
Vano tersenyum memandangi Ella yang sedang cemberut sembari mengaduk-aduk segelas jus alpukat di depannya dengan sedotan. "Sayang, apa kamu nggak kasihan. Lihat. Pasti jusnya pusing." goda Vano pada Ella.
Sruuuuuttttt. Ella meminum jus tersebut sampai tandas. Mengelap bibirnya menggunakan telapak tangannya. Membuat Vano tersenyum geli. Di tambah lagi bibir cemberut dari Ella. Membuat Vano semakin gemas.
"Mau aku pesankan lagi?" tanya Vano menggoda sang model dengan tersenyum.
"Vannn...." rajuk Ella.
Setelah pulang dari rumah Oma Yeti, Ella meminta Vano untuk singgah ke restoran. Berdebat dengan Oma Yeti dan Lena membuat perut Ella menjadi lapar.
"Katanya lapar. Di makan dong." Vano menggenggam tangan Ella yang berada di atas meja.
"Bagaimana mau makan." ketus Ella memandang ke arah tangan kanannya yang di genggam Vano.
Vano tidak serta merta melepaskan tangan Ella. "Mau aku suapin?" tanya Vano menggoda Ella kembali.
Dengan kasar, Ella melepaskan tangannya dari genggaman Vano. Bukannya marah, Vano malah tertawa pelan. "Sayang, aku kan sedang berbaik hati menawarkan diri." ucap Vano dengan lembut.
Ella meluapkan rasa kesalnya dengan memakan makanan yang ada di depannya dengan lahap. "Pelan-pelan sayang." ujar Vano.
Tringgg.... Elle meletakkan sendok dan garpu di piring bersamaan. "Sebenarnya kenapa dari dulu Oma tidak menyukaiku. Bahkan aku merasa, aku tidak pernah membuat masalah dengan Oma. Bahkan kami sangat jarang bertemu dan berbincang. Lantas, di mana coba salahku. Heran." omel Ella.
"Seperti yang kamu bilang. Kalian jarang bertemu dan berbincang. Jadi komunikasi kalian kurang. Mungkin jika kalian lebih sering bertemu, Oma akan menyukaimu." ucap Vano sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aissshhh, sekali bertemu saja langsung menampilkan wajah enek. Gimana mau sering ketemu. Darah tinggi gue." gumam Ella.
"Apa sayang?" tanya Vano dengan senyum. Padahal sebenarnya dia mendengar apa yang di ucapkan oleh sang kekasih.
"Lagian, kurang kerjaan banget. Pakai nyewa detektif segala buat ngikutin aku. Udah hasil fotonya jelek. Siapa sih yang memfoto." ucap Ella sebal.
"Sudah dong. Nanti kamu malah pusing. Biarkan saja Oma dan Lena. Tidak perlu di pikirkan."
"Van, kok aku jadi takut ya." Vano menghentikan makannya dan menatap Ella.
"Bagaimana jika Lena mengincar harta Oma. Terus dia nekat membunuh Oma. Seperti yang ada di sinetron."
"Sudahlah sayang. Biarkan saja Oma bertindak sesukanya. Lagi pula, membunuh Oma. Memangnya segampang itu." Vano memainkan alisnya.
"Siapa tahu. Nyawa berakhir di tangan asisten." gumam Ella tersenyum samar.
"Sorry Van, bukannya menyumpahin. Tapi cuma berpikir saja." batin Ella.
"Van, aku mau tanya. Tapi, kamu jangan marah."
"Memang mau tanya apa. Sampai segitu takutnya aku marah. Hemmm." Vano menarik pelan hidung mancung sang model.
"Marcell itukan saudara kamu. Tapi kalian seperti orang asing saja." Ella mengusap hidungnya yang di tarik oleh Vano.
"Dulu Marcell tinggal di luar. Baru setelah perceraian kedua orang tuanya, dia pindah ke sini. Mau menemani Tante Dewi."
"Di luar negeri?" tanya Ella lucu.
__ADS_1
Vano tertawa mendengar pertanyaan Ella. "Ya iyalah Ell, masa luar angkasa." jawab Vano disambut ekspresi kesal dari Ella.
"Kedua orang tuan Tante Dewi berada di sana. Marcell ikut mereka. Tapi sudah setahun belakangan ini dia pindah ke sini. Mungkin sekarang sedang kuliah. Semester awal." jelas Vano.
"Mungkin sih. Karena aku mendengar dari perkataan mama. Jadi tidak tahu sendiri pastinya." imbuh Vano.
"Tidak bisa di andalkan." dengus Ella.
Ella teringat sesuatu. Sekelompok anak remaja berseragam SMA yang pernah di tolongnya di jalan. Dan salah satunya adalah Marcell.
"Ell,,," panggil Vano membuyarkan lamunan Ella. "Kamu kenapa?" tanya Vano.
"Pertanyaan ku, kenapa kalian seperti orang asing. Dan sepertinya dia anak yang sangat pendiam." tebak Ella.
"Entahlah." jawab Vano menggedikkan bahu.
Setelah selesai makan, Vano mengantar Ella untuk pergi ke sebuah butik. Di mana Hana sudah menunggunya di parkiran. "Aku turun dulu. Kamu hati-hati." ucap Ella mengecup pipi Vano.
"Nanti aku jemput ya." ucap Vano.
"Nggak perlu. Setelah dari sini aku mau bertemu Viki. Sejak kemarin aku tidak tahu kabarnya. Nanti kamu malah jenuh lagi."
Ella keluar dari mobil. "Hati-hati." teriak Ella setelah berada di luar mobil.
Ella berlari kecil menuju ke arah Hana yang sedang bersender di mobil. "Sudah lama Han."
"Belum, baru sampai. Yuk masuk. Mungkin kita sudah ditunggu."
Ella melihat ke arah jam yang melingkar. "Kita belum telat Ell. Tenang saja." ucap Hana seolah mengerti kenapa Ella melihat ke arah jamnya yang melingkar di pergelangan tangannya.
Keduanya lantas masuk ke dalam butik dan membicarakan kerja sama yang akan mereka jalani. Kali ini Ella akan melakukan pemotretan dengan mengenakan pakaian bertema etnik daerah.
Seperti yang sudah di rencanakan, Ella dan Hana bergegas pergi ke apartemen Viki selesai pertemuan dan tanda tangan kontrak selesai.
"Selamat ya Ell, akhirnya nikah juga elo sama Vano."
"Pasti mama." ucap Ella, karena dirinya belum memberitahu Hana perihal pernikahannya dengan Vano yang akan di adakan dua minggu lagi.
"Yap, mama pagi ini telpon gue. Suruh jaga elo. Jangan sampai elo kelelahan." ucap Hana.
"Beliau takut elo tumbang saat hari H. Kan nggak lucu." imbuh Hana.
"Hemmm."
"Elo nggak seneng. Inikan yang elo tunggu dari dulu." kata Hana karena Ella hanya menjawab dengan suara dalamnya.
"Seneng lah. Bahkan gue nggak nyangka. Vano yang dulu selalu menolak dengan berbagai alasan ketika gue ajak nikah. Sekarang dia dulu yang mengajak gue untuk nikah. Bahkan dia nggak mau lamaran."
"Vano yang selalu cuek dan semaunya sendiri. Tidak pernah bersikap lembut. Selalu memaksakan kehendak. Tidak pernah sedikitpun memperhatikan gue. Dan selalu cari gue jika sedang butuh pelampiasan." Ella berhenti dan menyeka air mata yang tiba-tiba terjatuh di pipi.
"Sekarang, dia sangat lembut Han. Selalu perhatian. Dia sekarang, bisa bikin gue nyaman jika kita sedang bersama. Dia selalu berkata lembut, dan selalu tersenyum pada gue." Ella kembali menyeka air matanya di pipi. Air mata bahagia.
__ADS_1
Hana hanya diam dan menyimak perkataan dari Ella. Hana tahu betul bagaimana sekarang Ella sedang bahagia. Bahkan kebahagiaan Ella tidak dapat di ungkapkan. Karena Hana tahu betul bagaimana perjuangan Ella untuk tetap berada di samping Vano.
"Semoga, elo selalu bahagia Ell. Selalu." batin Hana dalam hati mendoakan sahabat sekaligus atasannya tersebut.
Ella dan Hana melangkah masuk ke apartemen Viki. "Sepi Ell." ucap Hana merasa jika Viki tidak ada di apartemen. Karena lampu apartemen Viki juga tidak menyala.
Ella menyalakan lampu. "Vik....!!" teriak Ella.
Segera Ella dan Hana mencari Viki ke setiap ruangan. Tapi tidak di temukan. "Ell,, tempatnya masih rapi." ucap Hana.
"Kemana Viki." kata Ella menduga jika Viki belum pulang ke apartemen setelah kejadian saat itu.
"Tunggu. Kita pergi ke rumah orang tua Viki." Ella dan Hana segera beranjak dan pergi ke kediaman orang tua Viki.
"Semoga Viki baik-baik saja." batin Ella merasa takut. Ella takut Viki melakukan hal aneh-aneh.
Viki sedang patah hati. Dan bukan sekedar patah hati. Viki juga sakit hati karena di bohongi oleh seseorang yang sudah menemaninya selama setahun terakhir.
"Maaf pak, apa om dan tante ada?" tanya Ella pada satpam yang menjaga rumah kedua orang tua Viki.
"Non Ella. Beliau berdua sedang ke luar negeri Non. Ada pekerjaan di sana. Saya juga kurang tahu."
"Apa Viki di sini. Karena tadi saya dari apartemennya. Tapi anaknya nggak ada."
"Ada Non. Sejak kemarin Den Viki di sini."
"Terimakasih pak. Saya masuk dulu."
"Silahkan."
"Den Viki, den Viki." gumam satpam melihat Ella masuk ke dalam rumah bersama dengan Hana.
Selama bekerja dengan keluarga Viki, satpam hanya melihat jika perempuan yang datang ke rumah ini hanya Ella. Tidak ada perempuan, atau teman Viki lainnya yang berjenis kelamin perempuan yang datang ke rumah ini.
"Mungkin Den Viki mengajak mereka ke apartemen. Cari aman. Kan disini ada Nyonya sama Tuan." tebak pak satpam.
"Mana mungkin lelaki seperti Den Viki tidak punya wanita. Tampan, gagah, kaya. Paket lengkap." pujinya.
Ella nylonong masuk ke dalam kamar Viki. "Kenapa telepon gue nggak elo angkat. Haah." Ella menarik selimut yang menutupi tubuh Viki.
Viki tidak menjawab. Malah menarik kembali selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Ini sore Vik. Astaga. Bangun." Ella naik ke atas tubuh Viki. Memukul dan menggelitik tubuh Viki. Menekan selimut di bagian kepala Viki. Hana duduk di kursi pojok kamar Viki. Menyaksikan keduanya.
"Jika saja gue nggak tahu jika Viki itu belok. Pasti gue akan berpikir macam-macam." batin Hana.
*****
Halo teman-teman. Terimakasih sudah selalu menemani othor. Selalu mendukung karya othor.
Jangan bosan-bosan untuk menunggu bab berikutnya.
__ADS_1
Dan,,, jangan lupa sajennnya.
TERIMAKASIH... 😘😘😘