DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 141


__ADS_3

Ella mengelus lengannya yang terlihat merah karena ulah sang suami. Dan anehnya, Ella tidak merasa sedih, justru dia malah tersenyum senang melihat bekas cekalan tangan Vano.


"Memang sedikit terasa sakit. Tapi aku senang. Kamu cemburu." gumam Ella membayangkan raut wajah Vano yang sedang terbakar api cemburu.


Tapi sedetik kemudian raut wajah Ella berubah. "Ckk,,, tapi tetap saja sakit." batinnya dengan bibir cemberut.


"Lagian jadi orang emosian banget. Padahal gue mau jelasin. Ehh,, dah mencak-mencak duluan."


"Awas saja kalau dia KDRT lagi." ancam Ella.


Ella menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Memandang lurus ke depan. Matanya tertuju pada bunga mawar yang tengah mekar sempurna. "Untung cinta. Jika nggak cinta, cihh. Udah gue masukin kandang buaya." sungutnya.


Ella lebih memilih duduk menyendiri di taman. Dirinya enggan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Apalagi melihat wajah Vano, perasaan Ella masih dongkol teringat kelakuan Vano pada dirinya.


"Biarin saja. Biar kapok, bingung-bingung deh cariin aku. Emang enak." oceh Ella.


Ella memandang ke arah tasnya yang di taruh di atas meja. Berharap Vano menghubungi. "Ella,,, kamu pikun." Ella menepuk dahinya pelan. "Ponsel Vano tertinggal di rumah sakit." ujar Ella dengan malas.


*****


"Sayang. Ini ponsel kamu. Tadi ketinggalan di meja." Mama Vano memberikan ponselnya pada Vano.


"Tadi istri kamu menelpon. Berkali-kali. Mama nggak dengar, soalnya mama di kamar mandi. Tapi terakhir masih keburu, jadi mama angkat." jelas Nyonya Risma.


"Untuk apa perempuan itu menelpon kamu." ucap Oma Yeti pelan dengan nada tidak suka.


"Dia istri Vano ma." ujar Nyonya Risma pelan.


"Istri. Istri apaan. Oma terbaring di sini, sama sekali dia tidak kelihatan batang hidungnya. Apa keluarganya sudah bangkrut, sehingga tidak mampu beli tiket pesawat." omel Oma Yeti.


"Oma yakin, Oma mau di jenguk istri Vano." kata Vano dingin.


"Sudah Van. Oma sedang sakit." ucap mama Vano mencoba menenangkan Vano. Nyonya Risma tidak ingin ibunya anfal lagi. Sementara Oma Yeti diam dan membuang muka.


Dasar Oma Yeti. Bisa langsung struk jika Ella datang ke ruangan Oma. Tidak tahu saja, jika Ella bahkan bisa datang saat ini juga, jika Oma menginginkannya.


"Van." panggil Tuan Haris saat Vano hendak melangkah pergi meninggalkan ruangan.


"Nanti malam ada undangan dari rekan kerja papa di sini. Papa tidak bisa hadir. Ada suatu hal yang harus papa urus. Papa harap kamu bisa datang untuk menggantikan papa." ucap Tuan Danto.


"Vano tidak bisa. Vano sibuk." ujar Vano mencari alasan. Padahal dirinya sekarang sedang ingin mencari Ella. Istri tercintanya yang sedang ngambek.


"Tidak ada penolakan. Kamu datang. Nanti asisten papa yang akan memberikan undangannya pada kamu." ucap Tuan Danto tegas.


"Kamu ajak Lena. Kasihan dia." serobot Oma Yeti.


Lena langsung menunduk kepala saat mata Vano dan matanya bersitatap. Jujur saja, Lena masih takut untuk berdekatan dengan Vano. "Oma, Lena sedang tidak enak badan. Lena tidak bisa menemani Vano." ucap Lena lembut.

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya Oma khawatir.


"Hanya flu biasa, mungkin karena Lena tidak cocok dengan cuaca di sini." ujar Lena beralasan. Nyonya Risma hanya tersenyum samar mendengar perkataan Lena.


"Pintar sekali mencari alasan." batin Nyonya Risma.


"Ya sudah, Oma tidak memaksa." ucap Oma.


"Sebaiknya kamu istirahat Len, mungkin kamu terlalu capek mengurus saya." imbuh Oma Yeti, dijawab anggukan oleh Lena.


Vano meninggalkan rumah sakit dan segera mencari Ella. Vano menyalakan ponselnya dan mencari Ella melalui ponsel miliknya.


Tanpa di ketahui Ella, Vano memasang sebuah alat kecil di dalam ponsel milik Ella. Maka dari itu, Vano pasti akan menemukan di manapun Ella berada. Jika sang model membawa ponsel miliknya.


"Mau pergi ke mana Vano. Buru-buru sekali. Bahkan tidak pamit pada Oma." ujar Oma.


"Mungkin Vano ada urusan bisnis ma." ucap Nyonya Risma. "Mau bertemu istrinya yang cantik Oma." batin Nyonya Risma.


"Sayang." Vano memeluk leher Ella dari belakang. Ella segera melepaskan pelukan Vano dan berdiri.


"Gue kira siapa." batin Ella. Dirinya terkejut, tiba-tiba ada tangan melingkar di lehernya.


"Kamu ceroboh Ella, bagaimana bisa kamu tidak menyadari kehadiran Vano." batin Ella.


Mungkin karena Ella terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Melamun. Entah apa yang di pikirkan oleh Ella.


"Kenapa tingkat kewaspadaan gue berkurang." batin Ella masih memandang ke arah Vano yang sedang berdiri dan tersenyum padanya.


"Aku bukan seperti musuh-musuh kita. Yang akan dengan gampang tercium kehadirannya oleh indra mu sayang. Aku Vano. Suamimu." ucap Vano lirih dan tersenyum menakutkan, tapi tidak bagi Ella.


Senyum Vano seperti mengejek dirinya. Karena dirinya, lagi-lagi tidak menyadari kehadiran Vano secara tiba-tiba.


Vano seperti mengerti apa yang sedang Ella pikirkan. Ella kembali duduk di kursi. Begitupun dengan Vano. "Sudah dong ngambeknya. Maaf, aku salah."


Vano memegang lengan Ella yang masih memerah dan meniupnya serta menciumnya. Ada rasa sesal di hati Vano karena tidak bisa mengontrol emosinya.


"Aku berjanji sayang, ini tidak akan terulang lagi. Maaf." Vano mencium lengan Ella yang masih memerah.


"Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiranmu. Bahkan wangi parfummu saja sekarang tercium?" tanya Ella penasaran.


Sudah berkali-kali Ella tidak menyadari kehadiran Vano yang datang secara tiba-tiba. Padahal, Ella selalu dengan mudah menyadari jika ada musuh atau bahaya yang mendekati dirinya.


Tapi kenapa tidak dengan Vano. Ada apa dengan Vano.


Vano terkekeh. Vano kira Ella akan merajuk dan menyalahkan Vano karena dirinya sempat melakukan tindakan yang membuat tangannya memar.


Tapi tebakan Vano salah. Ella malah penasaran dengan dirinya. Dengan gemas Vano menarik hidung mancung sang model. "Kamu memang beda honey." Vano mencium singkat bibir Ella.

__ADS_1


"Cepat katakan?" desak Ella penasaran.


"Tanganmu." Vano melihat tangan mulus Ella masih memerah.


"Tidak perlu mengalihkan topik. Ini luka biasa." geram Ella.


Memang benar, luka di tangan Ella hanya luka biasa menurut Ella. Karena sang model yang terkenal dengan kecantikan, keseksian, dan kelembutannya bahkan pernah merasakan timah panas dan sayatan pisau mengenai tubuh dan kulit mulusnya.


"Karena aku bisa bergerak dengan cepat sayang. Lebih cepat dari yang kami bayangkan." bisik Vano.


Ella memicingkan mata mendengar penuturan dari suaminya. Dirinya masih menatap Vano dengan otak yang sedang mencerna kalimat yang keluar dari mulut suaminya.


Vano semakin mendekatkan badannya pada Ella.


"Jangan memikirkan hal itu lagi. Nanti kamu malah pusing." Vano memainkan rambut Ella.


"Rambut baru." ucap Vano baru sadar jika istrinya memberi sedikit sentuhan warna pada rambutnya.


"Sejak kapan?" tanya Vano membuat Ella memutar matanya.


"Sejak sapi kawin sama kambing." celetuk Ella.


Vano tertawa mendengar kalimat lucu yang keluar dari mulut Ella. "Memang ada?"


"Sudahlah." Ella mengakhiri perdebatan kecil mereka. Karena pasti dirinya akan kalah dari Vano.


"Sayang,,, tunggu." teriak Vano melihat Ella pergi meninggalkan dirinya.


Ella melihat sekeliling mereka. Nampak sebagian dari mereka melihat ke arah Ella dan Vano. Beruntung hanya ada beberapa orang di taman itu. Jadi Ella tidak begitu merasa malu.


"Diammmm..." geram Ella menutup mulut Vano dengan telapak tangannya saat sang suami berada di sampingnya.


"Lihat tempat. Jangan teriak-teriak." mata Ella melotot sempurna ke arah Vano.


Vano hanya mengangguk, sementara telapak tangan Ella masih berada di bibirnya.


Ella melepaskan tangannya dan berjalan kembali. Vano tersenyum jahil menatap istrinya dari belakang. "Sayaaaaanngggggg,,,, tungguuuuu!!!!" Vano berteriak lebih kencang, menaruh kedua tangannya di samping bibirnya. Menggunakan telapak tangannya sebagai corong.


Ella berhenti sebentar dan memejamkan mata. Segera dia mempercepat langkah kakinya. "Vanoooo..." geram Ella.


Vano berlari mengejar istrinya dan tertawa puas. Menaruh tangannya di pundak Ella saat tubuhnya sudah berada di samping sang istri.


Beberapa kali Ella mengangkat tangan Vano dari pundaknya. Tapi Vano mengembalikannya kembali. Bahkan Vano juga mencium pipi Ella.


"Senyum saja. Nggak usah di tahan." goda Vano menowel pipi mulus Ella.


"Apasih. Nyebelin." ujar Ella dengan pipi mengembang. Menahan senyum.

__ADS_1


"Alaaahhh...." tangan Vano menusuk pinggang Ella.


"Vannnnooo." seru Ella dengan cemberut dan tersenyum samar.


__ADS_2