DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 91


__ADS_3

"Papa." gumam Ella saat mengetahui siapa yang telah menyelamatkannya. Bahkan, bukan hanya Tuan Haris. Vano dan Tuan Danto, papa Vano juga ada di sana.


Saat Ella dan ketiga bawahannya menghadap ke arah semua orang yang baru saja datang. Tanpa mereka sadari satu orang musuh masih dalam keadaan bernyawa. Meskipun dia sudah mendapat hadian timah panas di tubuhnya.


Dengan bergerak pelan dan menahan rasa sakit, dia berniat menyerang dari belakang. Karena semuanya tidak begitu memperhatikan, apalagi badannya tertutupi oleh Ella dan ketiga bawahannya.


"Elll..." teriak Vano mengangkat senjatanya. Dengan sigap Ella membalikkan badan dan mengayuhkan tangan kanannya. Sementara tangan kiri bersiap. Jika ada serangan mendadak dari lawan yang menyerangnya.


Musuh kembali terkapar di tanah. Dengan luka sayatan cukup dalam, memanjang dari perut sampai ujung kepala. Hingga darahnya sampai menyembur keluar. Bisa bayangkan, bagaimana Ella menghabisi nyawanya.


Membuat semua orang tercengang. Bahkan Vano, Tuan Haris, dan Tuan Danto pun menggelengkan kepala.


Apalagi setelah selesai menghabisi musuhnya. Lagi-lagi Ella mengelap pisau yang terkena darah dengan jaketnya. Dengan pandangan mata dingin menatap pada sesosok yang baru saja dia habisi nyawanya.


"Kenapa tidak pura-pura mati saja. Mungkin kamu akan selamat. Bodoh." gumam Ella.


"Beruntung anakmu perempuan Haris. Bayangkan jika laki-laki." ucap Tuan Danto lirih.


"Pasti akan menjadi lawan seimbang untuk putramu." sahut Tuan Haris terkekeh.


"Sayang." Vano mendekat ke arah Ella.


"Lepaskan jaket mu sayang. Baunya sangat anyir." Vano membantu Ella melepas jaketnya.


"Ellaaa,, bukankah sudah kukatakan. Pulanglah. Obati lukamu." geram Vano melihat pundak Ella.


"Bukan salah mereka." ucap Ella saat Vano memandang tajam pada ketiga bawahan yang bersama Ella.


"Bagaimana kalian tahu jika aku masih berada di sini?" tanya Ella penasaran.


Ternyata, setelah pertempuran selesai. Tuan Haris menyuruh bawahannya untuk menyisir sekeliling markas. Beliau takut jika masih ada penyusup atau lawan yang masih berkeliaran.


Saat itulah salah satu bawahan Tuan Haris melihat Ella dan ketiga temannya sedang melawan musuh. Segera dia kembali dan melapor pada Tuan Haris.


Mendengar Ella sedang melawan musuh, membuat semuanya ketar-ketir. Bagaimana tidak, pundak Ella baru saja terkena tembakan. Mereka takut jika ada hal yang lebih buruk terjadi pada Ella.


Segera ketiga lelaki berkuasa tersebut menyerahkan sisanya pada paman Haki dan yang lain. Sementara mereka membawa beberapa bawahan untuk menuju ke tempat di mana Ella berada.


"Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini." ajak Tuan Haris.


"Apa semuanya sudah selesai pa?"


"Paman Haki yang akan membereskan sisanya."

__ADS_1


"Bukan itu maksud Ella."


"Kita akan membicarakan saja nanti."


Tuan Haris mengerti maksud pertanyaan dari sang putri. Ella hanya ingin mengetahui siapa bos mereka.


"Besok saja kita bicara di rumah. Sekarang yang lebih penting luka kamu harus di obati terlebih dulu." bujuk sang papa.


Ucapan Tuan Haris membuat Vano kesal. Padahal sudah jelas, baru saja Vano berkata bahwa besok dirinya dan Ella ada acara. Kenapa malah seakan-akan Tuan Haris sengaja membuatnya kesal.


"Papa tidak perlu khawatir, pelurunya sudah Ella keluarkan." ucap Ella enteng.


"Siapa yang membantu mu sayang?" Vano masih memegang tangan Ella.


"Dokter......Dokter Mellanie."


Perkataan Ella membuat semuanya mengerutkan dahi. Membuat Ella tertawa. "Ella sendiri yang mengeluarkannya." imbuh Ella.


"Astaga." gumam sang papa dan Tuan Danto.


"Tapi papa tetap khawatir. Sebaiknya kamu segera di periksa Dokter sayang."


Di saat yang lain mengkhawatirkan Ella, Vano malah kembali teringat perjanjiannya dengan Ella.


"Sayang, bukankah besok kita ada acara." ucap Vano menggenggam tangan Ella dan mencium punggung telapak tangan dari sang mantan.


Apakah Vano lupa jika di sekitarnya masih banyak orang. Bahkan bawahannya saja masih berada di sana.


Ingin sekali Ella tertawa melihat tingkah gemas Vano. Tapi mana mungkin dia melakukannya. "Van, di sini ada banyak orang." bisiknya.


"Aku nggak peduli. Kamu sudah berjanji. Ingat itu." rajuk Vano.


"......" Ella hanya bisa melongo melihat tingkah konyol dari Vano.


Tuan Haris dan Tuan Danto tersenyum dan saling pandang. "Ternyata ada kalanya seekor singa menjadi seekor kelinci." ucap Tuan Danto.


"Khemmm. Sayang, kita pulang dulu. Pundak kamu harus di periksa." ujar Tuan Haris mendekati Ella dan Vano.


"Vano yang akan membawa Ella ke dokter pa. Tenang saja. Iyakan sayang." Vano mengecup mesra kening Ella.


Papa. Sejak kapan Vano memanggil Tuan Haris dengan panggilan tersebut. Terdengar sedikit menggelikan di telinga Tuan Haris. Tapi tak apalah, beliau tidak mempermasalahkannya.


Karena kegigihan Vano, dan juga malas untuk berdebat, Ella memutuskan pulang ke apartemen Vano.

__ADS_1


Ella juga mengingatkan sang papa untuk tidak bercerita pada mamanya. Ella hanya takut jika sang mama akan khawatir. Padahal menurut Ella, lukanya tidak terlalu serius.


Tuan Haris hanya bisa berkata iya pada permintaan dari sang putri. Beliau juga mengizinkan Vano membawa Ella. Dan Vano sendiri berjanji pada Tuan Haris akan menjaga Ella.


"Sayang kamu mandi dulu. Dokter sedang dalam perjalanan menuju ke sini." Vano meninggalkan Ella sendiri di dalam kamar apartemennya. Sementara dirinya bergegas menuju ke dapur. Entah apa yang sedang dia lakukan.


Ella berada di dalam kamar Vano. Memandangi setiap sudut ruangan tersebut. Tampak masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sedikitpun.


Dibukanya lemari baju tempatnya menyimpan pakaian miliknya. Masih tertata rapi. Seperti biasanya. Karena dua hari sekali akan ada orang yang membersihkan apartemen Vano.


Ella berpindah tempat. Membuka laci, dimana biasanya dirinya menyimpan perhiasan atau asesoris untuk menunjang penampilannya.


Sang model tampak tersenyum senang. Tidak ada satu barangnya yang hilang.


"Lebih baik aku segera membersihkan badan." gumam Ella.


Ella melepas seluruh pakaian yang melekat pada badannya. Kemudian mengisi penuh bak mandi. Menuangkan sabun ke dalam bak tersebut.


Ella membersihkan dahulu badannya di bawah shower sebelum berendam di dalam bak. Di pandanginya pintu kamar mandi. "Di kunci, nggak, di kunci, nggak." gumam Ella bimbang.


Jika biasanya Ella tidak pernah mengunci pintu kamar mandi saat dirinya berada di dalam. Dan pasti Vano akan menyusulnya untuk mandi bersama.


Pastinya bukan hanya mandi bersama. Melainkan ada ritual khusus yang mereka lakukan di dalam kamar mandi hingga berjam-jam lamanya.


Dan kali ini Ella sedikit merasa bimbang. Entah kenapa dirinya takut jika Vano menerobos masuk ke dalam. Memintanya untuk melayaninya seperti sebelum-sebelumnya.


Ella tersenyum, sepertinya ada sesuatu di benak Ella.


"Kita lihat saja. Apa Vano sudah berubah. Atau pura-pura berubah." Ella membiarkan pintu kamar mandi tidak terkunci.


Sementara dirinya menikmati nyamannya berendam dalam bak. Memejamkan mata dengan menghirup wangi sabun yang membuat pikirannya semakin tenang


******


Vano, apa yang di lakukannya di dapur.


Jangan sampai Vano menyalakan kompor, bisa terbakar apartemen ini.


Memasak,,, seorang Vano tidak bisa memasak.


Kamu cerdas juga Ell, siapa tahu Vano mengajak kamu ke apartemennya hanya karena sudah lama dia tidak melakukan ***-*** dengan perempuan.


Tapi,,, semoga saja Vano bisa berubah. Othor sungguh kasihan dengan Ella.

__ADS_1


******


Teman-teman,,,, terimakasih sudah mampir untuk membaca novel othorrr. Jangan lupa tinggalkan jejak. Oke. 👍👍


__ADS_2