
"Maksud kamu?" tanya Tuan Haris saat Vano mendatangi rumah beliau.
"Iya pa, saya ingin menikahi Ella. Putri papa." ucap Vano.
Nyonya Ane dan Ella duduk bersebelahan. Mereka diam dan menyimak percakapan kedua lelaki hebat tersebut.
Tuan Haris memandang ke arah Ella. "Kami sebagai orang tua, memberikan keputusan penuh pada Ella. Dia yang akan menjalani rumah tangga. Dia juga yang harusnya memutuskan." ucapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana sayang?" tanya mama Ane menggenggam telapak tangan Ella.
Dengan senyum tersipu malu, Ella mengangguk perlahan. Yang artinya menerima lamaran dari Vano.
Vano tersenyum memandang ke arah Ella yang sedang tertunduk melihat ke bawah dengan senyum.
"Baiklah, kita harus membicarakan dulu dengan kedua orang tua kamu Van. Setelah itu, kalian bisa melangsungkan pertunangan." ucap Tuan Haris.
"Tidak pa, Vano tidak ingin bertunangan." ucap Vano membuat Tuan Haris bingung.
Segera Vano membuka mulutnya kembali saat melihat wajah calon mertuanya menatapnya dengan aneh. "Vano ingin langsung menikah." ujar Vano mantap.
"Kamu yakin?" tanya Tuan Haris.
"Yakin pa, saya dan Ella sudah lama berhubungan. Apalagi yang akan kami tunggu." jelas Vano.
"Baiklah. Besok ajak kedua orang tuamu ke sini. Kita akan membicarakannya."
"Tidak perlu pa." kata Vano.
"Maksud kamu, kamu ingin menikahi anak saya tanpa sepengetahuan orang tua kamu."
"Bukan begitu pa, Vano sudah memberitahu mama sama papa. Dan sekarang, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini." jelas Vano membuat semuanya bernafas lega.
"Mama kira kamu,,,"
"Ya enggak lah ma." ucap Vano memotong perkataan Nyonya Ane.
Tidak lama berselang, kedua orang tua Vano datang. Dan yang paling heboh, tentu saja Nyonya Risma. Karena beliau sudah menantikan lama untuk menjadikan Ella sebagai menantunya.
Nyonya Risma langsung merentangkan kedua tangannya dan memeluk Ella. "Sayang, mulai sekarang kamu panggil tante mama ya." ucapnya dengan nada senang.
"Jeng, akhirnya kita jadi besan." ucap Nyonya Risma beralih memeluk Nyonya Ane.
Ketiga lelaki hanya duduk diam dan menyaksikan dua wanita paruh baya tersebut tampak menyambut antusias.
"Pokoknya mama yang akan buatkan gaun pengantin untuk kalian. Spesial." Nyonya Risma sangat antusias menyambut kedatangan seorang perempuan untuk jadi anggota keluarganya.
Ella tersenyum melihat semuanya. Senang, pasti. Rasanya semua yang mengganjal di hati Ella seakan sirna.
Awalnya, semua setuju jika pernikahan diadakan satu bulan lagi. Kecuali Vano. "Satu bulan, sangat lama." tolak Vano.
Sang mama menggelengkan kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya. "Van, kita butuh persiapan. Kamu pikir satu bulan itu waktu yang lama. Itu hanya sebentar sayang." bujuk Nyonya Risma.
"Lagian persiapan apa sih ma. Kita tinggal suruh orang. Bereskan." kekehnya.
"Ya sudah, jika begitu. Kamu maunya kapan?" tanya Tuan Danto.
__ADS_1
"Besok." jawab Vano dengan gampang.
"Awww,, ma... apa-apaan sih." teriak Vano saat tangan Nyonya Risma menampol kepala Vano bagian belakang.
"Kamu pikir beli mobil. Besok." ucap Nyonya Risma kesal dengan permintaan sang anak.
Nyonya Ane menyenggol lengan Ella. Membuat Ella menoleh ke arah sang mama. Nyonya Ane mengangguk kecil, memberikan isyarat pada Ella.
"Van, semua butuh persiapan. Satu bulan, hanya sebentar kok." ucap Ella mencoba memberi pengertian.
"Terlalu lama sayang." ucapnya dengan nada manja.
"Ma..." Vano kembali mengeluh saat cubitan Nyonya Risma bersarang di lengannya.
"Nggak ada pantes-pantesnya kamu bicara begitu. Geli mama dengarnya." kata Nyonya Risma yang mendengar nada manja dari Vano.
Nyonya Ane hanya tersenyum melihat perdebatan calon besan dan calon mantunya tersebut.
"Begini saja. Bagaimana kalau dua minggu lagi. Sekaligus merayakan ulang tahun Ella." saran Tuan Haris.
"Oh iya pa, bulan inikan Ella berulang tahun. Kenapa Ella bisa lupa." ucap Ella dengan tatapan mata mengarah kepada Vano.
"Aku tahu sayang, makanya aku ingin kita segera menikah. Karena kita bisa merayakannya, dengan status kita yang berbeda." jelas Vano membuat pipi Ella merona karena bahagia.
"Bagaimana Van?" tanya Ella.
"Baiklah." pasrah Vano yang akhirnya menyetujui rencana dari Tuan Haris.
Akhirnya diputuskan, jika Vano dan Ella akan menikah dua minggu lagi. Bertepatan dengan ulang tahun sang model.
Bagaimana pun juga Oma Yeti adalah mama dari Nyonya Risma. Dan dulu, sewaktu kecil Vano juga sering bersama dengan Oma Yeti.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Vano yang tengah berada di balik kemudi. Vano tahu jika Ella dan Oma Yeti tidak bisa akur. Semua bukan karena Ella. Melainkan Oma Yeti.
"Baik. Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Ella, padahal hari ini seharusnya Vano masuk bekerja.
"Ada Reza." ucapnya.
"Sebenarnya malas sekali datang kesana." Ella menghembuskan nafas. "Apalagi jika ada Lena. Tambah bikin enek." keluhnya.
Sejak dulu, Oma Yeti tidak menyukai Ella. Beliau selalu beralasan jika Ella adalah perempuan manja dan tidak pantas untuk bersanding dengan Vano.
Selalu saja ada banyak adegan dan perkataan yang tidak mengenakkan di hati, jika dirinya bertemu dengan dua perempuan tersebut.
"Kenapa juga, Vano punya nenek seperti dia." batin Ella sebal.
Dari awal Ella sudah merasakan jika sang Oma tidak menyukainya. Dia selalu merendahkan diri, bahkan selalu sopan. Supaya sang Oma mau menerima dirinya.
Tapi setiap kesabaran pasti ada batasannya. Dan juga, lama-lama Ella merasa jengah dan lelah harus berbaik-baik hati pada mereka.
Apalagi sampai sekarang, Oma Yeti masih memperlihatkan ketidak sukaannya pada Ella. Membuat Ella yang sekarang bersikap acuh. Dan tak mau ambil pusing dengan kelakuan Oma Yeti.
"Bagaimana jika Oma tidak merestui kita." ucap Ella lirih.
"Kenapa harus memikirkan orang lain."
__ADS_1
"Beliau nenek kamu."
"Seandainyapun kedua orang tuaku tidak merestui kita, aku akan tetap menikahimu."
"Mana ada. Kamu pikir keluargaku mau, anaknya menikah dengan cara seperti itu." ujar Ella.
"Kamu jangan berpikir macam-macam. Yang terpenting adalah aku. Bukan begitu nona Ella." ucap Vano menoleh ke arah Ella dengan mata genit.
"Apaan. Fokus, fokus." seru Ella. "Lagi nyetir juga. Ada-ada saja." imbuhnya.
Keduanya sampai di kediaman Oma Yeti. "Sepertinya Oma tidak ada." tebak Ella masih di dalam mobil.
"Ada, tadi aku sudah memberitahu beliau jika kita akan ke sini." tukas Vano.
"Mobil siapa Van?" tanya Ella saat melihat mobil yang terparkir di halaman Oma Yeti. "Apa Oma membeli mobil." tebak Ella.
"Bukan, sepertinya mobil tante Dewi." ucap Vano menduga. Karena dia sempat melihat saat makan malam, tante Dewi memakai mobil tersebut.
"Meski sudah bercerai, tante Dewi masih berhubungan baik dengan Oma."
"Dari dulu Oma sangat menyayangi tante Dewi. Sama seperti Oma menyayangi mama."
"Emmm."
Vano dan Ella keluar dari dalam mobil. Belum sejengkal mereka melangkahkan kaki, seorang pelayan rumah Oma Yeti sudah menghampiri mereka. "Den Vano, sudah di tunggu Nyonya Besar di belakang. Silahkan." ucapnya sopan sembari membungkukkan badannya.
"Makasih." ucap Ella dengan senyum manisnya.
Membuat perempuan paruh baya spontan mendongakkan kepala menatap Ella. Tapi dia langsung menunduk saat bertatapan dengan manik mata milik Vano.
"Maaf." ucapnya.
Ella tertawa lirih. "Maaf untuk apa bik. Memandang orang bukan sebuah kesalahan." ucap Ella lembur.
"Ayo, Oma sudah menunggu kita." tangan Vano melingkar di pinggang ramping Ella dan membawanya menemui Oma Yeti.
"Cantik, baik. Padahal anak orang kaya. Model lagi." gumamnya melihat Ella dan Vano yang semakin menjauh.
"Bener." ucap seorang perempuan muda dari belakangnya.
"Kamu ngagetin bibik saja." sungutnya dengan memegang dadanya.
"Aku heran sama Oma. Kenapa tidak suka dengan Non Ella. Padahal sudah jelas bibit, bebet, dan bobotnya."
"Malah menjodohkan dengan perempuan miskin sombongnya sampai mati."
"Husss,,, kita juga miskin."
"Tapi kita tahu diri. Nah si ono. Sebel banget. Setiap di sini pasti berlagak kayak yang punya rumah."
"Sudah-sudah. Ayo kita balik kerja. Pakerjaan masih menumpuk."
Semua pekerja di rumah Oma Yeti tidak menyukai Lena. Pasalnya dia selalu berlagak seperti nyonya rumah.
Menyuruh pembantu di rumah Oma Yeti dengan seenaknya. Jika merek membuat kesalahan, pasti Lena akan marah- marah. Dan melapor pada Oma.
__ADS_1
Tapi dia melapor jika dirinya tidak bersalah. Dan pembantu tersebut yang bersalah. Membuat Oma Yeti memarahi pembantu tersebut.