DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 90


__ADS_3

"Mereka memilih bunuh diri Tuan." lapor seorang bawahan pada Tuan Haris.


Bukan hanya papa Ella yang berada di sana. Ternyata Tuan Danto, papanya Vano juga ada. Musuh yang di tembak dan masih bernafas lebih memilih mengakhiri hidup mereka dengan meminum pil yang sudah di persiapkan sebelumnya.


"Mereka kelompok mafia yang terbentuk sudah lama. Kemungkinan besar, fakum dalam jangka panjang. Dan mulai beroperasi beberapa tahun ini." jelas Vano.


Paman Haki, Tuan Haris, dan Tuan Danto saling memandang. Ketiganya seperti mempunyai pemikiran yang sama.


"Kalian bersihkan." ucap Tuan Danto.


"Kita harus berbicara." kata Tuan Haris pada Tuan Danto.


"Van, ada sesuatu yang harus kamu ketahui dan juga Ella. Besok.." ujar Tuan Danto.


"Tidak bisa. Kami besok ada acara penting." ucap Vano memotong perkataan sang papa.


"Ini juga penting Vann." geram sang papa.


"Sudah. Jika besok mereka ada acara. Biarkan saja. Lain kali kita akan membahasnya." sahut Tuan Haris.


Mana mungkin Vano menyetujui permintaan sang papa. Apalagi besok adalah hari yang paling di tunggu oleh Vano. Bahkan Vano rela menunda pertemuannya dengan klien penting dari luar negeri.


Beruntung klien tersebut tidak marah dan mau mengerti dengan alasan yang di berikan oleh Reza. Meskipun alasan tersebut adalah bohong adanya.


*****


Bawahan Ella menodongkan pistol pada seseorang yang baru saja datang. Ternyata dia tidak sendirian. Ada tiga lagi temannya. Keempatnya mengangkat tangan saat bawahan Ella menodongkan pistol ke arah mereka.


Kedua bawahan Ella juga keluar dan juga menodongkan senjata. Tapi Ella masih bersembunyi di balik pohon.


"Berbalik." ucapnya sambil menodongkan pistol.


Keempatnya berbalik. Tapi dalam sekejap mata ke empatnya membalikkan badan mereka kembali dan menendang ketiga pistol yang di arahkan pada mereka sebelumnya. Membuat pistol terlempar ke tanah.


Tiga lawan empat. Saat salah satu bawahan Ella ingin mengambil kembali pistolnya, dia di hadang oleh lawan. Tiga bawahan Ella melawan tiga lelaki sementara yang satu segera berlari memunguti senjata api yang sempat terlempar ke tanah.


Keadaan berbalik, bawahan Ella mengangkat tangannya. "Haaaaaa,,,, haaaaaa,,,, kalian bukan tandingan kami." ucapnya sombong.


"Apa. Kalian." katanya dengan geram. Karena ternyata ketiga pistol tersebut tidak berisikan peluru.


Ella masih di balik pohon. Mengeluarkan pistol. Lalu membuka dalamnya. Memastikan jika pistol tersebut masih berisi. "Satu." gumam Ella yang ternyata tinggal satu peluru di dalam pistolnya.


Ella kembali memasukkan pistolnya. Di rapikan rambutnya. Setelah selesai, Ella mengambil dua buah pisau lipat di dalam saku jaketnya.

__ADS_1


Melihat kemampuan bela diri mereka, Ella yakin jika mereka memang terlatih. Bawahan Ella pun sempat beberapa kali terjatuh ke tanah. Dan terlihat kewalahan.


Mereka menghentikan gerakannya saat melihat Ella berjalan dengan santai menghampiri mereka.


"Non, kenapa Non Ella keluar." ucapnya lirih di samping Ella.


Ke empatnya melihat ke arah Ella. Tersenyum menjijikkan. "Di hutan seperti ini, ternyata disediakan perempuan speak bidadari." ocehnya dengan tatapan mata memindai seluruh tubuh Ella.


"Cantik, kami tidak akan melukai kamu. Asal,,, kamu jadi kucing penurut."


"Kucing. Dia bukan kucing. Lihat, benar-benar. Swiittt-swiittt." ucap salah satunya bersiul dengan kedua tangannya bergerak dari atas ke bawah. Menggambarkan bagaimana seksinya tubuh Ella.


"Non." ucap bawahan Ella.


"Simpan tenaga kalian untuk bertarung." ucap Ella dingin.


Ella melangkahkan kakinya ke depan dengan santai dan tersenyum remeh. "Bravooo,,, dia datang sendiri pada kita." ucapnya dengan percaya diri.


"Benar-benar kucing yang sangat penurut."


"Haaaaa,,,,haaaaa,,,,haaaaaa."


Sreeeet.....bughhh. Seketika tawa semuanya terdiam. Dengan satu gerakan Ella membunuh salah satu musuhnya dengan menandaskan pisau lipatnya pada lehernya. Kemudian di pegang kepalanya dan di banting.


Ella berdiri dengan satu kaki berada di atas tubuh seseorang yang telah di bunuhnya. Pandangan matanya tajam menatap ketiga orang di depannya. Sementara, satu tangannya mengelap sisa darah yang menempel di pisau miliknya.


"Uuuuhhhhhh." Ella meregangkan ototnya dengan mengangkat kedua tangannya ke samping lalu belakang.


Ketiganya berjalan cepat ke arah Ella dan menyerang Ella. Dengan sigap, ketiga bawahan Ella juga maju dan menghalau mereka.


Ella diam. Tidak menggerakkan badannya. Tapi matanya seperti elang yang terus memantau mangsanya.


Saat satu bawahan Ella terjerembab ke tanah dan dalam posisi terdesak, Ella berlari ke arahnya. Dengan satu tendangan, Ella membuat lawan memundurkan beberapa langkahnya ke belakang.


Dengan cepat Ella maju dan menyerangnya. Kedua tangannya masih setia memegang pisau lipatnya. "Aaaa...." teriak sang musuh saat pisau Ella mengenai perut dan betis.


Ella tersenyum menakutkan dengan kedua tangan memainkan pisaunya.


T€€nnngggg.... Ella merasakan sakit di pundaknya. Tapi dia harus tahan. Dan berpura-pura baik-baik saja. Jika tidak, pihaknya akan tersudutkan. Karena mereka akan tahu kelemahan Ella.


"Iblis betina." ucapnya dengan marah.


Ella dengan senjata di kedua tangannya. Sementara musuhnya melawan dengan tangan kosong. Suatu keberuntungan untuk Ella.

__ADS_1


Ella melihat ke arah lain, di mana juga ada pertarungan sengit. Ketiga bawahannya yang sedang bertarung untuk mempertahankan diri. "Aku harus segera menyelesaikannya. Jika tidak, mereka akan kalah." batin Ella.


Meskipun ketiga bawahan Ella hanya melawan dua orang, tetapi terlihat jelas mereka keteteran.


"Mereka akan kalah meskipun menang jumlah." batin Ella.


"Hey,, lawanmu aku." teriak seseorang di depan Ella. Padahal Ella sudah melukainya di perut dan betis dan beberapa bagian tubuhnya. Tapi lelaki tersebut tampak masih kuat untuk bertarung lagi.


Ella memejamkan mata. Mengatur nafas. Dia harus bisa mengontrol diri supaya tidak terbakar amarah.


"Kita mulaaiiiii." ucap Ella dengan nada main-main dan mimik muka mengejek. Membuat musuhnya murka.


"Kena kau. Marahlah. Supaya pertarungan ini cepat selesai." batin Ella dengan menangkis setiap serangan dari lawan.


Kali ini Ella tidak menyerang. Dia hanya menangkis setiap serangan dari lawan. Membuat lawan marah karena merasa di permainan. Tidak lupa Ella selalu tersenyum saat menangkisnya.


"Haaaatttt." dengan membabi buta dilayangkan serangan demi serangan pada Ella.


"Kau...uuuu..." ucapnya dengan nafas yang sudah tersengal.


"Kelihatannya nyawamu tinggal separuh. Karena yang separuh lagi ada padaku." ucap Ella dengan menyerang secara cepat musuh di depannya.


"Aaaa...!!!" belum sempat dia menghindar karena kelelahan terus-menerus menyerang Ella, Ella menancapkan kedua pisaunya tepat di kedua sisi dadanya.


"Ahhh." Ella mengoyakkan pisaunya di dalam dada lawan. Seketika dia tumbang dengan tangan memegang kedua dadanya saat Ella mencabut pisaunya.


Darah pun mengucur seperti air dari bekas tancapan pisau yang Ella berikan.


Pertarungan yang lain terhenti karena jeritan dari musuh. Ella tersenyum manis saat kedua lawannya berlari menghampiri temannya yang sedang menghembuskan nafas terakhir.


Ketiga bawahan Ella dengan nafas yang tersengal juga mendekat ke tempat Ella berdiri. Mereka saling memandang dan juga memandang sekilas ke arah Ella yang sedang tersenyum.


Salah satu dari mereka mengalami cidera di pergelangan tangannya. Sepertinya tulang di tangannya mengalami keretakan.


Jujur saja, pasti ada rasa takut pada mereka saat melihat Ella dengan mudahnya memainkan pisau. Dan dengan mudah pula membuat musuh terkapar, tak bernyawa. Apalagi melihat Ella tersenyum manis setelah membunuh lawannya.


Ella masih menatap tajam pada kedua orang di depannya yang tengah melihat kondisi temannya.


"Sial, kenapa sakit banget pundak gue." batin Ella menahan rasa sakitnya.


Mereka berdua berdiri dan saling memandang. Lantas pandangan keduanya beralih pada Ella. Keduanya berlari ingin menyerang Ella.


Ella sudah mengambil persiapan. Kedua tangannya memegang pisau dengan erat. Ditambah lagi kedua bawahannya juga berada di samping kanan kiri Ella. Sementara yang satunya menyingkir. Dia tidak ikut menyerang karena takut akan menjadi beban untuk yang lainnya.

__ADS_1


Dooorr,,,, Mereka gagal menyerang Ella dan yang lain karena timah panas sudah menembus jantung mereka. Ella dan bawahannya menoleh ke belakang. Mencaritahu siapa yang telah datang dan menolong mereka.


__ADS_2