
Ella duduk dengan menghadap laptop di depannya. Jari-jarinya dengan lincah bermain di atas keyboard. Entah apa yang Ella cari. Setelah mendapat petunjuk dari Dian, Ella seolah langsung bergerak.
Ella menghubungi papanya dan juga Tuan Danto. Ada sesuatu yang dia ingin tanyakan pada mereka.
Ella pergi ke perusahaan sang papa sesuai kesepakatan Tuan Danto dan juga Ella. Sebelumnya, dia memberitahu Vano jika dia sedang berada di perjalanan menuju perusahaan sang papa.
"Pa,,, Om,,, maaf telat." ucap Ella setelah sampai di ruangan papa.
Ella mendaratkan pantatnya di kursi setelah bersalaman dengan papanya dan papa Vano.
"Apa Vano tahu, jika kamu ke sini?"
"Tahu Om. Dia bilang akan menyusul jika pertemuan dengan rekan kerjanya selesai."
"Lebih baik kita tunggu Vano sekalian." ucap papa Ella.
Ponsel Ella berdering. Dia berdiri dan menjauh dari papanya dan Tuan Danto untuk menjawab panggilan telepon.
"Ikuti saja. Ingat. Hanya ikuti. Jangan melakukan apapun. Jangan sampai ketahuan." ucap Ella dengan seseorang di seberang ponselnya.
"Siapa sayang?" tanya sang papa saat Ella kembali mendaratkan pantatnya di kursi.
"Bawahan papa. Ella menyuruhnya untuk mengawasi seseorang." ucap Ella dengan pandangan masih berfokus pada layar ponselnya.
Tuan Danto dan Tuan Haris saling memandang. Mereka penasaran dengan perkataan yang keluar dari mulut Ella.
"Sayang." pintu terbuka secara tiba-tiba dari luar. Bukannya menyapa papanya dan papa Ella, Vano langsung menghampiri Ella dan melewati keduanya.
"Heiii,,, apa matamu buta!!" seru Tuan Danto pada sang putra. Tapi Vano seakan menulikan telinganya. Dia malah memeluk Ella dan mencium keningnya dengan mesra.
"Van,,,,," geram Ella merasa malu dengan papanya dan papa Vano.
"Ehh,,,ehhh,,," ucap Vano terkejut saat seseorang menarik kerah bajunya dari belakang.
"Bocah gemblung. Di sini ada kami. Kamu tidak punya mata. Hah!!" seru Tuan Danto.
Vano merapikan kembali bajunya setelah sang papa melepaskan tangannya. "Karena punya mata, makanya Vano langsung menuju ke sini." Vano menatap Ella dan mengerlingkan sebelah matanya dengan genit.
"Kamu itu." tangan Tuan Danto hendak menjewer telinga putranya. Tapi terhenti saat mendengar suara Tuan Haris.
"Sudahlah. Sebaiknya kita segera berbicara pada mereka." ujar Tuan Haris.
Tuan Haris kemudian menceritakan pada Ella dan Vano di mana dirinya dan juga sahabatnya, Tuan Danto pernah mempunyai musuh.
__ADS_1
Bahkan mereka terpaksa menghabisinya karena musuh menyerang mereka terlebih dahulu. Apalagi mereka juga mengancam keselamatan keluarga Tuan Danto dan juga Tuan Haris.
"Bagaimana dengan keluarganya?" tanya Ella saat Tuan Haris menjeda perkataannya.
"Mereka pergi ke luar negeri." jawab Tuan Danto.
"Dan sekarang." lanjut Ella.
"Kami tidak tahu. Kita kehilangan kabar tentang mereka." ucap Tuan Danto.
"Dan kali ini, mereka kembali." ucap Vano dengan tatapan dingin.
"Mungkin." ucap Tuan Danto lirih.
"Tidak ada kata mungkin dalam dunia bawah. Hanya ada iya, dan tidak." tegas Vano.
Tuan Haris menghela nafas panjang. "Waktu itu dia masih kecil. Kami tidak mungkin membunuh anak sekecil itu. Dan juga istrinya. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kami." ujar Tuan Haris.
"Tapi sekarang, mereka ada sangkut pautnya." sergah Vano.
"Apa mereka tahu jika papa yang melakukannya?" tanya Ella.
Tuan Haris mengangguk kecil. "Huhh,,, Dia membahayakan nyawa kalian, karena itulah kami langsung mendatangi markasnya. Ternyata di sana juga ada anak dan istrinya." ucap Tuan Haris dengan menghembuskan nafas kasar.
"Van..." Ella dengan lembut mengusap pundak sang kekasih.
Tuan Haris dan Tuan Danto hanya diam. Mereka sadar jika mereka berbuat salah. Melepas musuh tanpa mengikat mereka. Bahkan membiarkan mereka hidup di luar negeri dengan sesuka mereka. Mereka melakukan karena rasa kasihan.
Seorang anak kecil dan seorang perempuan. Waktu itu terlihat sangat jelas raut wajah ketakutan keduanya saat bawahan Tuan Danto menemukan mereka di tempat persembunyian. Perempuan itu hanya diam, sementara anak kecil yang di peluknya terus-menerus menangis dan memanggil nama ayahnya yang sudah tergeletak tak bernyawa di depan Tuan Haris.
Saat itu, Tuan Haris ingin menghabisinya. Tapi beliau tidak tega. Dan menyuruh Tuan Danto yang melakukannya. Tapi ternyata Tuan Danto tidak tega juga. Mereka menyuruh bawahannya untuk menghabisi nyawa keduanya.
Tapi sebelum bawahannya bertindak, Tuan Haris dan Tuan Danto membatalkan niatnya. Menyuruh mereka pergi jauh, sebelum mereka berubah pikiran.
Selama bertahun-tahun, mereka hidup di luar negeri di bawah pengawasan anak buah Tuan Danto. Tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba mereka kehilangan jejak dan keberadaannya. Sehingga Tuan Danto menyuruh bawahannya untuk tidak mencarinya lagi. Dan membiarkannya.
"Tapi kalian tenang saja. Kami sudah mengetahui siapa anak kecil waktu itu." ucap Tuan Danto.
"Saya juga sudah tahu." ucap Ella dan Vano bersamaan. Membuat keduanya saling pandang.
Perkataan keduanya membuat Tuan Haris dan Tuan Danto menatap ke arah keduanya yang duduk bersebelahan. Mereka sedikit terkejut, kedua anaknya bisa dengan cepat mengetahui musuh mereka. Padahal Tuan Haris dan Tuan Danto belum menceritakan apapun pada mereka.
"Papa dan om tenang saja. Biar Ella yang menyelesaikannya." ucap Ella tersenyum menakutkan dan memainkan jarinya.
__ADS_1
Vano memandang ke arah Ella. Mana mungkin dia membiarkan pujaan hatinya menghadapi musuh sendirian. "Papa tenang saja, Vano yang akan menemani Ella." ucap Vano dengan pandangan mata mengarah pada Tuan Haris.
"Papa." gumam Tuan Danto melihat dan mendengar putranya memanggil sahabatnya dengan panggilan seperti yang di berikan pada dirinya.
Tuan Haris hanya tersenyum melihat sahabatnya memandang dirinya dengan raut wajah penasaran dan terkejut.
Vano membawa Ella kembali ke apartemen setelah pembicaraan di perusahaan Tuan Haris selesai.
"Setelah masalah ini selesai, aku ingin, kita segera menikah sayang." Vano menggenggam telapak tangan Ella dan menciuminya.
"Van,,, fokus menyetir." ujar Ella.
Karena mereka sekarang tengah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Vano. Dengan Ella duduk di samping Vano.
Vano menghiraukan perkataan Ella. Dia tetap memegang telapak tangan Ella. Dan sekali-kalj menciumnya.
"Sepertinya akan sedikit sulit." ucap Ella.
"Jika saja aku tidak mengenalnya. Mungkin lebih baik. Akan sangat gampang menghabisinya. Awalnya aku sedikit terkejut. Tapi sekarang aku paham semuanya. Dia benar-benar bermain dengan baik. Tapi apa aku tega, ini akan melibatkan banyak orang. Dan mereka semua orang yang aku sayang." ucap Ella panjang lebar dengan pandangan mata sayu dan sedih.
"Jika bukan karena kamu, mungkin sekarang dia sudah tiada. Ingin sekali aku menghabisinya. Beruntungnya Reza mengingatkan ku." kata Vano.
"Sebenarnya bukan karena dia. Tapi karena orang yang berada di sampingnya. Jika saja dia tidak.... Sudahlah. Sekarang aku menjadi pusing sendiri." ucap Ella.
"Dan karena masalah ini, waktu kita untuk berduaan terganggu." ucap Vano kembali mencium telapak tangan Ella.
"Bukan karena pekerjaan kantormu." sindir Ella.
"Iya juga sih, maaf." ucap Vano dengan tersenyum.
"Tidak masalah." kata Ella.
"Buat kamu, tapi masalah buat aku Ell." gumam Vano.
*****
Kaliannnn,,,, jadi Vano dan Ella sudah mengetahuinya. Jahat banget sih....Tega banget sama othor.
Kenapa nggak kasih tahu othor siapa orangnya.
Jadi penasaran nih.
Alamat nggak bisa tidur nyenyak nichhh... 😔😔
__ADS_1