
"Taman kecil ini milik ku." jelas Egi.
Ella langsung menghentikan langkahnya saat mendengar penuturan Egi. Dan kembali menatap Egi dengan tatapan tidak percaya.
Egi juga menghentikan langkahnya. "Saat aku suntuk atau lagi bad mood, aku pasti ke sini. Tapi jika sore hari, taman ini sudah aku tutup. Aku hanya menyuruh orang yang menjaga taman ini untuk membuka pagi sampai sore." jelas Egi.
"Pantas." gumam Ella teringat kejadian di mana dia masuk kedalam taman saat malam hari dengan melompati pagar.
Egi seperti mendengar Ella mengatakan sesuatu, tapi indera pendengarannya tidak bisa mendengar dengan jelas. "Kenapa?"
"Nggak." jawab Ella.
Mana mungkin Ella menceritakan kejadian malam itu pada Egi. Pasti akan menjadi bahan tertawaan. Apalagi dia seorang model.
"Kalian ingat wajah dari perempuan di samping saya." Egi berbicara dengan seseorang yang berdiri di depannya. Orang tersebut seperti pengurus taman.
"Iya Tuan."
"Kapan pun dia ke sini, kalian persilahkan dia masuk."
"Iya Tuan."
Ella tersenyum mendengar Egi berbicara dengan orang tersebut.
"Apa perlu kamu mempunyai kuncinya. Supaya lebih mudah."
"Tidak. Lagi pula saya takut jika punya kunci taman ini." Egi terbengong mendengar perkataan dari Ella.
"Nanti kalau ada yang hilang, pasti tersangka utamanya saya. Soalnya bunganya indah-indah banget." lanjut Ella dengan tersenyum.
Egi tertawa mendengar perkataan konyol dari Ella. "Oke. Silahkan masuk." Egi membuka sebuah pintu di depan mereka.
Mata Ella memandang takjub dengan apa yang baru saja ia pandang. Dengan bibir sedikit melongo, Ella melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
Di perusahaan, Vano baru teringat jika dia sudah berjanji pada Ella untuk menemuinya. Segera diambil ponsel, dan menghubungi Ella. Beberapa kali Vano menghubungi Ella, tapi tidak di angkat oleh Ella.
"Berani sekali dia mengacuhkan ku." gumam Vano merasa geram.
Vano beralih menghubungi Hana. Tapi ponsel Hana malah tidak aktif. "Kemana mereka."
Karena keduanya tidak bisa di hubungi, Vano memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Karena berkas di depannya sudah menumpuk banyak karena dirinya terlalu sibuk dengan urusan ranjang bersama Vera.
Saat mata Ella memandang takjub seluruh ruangan yang di penuhi oleh bunga matahari, mata Egi juga memandang takjub wajah perempuan di sampingnya.
Egi memegang tangan Ella dan membawanya ke sebuah ayunan. Ella hanya diam dan membiarkan Egi memegang tangannya.
Egi berada di belakang Ella memegang kedua tali ayunan, dengan Ella sudah duduk di ayunan tersebut. "Bagaimana?" tanya Egi meminta pendapat Ella.
"Amazing." ucap Ella dengan pandangan masih memandang takjub hamparan bunga matahari di depannya.
Ella mendongakkan kepalanya memandang Egi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Egi.
Bukannya menjawab, Ella malah tersenyum. Egi seperti tahu maksud tatapan dari mata Ella pada dirinya.
Egi mendekatkan bibirnya pada telinga Ella dan membisikkan sesuatu. "Kamu bisa ke sini kapan saja kamu mau."
Senyum Ella semakin mengembang mendengar perkataan Egi di samping telinganya. Egi beralih duduk di depan Ella dengan berjongkok tanpa menyentuh Ella.
"Jika kamu punya waktu, aku akan ajak kamu ke tempat-tempat indah lainnya. Itupun jika kamu mau."
Tanpa berlama-lama, Ella langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab ajakan Egi.
Egi tersenyum melihat tingkah Ella yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
"Kapan kamu punya waktu?" tanya Egi berharap Ella akan menjawabnya dengan cepat.
Suara dari ponsel Ella membuatnya menunda jawaban yang akan di berikan pada Egi. Di ambilnya ponsel dari dalam tas miliknya. Ternyata ponselnya berbunyi mengingatkan saat ini jadwal latihan bela diri bersama paman Huki.
"Maaf, saya harus segera pergi. Saya lupa jika ada pekerjaan." Ella pamit pada Egi sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Terimakasih untuk semuanya. Saya pergi dulu." Ella meninggalkan Egi yang masih menatap kepergian Ella.
"****, seharusnya gue minta nomor ponselnya." gumam Egi setelah Ella tidak ada lagi di hadapannya.
Ella menaiki taksi untuk sampai tempat latihan.
"Maaf paman, Ella terlambat." Ella segera mengganti bajunya untuk berlatih dengan paman Haki di kediaman beliau.
"Tuan, besok ada pemotretan dengan Nona Vera untuk produk bersama kita dengan perusahaan Tuan Egi." ucap Reza di balik kemudi.
"Kita mampir ke toko kue." bukannya menjawab perkataan dari Reza, Vano malah menyuruh Reza untuk hal lainnya.
"Baik." ucap Reza.
Reza turun sendiri untuk membeli kue yang akan Vano bawa ke rumah Ella. Vano menunggunya di dalam mobil sambil memainkan ponselnya.
"Ella." tangan Vano berhenti menggeser layar ponselnya saat melihat artikel yang mengulas berita tentang peragaan busana yang akan Ella tampilkan besok malam.
"Apa mungkin dia sedang sibuk untuk acara ini." gumam Vano.
Selesai membeli kue, Reza segera menjalankan mobilnya menuju rumah Ella.
"Besok malam kita akan melihat peragaan busana Nyonya Tiwi. Dapatkan kursi yang membuatku nyaman."
"Baik Tuan." ucap Reza.
Reza tersenyum samar mendengar perkataan Vano. Itu artinya Vano akan melihat peragaan busana yang akan Ella lakukan. Dan pastinya, Reza juga akan melihat Ella berjalan dengan cantik di atas panggung.
Sampai di rumah Tuan Haris, Vano dan Reza di persilahkan masuk, dan duduk di ruang tamu oleh pembantu di rumah tersebut. "Sebentar Tuan Muda, saya akan panggilkan Nyonya."
Tidak lama, Nyonya Ane datang menghampiri mereka berdua. "Maaf ya, tante sedikit lama."
__ADS_1
Nyonya Ane bersalaman dengan keduanya dan duduk tidak jauh dari tempat duduk mereka.
"Ini untuk tante." Vano menyerahkan bingkisan kue pada Nyonya Ane.
Nyonya Ane mengambilnya dari tangan Vano. "Terimakasih sayang. Jadi merepotkan."
"Tolong di bawa kebelakang ya." Nyonya Ane menyerahkan bingkisan tersebut pada pembantu yang baru saja meletakkan minuman di meja untuk mereka.
"Baik Nyonya."
"Kalian nanti makan malam di sini ya. Sekalian nunggu Ella pulang. Mungkin sebentar lagi Ella pulang. Dia tadi cuma bilang mau gladi bersih peragaan busana yang akan di lakukan besok malam."
"Iya tante." Vano tersenyum pada Nyonya Ane.
"Om Haris belum pulang tante?"
"Sudah, lagi mandi. Baru saja pulang. Terus kalian datang." tutur Nyonya Ane.
"Maaf tante, kita mengganggu." ujar Vano merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Papanya Ella itu lelaki pengertian dan mudah di mengerti. Dia tidak pernah ribet atau mengeluh soal apapun. Yang penting tante sudah siapkan baju ganti. Lagi pula beliau kan bukan bayi lagi, yang harus di pakaikan baju." kata Nyonya Ane sambil tersenyum.
Tuan Haris tampak menuruni tangga dan berjalan menghampiri mereka di ruang tamu. "Ngomongin apa Ma."
Tuan Haris mencium pipi istrinya dan duduk di sampingnya.
"Papa." Nyonya Ane cemberut dan malu pada tamunya, mendapat ciuman dari Tuan Haris.
"Kita juga masih muda ma, sama seperti mereka." Tuan Haris merangkul pundak istrinya dan tersenyum.
"Papa temani mereka, mama mau menyiapkan makan malam." Nyonya Ane beranjak dari duduknya.
"Ella belum pulang ma?"
"Belum pa."
"Di dapur sudah banyak pembantu lo ma."
Nyonya Ane hanya memandang Tuan Haris dengan sedikit memicingkan sebelah matanya dan berjalan menuju dapur. Tuan Haris hanya tertawa melihat tingkah istri tercinta.
Vano dan Reza tersenyum melihat drama yang di perlihatkan oleh kedua orang tua Ella.
*****
Ella, bolehlah berduaan dengan Egi. Biar Vano tahu rasa. Memang hanya dia saja yang di kejar banyak wanita.
Tidak tahu saja Vano. Jika Ella mau, pasti dia dengan mudah mendapatkan lelaki lain.
Teman-teman jangan lupa untuk terus mendukung author.
Terimakasih 😘😘
__ADS_1