
Ella menggunakan pakaian lengan panjang dengan bentuk lebar di atas. Memamerkan kedua pundak mulusnya, dengan celana jeans pendek sepaha menjadi bawahannya. Memperlihatkan kaki jenjang yang cantik dan indah.
Tak lupa tas kecil tersampir di pundak sang model. Dan juga high hell yang tidak begitu tinggi dengan warna senada dengan pakaiannya. Menambah penampilan Ella menjadi,,, sempurna.
Tampak Ella seperti gadis remaja yang hendak bermain bersama teman-temannya. Apalagi Ella hanya mengikat setengah dari rambutnya yang tergerai. Menyisikan beberapa anak rambut di samping wajahnya.
"Sepertinya aku perlu memberi warna baru pada rambutku." gumam Ella di depan cermin sembari memegang rambutnya. Berniat mendatangi salon dan mengubah warna rambutnya.
"Nyonya." ucap Bibik yang berpapasan dengan Ella di ujung tangga.
"Saya mau keluar. Tidak perlu menyiapkan makan siang." jelas Ella.
"Baik Nyonya." ucap Bibik.
Di depan rumah, Rio menyenderkan badannya di samping mobil. Menunggu istri dari Tuannya keluar dari istana miliknya.
"Ckk, pasti akan sangat membosankan." dengus Rio. Dirinya ditugaskan Vano untuk menjadi sopir Ella seharian ini. Mengantarkan dan menjaga Ella kemanapun dia pergi.
Ingin rasanya Rio menolak perintah Vano. Sayangnya dia tidak punya nyali sebesar itu untuk menolak dan membantah perintah Tuannya. Hanya bisa mengumpat di dalam hati. Seperti kebiasaannya.
Pintu rumah terbuka pelan dari dalam. "Akhirnya keluar juga." batin Rio kesal. Setelah dirinya menunggu Ella sekian purnama lamanya.
"Fiuhhhj...." Rio membuang nafas perlahan. Melihat sang model keluar dari istananya.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Ella saat Rio begitu intens menatap dirinya.
"Hah." Rio seperti tersadar dari lamunannya, akan daya tarik sang model.
"Silahkan." Rio membukakan pintu mobil bagian belakang. Ella memutar matanya dengan jengah.
Rio memejamkan mata saat Ella lewat di depannya, hendak masuk ke dalam mobil. Menghirup dalam-dalam wangi parfum yang di pakai istri dari Tuannya.
"Ingat Rio. Dia istri majikan kamu. Jaga mata, jika masih ingin hidup tenang." batin Rio, menasehati dirinya sendiri.
Ini pertama kalinya Rio mengantar Ella. Hanya berdua. "Kemana Nyonya?" tanya Rio setelah dirinya duduk di belakang kemudi. Dengan sabuk pengaman terpasang di badannya.
"Cafe Violet." jawab Ella dengan nada datar, tanpa melihat ke arah Rio. Matanya sibuk ke layar ponsel. Entah apa yang sedang di lakukan istri dari Vano tersebut.
"Ke mana Reza?" tanya Ella dengan nada terkesan angkuh.
"Brengsek, ngapain malah nanyain si bego itu sih." batin Rio mengumpat.
"Maaf, saya kurang tahu." jawab Rio. Dari nadanya, Ella dapat menangkap jika Rio tidak menyukai Ella menanyakan keberadaan Reza. Ella memilih acuh dan tersenyum remeh.
Sesekali Rio mencuri pandang untuk menatap wajah Ella dari spion. Hawa di dalam mobil tampak panas untuk Rio, padahal pendingin sudah di nyalakan.
Ponsel Ella berdering. Dengan anggun, Ella mengangkat panggilan yang berasal dari ponselnya.
"Nanti Vano akan datang. Kalian serahkan Jo pada Vano. Kalian bisa istirahat." ucap Ella, setelahnya dia matikan ponselnya.
"Jo." batin Rio, mencuri dengar pembicaraan Ella dengan seseorang di balik ponselnya.
Setibanya di cafe Violet, Ella langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe. Tanpa berkata apapun pada Rio.
Rio terdiam, dengan pandangan menatap punggung Ella yang masuk ke dalam cafe dengan pandangan rumit. "Jo." gumam Rio.
"Sayang, dia wanita milik Tuan. Jika bukan, pasti sudah aku dekati." ucap Rio, yang memang notabennya seorang pemain ulung perempuan.
Tapi dia dengan sangat rapat bisa menyembunyikan dari siapapun. Kecuali Vano. Dan anehnya, sang perempuan yang menjadi partner ranjangnya, juga akan tutup mulut.
Bawahan sama atasan sama saja. Hanya sekarang, Vano sudah benar-benar insaf. Mungkin. Dan semoga saja.
Lain halnya dengan Reza. Dia sosok laki-laki yang belum pernah tersentuh oleh kaum hawa.
"Sudah lama." tanya Ella mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Hana duduk.
"Gimana keadaan elo?" bukannya menjawab, Hana malah bertanya balik pada Ella.
"Baik." ucap Ella.
"Syukurlah. Elo bikin semua khawatir tahu nggak. Tiba-tiba ngilang." omel Hana.
Keduanya lantas memesan minuman dan camilan. Sambil membicarakan perusahaan yang akan memakai jasa Ella sebagai model produk yang akan di keluarkan oleh perusahaan tersebut.
"Mereka mau ketemu sama elo. Kapan elo bisa?" tanya Hana, yang memang dirinya belum mengatur jadwal Ella setelah sang model menikah.
__ADS_1
"Seperti kata gue. Besok sama lusa gue udah mulai masuk kursus masak. Pagi. Jadi sore, gue free. Bebas, nggak ada kegiatan." jelas Ella sambil menyedot minuman di depannya.
"Ya sudah. Besok saja. Nanti gue kasih kabar lagi setelah gue bicara sama mereka." ucap Hana.
"Mereka mau mengeluarkan mobil sport dari luar. Dan elo bergaya dekat mobil. Perusahaan ini masih baru. Elo model pertama yang mereka pakai." jelas Hana.
"Perusahaan baru. Gue model pertama." Ella menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
"Gue sempat dengar, pemiliknya sudah punya perusahaan di luar. Dan dia buka cabang di sini." ujar Hana.
"Pantes." gumam Ella. Lantaran masih perusahaan baru. Dan berani memakai dirinya. Padahal uang yang harus digelontorkan tidak sedikit untuk menjadikan Ella sebagai modelnya.
"Gimana elo sama Denis?" tanya Ella.
"Gini-gini aja." jawab Hana terkesan hambar.
"Tahulah. Mamanya sekeras batu karang. Dan butuh waktu lama mengikisnya." imbuh Hana seraya mengambil camilan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Semangat."ucap Ella.
"Setiap hari gue dikirimi pesan sama mamanya Denis. Nyuruh gue mengakhiri hubungan sama Denis. Tapi perkataannya, terkesan anggun dan hanya menyiratkan maknanya saja." jelas Hana.
"Maaf, gue nggak bisa bantu soal itu." ucap Ella dengan sedih. Mengingat hubungannya dengan keluarga Denis sangat dekat.
Terlebih, ini adalah masalah pribadi. Bukan ranah Ella untuk masuk ke dalamnya. Dirinya hanya bisa memberi semangat dan dukungan untuk sahabatnya.
"Iya gue ngerti. Gue kepengen mamanya Denis terima gue, karena guenya. Bukan paksaan." ucap Hana.
"Sorry, gue nggak bisa lama. Ada janji sama mama. Ada acara di panti asuhan. Dan mama udah janji sama anak panti, kalau gue bakal datang." jelas Ella.
Ella akan mendatangi panti asuhan yang berada di bawah naungan dan pantauan sang mama. Di mana Ella juga menjadi salah satu donatur tetap di panti asuhan tersebut.
"Panti asuhan Dian?" tanya Hana. Dian, adik tiri dari Vera. Yang sempat membenci bahkan berusaha melenyapkan Ella karena hasutan dari seseorang.
"Bukan." jawab Ella singkat.
"Ya sudah, gue pamit."
"Biar gue yang bayar." ujar Hana saat Ella mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja.
"Santai saja." ucap Ella.
Rio melihat beberapa lelaki memandang ke arah Ella dengan tatapan mendamba. Tapi mereka hanya berani melihatnya dari jauh. Karena mereka sadar, siapa suami dari Ella. Seperti dirinya.
Meski beberapa waktu yang lalu sempat ada gosip panas. Yang menyebarkan foto Vano dengan perempuan lain di club. Tapi bagi mereka itu hal yang wajar.
Tapi berita tersebut hanya bertahan hingga siang. Dan setelahnya, tidak ada lagi media sosial yang membahas atau mengeluarkan berita tentang foto tersebut.
"Pergi ke toko peralatan sekolah" ucap Ella setelah masuk ke dalam mobil.
Ella membuka ponselnya. Mengabari Vano jika dirinya akan mengunjungi panti asuhan bersama mamanya.
"Kamu ikut saya masuk." perintah Ella pada Rio.
"Baik." ucap Rio mengekor di belakang Ella.
Ella memilih beberapa tas. Dan Rio, berada di samping Ella, mendorong keranjang belanja.
Ella melihat ke layar ponselnya, setelahnya dia memasukkan beberapa tas ke keranjang yang di dorong oleh Rio.
"Banyak banget." batin Rio.
"Nyonya Ella." sapa pemilik toko. Beliau di beritahu karyawan toko jika Ella datang berkunjung. Karena toko ini adalah toko di mana Ella sering berbelanja untuk anak panti.
"Ada yang bisa di bantu?" tanyanya dengan ramah.
"Sebentar." Ella tampak berpikir.
"Begini saja. Saya beli tas sekolah. Tapi sekalian di dalamnya di taruh buku sama peralatan sekolah lainnya. Bisa?" tanya Ella.
"Bisa Nyonya." ucap pemilik toko, yang merubah panggilan untuk Ella. Dari Nona menjadi Nyonya. Setelah Ella menikah.
"Silahkan menunggu di sana. Karyawan saya yang akan mengerjakan." jelas pemilik toko.
"Seratus." ucap Ella mengatakan jumlah tasnya.
__ADS_1
"Baik Nyonya."
Ella segera mendaratkan pantatnya di kursi yang sudah ditunjukkan oleh pemilik toko. Ella mengeluarkan ponselnya. Memainkan ponselnya, menghilangkan rasa jenuh dan bosan menunggu semuanya selesai.
Rio seperti mati kutu. Berdiri, kaki pasti akan terasa pegal. Duduk, duduk di mana. Karena Ella hanya diam.
"Duduk. Jangan membuat pemandangan jadi jelek." ucap Ella dingin.
"Syet dahhh,,, Nggak laki, nggak bini. Ternyata sama. Pedes." batin Rio.
Rio duduk di kursi yang sedikit jauh dari Ella. Dirinya tidak mungkin berani duduk berdekatan dengan istri dari Vano. Sama saja cari masalah.
"Nyonya, semua sudah selesai." ucap pemilik toko setelah kurang lebih lima belas menit.
"Silahkan." ucapnya memberikan satu tas untuk di lihat oleh Ella. Apakah sudah sesuai yang Ella inginkan.
Dengan sopan, Ella menerima tas tersebut. Memeriksa isi dari tasnya. "Apa di sini tidak ada ikat pinggang?" tanya Ella.
"Maaf Nyonya, stok ikat pinggang di toko ini tinggal sedikit." jelas pemilik toko dengan hati-hati. Dirinya takut jika Ella marah karena hal tersebut.
"Ya sudah, tidak masalah." ucap Ella tersenyum manis pada pemilik toko. Seketika pemilik toko menghembuskan nafa dengan lega. Kekhawatirannya tidak terjadi.
Rio menatap Ella dengan senyum samar. "Jangan berpikir macam-macam." batin Rio memukul pelan kepalanya sendiri.
Membuat Ella dan pemilik toko langsung menoleh ke arah Rio. Keduanya menatap Rio dengan tatapan lucu. Karena mereka melihat Rio melakukan tindakan yang menurut mereka absurd.
"Khemmm." Ella berdehem keras. Seketika Rio seperti tersadar kembali dan berpura-pura menggaruk kepalanya.
"Boleh minta tolong?" tanya Ella dengan ramah.
"Silahkan Nyonya." ucap pemilik toko.
"Bisa di masukkan ke dalam mobil saya." ucap Ella meminta tolong dengan sopan.
"Bisa Nyonya." jawabnya dengan antusias.
Semua barang sudah masuk ke dalam mobil yang. Membuat Ella duduk di kursi depan. Lantaran bagasi dan kursi belakang sudah penuh dengan barang yang baru saja di beli Ella.
"Kita ke panti asuhan." ucap Ella dengan tangan sibuk memakai sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Baik." segera Rio melajukan mobil ke tempat yang Ella sudah sebutkan.
Ponsel Ella kembali berdering. Segera Ella mengangkatnya begitu mengetahui siapa yang menelponnya.
"Ada apa?" tanyanya Ella pada bawahannya yang menjaga Jo.
Ella menghela nafasnya. Jika saja dia tidak berjanji pada Vano untuk menyelesaikan masalah Jo, pasti Ella sekarang pergi ke sana. Memberi pelajaran pada manusia brengsek tersebut. Yang berusaha kabur.
"Lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan. Vano akan ke sana sebentar lagi. Jangan sampai Jo lepas. Nyawa kalian taruhannya." ucap Ella membuat siapa saja yang mendengarnya merasa berada dalam masalah.
Doorrr.... terdengar tembakan di telinga Ella. Dan juga suara teriakan Jo. "Kerja bagus." ucap Ella mengakhiri percakapan mereka.
Rio terkesima dengan pembawaan Ella. Selama ini dirinya hanya mendengar dari anak buahnya, jika istri dari Tuannya tak kalah kejam dari sang suami.
Tapi Rio tidak percaya, karena dirinya belum melihat sendiri. Apalagi setahunya, Ella adalah seorang model kelas atas dengan tingkah lakunya yang lemah lembut.
Ella dan Nyonya Ane sibuk di panti asuhan. Dengan Rio selalu menjaga Ella. Apalagi Rio merasa seperti ada yang mengintai mereka. Entah hanya perasaannya saja, atau memang benar adanya.
Sementara Vano sedang berada di dalam mobil bersama Reza. Keduanya hendak ke tempat yang sudah Ella ucapkan.
"Nyonya benar-benar menyembunyikan Jo dengan sangat baik." ucap Reza. Mereka masuk ke dalam hutan, dan pastinya tidak ada yang menyangka jika ada sebuah bangunan di tengah hutan.
Dan yang lebih mencengangkan, ponsel mereka kehilangan sinyal saat mereka memasuki hutan tersebut.
Vano dan Reza menghentikan mobilnya di depan rumah yang terlihat seperti tidak ada penghuninya. Di depan rumah, ada dua orang berpakaian misterius yang menyambut kedatangan mereka.
Tanpa berkata apapun, dia mempersilahkan Vano dan Reza masuk ke dalam rumah dengan mengayunkan tangannya, dan sedikit menundukkan badan.
Vano terkesima melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Ada banyak layar di dalamnya. "Bukannya tidak ada sinyal." batin Vano, segera mengambil ponsel di sakunya. Dan ternyata ponselnya sudah bisa digunakan untuk menghubungi seseorang. Karena sinyalnya sudah pulih.
Vano tersenyum samar. Menatap keempat orang yang berada di dalam rumah tersebut secara bergantian. "Saya akan mengambil alih tempat ini. Terserah kalian. Pergi, atau tinggal." ucap Vano seperti menyuruh mereka memutuskan sesuatu.
Keempatnya keluar ruangan tanpa berbicara sepatah katapun. "Tuan." ucap Reza.
"Biarkan saja mereka memutuskan sendiri." ucap Vano dengan pandangan meneliti ruangan tersebut.
__ADS_1
"Kamu ambil alih." ucap Vano. Dengan segera Reza duduk di depan layar. Memainkan jari jemarinya di layar keyboard.
Vano, matanya menatap tajam ke arah seseorang yang terbaring tak berdaya di atas ranjang kecil beralaskan tikar, karena kedua kakinya terbalut perban. Dapat dipastikan bawahan Ella yang melakukannya.