
Ella bersedekap sembari memandang ke arah Vano. Tampak dengan sangat jelas raut kesal di wajah cantik sang model.
Tanpa merasa bersalah, Vano menaruh rambut Ella yang menutupi wajah cantiknya ke belakang telinga. Membuat pemilik rambut mendengus dan memutar bola matanya.
"Cepat." seru Ella.
Vano malah menggoda Ella, meletakkan jarinya di depan bibir Ella. "Jangan keras-keras. Nanti terdengar low sayang." ucap Vano.
"Baiklah. Saya bersedia menjadi model pengganti. Bagaimana?"
"Terserah kamu lah." cuek Ella.
"Tapi tidak gratis."
"Kenapa ngomong sama saya. Ngomong langsung sama mereka. Saya di sini juga di bayar. Bukan kerja bakti." ketus Ella membuat Vano semakin tersenyum lebar.
"Tunggu." Vano menghentikan langkah Ella yang ingin meninggalkan dirinya.
"Karena bayarannya ada pada kamu." ucap Vano membuat Ella memandang sinis ke arah Vano. Seperti dugaan Ella sebelumnya. Tidak mungkin jika Vano dengan suka rela mau menjadi model pengganti Jo.
Apalagi dia anti pada kamera.
"Tidak perlu berbelit-belit. Langsung saja." ucap Ella tidak sabar.
"Aku ingin menghabiskan waktu satu hari satu malam. Berdua. Dengan kamu. Hanya berdua." jelas Vano.
Ella tersenyum miring ke arah Vano dan menolak mentah-mentah keinginan Vano. "Big no." ucap Ella dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ya sudah. Jika begitu. Dengan berat hati, saya membatalkan niat untuk membantu kalian." ucap Vano santai.
"Itu urusan anda. Saya,,, nggak masalah." kata Ella ketus.
"Baiklah, sebaiknya kita kembali ke sana. Jika mereka tanya kenapa saya tidak mau menjadi model pengganti untuk Jo. Bilang saja jika kamu tidak mengizinkan." ujar Vano enteng dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
Ella melongo sempurna mendengar perkataan Vano. Tangannya dengan cepat menyambar lengan Vano yang hendak melangkah meninggalkannya.
"Jangan gila." ucap Ella.
"Semua keputusan ada di tangan kamu." Vano dengan gaya macho menatap ke arah Ella yang sangat amat kesal terhadap dirinya.
Bisa-bisanya Vano menggunakan cara seperti itu untuk mendekati Ella. Satu hati satu malam. Bukan waktu yang singkat.
"Tapi saya nggak bisa. Saya terlalu sibuk. Dan mungkin jadwal pekerjaan kita nggak bisa membuat kita bersama. Bukankah kamu juga sangat sibuk." ujar Ella mencari alasan.
Vano memegang kedua pundak Ella. Ingin rasanya Ella menepis tangan Vano, tapi tidak mungkin. Karena banyak pasang mata dari jauh yang sedang melihat ke arah mereka. "Kapanpun kamu bisa. Biar aku yang menyesuaikan jadwal dan waktunya."
__ADS_1
Dengan pelan Ella menurunkan tangan Vano di pundaknya. "Bagaimana jika waktu yang saya punya bertepatan dengan pekerjaan kamu yang sangat penting. Bisa sajakan. Dan itu akan membuat kamu rugi buuuanyaaak." ucap Ella.
"Tidak masalah. Saya tidak akan miskin hanya karena rugi buannyaaak." kata Vano sedikit meniru perkataan Ella.
"Bagaimana Tuan Putri. Apa kita batalkan. Atau,, bertanya pada Hana tentang jadwal kamu." pinta Vano.
Hati Ella bergetar saat Vano memanggilnya Tuan Putri. Ini pertama kalinya Vano memanggilnya dengan sebutan tersebut. Nampak enak dan sangat nyaman di dengar di telinga sang model.
Jika Ella menolak permintaan Vano, itu sama saja dirinya melakukan tindakan yang sangat arogan. Karena tidak memperbolehkan Vano membantu jalannya pemotretan. Padahal Jo sedang sakit.
Dan semua itu bisa mempengaruhi citranya di dunia model. Juga nama baik keluarganya. Pasti akan banyak gunjingan jika Vano tidak jadi menjadi model pengganti. Dan itu di sebabkan karena dirinya tidak mengizinkan.
Benar-benar, Vano sangat licik. Bisa-bisanya menggunakan kesempatan seperti sekarang untuk menekan Ella.
Mau tidak mau, Ella akhirnya setuju. Tapi Ella tidak mau kalah, dia mempunyai sebuah syarat untuk Vano.
"Tapi aku juga punya permintaan. Bagaimana?"
"Apa sayang?" lagi-lagi Vano dengan lembut bertanya dan memperlakukan Ella dengan lembut.
"Tidak ada adegan ranjang. Deal." Ella mengulurkan telapak tangannya.
Vano tersenyum mendengar syarat yang di ajukan Ella. "Baiklah. Pasti. Deal." jawab Vano dengan mantap sembari menyambut uluran telapak tangan Ella. Menandakan keduanya sudah setuju dengan syarat masing-masing pihak.
"Beneran. Bukankah dia tipe laki-laki penggemar adegan ranjang." batin Ella sembari melepaskan telapak tangannya, tapi Vano menahannya. Vano membawa telapak tangan Ella yang berada di genggamannya untuk di kecup dengan lembut.
Segera di tarik tangannya daei genggaman Vano sebelum Vano menyadari bahwa Ella sedikit gugup.
"Ini semua gara-gara mereka. Ngasih ide aneh-aneh." gumam Ella seraya berjalan menuju ke tempat berkumpul.
"Biar kelihatan romantis." dengan sengaja, Vano menggenggam telapak tangan Ella dan berjalan beriringan.
Semua orang menatap ke arah mereka. Menunggu keputusan, apakah Vano akan melakukan pemotretan atau tidak.
"Sebaiknya kita segera melakukan pemotretan. Karena hari semakin siang. Jangan membuang-buang banyak waktu lagi." ujar Ella.
Mendengar perkataan Ella, mata semua orang berbinar. Berarti Vano yang akan menjadi model pengganti untuk Jo.
Semuanya tampak semangat dan tersenyum ceria melanjutkan persiapan pemotretan yang tinggal 20%.
Seorang make-up model mendekat ke arah Vano dengan sangat senang. Dirinya berpikir, kapan lagi bisa memandangi wajah tampan seorang Vano. Bahkan bukan hanya memandang. Tapi menyentuhnya.
"Mari Tuan ikut saya." ajaknya.
"Kemana?" tanya Vano dingin.
__ADS_1
"Tuan akan melakukan pemotretan. Artinya Tuan harus bersiap-siap. Merias wajah dan berganti pakaian." jelasnya dengan bibir tersenyum.
Vano menatap datar dari ujung kaki sampai kepala mendengar perkataannya. Membuat sang make-up model salah tingkah dan tersenyum malu. Salah mengartikan tatapan dari Vano, karena terlalu senang.
"Astaga, ganteng banget. Berdua di dalam tenda. Mimpi apa gue semalam. Siapa tahu, gue bisa menarik perhatiannya." batinnya penuh harap.
Vano mengalihkan pandangan ke arah Ella yang sibuk dengan layar gawai di tangannya. Membuat Vano merasa sebal. "Apa dia rela aku di rias oleh perempuan lain. Kenapa dia diam saja." batinnya kesal dengan sikap cuek Ella.
"Sebaiknya kamu pergi." ucap Vano.
Senyum di bibir perias langsung menghilang seketika. Namun dia tetap tidak mau pergi dan malah membuat mood Vano kacau.
"Tapi Tuan. Tuan harus bersiap." kekehnya.
"Saya bilang pergi!?" seru Vano marah.
Membuat semua kru menghentikan kegiatan mereka. Menatap ke arah Vano berada. Tapi tidak dengan Ella. Dirinya masih terlihat masa bodoh dengan apa yang barusan terjadi.
"Ada apa lagi?" batin Jo bertanya. Karena dirinya sedang memejamkan mata. Dan suara bariton dari Vano langsung membuat Jo membuka kedua matanya.
Denis yang sedang menyiapkan kameranya hanya melihat sesaat dan melanjutkan pekerjannya. Dia melihat Ella masih santai, berarti tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Hana yang berada di dalam tenda, menyembulkan kepala. Melihat kenapa Vano berteriak. Sama seperti Denis. Dirinya juga melihat ke arah Ella. Merasa tidak ada masalah, Hana menyiapkan kembali barang-barang untuk di pakai Ella. Sebelum memanggil sang model masuk ke dalam tenda.
Dengan segera, salah satu kru mendekat. Mencoba menenangkan kondisi. "Maaf Tuan, ada apa?" tanyanya dengan hati-hati.
Vano hanya diam dan menatap tajam ke arah make-up model. Membuat orang yang baru saja datang mengerti. Menyuruhnya untuk pergi dari hadapan Vano.
"Segera pergi."
"Tapi Tuan Vano perlu mempersiapkan diri. Dan itu tanggung jawab saya." kekehnya.
"Astaga, pergi." geram seorang kru padanya.
Dengan sangat sedih, dia meninggalkan Vano. Sesekali dia menengok ke belakang. Melihat jika saja Vano berubah pikiran.
Harapannya bisa berduaan dengan Vano kandas seketika. Terlihat di raut wajahnya, yang sangat sedih bercampur malu karena penolakan dari Vano.
"Maaf Tuan. Jika begitu, Tuan akan di rias oleh siapa?" tanyanya pada Vano dengan jantung berdebar karena takut.
"Ella." jawab Vano singkat.
"Saya model. Bukan tukang make-up." ketus Ella dengan mata masih fokus pada layar gawainya.
"Sebenarnya dengan siapa dia berkirim pesan." batin Vano melihat ke arah layar gawai milik Ella.
__ADS_1
Segera sadar, Ella mematikannya. Sementara seorang kru pemotretan masih di depan mereka. Memandang Ella dengan tatapan penuh harap.