DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 197


__ADS_3

Hana tampak berbincang dengan seseorang di ujung telepon. Yaitu perwakilan dari perusahaan yang menggunakan Ella sebagai modelnya.


Hana memberitahu jika modelnya, Ella bersedia menemui mereka untuk membicarakan hal tersebut.


"Baiklah, besok siang kami akan datang ke perusahaan anda. Terimakasih." ucap Hana sambil mematikan panggilan teleponnya.


"Beres." Hana segera memberitahu Ella jika mereka bersedia untuk bertemu besok siang. Di perusahaan mereka.


"Sudah terkirim, tapi belum di baca." gumam Hana melihat pesan yang di kirimkan pada Ella masih centang dua berwarna hitam.


Berarti sahabatnya tersebut belum membaca pesan yang dikirimnya. Hana mengetahuinya karena dia menggunakan aplikasi dengan logo berwarna hijau.


"Mungkin Ella masih sibuk." ucap Hana, lantaran Ella belum membaca pesan yang dia kirim.


Ponsel Hana berbunyi. Dirinya berpikir jika yang mengirimkan pesan padanya adalah Ella. Dengan segera dia menyalakan ponsel.


Bibirnya yang sempat tersenyum seketika memudar. Ternyata bukan Ella yang mengirimkannya pesan. Melainkan mamanya Denis.


Lagi dan lagi. Mamanya Denis mengirimi foto seorang perempuan dengan pakaian mahalnya. Terlihat cantik dan anggun sedang tersenyum dan duduk di samping Denis.


Memang hari ini Denis sedang bertemu dengan saudara jauhnya. Yang tinggal di luar negeri. Mereka datang berkunjung ke rumah Denis. Dan Denis sudah memberitahu kepada Hana.


Denis ingin mengajak Hana untuk menyambut kedatangan mereka sekeluarga. Dan juga memperkenalkan Hana pada mereka.


Tapi Hana menolaknya dengan alasan sedang tidak enak badan. Padahal dirinya tidak percaya diri. Apalagi dirinya akan bertemu dengan mamanya Denis.


Ting,,, satu pesan gambar masuk kembali ke dalam ponsel milik Hana. Dimana menampilkan Denis dengan perempuan tersebut saling memandang. Bisa di simpulkan mereka sedang berbincang.


Meski Denis sudah memberi tahu pada Hana. Entah kenapa perasaan Hana menjadi kacau melihat foto tersebut. Mungkin Hana merasakan cemburu bercampur dengan rasa takut.


Cemburu karena Denis bisa tersenyum pada perempuan lain, meskipun mereka bersaudara. Takut jika Denis akan berpaling dan meninggalkannya. Dan lebih memilih perempuan pilihan mamanya.


Hana menengadahkan kepalanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya. Supaya air mata yang sudah berada di pelupuk matanya tidak jatuh ke pipi.


"Menangislah, jika itu bisa membuat hati kamu lega." ucap Bu Ningsih. Ibu dari Hana. Yang ternyata sudah berdiri di belakang sang anak.


Selama ini Bu Ningsih hanya diam. Tapi beliau tahu jika putrinya sedang mengalami masalah. Bu Ningsih juga meminta pada Arik, anak keduanya untuk mencari tahu kenapa Hana terlihat sering melamun.


"Ibu." ucap Hana memeluk sang ibu sambil menangis.


"Sudah." ujar Bu Ningsih membelai rambut Hana. Arik yang hendak keluar dari kamar, mengurungkan niatnya melihat kakak dan ibunya berpelukan. Dan sepertinya tanpa di beritahu, Arik sudah bisa menebak apa yang terjadi.

__ADS_1


"Bu, apa salah Hana. Kenapa hanya karena Hana terlahir dari keluarga tidak mampu, lantas Hana tidak boleh mencintai seseorang." ucap Hana masih terisak dalam pelukan ibunya.


Bu Ningsih hanya diam. Beliau juga tidak tahu apa yang harus di lakukannya. "Apa nak Denis tahu, jika mamanya tidak menyukai kamu." tanya Bu Ningsih.


Hana menggeleng pelan. "Kenapa tidak memberitahunya?"


"Hana takut jika Denis lebih percaya pada mamanya. Ella juga memberi saran untuk Hana lebih terbuka pada Denis. Tapi Hana takut ibu." isak Hana belum reda dari tangisnya.


Arik yang mendengarnya di balik pintu kamarnya. Dadanya juga terasa sesak. Apalagi dirinya tahu jika kakaknya selama ini belum pernah terlihat dekat dengan seorang lelaki. Kecuali Denis.


"Maaf kak. Sebagai lelaki satu-satunya di rumah, Arik tidak bisa melakukan apa-apa." batin Arik merasa tidak berguna sebagai adik.


"Apa Non Ella tidak bisa membantu kamu?" tanya Bu Ningsih, tidak tega melihat putrinya merasakan sakit hati. Hana mengurai pelukannya. Tangan Bu Ningsih menghapus air mata di pipi sang anak.


"Bu, jikapun Ella ingin membantu. Apa yang akan Ella lakukan? Di sini masalahnya adalah Mamanya Denis. Beliau tidak rela jika Hana dan Denis menjalin hubungan." ucap Hana.


"Jika Ella memaksa mamanya Denis, yang ada hubungan keluarga Ella dan Denis akan renggang. Dan Hana tidak enak dengan Mama dan Papa." jelas Hana.


"Lagi pula, ini masalah pribadi Hana bu. Hana akan berusaha untuk mendapatkan restu mamanya Denis." ucap Hana tersenyum paksa.


"Kamu yakin?" tanya Bu Ningsih. Beliau takut jika Hana akan semakin terluka jika dia meneruskan hubungannya dengan Denis.


Dari awal Bu Ningsih merasa resah akan jalinan kasih antara anaknya dan sahabat dari Ella. Denis. Kekhawatiran Bu Ningsih sangat beralasan. Kesenjangan soal kekayaan terlihat mencolok.


Tapi sekarang, setelah mamanya Denis mengetahui hubungan mereka, setiap hari beliau selalu mengirimkan pesan pada Hana. Membuat mental Hana tertekan.


"Jika kamu sudah tidak kuat menjalani hubungan ini. Lepaskan Han, jangan memaksakan keinginan kamu. Yang ada, hati kamu malah semakin terluka." ucap Bu Ningsih menasehati anaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana?" tanya Ditya pada asistennya.


"Berjalan sesuai rencana, Tuan." jelas Doris.


"Jangan sampai Ella tahu jika pemilik perusahaan adalah saya, sebelum dia menandatangani kontrak." ucap Ditya tersenyum misterius.


"Semua yang menghandle asisten Nyonya Ella. Jadi beliau tidak tahu jika pemilik perusahan adalah Tuan." ucap Doris.


"Jangan bodoh. Ella pasti akan membaca kontraknya sebelum menandatanganinya." sarkas Ditya.


"Saya tidak menyertakan nama anda di kertas kontrak tersebut. Semua sudah saya atur sebaik mungkin." ujar Doris percaya diri.

__ADS_1


"Dia buka model yang hanya mahir berpose di depan kamera. Kecerdasannya di atas kamu." ucap Ditya mengingatkan.


"Iya Tuan, saya paham." ucap Doris, sedikitpun dirinya tidak merasa sakit hati dengan perkataan atasannya tersebut. Lantaran, memang perkataan dari Tuannya selalu pedas dan menusuk hati.


"Saya permisi Tuan." pamit Doris pada Ditya. Tanpa menunggu Ditya mengeluarkan suara, Doris meninggalkan ruangan atasannya.


"Ella." gumam Ditya. Membayangkan saat dirinya bertemu beberapa hari yang lalu dengannya di hutan.


"Dia mempunyai insting yang kuat." ucap Ditya, teringat saat Ella menyerangnya saat di hutan.


Tiba-tiba Ditya mengerutkan keningnya, hingga alisnya menyatu. "Ke ruangan ku sekarang." ucap Ditya lewat telepon yang tergeletak di atas meja kerjanya.


"Tuan." sapa Doris saat dirinya sudah berada di ruangan yang sama dengan Ditya.


"Cari tahu tentang Ella." ucap Ditya menyenderkan badannya ke kursi, dengan kedua mata terpejam.


"Maksud Tuan?" tanya Doris bingung. Lantaran setahunya Ella adalah seorang model kelas atas yang menikah dengan pengusaha sekelas Tuannya. Vano Reyandli.


Ditya membuka matanya. Menatap tajam ke arah asistennya. Membuat Doris merasa terintimidasi. "Baik Tuan." ucap Doris segera meninggalkan ruangan Ditya.


"Kenapa aku harus mencari tahu tentang Ella. Semua orang juga tahu siap dia." gumam Doris. Tapi seketika, dirinya diam.


"Tidak mungkin Tuan menyuruh saya, jika tidak ada sesuatu." batin Doris.


Segera Doris menjalankan perintah Ditya. Dirinya tidak ingin membuat Tuannya murka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ella pulang ke rumah setelah meninggalkan apartemen Viki.


"Bik, nggak usah nyiapin makan malam. Nanti, saya dan Vano akan keluar." ucap Ella memberitahu Bibik.


Ella menghempaskan pantatnya di kursi empuk yang panjang dan lebar. Tangan Ella mengambil remote televisi dan menyalakannya.


"Ini Nyonya." ucap seorang pembantu menurunkan segelas jus beserta camilannya. Tidak seperti biasanya, Ella tidak menimpali perkataan pembantunya. Sekedar mengucapkan terimakasih.


Mata dan pikirannya fokus menatap layar televisi yang menyiarkan tentang acara memasak. Pembantu tersebut pergi tanpa pamit, dan tersenyum melihat majikannya tampak serius.


apartemen Viki.


Vano pulang dari perusahaan, melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Bibir Vano tersenyum melihat sang istri yang fokus melihat ke televisi.

__ADS_1


Bahkan, wajah serius Ella tampak lucu di mata Vano. Dengan pelan, Vano melangkahkan kakinya mendekati sang istri. Membuat kaget Ella dari belakang.


__ADS_2