
"Setelah ini kamu mau kemana sayang?" tanya Ella, setelah mereka berdua menyelesaikan sarapan mereka. Sarapan setengah makan siang maksudnya. Karena sekarang sudah jam sepuluh pagi lebih.
"Aku ingin ke markas kamu. Menyelesaikan masalah dengan Morgan."
"Aku ikut." timpal Ella.
"Tidak bisa. Nanti malah Morgan lihat kamu. Itu akan berbahaya. Lebih baik kamu di rumah, melihat dari rumah. Hemm,,," bujuk Vano. Lantaran Ella dapat melihat melalui CCTV yang terhubung dengan ponselnya.
"Ayolah. Sekarang kamu sudah punya suami." ucap Vano.
"Baiklah." pasrah Ella.
"Good. Jangan cemberut." Vano mencubit gemas dagu Ella.
"Setelah itu?" tanya Ella.
"Ke kantor. Ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan."
"Dan aku, akan pergi ke rumah sakit." ucap Ella, membuat alis Vano menyatu.
"Menjenguk paman Haki." jelas Ella dengan tangan melingkar di leher Vano.
"Baiklah, tapi bawa sopir." Vano menggesek hidungnya dan hidung Ella.
"Ckkk,,, kamu tahu sendirikan. Aku tidak suka pakai sopir" ucap Ella seraya mendecakkan lidah.
"Tidak ada bantahan." tegas Vano. Mau tidak mau Ella menggunakan sopir yang notabennya adalah bawahan Vano.
Padahal, tujuan Ella bukan hanya akan menjenguk paman Haki. Tapi ada hal lain yang akan Ella lakukan.
"Ingat, pakai sopir." ucap Vano mengingatkan Ella yang sedikit keras kepala. Vano mencium singkat bibir Ella. "Aku pergi dulu." pamit Vano.
"Hati-hati."
Ella segera turun ke bawah setelah Vano berangkat. "Mbak tolong, kupaskan buah ini." Ella memberikan buah apel dan buah pir pada pembantu untuk di kupas kulitnya.
Sementara dirinya membuka kulkas, mencari sesuatu di dalam kulkas. "Ini saja." Ella mengeluarkan beberapa camilan dan minuman dingin dari dalam kulkas.
"Cukup." Ella melihat ke arah meja. Dimana ada buah yang sudah di kupas kulitnya, camilan beberapa bungkus, serta dua botol tanggung minuman dingin.
"Tolong bantu saya bawa ini ke kamar." ucap Ella.
"Baik Nya."
"Satu lagi. Jangan ganggu saya." ingat Ella.
"Baik Nya."
"Letakkan saja di sana." jari Ella menunjuk ke arah meja di dalam kamar tidurnya.
__ADS_1
"Apa ada lagi Nyonya?" tanyanya dengan sopan.
"Sudah." jawab Ella.
"Kalau begitu saya permisi undur diri Nyonya." ucapnya meninggalkan kamar Ella.
"Beruntung Nyonya tidak seperti Tuan. Seandainya Nyonya seperti Tuan, lebih baik saya nggak bekerja di sini." ucapnya lirih.
Mengingat memang Vano jarang berinteraksi dengan para pembantu di rumah. Dan juga, peristiwa pagi tadi. Pasti mereka mempunyai perasaan takut terhadap Vano.
Menjadikan mereka lebih berhati-hati saat bekerja. Jangan sampai mereka mengalami nasib yang sama dengan Lena. Tapi mereka yakin jika majikannya tersebut marah lantaran Lena memang sudah bertindak di luar batas.
"Bik, tadi pagi bibik di suruh ngapain di kamar Nyonya?" tanya rekannya sesama pembantu.
"Membersihkan bubur dan mangkok pecah. Kelihatannya Lena masuk ke dalam kamar lagi." jelas Bibik.
"Tanpa izin." tebak yang lain.
"Pantas, Tuan marah besar. Dasar telinga karet. Sudah di maafkan untuk kesalahan pertama, ehhh malah mengulang lagi."
"Itu namanya bodoh."
"Heh,, sudah sudah. Bekerja, malah ngrumpi." tegur bibik mengingatkan.
Ella menyambungkan perangkat dari ponsel pada laptop miliknya. Sehingga Ella bisa melihat dengan jelas apa yang di lakukan Vano pada Morgan.
"Akhirnya bandot tua itu tertangkap juga." gumam Ella melihat Morgan di balik jeruji besi miliknya.
Apa perut Ella tidak sakit. Padahal dirinya baru saja makan. Dan juga, Ella makan dalam porsi banyak. Mungkin saja Ella membutuhkan makan yang banyak.
Karena harus memulihkan tenaga yang terkuras habis di dalam kamar mandi bersama dengan Vano selama berjam-jam. Belum lagi adanya drama pagi dari Lena. Yang membuat kepala Ella seraya meledak.
Tapi setidaknya sekarang Ella bisa bernafas lega. Lantaran parasit itu sudah menghilang dari rumahnya. Ingat, rumahnya. Bukan hidup Ella. Entah apa yang akan Lena lakukan lagi. Merasa kapok, atau malah menjadi-jadi.
"Papa." gumam Ella melihat sang papa bersama mertuanya juga datang ke markas. Tentunya bersama Vano.
Segera Ella menelpon seseorang. "Lakukan dengan cepat, baik dan bersih." ucapnya dengan seseorang di ujung telepon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Siang Tuan Morgan." sapa Tuan Haris di depan jeruji besi.
"Cihh,,,, Haris." Morgan segera berdiri, menatap musuhnya dengan sengit.
"Kenapa? Kamu merasa senang karena sekarang aku sudah berada di tanganmu?" ucap Morgan.
"Jangan lupa Haris. Aku masih mempunyai banyak antek-antek di luar. Dan pastinya mereka akan tetap setia padaku." ucap Morgan dengan congkak.
"Aku pastikan, mereka akan segera datang ke sini, setelah mereka sadar aku tidak bisa dihubungi. Menyerang kalian. Dan membebaskanku." ucapnya dengan percaya diri.
__ADS_1
Tuan Haris bersedekap. Memandang ke arah Morgan dengan tatapan yang sulit di artikan. "Antek-antek yang mana. Bawahanmu yang mana yang berkuasa?" tanya Tuan Haris dengan tenang.
"Bero, Davis, Lyon, Seath, atau siapa. Bisa kau sebutkan namanya, Tuan Morgan." ujar Tuan Haris dengan sorot mata mengintimidasi.
Tubuh Morgan sedikit terhuyung ke belakang. Dirinya tidak menyangka. Dari mana Haris mendapatkan nama-nama bawahannya yang selama ini menjadi kaki tangannya di beberapa negara.
"Kamu..." ucap Morgan, memandang pada Tuan Haris.
Tuan Haris mendapat laporan jika Ella dan Vano sedang mencari pemilik racun yang menyebabkan beberapa bawahannya di rawat di rumah sakit.
Tidak ingin hanya berdiam diri. Tuan Haris segera memerintahkan beberapa bawahannya untuk menyelidiki orang-orang Morgan.
Setelah mengetahuinya, dengan cepat Tuan Haris meminta bantuan Tuan Danto untuk meringkus mereka. Sebenarnya Tuan Haris bisa melakukan sendiri.
Namun, dirinya tidak ingin membuang-buang waktu. Apalagi sekarang konsentrasi Morgan tertuju pada Vano. Dengan begitu, Tuan Haris dan Tuan Danto dapat bergerak leluasa.
"Waktu itu aku memberi ampunan padamu. Menyuruhmu untuk meninggalkan negara ini. Aku pikir kamu akan berhenti menganggu kehidupanku." ucap Tuan Haris.
"Tidak semudah itu Haris. Kamu sudah merenggut nyawa satu-satunya orang yang ku sayang." kekeh Morgan.
"Astaga, berapa kali aku bilang. Itu kecelakaan. Kita sama-sama kehilangan orang yang kita sayang."
Ternyata Morgan, Danto, Haris, dan Moreno bersahabat sejak mereka duduk di SMA. Tapi karena kesalahpahaman, membuat Morgan membenci ketiga temannya.
Ralat, sebenarnya bukan ketiga. Tepatnya Haris seorang diri. Itu terjadi karena adik dari Morgan mengalami kecelakaan saat dia hendak menyeberang jalan.
Adik Morgan menyukai Haris. Saat itu, Haris sedang bersama Danto dan Moreno. Sementara adik dari Morgan, berada di seberang jalan. Berniat menghampiri Haris.
Na'asnya, adik Morgan tertabrak kendaraan hingga kehilangan nyawa saat menyeberang jalan. Bahkan Haris dan yang lain juga tidak tahu bagaimana kejadian sesungguhnya. Karena ketiganya tidak melihat keberadaan adik dari Morgan.
Sejak saat itu, Morgan selalu menyalahkan Haris atas kejadian yang menimpa adiknya. Bahkan Danto dan Moreno yang menasehatinya, juga terkena imbasnya. Keduanya juga di musuhi oleh Morgan.
Puncaknya saat Morgan bekerja sama dengan musuh Haris. Mereka ingin melenyapkan keluarga kecil Haris. Dan saat itu, Ella masih berumur sekitar tiga tahun.
Terjadi penyerangan besar-besaran di kediaman Haris. Beruntung Haris mempunyai bawahan yang terbilang mahir di bidangnya. Dan juga adanya bantuan dari Danto. Karena saat itu, Moreno juga sudah berada di luar negeri.
Penyerangan tersebut malah membuat pihak lawan tersudut. Haris dan Moreno membunuh musuhnya tepat di depan keluarganya. Ayah dari Jonathan. Dialah orangnya.
Tapi untuk Morgan, Haris tidak sampai hati untuk menghabisi dia. Meskipun begitu, dia tetap menganggap Morgan adalah sahabatnya. Dan semua terjadi karena kesalahpahaman.
Sehingga membuat Haris memutuskan untuk membuang Morgan dari negara ini. Menjadikan Morgan orang asing untuk dirinya. Tapi siapa sangka, kebaikannya malah di balas seperti ini oleh Morgan.
Morgan tertawa di dalam jeruji besi. "Kamu mau menghabisi ku Haris. Setelah adikku, lalu aku. Kakaknya. Silahkan, aku tidak takut." teriak Morgan.
Danto memegang pundak Haris. Terlihat Haris menggenggam erat kedua telapak tangannya. Menahan amarah.
Vano mendengus, jika sudah kedua orang tuanya ikut campur. Akan sulit bagi Vano untuk bertindak. Apalagi ini menyangkut masa lalu mereka.
Vano memutar matanya jengah. "Kenapa tidak langsung tembak saja. Selesai sudah." gumam Vano masih terdengar papanya dan mertuanya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam." tegur Tuan Danto pada putranya.