ella.
"Bagaiman kamu bisa masuk tanpa menggunakan identitas kamu. Benar-benar nakal."
Vano membaringkan badannya dan menghadap ke arah Ella. Ella menggerakkan badannya. Dan menggunakan badan Vano sebagai guling, sembari berucap sesuatu yang tidak bisa di tangkap oleh indra pendengaran Vano.
"Jangan pernah mabuk dengan lelaki lain. Lihat saja kalau kau berani melakukannya."
Vano mengecup bibir Ella dan memejamkan kedua matanya. Rasa kantuk sudah menyerang dirinya. Karena saat ini sudah jam setengah empat pagi.
"Nona Ella sekarang sudah bersama Tuan Vano. Nona dalam keadaan baik-baik saja."
Reza menghubungi Hana, di tangannya memegang sebungkus rokok milik Ella.
"Sejak kapan. Bahkan Tuan Vano juga tidak tahu" gumamnya.
Setahu Reza, Ella bukan perempuan perokok.
"Eegggghhhh." Ella meregangkan ototnya, matanya mengerjap silau saat cahaya matahari mengenai wajahnya yang cantik.
Ella bangun dan duduk di atas ranjang. Mencoba mengembalikan kesadarannya.
Vano duduk di kursi depan ranjang Ella dengan tenang. Bahkan pakaiannya sudah berganti pakaian kerja, yang di antarkan oleh Reza. Vano memang sengaja menunggu Ella sampai bangun.
Bahkan sekarang sudah hampir jam 9 pagi. Yang artinya Vano menyuruh Reza untuk menghandle pekerjaannya.
Mata Ella terbuka dengan sempurna. Di lihatnya di depannya ada Vano yang sedang menatapnya. Pandangan mata Ella menelisik seluruh ruangan.
__ADS_1
Ponselnya tergeletak di lantai. Di meja ada botol wisky yang sudah kosong. Ella kembali melihat seluruh ruangan tempatnya tidur. Matanya melihat pakaian yang saat ini di gunakan.