
"Maaf, sudah membuat anda menunggu." Egi yang baru saja menghadiri pertemuan segera kembali ke ruangannya, saat sekretarisnya mengatakan jika ada Vano di dalam ruangannya.
"Mau minum apa?" tanya Egi sambil duduk di sofa.
"Langsung saja." ucap Vano menyerahkan sebuah map pada Egi.
"Ini." Egi mengambil map, dan melihat isinya.
"Berkas perusahaan peninggalan ayah kamu di luar kota. Bukankah kamu ingin mengambilnya kembali."
Ayah Egi mempunyai sebuah perusahaan besar di luar kota. Tapi sayangnya, saudara dari ayahnya melakukan sesuatu yang licik. Sehingga perusahaan tersebut jatuh ke tangannya.
Dan sampai saat ini, Egi masih mengincar perusahaan tersebut supaya jatuh kembali ke tangannya. Tapi sampai sekarang belum terealisasikan, karena tidak mudah menjatuhkan saudara dari ayahnya tersebut.
Egi menatap curiga ke arah Vano. Tidak mungkin seorang Vano dengan suka rela membantu dirinya jika tidak ada yang di inginkannya.
"Jauhi Ella."
Egi tergelak mendengar perkataan Vano. Dirinya tidak menyangka, perkataan tersebut keluar dari mulut Vano.
"Kenapa. Apa karisma seorang Vano sebagai casanova sudah pudar. Sampai melakukan hal seperti ini." Egi melempar map ke atas meja di depan Vano.
Egi berdiri, berjalan menuju jendela. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku dengan pandangan mata mengarah keluar.
"Ella. Cantik. Seksi. Pintar. Model. Anak Tuan Haris. Apalagi yang kurang dari dirinya. Bisa dipastikan, semua kaum adam akan menginginkannya. Entah mereka menginginkan dirinya sebagai apa."
Egi membalikkan badan, menatap ke arah Vano yang masih duduk di kursi empuk di ruangan Egi. Menyilangkan kakinya manjadi satu tumpuan. Dengan kedua tangan bersedekap.
Keduanya saling memandang untuk sejenak. "Menjauh dari sang model. Akan sangat sulit." Egi menarik nafas dan menengadahkan kepalanya ke atas.
"Aku menginginkannya sejak awal bertemu." imbuh Egi.
Vano menghampiri Egi. Berdiri tepat di depannya. Kedua lelaki yang menginginkan wanita yang sama. Keduanya beradu pandang dalam diam. Seolah dari pancaran mata mereka sedang berbicara.
Senyum tersungging di bibir Vano. Kakinya tergerak mendekati Egi berdiri..Kedua tangannya terangkat di atas pundak Egi. Seolah ada kotoran di pundak Egi, Vano membersihkannya.
"Jangan terlalu semangat. Takutnya, jika pundak ini tidak kuat menahan beban." Vano berjalan melewati Egi. Tapi langkahnya berhenti tepat di belakang Egi.
"Jangan terlalu berharap untuk sesuatu yang kamu tahu akhirnya." Vano melangkahkan kakinya.
Egi segera membalikkan badan. "Tenang saja Tuan, saya tahu apa yang pantas di perjuangkan. Dan apa yang pantas di buang." perkataan Egi menghentikan langkah Vano dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu.
"Terimakasih atas kunjungannya. Kapanpun anda ingin berkunjung, pintu perusahaan saya selalu terbuka." ucap Egi.
Vano menghiraukan perkataan Egi dan melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaan rekan kerjanya sekaligus rivalnya.
Dan kini, Egi sudah membulatkan tekadnya. Dirinya akan mendekati Ella. Menjadikan sang model sebagai belahan hati dan separuh jiwanya. Meskipun jalannya tidak akan mudah.
"Lagi pula gue bukan perusak rumah tangga orang. Mereka masih berpacaran. Selagi mereka belum melakukan janji suci pada Tuhan, berarti masih banyak peluang. Benarkan, gue nggak salah." gumam Egi seraya berpikir.
__ADS_1
"Dari pada gue pendam, dan hanya diam. Lebih baik gue melakukan sesuatu. Gue nggak mau menyesal, sebelum gue berusaha. Entah nanti hasilnya bagaimana, yang penting usaha." imbuh Egi.
"Ayo Egi. Maju. Dapatkan hati model cantik. Semangat. Huhhh." Egi berteriak menyemangati dirinya sendiri.
Pintu ruangan Egi di ketuk dari luar. Mengalihkan perhatian Egi. "Masuk." ucap Egi pada seseorang di balik pintu.
"Maaf Tuan, Nona Ella menerima tawaran kita." jelas Beni, asisten Egi.
"Beliau baru saja menghubungi saya. Dan menyatakan kesanggupannya untuk menjadi model pengganti untuk Nona Vera." imbuh Beni.
"Oke." Egi mengibaskan tangannya. Menyuruh Beni meninggalkan ruangannya.
Beni merasa heran dengan raut wajah Tuannya. Datar dan biasa. Padahal sebelumnya, Tuannya sangat berharap jika Ella menjadi modelnya.
Dan juga Beni bisa melihat dari tatapan dan perilaku dari Tuannya, bahwa Egi tertarik pada sang model. Tapi kenapa ekspresi wajah Egi terlihat biasa saja.
"Kenapa, apa Tuan sudah tidak tertarik pada Nona Ella. Tapi kok bisa. Secepat itu mengalihkan perasaan." batin Beni setelah keluar dari ruangan Egi.
Sementara di dalam ruangan, Egi duduk di kursi kebesarannya. Menaruh kedua tangannya di atas meja. Menjadikan tangannya sebagai tumpuan untuk kepalanya.
"Kenapa. Kenapa Ell..." lirih Egi.
"Kenapa kamu malah memberitahu Beni. Kenapa kamu menelpon Beni terlebih dulu. Kamu kan bisa memberitahu aku dahulu. Kamu kan punya nomor telepon ku. Kenapa?" imbuh Egi dengan wajah sedih.
Dirinya merasa kecewa, kenapa Ella lebih memilih memberitahu Beni terlebih dahulu dari pada dirinya.
"Mungkin karena Nona Ella tidak ingin mencampur adukkan masalah pribadi dan kerjaan Tuan." timpal Beni yang sudah berdiri di depan meja kerja Egi.
"Bisa jadi." ujar Egi lirih tanpa memandang Beni.
"Atau bisa jadi, Nona Ella merasa tidak enak untuk menghubungi Tuan. Karena waktu itu saya yang menghubungi Nona Ella terlebih dulu." tambah Beni.
"Bisa jadi." ujar Egi lagi tanpa memandang ke arah Beni.
"Tuan jangan berpikir yang aneh-aneh atau yang tidak-tidak tentang Nona Ella. Jika Tuan memang menyukai Nona Ella, Tuan kejar saja."
"Benar. Tunggu." Egi lantas mendongakkan kepalanya. Dahinya mengkerut. Alisnya menyatu.
"Sejak kapan kamu di situ." Egi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"He he he. Tadi saya sudah ketuk pintu, tapi tidak ada sahutan. Jadi saya masuk saja." ucap Beni berbohong.
Padahal Beni tidak mengetuk pintu. Karena dia merasa baru saja keluar dari ruangan Egi. Jadi dirinya memutuskan untuk langsung masuk saja untuk kedua kalinya.
Egi menatap ke arah Beni tidak percaya. Dirinya merasa tidak mendengar suara pintu di ketuk setelah Beni keluar dari ruangannya.
"Mungkin karena Tuan tidak konsentrasi. Dan pikiran Tuan berada di tempat lain. Jadi tidak mendengar suara pintu yang saya ketuk tadi." bela Beni.
Egi menganggukkan kepala pelan. "Bisa jadi." tukasnya.
__ADS_1
Egi,,, mudahnya kamu di bohongi asisten mu. Beni.
Memang benar kata orang, orang jatuh cinta bisa menjadi bodoh ðŸ¤ðŸ¤
"Ada apa kamu ke sini lagi?" tanya Egi.
Beni meletakkan berkas-berkas di atas meja. "Tuan, ini berkas yang membutuhkan tanda tangan anda." ucap Beni.
"Sebentar Tuan." imbuh Beni menghentikan Egi saat tangannya yang sudah memegang pena sudah bersiap mencoretkan tinta di atas kertas.
"Kenapa lagi?" desis Egi menghentikan gerakan tangannya.
"Apa Tuan tidak membacanya terlebih dahulu." ujar Beni membuat Tuannya geram.
"Kamu tahu siapa Tuan mu bukan?" tanya Egi memandang tajam ke arah Beni.
"Untuk seorang penghianat. Bukankah kamu sudah tahu, di mana seharusnya tempat mereka berada." ujar Egi dengan senyum mengerikan.
Dengan susah payah, Beni menelan ludahnya. Tatapan mengerikan dari atasannya membuat nafasnya tercekat.
*
*
"Apa!" pekik Hana saat mendengar cerita dari Ella.
Yap,, Ella menceritakan dari mana dirinya semalam. Dia juga menceritakan saat dirinya bersembunyi di dalam almari karena kedatangan mama Egi.
Tapi, dirinya tidak menceritakan semuanya. Bisa-bisa Hana akan histeris jika mengetahui Egi mencium keningnya.
Tangan Ella reflek menutup mulut Hana. "Nggak usah berteriak. Ini bukan di hutan." geram Ella sembari menolehkan kepala ke arah pintu. Takut jika ada seseorang di balik pintu. Mendengar pembicaraan mereka.
*****
Uhuyyyy.... Bagaimana Tuan Vano.
Panik nggak, panik nggak.... paniklah..... masa nggak.
Egii..... Beneran nih. Beneran berani.
Berani ngungkapin perasaan ke Ella maksudnya.
Semuanya,,,,, Teman-teman di team mana nih..
ElVan (Ella Vano).....apa Elgi (Ella Egi)
Eitsss,,, jangan lupa. Kasih author imun ya teman...
Biar author tambah semuangattttt....
__ADS_1