
"Mobil Nona Ella." Reza melihat plat nomornya, dan berlari mendekat ke arah mobil Ella dan memeriksanya.
"Kenapa bisa ada di sini." Reza teringat perkataan lelaki yang tertembak tadi.
"Perem. Dia bilang perem. Jangan-jangan, perempuan." Reza segera berlari turun ke bawah dan mencari Ella.
Perasaan yang awalnya semangat untuk menangkap bahkan membunuh musuh, seakan berubah menjadi rasa takut dan khawatir. Reza berharap perempuan tadi bukan Ella.
"Semoga bukan Nona Ella." batin Reza sembari berlari mencari ke bawah.
"Ell, kita kemana?" Hana dan Ella terus berjalan dengan hati-hati dan perasaan takut.
"Kita jalan terus." Ella masih berjalan di depan dan Hana di belakang Ella.
"Aaaaaa." Hana berteriak saat ada sebuah tembakan yang mengarah pada mereka.
Ella segera memegang lengan Hana dan membawanya bersembunyi di balik pohon.
"Ellll." Hana memeluk erat tubuh Ella.
"Elll, ini." Hana mengendurkan pelukannya dan melihat tangannya basah dan bau anyir.
"Elll. Elo." Hana melihat pundak Ella basah karena darah.
"Hussstt, gue nggak apa-apa. Oke. Tenang." Ella mencoba menenangkan Hana yang panik.
"Tapi elo tertembak." Hana melihat Ella dengan rasa cemas dan takut.
"Kalian berdua! Cepat keluar." bentak pria yang menembak tadi.
"Kita harus bisa keluar dari sini." Ella menahan rasa sakit di pundaknya.
"Maafin, gue. Jika bukan karena gue, elo nggak akan mengalami hal seperti ini." Ella merasa bersalah pada Hana.
"Nggak Ell, kita akan bersama." ucap Hana.
Doorrr....
Pria tersebut menembak kembali ke pohon. Tempat Ella dan Hana sembunyi.
"Elo agak ke sini." Ella menggeser tubuh Hana.
Ella bersiap dengan pistol di tangannya. Dia mengintip dari balik pohon.
"Di mana dia." Ella tidak menemukan pria tersebut.
Reza berlari mencari suara tembakan yang baru saja di dengarnya. Apalagi suara tersebut, bersamaan dengan suara teriakan seorang perempuan. Rasa khawatirnya semakin bertambah.
"Astaga." batin Ella saat melihat bayangan seseorang tepat di balik dirinya dan Hana bersembunyi.
Dengan hati-hati, Ella menarik tangan Hana untuk berlari ke pohon terdekat.
"Hustt." Ella meminta Hana untuk menutup mulut. Sementara Ella sudah siap untuk menembak.
Dooorrr....
Ella menembak, saat pria tersebut juga hendak menembak.
"Sial." tembakan Ella meleset, terkena pada pohon.
Ella menekan pundaknya yang terkena tembakan. Ada rasa sakit di pundaknya setelah melepaskan tembakan. Ella membuka kaosnya dan menyisakan tengtop tipis di badannya.
"Ell." ucap Hana lirih saat melihat pundak Ella.
"Hanya terserempet."
__ADS_1
Ella merasa sedikit lega saat melihat pundaknya tidak terkena peluru. Melainkan terkena sedikit goresan dari peluru yang di arahkan pada dirinya dan Hana.
"Tetap seperti itu." Ella berkata lirih pada Hana yang duduk dengan menunduk.
"Kemana lagi dia." Ella kembali melihat bayangan dari pria tersebut. Tetapi bayangannya tidak ada.
"Sedang mencariku." pria tersebut tepat di samping Hana dan menodongkan pistolnya pada kepala Hana.
"Ellll." Hana berteriak dan menangis histeris ketakutan.
"Lepaskan." Ella mengarahkan pistolnya pada pria tersebut.
"Ellllaaa." di seretnya rambut Hana ke belakang.
"Lepaskan dia." teriak Ella dengan pistol di tangan.
"Buang pistolmu."
"Oke." Ella melemparkan pistol yang di bawanya ke arah samping badannya.
"Aku suka perempuan penurut." di lepaskan tangannya dari rambut Hana.
"Ellaaa." Hana memandang ke arah Ella dengan perasaan takut.
"Non Ella. Hana." dibalik pohon, Reza mengintip mereka dengan pistol di tangannya.
"Badanmu sangat indah." pria tersebut maju dengan tetap menodongkan pistol ke depan. Pandangan matanya mengarah ke bukit kembar milik Ella.
Ella memandang Hana. Sorot matanya seperti menyampaikan isyarat pada Hana.
Hana mengangguk dan segera berlari berlindung di balik pohon. Pria tersebut membalikkan badan saat menyadari pergerakan Hana.
Dengan cekatan, Ella menyerang pria tersebut. Ella menendang pinggangnya hingga terjatuh. Ella mengambil pisau lipat dari sakunya dan menyerang pria tersebut.
"Aaaaa." teriak pria tersebut saat pisau Ella mengenai lengan kanannya.
Dooorrrr,,,,
"Aaaaa." pria tersebut jatuh tersungkur di tanah dengan tembakan tepat di jantungnya.
Ella hanya diam dengan mata memandang ke arah di mana pria tersebut sekarat karena tembakan dari seseorang di belakangnya.
Ella sedikit lega, karena pria tersebut sudah tidak mengganggunya lagi, tapi dia juga di rundung rasa cemas dan takut. Berharap seseorang yang menolongnya adalah orang baik.
"Non Ella." Reza segera menghampiri Ella.
"Reza." Ella merasa lega karena ternyata orang tersebut adalah Reza.
"Non nggak apa-apa." Reza mendekat dan jongkok di hadapan Ella.
"Terimakasih sudah datang. Gue takut Za." seketika Ella memeluk Reza dengan badan bergetar.
"Ella." Hana berlari menghampiri Ella.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Reza mengambil pistol yang tergeletak di tanah dan mengajak Ella juga Hana meninggalkan tempat tersebut.
"Kita kemana?" tanya Hana.
Tangan Ella memegang pundaknya, karena pundaknya semakin sakit karena tergores peluru.
"Sebaiknya kita mempercepat langkah." Reza dengan berjalan cepat berada di depan mereka.
"Elo nggak apa-apa Ell." Han melihat Ella semakin pucat dan berjalan agak sempoyongan.
"Non Ella." Reza berhenti dan menghampiri Ella.
__ADS_1
"Za, elo gendong Ella saja. Kasihan Ella, dari tadi dia melawan orang-orang itu sendirian." Hana merasa bersalah karena tidak membantu Ella.
"Maaf." Hana merasa dirinya seperti seorang pengecut. Membiarkan temannya berjuang sendirian.
"Ayo." Reza berjongkok sedikit supaya Ella naik ke punggungnya.
"Makasih." Ella berada di punggung Reza.
Berada sedekat ini dengan Ella membuat jantung Reza berdetak lebih cepat. Apalagi hembusan nafas Ella terasa di leher Reza. Dan juga dua bukit kembar milik Ella menempel sempurna di bahunya. Tidak dapat dia pungkiri, ini adalah pertama kali Reza begitu dekat dengan seorang perempuan.
"Ini rumah siapa?" tanya Hana.
Mereka tiba di depan sebuah rumah yang sederhana. Hana mengamati rumah tersebut. Dan Ella, tampaknya tertidur dengan kepala di pundak Reza. Senyum samar terlihat di bibir Reza saat melihat Ella memejamkan mata.
"Boss." beberapa orang berlari mendekat pada mereka.
Hana yang masih takut segera berlari ke belakang tubuh Reza.
"Buka. Kalian jaga di sekitar rumah. Pastikan rumah ini aman." ujar Reza.
"Baik." ucap mereka serempak.
Reza melangkahkan kakinya masuk kedalam. Hana memegang kaki Ella yang bergelayut, karena masih berada di gendongan Reza.
Reza menurunkan Ella di sebuah kamar kecil tetapi sangat rapi dan bersih.
"Ini di mana?" Ella mengucek-ucek matanya.
"Ella." Hana mendekat ke arah Ella dan memeluknya.
"Aaaww.." Ella meringis saat pundaknya yang sakit tersentuh Hana.
"Maaf, gue juga nggak tahu ini di mana. Reza yang membawa kita ke sini." Hana sedikit menjauh dari Ella. Dia takut kelepasan untuk memeluk Ella lagi.
"Setidaknya kita aman sekarang." ujar Ella.
"Jangan beritahu siapapun jika ada dua perempuan di sini. Termasuk Tuan Vano. Saya sendiri yang akan memberitahunya." ucap Reza memberi tahu semua anak buahnya.
"Baik bos."
"Bos, semua kamar sudah di bersihkan." ujar seorang pria yang batu saja keluar dari rumah.
Reza mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah dan menemui Hana juga Ella.
"Sebaiknya kalian membersihkan badan dulu." ujar Vano.
"Di samping kamar ini ada kamar lagi. Di dalamnya ada kamar mandi. Kamu bisa memakainya. Sudah ada baju ganti di sana." Reza berkata sambil memandang ke arah Hana.
Hana hanya diam tidak menjawab. Dia malah melihat ke arah Ella. Ella hanya mengangguk dan tersenyum.
"Gue keluar dulu. Jika ada apa-apa, kamu teriak saja." bisik Hana sambil melirik ke arah Reza.
"Iya, beres." ucap Ella.
Hana melewati Reza dengan menatapnya sebentar dan berlalu. Sebenarnya Hana khawatir meninggalkan Ella sendirian. Reza adalah orang kepercayaan Vano. Hana takut jika Reza memberitahu Vano.
Apalagi hubungan Vano dan Ella sedang bermasalah. Hana tidak ingin Vano datang dan menyakiti Ella. Dengan kondisi Ella yang seperti ini, Hana khawatir Ella malah semakin sedih.
"Selesaikan masalah yang kamu buat." Tuan Danto menatap tajam ke arah Vano. Keduanya saat ini berada di ruang kerja Tuan Danto.
"Lepaskan Ella jika kamu memang tidak mencintainya. Hubungan keluarga kita dengan Tuan Haris bukan hanya sebagai rekan bisnis. Seharusnya kamu tahu itu."
Tuan Danto berdiri dan berjalan meninggalkan Vano. Tetapi langkah kakinya terhenti, dan kembali mengucapkan sesuatu pada Vano.
"Jangan membuat papa kehilangan muka di depan mereka. Dan satu lagi. Kamu belum tahu siapa Tuan Haris sebenarnya."
__ADS_1
Vano hanya diam tanpa membalas perkataan papanya.