DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 224


__ADS_3

Ella kembali membuka matanya. Memandang sekeliling ruangan. Hanya sang mama yang dia temukan, yang tengah tertidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya. Dengan kepala di letakkan di atas ranjang miliknya.


"Kemana Vano?" tanya Ella pada dirinya sendiri, karena belum melihat sosok sang suami sama sekali. Bahkan wangi parfumnyapun, Ella tidak bisa menciumnya di dalam ruangan.


Ella mengingat semua kejadian sebelum ini. Tapi memang, Ella tidak mengetahui jika Vano menyusul dirinya. Saat mobilnya melaju meninggalkan cafe, dimana dia dan Hana bertemu.


"Siapa yang bawa aku ke sini?" batin Ella, setelah terbangun, untuk kedua kalinya.


Nyonya Ane terbangun saat merasakan ada pergerakan di ranjang Ella. "Ada apa sayang?" tanya Nyonya Ane, melihat Ella merintih sambil memegang perut bagian bawah.


"Iiiiiissshhhhh, sakit." desah Ella dengan mata terpejam, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.


Dengan segera Nyonya Ane memencet tombol untuk memanggil dokter. Tak berselang lama, tiga dokter bersama perawat datang untuk memeriksa.


"Dok,, perut anak saya...." ucap Nyonya Ane dengan raut wajah khawatir.


"Baik bu." segera dokter memeriksa kondisi Ella. "Tidak apa-apa, ini memang wajar terjadi pada perempuan yang baru saja mengalami keguguran." jelas sang dokter.


Nyonya Ane memandang ke arah sang anak yang nampak terdiam memandang dengan intens sang dokter yang baru saja berkata.


"Aaaaa..." seru sang dokter terkejut, saat tiba-tiba Ella dengan tangan yang tidak terpasang infus meraih baju dokter tersebut.


Ella menatap tajam ke arah sang dokter dengan tatapan mata menyalang. "Apa maksud perkataan anda." ucap Ella dengan tekanan.


Membuat semua yang berada di ruangan tersebut bergidik ngeri melihat tatapan mata dan mendengar suara Ella.


"Elll,,, sayang." bujuk sang mama, melepaskan tangan Ella.


Dokter tersebut langsung melangkah mundur beberapa langkah, begitu cengkeraman tangan Ella terlepas dari bajunya. Memperbaiki jas kebesarannya yang berwarna putih.


Namun mata Ella tetap memandang sang dokter dengan tatapan tidak suka. "Kamu harus ikhlas. Kamu tidak boleh seperti ini. Oke." ucap Nyonya Ane, memegang pundak Ella.


Ella hanya terdiam. Memandang sang mama dengan mata sayu dan sedih. "Tidak apa-apa sayang. Semua akan baik-baik saja." Nyonya Ane memeluk Ella yang masih terdiam.


Viki dan Hana bergegas masuk ke ruangan Ella, setelah anak buah Tuan Haris memberitahu dirinya jika beberapa Dokter masuk ke dalam ruangan Ella dengan terburu-buru.


Keduanya terdiam, melihat Ella menangis di pelukan Nyonya Ane. "Apa Ella sudah tahu, jika Vano meninggal." batin Hana dan Viki, yang mempunyai pemikiran sama.


"Yang sabar ya. Tuhan masih sayang sama kamu." ucap Nyonya Ane, menghibur Ella.


"Kalau begitu, kami permisi dulu." ucap sang dokter pada Viki, yang hanya di jawab anggukan oleh Viki.


Ella mengurai pelukannya pada sang mama. Melihat dengan ekspresi datar pada Viki dan Hana. Dengan lembut, Nyonya Ane menghapus air mata di pipi Ella.


Ella mengalihkan pandangan matanya pada sang mama. "Vano mana?" tanya Ella.


Deg.... Nyonya Ane diam membisu, dengan badan membeku. Mendengar sang anak mencari sang suami. Begitu juga Hana dan Viki. Ternyata Ella belum mengetahui perihal kematian sang suami.


"Pasti Vano juga sedih, kehilangan calon anak kita." ucap Ella dengan raut wajah sendu.


"Elll..." ucap Hana lirih. Tapi segera Viki memegang pergelangan tangan milik Hana.


"Kami keluar dulu, tante. Ell,,, lebih baik kamu istirahat." ucap Viki, segera membawa Hana keluar dari ruangan Ella.


"Ma, Vano mana? Apa dia marah sama Ella, karena Ella tidak bisa menjaga calon anak kita?" tanya Ella, dengan air mata sudah berada di pelupuk mata.


Lidah Nyonya Ane seakan kelu. Beliau juga bingung, harus berkata apa pada Ella. Berkata jujur, atau berbohong padanya.


Nyonya Ane menjadi bingung sendiri. Berkata jujur atau berbohong. Dirinya seakan tidak punya pikiran untuk memilih.


Sementara di luar, Hana duduk di kursi. Dia menangis. "Elo bisa diem nggak sih!!" hardik Viki.


"Gue malah semakin bingung lihat elo nangis. Pikiran gue jadi buntu." ucap Viki, seakan menyalahkan air mata Hana yang sedari tadi keluar tanpa henti.


"Kalian masih di luar?" tanya Reza yang baru saja sampai.


Viki langsung menoleh ke arah suara. "Nggak, kita tadi udah masuk. Tapi keluar lagi. Ella nanyain Vano terus." ucap Viki.


Reza mendesah pelan. Memang sekarang adalah keadaan sulit yang sebenarnya. Mengingat keadaan Ella yang baru saja sadar. Dari arah lain, datang Tuan Haris bersama paman Haki.


"Om."

__ADS_1


"Tuan."


"Papa."


"Ella sudah sadar Om. Tante ada di dalam. Dia menanyakan Vano." ucap Viki dengan ekor mata melirik ke arah Hana yang sedang mengusap air matanya.


Sepertinya Tuan Haris mengerti kenapa mereka berada di luar. Pasti karena Hana. "Bagiamana keadaan Oma Yeti?" tanya Tuan Haris.


"Tidak ada perubahan Tuan." jawab Reza.


"Saya akan masuk. Kalian di sini saja." ucap Tuan Haris.


"Baik."


Tuan Haris tersenyum melihat Ella, putri kesayangannya sudah membuka kedua matanya. "Sayang, kamu sudah bangun." Tuan Haris mengecup lembut dahi sang anak.


"Kamu membuat kami khawatir." ucap Tuan Haris, mencubit pelan pipi sang anak. Sementara sang istri nampak duduk dengan tegang. Bahkan kelopak matanya sudah berair.


"Vano mama pa?" tanya Ella, lagi-lagi menanyakan keberadaan sang suami.


Tuan Haris menatap ke arah sang istri yang menggelengkan kepala. Tidak memperbolehkan sang suami berkata jujur.


Pasti karena Nyonya Ane takut jika Ella belum bisa menerima dua kenyataan dalam waktu bersama. Kehilangan calon anak, serta kehilangan suami.


Ella mengikuti arah pandangan Tuan Haris. Ella juga sedikit curiga pada sang mama. Yang sedari tadi tidak menjawab pertanyaannya, saat dirinya menanyakan Vano. Malah terlihat sang mama seperti menghindar saat Ella menanyakan keberadaan Vano.


"Pa...!!!" seru Ella dengan suara tertahan.


Tuan Haris memegang telapak tangan Ella. "Sekarang lebih baik kamu istirahat. Pasti perut kamu masih terasa sakit." ucap sang papa.


"Apa asa sesuatu yang kalian sembunyikan?" tanya Ella dengan pelan.


"Jika papa tidak mau menjawab. Ella akan cari tahu sendiri." tegas Ella. Karena dirinya merasa jika kedua orang tuanya menyembunyikan sesuatu.


Sebenarnya Ella menaruh rasa curiga sejak pertama kali membuka mata. Namun Ella urung bertanya dan memikirkannya. Karena badannya masih sangat lemas.


Dan terlebih, matanya seperti masih ingin terpejam. Sangat mengantuk. Mungkin karena efek dari obat biusnya masih ada.


Dan juga kaki Ella merasakan sedikit nyeri. Mungin saat kejadian kaki Ella terbentur bagian sisi dalam mobil. Tapi Ella tak begitu peduli.


Yang paling membuat Ella curiga, tidak ada satupun keluarga dari Vano yang berada di dalam ruangannya.


Karena biasanya, sang mertua pasti akan selalu berada di sampingnya. Apalagi dalam keadaan seperti ini.


"Jawab Ella pa." ucap Ella hendak bangun, tapi perut dan bagian intinya terasa sakit. "Aiissss...." desah Ella memegang perut bagian bawah.


"Sayang,,, jangan bangun. Perutmu masih sakit." ucap Nyonya Ane, menahan sang putri yang akan bangun dari tempatnya berbaring.


"Apa Vano, mama, dan papa kecewa pada Ella." ucap Ella parau. Tuan Haris menggeleng pelan. "Tidak sayang." ucap Tuan Haris.


"Mereka kecewa, karena Ella tidak bisa menjaga calon penerus Vano." cicit Ella lirih.


"Ella juga merasa sakit. Ella juga merasa tidak berguna. Ella begitu ceroboh. Membiarkan mereka melakukannya." ucap Ella dengan mata terpejam.


Teringat saat dia mengendarai mobil, dan ada dua mobil yang mengejarnya dari belakang. Hingga terjadilah kecelakaan tersebut.


"Elll..." ucap Nyonya Ane. Merasakan sakit saat putri tercintanya meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.


Di tempat lain, Egi dan juga Ditya begitu terkejut mendengar kabar kematian dari Vano. Tapi sayang keduanya tidak bisa begitu saja pergi meninggalkan pekerjaan yang menumpuk di hadapan mereka.


Entah apa sekarang yang ada dalam benak Ditya maupun Egi. Haruskah mereka senang atas kabar kepergiaan dari Vano. Selamanya.


Karena dengan kepergian Vano, itu berarti Ella akan menjadi seorang janda. Tapi apakah bisa mereka mendapatkan hati Ella dengan mudah, mengingat Ella sangat mencintai sang suami.


Terlalu dini untuk berandai-andai. Karena makam Vano saja masih belum kering.


Ella membuka kedua matanya. "Pa, mana ponsel Ella?" tanya Ella.


"Ponsel?" gumam Tuan Haris. Karena memang beliau sama sekali tidak menyimpan ponsel sang putri.


Tidak terbesit sedikitpun di pikiran dan hatinya tentang barang-barang dari Vano maupun Ella. Karena saat kejadian, hanya keadaan mereka yang menjadi prioritas utama.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ella, melihat sang papa juga sepertinya tidak tahu keberadaan ponsel miliknya.


"Pa, siapa yang membawa Ella kemari?" tanya Ella lagi.


"Reza." jawab Tuan Haris singkat.


"Tolong pa, panggilan Reza." pinta Ella.


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu. Pikirkan kondisi kamu. Jangan memikirkan hal lain." ucap Nyonya Ane beralasan.


Padahal Nyonya Ane belum mau jika putrinya mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dia tidak ingin jiwa putrinya terguncang.


"Pa...!!" ucap Ella menatap ke arah papanya.


Tanpa berkata apapun, Tuan Haris berdiri dan keluar dari ruangan Ella. "Kamu masuk." ucap Tuan Haris di ambang pintu, menatap ke arah Reza. Reza masuk ke dalam ruangan Ella, berjalan mengekor di belakang Tuan Haris.


"Kamu di sini saja. Jangan buat keadaan jadi runyam. Apa telingamu tuli." geram Viki mencekal Hana, yang hendak masuk ke dalam ruangan.


"Tapi..."


"Apa..!!" bentak Viki. "Om Haris hanya menyuruh Reza. Bukan kamu. Jadi jangan terlalu lancang. Jangan mempergunakan kebaikan mereka dengan seenak hati kamu." kesal Viki.


Viki melepaskan cekalan tangannya pada Hana. Membuat Hana kembali duduk di kursi.


Memang sedari dulu, Viki tidak terlalu menyukai sosok Hana. Tapi bukan berarti dirinya membenci Hana.


Apalagi setelah mendengar tentang kejadian yang menimpanya. Melibatkan Vano dan Ella. Meskipun Viki mengerti dan paham, jika Hana bukan penyebab semuanya kejadian ini. Dan Hana juga korban.


Tapi entah kenapa, hati Viki mendidih saat mengingatnya. "Seandainya Hana tidak tidur di dalam kamar apartemen milik Ella. Semua tidak akan terjadi." itulah yang berada di dalam benak Viki.


"Nyonya." sapa Reza dengan tersenyum tulus pada Ella.


"Mana ponselku?" tanya Ella. Tapi Reza malah melihat ke arah Nyonya Ane dan Tuan Haris.


"Reza...!!" geram Ella, melihat Reza malah terdiam, seolah membuang muka.


"Ambilkan Reza." perintah Tuan Haris.


"Pa....!!" seru Nyonya Ane.


Ella semakin bertambah curiga dengan semua keadaan yang dilihatnya sekarang. Pasti ada sesuatu yang sedang ditutupi semua orang dari dirinya.


"Anda yakin Tuan?" tanya Reza memastikan.


"Kamu tidak perlu bertanya pada papa. Aku yang menentukan." ucap Ella dengan tatapan mengintimidasi, sebelum Tuan Haris membuka mulutnya.


"Ambilkan." perintah Ella.


"Ba-baik Nyonya." ucap Reza.


"Dalam keadaan sakit saja bisa seperti ini." batin Reza berjalan keluar ruangan.


"Ada apa?" tanya Viki, setelah Reza keluar dari ruangan Ella.


Bukannya menjawab pertanyaan Viki, Reza malah menggeluarkan ponsel dan menghubungi Rio. "Bawa ponsel Nyonya Ella dan Tuan Vano ke rumah sakit. Segera." ucap Reza, lalu segera mematikan ponsel miliknya.


"Ponsel. Bukankah itu berbahaya." ucap Viki dengan raut wajah khawatir.


"Nyonya yang memintanya." jelas Reza.


"Om sama tante?" tanya Viki. Reza hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan Reza.


"Bolehkah aku masuk?" pinta Hana.


Reza menatap Hana dengan tatapan tajam. "Tetaplah disisi. Jangan buat keadaan semakin kacau." kesal Reza.


Paman Haki sedari tadi hanya terdiam. Mengamati sesuatu sejak tadi. Hana, dia asisten sekaligus sahabat dari Ella. Bahkan sudah di anggap putri sendiri oleh kedua orang tua Ella.


Tapi sejak tadi, Hana dilarang keras oleh Viki maupun Reza untuk masuk ke dalam ruang rawat Ella. Bukankah, hal baik jika mengizinkan Hana masuk dan menemani Ella. Karena kedekatan keduanya.


"Ada apa ini. Ada sesuatu yang tidak benar di sini." batin Paman Haki.

__ADS_1


__ADS_2