DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 60


__ADS_3

Vano menerima laporan dari Reza jika Ella baru saja berkunjung ke apartemen milik Egi.


"Egi." gumam Vano, tangannya menggoyang pelan gelas yang berisi wisky. Dan..


Pyarrrr...... Dilemparkannya gelas tersebut ke dinding di depannya. "Sejak kapan Ella begitu berani." ucapnya dengan mata menyalang.


Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Brengsek." ucapnya menggenggam erat ponsel.


Kemarahan Vano semakin memuncak tatkala Ella menghiraukan panggilan telepon darinya. Dan sekarang Vano sedang dalam mode panas, sangat amat panas.


Dan biasanya. Di saat seperti ini dia akan mencari perempuan untuk melampiaskan amarahnya. Tapi sekarang, apakah Vano akan melakukannya lagi.


Jawabannya. Tidak.


Vano menyenderkan badannya ke kursi. Matanya terpejam. "Seandainya dari dulu gue nikahin Ella, semua tidak akan seperti ini." ucapnya.


Memang, sebelumnya Ella sering kali meminta pada Vano untuk menikahi dirinya. Tapi sebelum dia mengetahui jika lelaki yang di cintanya gemar bermain wanita di atas ranjang.


Dan sang casanova selalu menolaknya. Dengan seribu bayangan. Eh,,,, seribu alasan maksudnya. Memang naruto, seribu bayangan. 🤭🤭


Sekarang. Saat Ella mengetahui semuanya, dia seperti enggan bersama Vano. Meskipun rasa cintanya pada lelaki yang berhasil membuat sakit hatinya tersebut masih sangat besar.


Dengan cepat Vano menyambar kunci mobil miliknya yang tergeletak di atas meja. Mengendarai mobil meninggalkan pelataran apartemennya.


*


*


"Astaga." Ella terkejut saat menyalakan lampu di kamarnya. Bagaiman bisa, Vano berada di dalam kamarnya. Duduk tenang di tepi ranjang. Dengan pandangan mata siap menerkam. Layaknya harimau yang melihat mangsa datang.


Sejak kapan. Kenapa satpam di depan tidak memberitahunya. Dan juga, kenapa pembantu yang bertemu dengannya di bawah juga hanya diam saja. Tidak berkata apapun.


Ella memandang jendela. Dia berpikir, apa mungkin Vano masuk ke dalam kamarnya melewati jendela.


Vano seperti cenayang. Seolah bisa membaca pikiran yang ada di benak Ella. "Semua orang tahu jika aku kekasihmu. Calon suamimu. Tidak perlu bertindak seperti maling jika ingin masuk ke dalam rumahnya."


Ella tersenyum kecut mendengar perkataan Vano. Dia yakin jika hanya satpam dan pembantunya saja yang mengetahui jika Vano masuk ke dalam rumah.


Tidak dengan kedua orang tuanya. Mana mungkin Vano berani masuk ke dalam kamarnya jika kedua orang tuanya mengetahuinya.


Ella melepas jaket di tubuhnya. "Apa pemilih rumah sudah mempersilahkan kamu untuk masuk. Bahkan duduk. Di dalam kamar putrinya." ucap Ella tanpa melihat ke arah Vano.


Tanpa menjawab, Vano berjalan mendekat ke arah Ella. "Dari mana kamu?" tanyanya.


"Bukan urusanmu."


"Bukankah sudah ku katakan. Akan kubunuh siapapun dia."


"Bunuh saja jika kau mampu." tantang Ella.


"Ellll."


"Lantas apa kabarnya wanita di luar sana yang dengan mudah bisa menyentuh tubuhmu. Dan juga adik kecilmu." sindir Ella.


Vano mengatur nafasnya. Dirinya tahu jika Ella marah padanya karena hal tersebut. "Apa kau benar-benar ingin menantang ku?" tanya Vano dengan jarak lumayan dekat dengan Ella.


Antara rasa takut dan bimbang. Selama ini, Ella tidak pernah mendengar Vano melakukan sesuatu yang ekstrim. Tapi siapa tahu. Dengan kedudukannya, dan juga mempunyai bisnis ilegal bawah tanah. Pastinya dia mempunyai banyak anak buah.


Tidak memungkinkan bagi seorang Vano dengan mudah membuat seseorang kehilangan nyawanya.

__ADS_1


"Apa kau ingin bukti?" Vano memeluk tubuh ramping Ella dari belakang.


Sementara Ella masih berdiri, diam, dan tidak menanggapi perkataan Vano.


Vano melepas tangannya yang melingkar dari perut Ella. "Aku ingin, kau memberi peringatan pada seseorang." ucapnya pada seseorang di ujung telepon.


"Identitasnya akan aku kirim sebentar lagi. Jangan bunuh dia. Cukup beri peringatan." imbuhnya.


Ella berbalik dan merebut ponsel milik Vano. Mematikan sambungan telepon tersebut. "Apa maumu?" tanya Ella dengan wajah garang, yang malah makin menggemaskan menurut Vano.


Vano terkekeh pelan. "Aku hanya memberi peringatan pada siapapun yang mencoba mendekatimu. Aku tidak akan menghabisinya."


Dikembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. "Tinggalkan rumah ini. Segera." Ella mendorong tubuh Vano ke belakang. Membuat Vano mundur dua langkah ke belakang.


"Jika sampai Egi kenapa-napa. Lihat saja." ancam Ella dengan menunjuk ke arah Vano.


Mendengar Ella melindungi Egi, bahkan terkesan mengkhawatirkan Egi, membuat Vano memejamkan mata. Dia masih waras untuk tidak melampiaskan kemarahannya di sini. Di kediaman Tuan Haris.


Vano menyambar tangan Ella yang masih menggantung di depannya. "Lepas." seru Ella.


Padahal Ella baru kenal dengan Egi. Tapi kenapa dia begitu peduli dengannya. "Apa kau menyukainya?" tanya Vano.


"Tidak ada hubungannya dengan anda Tuan." Ella menyentak tangan Vano, membuat tangganya lepas dari cekalan Vano.


"Kau kekasihku Ell." geram Vano, menjepit dagu Ella dengan kasar.


Ella memegang tangan Vano dan menghempaskannya. "Tidak untuk sekarang dan seterusnya Tuan." ucap Ella dengan nada pasti.


"Apa maksudmu?"


"Mulai saat ini, kita tidak ada hubungan."


"Elll, jangan main-main dengan ucapanmu."


"Jangan menganggap perkataan ku hanya isapan jempol Ell."


"Astaga Tuan Vano. Aku sudah bosan. Aku jenuh. Kesabaranku sudah habis. Aku juga seorang wanita, sama dengan yang lain. Menginginkan perhatian. Di perlakukan dengan lembut. Aku ingin di perlakukan seperti ratu." ucap Ella panjang lebar.


"Dan aku tidak mendapatkannya dari kekasihku. Selama bertahun-tahun." imbuh Ella.


"Apa gunanya uang yang ku berikan kepadamu. Bukankah kamu bisa berbelanja. Jalan-jalan bersama temanmu." bela Vano pada dirinya sendiri.


"Astaga." Ella tidak habis pikir dengan pemikiran Vano.


Ella berjalan ke arah meja. Membuka laci dan mengambil sesuatu dari dalam. "Ini." Ella memegang tangan Vano, memberikan beberapa kartu kredit yang talah Vano berikan pada Ella selama mereka berpacaran.


"Apa yang ada dalam pikiranmu!" bentak Ella.


"Apa kamu selama ini menganggap ku seperti.... seperti,,,,, seperti ******. Kamu samakan aku dengan perempuan yang dengan suka rela naik dan merangkak di atas ranjangmu. Lalu kamu bayar." seru Ella dengan dada menahan gemuruh.


"Astaga Ella. Kamu memang ******. Kamu dengan suka rela menyerahkan keperawanan mu pada lelaki di depanmu." ucap Ella pada dirinya sendiri.


"Bukan seperti itu Ell." ucap Vano lirih dengan tangan hendak menggapai lengan Ella.


Ella menepis tangan Vano. "Tuan, saya Ella Putri Subagyo. Tidak pernah memakai uang anda sepeserpun. Sepeserpun. Camkan itu."


"Keluarga saya, bukan keluarga miskin. Kedua orang tua saya, masih sanggup memberi uang pada saya. Bahkan lebih dari yang anda berikan."


"Keluar." teriak Ella dengan jari mengarah ke pintu keluar di kamarnya.


Pintu terbuka dari luar, membuat keduanya menolehkan kepala ke arah pintu. "Papa." gumam Ella.

__ADS_1


"Ini terlalu malam untuk seseorang bertamu." ucap Tuan Haris dengan tenang.


Tanpa berkata apapun dan berpamitan pada Tuan Haris, Vano keluar dari kamar Ella.


"Pa." ucap Ella lirih.


Tuan Haris berjalan mendekat ke arah putrinya. "Dari mana kamu sayang. Kami khawatir." tanya Tuan Haris.


"Dari rumah teman." ucap Ella.


"Ya sudah, kamu tidur. Bersihkan badan dulu. Sebaiknya kamu cari alasan yang tepat. Karena besok pasti Tuan Ratu akan mengintrogasi Tuan Putri."


"Iya pa, maaf. Sudah membuat kalian khawatir."


"Soal Vano,,,," ujar Ella terhenti karena Tuan Haris memotong perkataan putrinya.


"Kamu istirahat. Pasti kamu capek." Tuan Haris mengacak pelan rambut Ella. Mengecup pelan kening sang putri.


"Good night." ucap Tuan Haris menutup pintu kamar Ella.


Ella berpikir jika papanya akan menanyakan kenapa Vano berada di dalam kamarnya.


Sebelumnya......


"Tuan Besar, Tuan Vano tadi datang kesini" ucap pembantu di rumah Ella pada Tuan Haris. Mereka bertemu saat Tuan Haris keluar dari ruang kerjanya dan hendak berjalan menuju kamarnya.


"Sekarang Tuan Vano berada di kamar Nona Ella." ucapnya saat Tuan Haris hendak pergi ke ruang tamu.


"Baiklah. Terimakasih." Tuan Haris mengibaskan telapak tangannya, menyuruh pembantu di rumahnya pergi.


Tuan Haris segera berjalan ke sebuah ruang, dimana didalamnya terdapat banyak layar. Atau lebih tepatnya ruang pantau CCTV di seluruh rumahnya.


Hingga dirinya melihat Ella masuk ke dalam kamarnya, Tuan Haris keluar dari ruang tersebut. Dan menyandarkan dirinya di tembok dekat pintu kamar Ella.


Bisa di bilang Tuan Haris mencuri dengar pembicaraan keduanya. Karena kamar Ella tidak ada alat kedap suara. Yang berarti suara dari dalam akan terdengar sampai luar, jika suara dari dalam keras.


Beliau hanya ingin berjaga-jaga. Dirinya tidak ingin Vano menyakiti putrinya. Karena beliau tahu betul bagaimana sifat dari anak temannya tersebut.


*****


Vano..... kamu di putusin Ella ya.. 😁😁


Tapi author ada rasa takut nih.


Takut jika Vano melakukan hal yang amazing...


Ella kelihatannya butuh satpam pribadi nih.


Takut jika Vano berbuat nekat.


Teman,,, siapa di sini yang mau daftar.


Jadi pengawal pribadi Ella...


sajen sajen sajen...


Author nggak minta banyak kok.


Cukup mawar harum 🌹


Dan kopi manis ☕

__ADS_1


Makasih.... eitssss jangan lupa komen & like.


😘😘😘


__ADS_2